Naifa

Naifa
Bab 30



Senyum manis terbit di bibir sepasang manusia yang baru saja merasakan surga dunia. Tadi, seusai tidur yang hanya baru di rasa memejamkan mata, Naifa langsung membangunkan suaminya dan mengajak Adam untuk mandi.


"Mmm, Bang ... lebih baik sekarang kita mandi, sebelum Ibu dan yang lain bangun." Ujar Naifa tadi saat membangunkan Adam untuk mandi. Sementara dirinya selepas itu langsung memasak air untuk mandi dirinya dan suaminya. Tentu saja secara bergantian, karena kamar mandi di rumah Naifa tidak terlalu lebar.


Begitu Adzan subuh berkumandang Adam dan Naifa sudah siap untuk shalat bersama dengan yang lainnya, yaitu, Ibu, Rara dan Sasha.


Adam di minta untuk menjadi imam karena dirinya tidak shalat berjamaah di masjid.


"Silahkan, Nak Adam." Ujar Ibu Muni.


"Saya, takut salah, Bu." Ujar Adam.


"Ish, masak Kakak kalah sama Kak Aran. Kak Aran saja pernah loh, imam in kita shalat." Ujar Sasha tanpa melihat tatapan tajam dari Rara dan Ibunya. Begitu juga Naifa yang menatap Sasha dengan heran, pasalnya kapan Aran pernah jadi imam mereka?!


"Ekhm, tidak apa-apa Bang, seperti saat shalat bersama Nai saja, surat nya tidak usah panjang-panjang, se bisanya Abang saja." Ucap Naifa.


Adam mengangguk, lantas berdiri di atas sajadah paling depan.


Selagi Adam iqomah Sasha mendapat cubitan kecil di lengannya oleh Rara tapi Ibu buru-buru menengahi agar tak sampai ribut dan membuat Adam menoleh. Naifa hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Selesai shalat, Adam lantas kembali ke kamar. Sedang Naifa, ia membantu ibunya untuk membuat sarapan. Sementara kedua adiknya belajar, kata ibu belajar yang baik memang waktu pagi. Jadi setiap selesai shalat subuh keduanya akan belajar di kamar masing-masing.


"Nai, Ibu bahagia melihatmu bahagia." Ucap Ibu di sebelah Nai. Ia tengah mengupas bawang merah.


Naifa yang tengah merebus air itu menoleh, "Nai, juga, Bu. Nai lebih bahagia saat Ibu dan adik-adik bahagia." Ujar nya.


Ia akan membuatkan kopi untuk Suaminya.


"Ibu, tidak percaya kalau sebentar saja, kamu sudah bisa membawa suamimu ke jalan yang benar." Kata Ibu lagi.


"Iya, Nai juga tidak percaya. Abang secepat ini sudah berubah. Nai pikir...akan butuh waktu lama untuk Nai bersabar mendoakan Abang." Naifa kini sudah menuang air panas ke dalam cangkir yang sudah di isi kopi dan gula.


"Jangan putus doa-mu untuk suamimu Nai. Jangan mudah percaya akan hati yang baru berubah, kamu harus lebih giat mendoakan agar suamimu tetap berada di jalan yang Allah ridhoi. Agar tak mudah kembali ke jalan yang salah." Nasehat Ibu pada putrinya itu.


"In Syaa Allah bu, Nai juga minta doa dari ibu. Agar Nai dan Abang bisa membawa hubungan baik suami-istri ini sampai ke Jannah-'Nya."


"Aamiin, ibu akan selalu mendoakan kalian, putri-putri terhebat ibu." Ucap Ibu di barengi senyum yang merekah. "Sudah, berikan kopinya untuk suamimu. Temani dia, biarkan ibu yang masak, ya ...," ucap Ibu.


"Baiklah, terimakasih, Bu." Naifa lantas berlalu dari sana dengan secangkir kopi untuk suaminya.


Ia menaruh cangkir berisi kopi di meja ruang tamu, lalu ia masuk ke kamarnya di mana suaminya tengah di sana.


"Abang!" Panggilnya.


Adam yang tengah duduk di kursi di depan meja Naifa menoleh, "ya."


"Sini," Adam melambaikan tangan pada Naifa agar lebih mendekat. Dan Naifa pun menurut, ia kini sudah berdiri di sebelah Adam.


Adam menggenggam tangan Naifa, mendongak menatap wajah cantik istrinya. "Siapa itu, Aran?!" Tanya Adam.


Naifa tersenyum, "Aran, itu, teman Nai Bang. Dulu kita satu sekolah, namun sekarang dia tengah kuliah di Jogja." Jawab Nai jujur.


"Dekat sekali, sama lo eh kamu?!" Naifa tersenyum lebar, "masih susah ya, menghilangkan lo jadi kamu?!" Adam mengangguk.


"Tidak dekat Abang, Nai tidak pernah dekat dengan lelaki siapapun." Jawab Naifa.


Adam mengangguk lalu ia menarik tangan Naifa, membuat Naifa melebarkan matanya apa lagi saat tubuh nya di putar dan kini duduk di pangkuan suaminya. Lantas Adam memeluknya dari belakang.


"Astaghfirullah! Abang! Nai kaget." Ujarnya.


"Harus di biasakan, apalagi sekarang kamu adalah candu bagi gu_aku," Adam menelusup kan wajahnya di leher belakang istrinya.


Naifa membiarkan tangan suaminya yang memeluk erat dirinya, tangannya pun turut mengusap tangan Adam yang melingkar di perutnya. "Makasih ya, Nai ... ini benar-benar kebahagiaan buat __" Adam masih susah untuk mengganti lo-gue dengan aku-kamu, jadi ia diam.


"Aku," ucap Naifa menyambung apa yang akan Adam katakan.


Adam mengangguk, "masih sakit tidak?!"


Dengan malu-malu Naifa menggeleng, "berarti nanti malam bisa lagi," ucap Adam membuat Naifa kembali mengangguk pelan.


Untung saja Naifa duduk memunggungi suaminya, jika menghadap suami nya ia jelas malu sekali saat wajahnya ketahuan memerah karena malu-malu. Apalagi jika mengingat apa yang mereka lakukan semalam, Naifa semakin menunduk mengingat itu. Ah, itu semua membuat Naifa merasa malu sendiri. Bagiamana Adam membawanya terbang ke nirwana dan menghempaskan dirinya di tempat yang begitu indah. Rasanya tak bisa Naifa ucapkan dengan kata-kata.


Adam benar-benar tak mengerti kalau ternyata ia akan sebahagia ini menikah dengan Naifa. Ia benar-benar menyesal sudah menyia-nyiakan hidupnya sebelum ini. Ia merasa jadi orang yang begitu bodoh, meninggalkan segala ke indahan dan mendatangi keburukan.


Hidup yang selama ini ia jalani padahal begitu hambar, begitu membuatnya lelah. Tapi ia tak pernah sadar-sadar. Sampai akhirnya ia sadar setelah bersama dengan Naifa. Jujur saja hidup dengan Naifa membuat dirinya semakin merasakan sebuah kelegaan. Entah kenapa ia merasa sedikit ringan, tak terlalu berat hari-hari yang ia lalui.


Dan menurutnya ini semua memang karena Naifa, baik nya, doa nya. Semua membuat hatinya tergugah sehingga sampai lah di Adam yang seperti sekarang ini. Adam yang mengerti apa itu menyayangi, kembali bahagia saat di sayangi. Tak perduli pada ejekan orang. Karena jujur saja, sekarang bahkan lebih banyak yang mengatai dirinya, di Kantor di lingkungan rumah, tak sedikit ia mendengar bisik-bisik tentang dirinya.


Tapi, saat ia menatap Naifa semua yang ia dengar dari orang-orang seolah menguap begitu saja. Pergi entah ke mana. Apalagi saat melihat senyuman Naifa, senyuman istrinya itu seolah kekuatan bagi dirinya. Menguatkan hati Adam untuk tetap maju di jalan yang tengah ia lewati.


Tidak akan mungkin bagi Adam untuk kembali ke jalan yang membawa hatinya tersesat. Cukup. Sudah cukup untuk bermain-main, kini sudah saatnya untuk Adam menjalani hari dengan baik dengan sang istri. Membangun keluarga yang Sakinah, Mawaddah, Warahmah.


"Abang. Kenapa diam?!" Naifa mengagetkan Adam dari apa yang ia pikirkan.


"Keburu, kopinya dingin loh Bang," sambung Naifa.


"Iya, lupa." Adam lantas melepas tangannya dari tubuh Naifa, ia membiarkan Naifa beranjak dari pangkuannya. Lalu keduanya kembali duduk berdua di ruang tamu. Menikmati pagi mereka di rumah Naifa sebelum nantinya mereka pulang kerumah mereka. Naifa memang hanya akan menginap semalam saja di rumah ibu nya. Dan nanti setelah sarapan ia akan pulang, di antar Adam sebelum Adam berangkat ke Kantor.