Naifa

Naifa
Bab 38



Ibu Nuri dan Naifa buru-buru keluar begitu mendengar suara mobil Ayah sampai di depan rumah. Keduanya begitu penasaran dengan yang terjadi. Apakah Vela ikut atau tidak. Apakah semuanya baik-baik saja atau tidak.


"Bagaimana, Yah?! Di mana Firda-ku Yah?!" Tanya Ibu Nuri, ia melihat ke belakang Ayah yang kini berdiri di depannya. Ia mencari-cari keberadaan anak pertamanya yang ia belum sekalipun ketahui seperti apa.


Sedangkan Naifa langsung mengambil tangan Suaminya dan menyalaminya dengan takzim. Adam tersenyum dan tidak segan-segan untuk mencium puncak kepala Istrinya. Senyum Adam membuat Naifa mengernyitkan dahinya penasaran.


"Apa, semua baik-baik saja, Bang?!" Adam mengangguk sebagai jawaban. "Alhamdulillah," ucap Naifa penuh syukur.


"Kita, bicara di dalam ya Bu." Ajak Ayah pada Ibu Nuri. Dengan mengangguk tak bersemangat, Ibu Nuri akhirnya menurut. Mereka semua masuk tak terkecuali Adam dan Naifa.


...***...


Ke-empat manusia itu pun kini sudah duduk ruang keluarga. Ibu Nuri duduk dengan menepuk paha sang suami, ia begitu penasaran bagiamana, tapi sayangnya Ayah Hendra hanya diam tak mengatakan apapun. Sesekali hanya terdengar helaan nafas Ayah Hendra.


Ibu Nuri lantas mengalihkan pandangannya pada sang anak, seolah tengah bertanya, 'bagaimana?'


Adam menarik nafas sebelum berbicara, "anak yang ada di kandungan Vela bukan anak Adam, Bu." Jelas Adam.


"Alhamdulillah," ucap Naifa semangat. Ia tersenyum pada suaminya yang duduk di sebelahnya.


Ibu Nuri pun sama, ia bersyukur karena ternyata anaknya tak melakukan kesalahan besar. Tapi, dengan itu artinya, anak nya melakukan hal seperti itu dengan lelaki lain. Ibu Nuri menghela nafas, kenapa dua anaknya seperti itu?!


"La-lalu apa Firda beneran hamil?!" Tanya Ibu Nuri.


"Anak mu beneran hamil, Bu. Tapi dengan lelaki lain. Dan ini semua sudah di rencanakan oleh anakmu. Dia benar-benar kelewatan, pikirannya begitu picik." Ujar Ayah Hendra. Ternyata Ayah masih begitu marah mengingat kejadian ini.


"Astaghfirullah," air mata Ibu Nuri mengalir. "Tapi, Yah ... Ibu ingin bertemu dengannya, apakah dia_"


"Dia perlu waktu bu, kita tidak bisa memaksa untuk bertemu sekarang. Dia pasti tengah emosi karena rencananya gagal. Jadi biarkan saja dia menyendiri. Besok-besok kita akan datangi lagi, agar kita bisa bicara dengan pelan dan diterima dengan baik oleh anakmu itu." Kata Ayah menenangkan isteri nya.


"Kenapa jadi seperti ini, Yah?!" Tanya Ibu Nuri tidak mengerti.


"Dia hanya salah paham, bu. Nanti kita bisa jelaskan dengan baik-baik agar dia mengerti. Untuk sekarang ini, percuma. Dia tidak akan mendengarkan. Apa yang kita katakan." Ujar Ayah lagi.


Naifa hanya bisa melihat dengan kasihan pada ibu mertuanya itu. Keluarga ibu dan Ayah yang terlihat bahagia nyatanya tidak seperti kelihatannya. Banyak masalah dan masa lalu yang bisa di bilang menyedihkan untuk di ceritakan.


Ia masih tak percaya kalau Ibu Nuri punya masa lalu buruk sampai terpisah dengan anak pertamanya, sampai membuat anak pertamanya jadi membenci ibu Nuri sampai memakai Adam untuk membuat ibunya menderita.


Sungguh bagi Naifa ini adalah sebuah kejahatan besar. Bagaiman bisa seorang anak menyakiti ibunya sendiri?! Naifa menggeleng kan kepalanya tak mengerti, hanya membayangkan nya saja Naifa tak sanggup.


"Kamu, kenapa?!" Adam bertanya pelan pada Naifa, ia heran melihat istrinya menggeleng kan kepalanya tanpa alasan yang ia ketahui.


"Nai, tak habis pikir dengan apa yang di lakukan Mbak Vela Bang. Kenapa dia se tega itu pada Ibu," ucap Naifa.


"Yang, nggak tega-han 'kan hanya kamu, Nai." Kata Adam. "Bahkan hatimu selembut sutra," sambung Adam dalam hati.


Naifa hanya membalas dengan senyum.


...***...


Hari ini Adam dan Naifa sudah kembali ke rumah mereka. Ayah juga sudah pergi ke Kantor. Sedangkan Ibu Nuri, harusnya pergi ke Panti. Tapi, hari ini ia ingin pergi ke suatu tempat. Ia sudah tidak sabar lagi jika harus menunggu di ajak oleh suami atau anak lelakinya.


Dengan bantuan Pak Barjo, Ibu Nuri sampai di depan rumah kontrakan yang masih terlihat kotor. Bahkan Ibu Nuri rasanya enggan sekali untuk menurunkan kakinya di sana. Selain rumput yang panjang-panjang, terasnya juga basah ada beberapa genangan air di sana. Mungkin karena sisa-sisa air hujan semalam.


Lama sekali Ibu Nuri di sana, mengetuk pintu berkali-kali yang tidak mendapatkan balasan apapun dari dalam. Membuat Ibu Nuri menyerah dan pergi dari sana.


Keingintahuan dirinya pada putri pertamanya juga membawa ibu Nuri ke tempat dulu di mana ia merasakan kesakitan. Ya, Ibu Nuri mendatangi rumah sang mertua. Namun hanya tinggal rumahnya saja, karena penghuninya sudah berubah.


Dari dulu, rumah itu sudah di jual. Karena Karno-Papa-Vela terlilit hutang, yang akhirnya mengharuskan Karno untuk menjual rumahnya.


Dan kini entah ke mana Ibu Nuri harus mencari tahu keberadaan anaknya. Jika bertanya pada Adam jelas tidak mungkin. Lalu, pada siapa sekarang ia bertanya?!


Ibu Nuri akhirnya memutuskan untuk pergi ke rumah Naifa. Mungkin jika di sana ia lebih merasa tenang. Tidak se gelisah seperti sekarang. Jujur saja rasa rindunya pada anaknya membuatnya merasa seperti tengah berada di tempat yang entah di mana. Tidak betah sama sekali.


Mobil yang di kendarai Pak Barjo berhenti di depan rumah Naifa dan Adam. Rumahnya memang terlihat sepi namun begitu asri. Karena rumah itu selalu terjaga kebersihannya.


Sementara itu, Naifa yang mendengar mobil berhenti di depan rumah. Ia segera memutuskan untuk keluar.


"Assalamu'alaikum, Nai!" Sapa Ibu Nuri pada Naifa yang kini sudah di depan rumah.


"Wa'alaikumsallam, Ibu. Kenapa tidak bilang mau ke sini, tadi bisa barengan saja sama Nai dan Abang. Mari, Bu silakan masuk." Ajak Naifa setelah mencium tangan mertuanya itu dengan takzim.


Kedua wanita beda usia itu lantas masuk ke dalam. Meninggalkan Pak Barjo yang duduk di mobil.


"Apa, Adam berangkat ke Kantor Nai?!" Tanya Ibu Nuri yang kini sudah duduk di sofa ruang tamu.


"Sudah, Bu. Tadi begitu sampai rumah, Abang langsung pergi. Ada banyak kerjaan kata Abang. Apalagi 'kan kemarin Ayah dan Abang tidak ada yang ke Kantor." Jawab Naifa.


Ibu Nuri mengangguk. "Nai, apa yang bisa membuat hati kita tenang?!" Tanya Ibu Nuri lagi.


"Istighfar, Bu. Ngaji, shalat dan baca doa." Jelas Naifa.


"Doa apa?! Ibu merasa tidak tenang, ibu ingin sekali bertemu dengan anak ibu yang pertama. Selama ini, Ibu tidak pernah tahu seperti apa dirinya. Ibu ingin mengatakan segalanya agar hati ibu merasa tenang. Ibu tidak ingin anak Ibu salah paham." Tutur Ibu Nuri dengan lirih.


"Sabar, ya Bu ... Hanya itu yang bisa Nai katakan. Nanti, pasti Abang dan Ayah akan mempertemukan Ibu dengan Mbak Vela. Hanya saja, Ibu harus sabar." Naifa mengusap lengan mertuanya yang ada di pangkuannya.


"Kamu, selalu membuat ibu tenang Nai." Ibu Nuri tersenyum menatap sang menantu.


"Coba Ibu baca do'a ini, agar ibu merasa lebih tenang ... Allahumma inni as-aluka nafsan bika muthma-innah, tu'minu biliqo-ika wa tardho bi qodho-ika wataqna'u bi 'atho-ika." Kata Naifa. Ibu Nuri lantas mengikuti apa yang di katakan Naifa.


Setelahnya Ibu Nuri memeluk menantunya itu. Ia merasa di berikan sebuah mutiara berharga oleh Ibu Muni yang sudah merelakan anaknya menjadi menantunya.