Naifa

Naifa
Bab 28



Naifa benar-benar ke rumah sang ibu, ia di antar Adam sampai depan rumah. Namun saat sampai di sana, ternyata rumahnya sudah sepi. Jadi, Naifa menyuruh Adam untuk berangkat saja, tak perlu mengantar dirinya ke Warung. Naifa tidak ingin suaminya sampai telat untuk bekerja.


Naifa lantas memutuskan untuk jalan kaki menuju warung yang tak terlalu jauh dari rumahnya. Rasanya ia sudah begitu lama meninggalkan kampung ini, ia pandangi jalan yang tak terlalu lebar yang kini nampak lengang. Hanya sesekali saja pengendara motor yang lewat.


Naifa tentu sangat bersyukur karena ia dapat kembali bertemu dengan sang ibu yang sudah dua minggu lebih ia tinggal. Dengan langkah yang hampir sampai Naifa dapat melihat sang ibu yang tengah melayani pembeli. Senyumnya begitu lebar saat melihat wanita paruh baya kesayangan nya di sana.


Naifa kembali melangkahkan kakinya sampai kehadirannya membuat wanita paruh baya itu menatapnya tanpa berkedip. Menatapnya penuh rasa penasaran, seolah tak percaya bahwa yang ada di hadapannya adalah putri pertamanya.


"Assalamu'alaikum, Ibu," ucap Naifa.


Ibu Muni langsung keluar dan memeluk erat sang putri, "wa'alaikumsallam, Nai ... kamu apa kabar, ibu rindu sekali padamu Nak," ucap Ibu Muni di sela pelukannya pada Naifa.


"Alhamdulillah, bu. Nai baik, Ibu baik juga 'kan?" Ibu Muni mengangguk.


"Ayo, masuk!" Ajak ibu Muni menggandeng tangan putrinya.


Naifa di suruh duduk, sedangkan Ibu Muni melihat Naifa dari atas sampai bawah. "Kamu terlihat semakin kurus," ucap Ibu Muni. "Tapi, kamu ke sini di izinin 'kan Nai sama suamimu?!" Naifa mengangguk dan tersenyum.


"Syukurlah. Bagiamana Adam padamu, Nai? Ibu selalu mendoakan yang terbaik untukmu." Tanya Ibu Muni.


"Alhamdulillah, seperti doa Ibu," jawab Naifa.


"Syukurlah, ibu benar-benar khawatir Nai, walaupun kamu selalu bilang baik, tapi ibu selalu saja mengkhawatirkan mu."


Ya, memang siapa yang tidak khawatir pada putri nya, saat putri nya berada dalam pelukan pria seperti Adam?! Walaupun tak sepenuhnya Ibu Muni tahu, namun dari bisik-bisik yang di katakan setiap orang membuatnya yakin kalau Adam bukan lelaki baik. Apalagi saat Ibu Nuri pun mengakuinya.


Hari ini Ibu Muni begitu semangat berdagang, ditemani putri pertamanya yang baru kembali, walaupun bisa di katakan hanya mampir tapi itu sudah sukses membuat hati ibu tiga anak itu bahagia. Apalagi saat ia tahu kalau menantunya kini sudah berubah atau lebih tepatnya bertaubat. Sungguh hati ibu mana yang tidak bahagia jika melihat anaknya bahagia.


Ia begitu bahagia saat Naifa menceritakan bagaimana baiknya Adam, yang membuat rona bahagia terlihat jelas di wajah putrinya itu. Ibu tiga anak itu jelas merasakan kebahagiaan putrinya. Sebenarnya ia sudah tahu pasal menantunya, saat dengan jelas Ibu Nuri memberitahu nya lewat ponsel waktu itu. Tapi ia tak terlalu percaya, tapi kini, saat anaknya yang bercerita ia lebih percaya.


Kebahagiaan ini tidak hanya di rasakan oleh ibu Muni saja, tapi di rasakan juga oleh dua adik Naifa. Mereka ber-empat kumpul di warung dan setelah nya pulang bersama saat sore tiba.


Naifa membantu masak Ibu nya, sedang Rara yang sudah terbiasa ke Masjid tetap saja harus pergi. Begitupun Sasha, ia di suruh Naifa untuk membantu Ustadzah Andini yang kadang suka keteteran kalau yang ngaji lagi banyak.


"Sudah, Nai. Biar ibu saja yang masak. Ibu ingin kamu duduk diam saja, nikmati dengan senang saat kamu di rumah ini lagi." Ujar Ibu pada Naifa yang tengah membantu dirinya.


"Ibu, Nai pulang ke sini untuk melepas rindu dengan Ibu, bukan dengan rumah saja. Jadi, biarkan Nai memasak membantu ibu. Malah, Nai akan sangat senang kalau Ibu membiarkan Nai yang memasak segalanya," ucap Naifa pada Ibunya.


"Baiklah, kalau seperti itu. Ibu akan membereskan kamar kamu ya, biar nanti kamu nyaman saat istirahat." Ibu berlalu dari dapur menuju ke kamar Naifa.


Mengingat kamar, Naifa jadi senyam-senyum sendiri. Apalagi kalau bukan mengingat kata suaminya semalam. Kalau malam ini mereka berdua akan tidur dalam satu kamar.


"Ok! Kita mulai tidur sekamar di rumah ibu lo besok malam."


Naifa menggeleng kan kepalanya heran, bisa-bisanya dia mengingat ke sana.


***


Sehabis Isya Naifa duduk di sofa ruang tamu, ditemani Rara, Sasha dan juga ibunya. Mereka ngobrol menikmati waktu-waktu kebersamaan ini. Sasha bahkan tak lepas dari lengan Naifa, ia terus saja bergelayut manja di lengan Kakaknya.


Naifa tersenyum, "tidak, Bu. Nai nunggu saja."


"Padahal, aku kangen banget loh, pengin makan bareng sama Kakak." Rajuk Sasha.


Naifa mencubit gemas hidung adiknya, "tadi 'kan sudah ditemani Sha."


"Oh, iya Kak, tadi Ustadzah Andini titip salam, Rara lupa tidak langsung bilang." Kata Rara.


"Wa'alaikumsallam, salam balik ya Ra. Kangen sebenernya, Kakak sama Ustadzah, tapi ... Nai tidak izin dengan Abang, jadi kalau mau menemui langsung rasanya tidak enak." Jelas Naifa.


"Iya, besok In Syaa Allah Rara sampaikan."


Ke empat perempuan itu ngobrol sampai waktu menunjukan pukul sepuluh. Dan sampai saat ini Adam belum juga pulang. Naifa sampai mengaji kembali di ruang tamu, lalu, di lanjutkan di kamarnya. Tapi nyatanya Adam tidak datang-datang juga.


Pesan yang di kirim Naifa tadi sore bahkan belum sempat di baca oleh Adam. Untuk menelpon rasanya Naifa masih belum berani, ia takut mengganggu. Jadilah ia hanya menunggu dengan sabar sang suami.


Kini bahkan Naifa sudah ke kamarnya, ia melanjutkan mengajinya di sana.


***


Nyatanya Adam tidak jadi pergi ke tempat Vela. Karena pekerjaan nya masih begitu banyak. Ia bahkan masih saja mengerjakan pekerjaan nya, ditemani beberapa karyawan nya.


Sampai jam dua puluh satu lebih lima belas malam, ia baru selesai. Lalu dengan kecepatan sedang ia menjalankan mobilnya menuju rumah mertuanya, di mana tadi pagi ia mengantar Istrinya.


Begitu sampai ia langsung turun dari mobilnya. Keadaan rumah mertuanya sudah sepi, namun ia masih bisa melihat lampu kamar bagian depan yang menyala.


Perlahan pintu utama terbuka dari dalam. Munculah wajah wanita paruh baya yang dengan senyum nya menyapa. "Kamu, baru pulang Nak Adam?!"


Ternyata Ibu Muni yang membuka pintu, mungkin Naifa ketiduran di kamarnya.


Adam tersenyum kaku, ia pikir mertuanya itu akan tak suka padanya. Tapi, nyatanya ibu mertuanya itu malah menyambutnya dengan senyuman. Seperi ibu nya sendiri.


Dengan gugup Adam mengucap salam dan mengulurkan tangannya, "assalamu'alaikum, bu."


Ibu Muni mengulurkan tangan agar menantunya itu bisa salaman dengannya. "Wa'alaikumsallam. Mari masuk. Sudah malam, tadi, Nai menunggu, hanya saja mungkin sekarang ia ketiduran," jelas Ibu Muni.


Adam mengikuti langkah mertuanya, ia masuk ke dalam.


"Bu, maaf_"


Ibu Muni menggelengkan kepalanya pada menantunya itu. "Tidak perlu minta maaf, Nak Adam. Cukup permohonan maaf antara dirimu pada Allah saja. Itu sudah cukup untuk ibu, Nai dan semuanya." Jelas Ibu Muni.


"Ibu, tinggal ya, kamar Nai yang itu," Ibu Muni menunjuk kamar bagian depan. "Tadi, Nai belum makan, Ia mau menunggu Nak Adam katanya."


"Makasih, bu." Ibu Muni mengangguk dan berlalu.


Adam masih berdiri kaku di tempatnya. Ia masih tak percaya akan mendapatkan keluarga sebaik ini. Setelah mendapatkan Naifa yang begitu baik, ia juga mendapatkan ibu mertua yang baik nya seperti ibu kandungnya.