
"Ayah ... Assalamu'alaikum," Adam masih diam. Lantas ia keluar menoleh ke sana ke mari. Ia mencari keberadaan orang dewasa yang bersama anak cantik itu, tapi tak terlihat. Anak cantik itu sendirian.
"Ayah, tidak mau menjawab salam Eish?!" Adam melebarkan kelopak matanya, ah ya ampun dia lupa kalau ada anak kecil di depannya. Tapi, tunggu! Kenapa anak kecil ini memanggilnya dengan sebutan Ayah?!
Adam lantas berjongkok di depan anak kecil itu.
"Wa'alaikumsallam, Cantik. Kamu sama siapa ke sini?!" Tanya Adam pada anak perempuan itu.
"Sama ibu, Eish sama Ibu di jemput sama Supir Nenek." Begitu kata bocah kecil itu.
"Oh, ya?! Terus kenapa ke sini?!" Tanya Adam lagi.
"Mau ketemu sama Ayah. Kata Nenek, Ayah sudah pulang, jadi Eish mau sama Ayah." Jawab anak cantik dengan jujurnya.
"Ayah?! Mana ayahnya?!" Tanya Adam masih tak mengerti.
Gadis kecil itu menunjuk dada Adam.
Ada kembali melebarkan kelopak matanya. "Ini?" Adam menunjuk dirinya. Anak kecil itu mengangguk.
Mata Adam berkaca-kaca, lantas tanpa di suruh Adam berdiri dan menggendong anak kecil itu membawanya masuk ke kamar.
Anak cantik yang lucu itu bahkan dengan erat memeluk Adam. Seolah menyalurkan rasa rindunya.
Adam lantas mendudukkan anak cantik itu di kasur.
"Sekarang jawab Ayah, nama kamu siapa?!" Adam begitu antusias. Begitu senang pada anak kecil yang ia tahu kalau dia adalah anak dari Naifa dan Aran.
"Nama aku Eish, Ayah. Eisha Putri Adam" Jelas Gadis kecil yang mengaku dirinya bernama Eisha.
"Benarkah?!" Adam masih tak percaya.
"Iya. Kata Ibu saat aku tanya kenapa ada nama Adam-nya, terus kata Ibu, Adam adalah nama Ayah aku. Dan Ibu selalu menunjukan foto Ayah padaku. Dan benar, apa yang Ibu bilang, Ayahku ternyata tampan, lebih tampan dari yang ada di foto." Ujar Eisha dengan semangatnya sembari menganggukkan kepalanya.
Adam melebarkan senyumnya dengan air mata yang keluar begitu saja saking terharunya.
"Apa, kamu mau peluk Ayah?!" Tanya Adam.
"Mau," Eisha mengangguk.
Tanpa ba-bi-bu lagi, Adam lantas memeluk Eisha dengan erat, mencium puncak kepala anak perempuan yang begitu cantik. Menumpahkan segala rasa rindu dan rasa tak percaya. Apakah benar?!
Adam lantas mengurai pelukannya, mengusap kasar air matanya. Lantas, ia menatap Eisha yang tersenyum ke arah nya. Gadis kecil itu seolah tengah berbahagia juga.
"Kenapa, Ayah?! Kenapa Ayah menangis? Apa Ayah tidak suka bertemu dengan Eish?!" Tanya Eisha yang heran pada Ayahnya yang terus saja meneteskan air mata.
Adam menggeleng, "bukan itu maksud Ayah, Sayang. Sekarang, kita ke Nenek ya, Ayah masih nggak percaya," ucap Adam. Ia kembali menggendong gadis kecil itu.
Adam berjalan dengan cepat menuruni tangga, hingga sampailah Adam di ruang keluarga. Ia terdiam di sana saat melihat ada Naifa dan Ibunya di sana.
"Kamu, di sini Nai?!" Adam lantas menurunkan Eisha.
Naifa mengangguk, tapi tak mampu untuk menatap wajah Adam. Naifa hanya mampu tersenyum bahagia pada ibu Nuri.
"Ayo, Ayah. Kita duduk." Eisha menarik tangan Adam agar duduk di sofa. Lantas Adam pun duduk. Naifa menggeser duduknya agar Eisha dan Adam bisa duduk di sana.
"Bagaimana Dam?!" Tanya Ibu dengan senyum bahagia.
"Adam masih nggak percaya Bu," jawab nya jujur.
"Nai?! Apa dia benar Anakku?!" Adam menatap Eisha yang tengah tersenyum menatap nya.
"Benar Abang, namanya Eisha. Eisha Putri Adam. Ibu yang memberikan nama itu," jelas Naifa. Ia hanya mampu menundukkan kepalanya sembari meneteskan air mata.
"Seperti Ibunya, yang shalehah. Setia menunggu suaminya sampai sekarang." Kata Ibu Nuri.
Adam melebarkan kelopak matanya, "benarkah Nai?!"
Naifa mengangguk, "benar Abang ... Nai masih menunggu ijab kabul dari mu," ucap Naifa dengan senyum malu-malu.
"Ayo, kalau gitu." Adam begitu bersemangat.
Ibu Nuri memutar bola matanya malas.
...***...
Akad kembali terucap. Menyatukan dua insan yang pernah terpisah karena talak.
Menyatukan kembali cinta yang selama ini terpisah.
Memberi bahagia pada bocah kecil yang kini tengah bahagia karena bertemu dengan sang Ayah.
Setelah akad yang kembali di ucapkan di Masjid. Kini semua orang tengah berada di rumah Keluarga Ayah Hendra untuk syukuran.
Rara dan Sasha yang kini sudah begitu dewasa membantu membagikan bingkisan kepada orang-orang yang datang.
Sedangkan Naifa tengah duduk di sebelah putrinya yang kini tengah bercerita pada Ayahnya. Ia tak boleh pergi dari sana oleh sang putri.
Sedangakan Ayah Hendra, Ibu Nuri dan Ibu Muni duduk di ruang tamu, masih ngobrol dengan para tetangga yang belum pulang.
Naifa tersenyum dan menggeleng saat sang putri memintanya untuk mencium pipi Ayah nya, Naifa jelas malu, karena masih banyak orang.
"Ayolah Bu ... Eish sering lihat loh, kalau Chika di antar Mama-Papanya pasti Chika sama Mama nya mencium Papa, jadi Eisha pengin ...," rengek Eisha.
Naifa mendengus kesal anaknya ini memang lain dari dirinya, dia begitu banyak yang memanjakan, jadi sedikit lebih berbeda. Ia lebih banyak bicara tidak seperti Naifa yang kalem.
"Tidak, apa-apa Kak! Sudah halal kembali, ya nggak Kak Ra?!" Ujar Sasha yang sudah masuk ke ruang tengah.
Rara hanya tersenyum lantas mengangguk.
"Sudah, sudah jangan di goda terus bidadari ku ... takutnya malu, terus malah kabur," ucap Adam dengan senyum menatap wajah istrinya yang se merah tomat.
Sasha dan Rara lantas mendekat dan duduk di sana.
"Ish, ibu tidak akan kabur Yah! ibu 'kan tidak bisa jauh-jauh dari Eish." Gerutu anak cantik yang masih betah duduk di pangkuan sang Ayah.
"Oh, iya ... Ayah lupa, maaf ya," ucap Adam yang langsung membuat tiga perempuan cantik di sana tersenyum dengan tingkah nya.
"Eish sekarang kelas berapa?!" Tanya Adam lagi.
"Ayah nanya kelas terus, Ayah lupa?!" Eisha kesal.
"Oh iya lupa," Adam meringis. Pasalnya ia sudah bertanya sampai dua kali tentang sekolah Eisha, tapi entah kenapa dia selalu lupa.
Rara dan Sasha menggeleng kan kepala heran. Kakak iparnya itu jadi seperti anak muda yang pelupa karena grogi.
Rara lantas memukul pelan lengan Sasha. Memberi kode. Sasha pun menoleh dan mengangguk.
"Eisha, Sayang ... ikut Tante Sasha yuk. Kita beli ice cream," Sasha berdiri dan mengulurkan tangannya pada Eisha yang mengerut kan bibirnya lucu.
"Ayo," Eisha lantas turun dari pangkuan sang Ayah dan pamit pada Ibunya, karena dengan Ayahnya ia tengah sedikit kesal. "Ibu Eish tinggal sebentar ya, nanti Eish kembali lagi." Pamit Eisha pada sang Ibu.
"Hati-hati Nak," Naifa mengusap puncak kepala anaknya.