Naifa

Naifa
Bab 58



6 Tahun Kemudian.


Anak kecil berusia lima tahun lebih sedikit tengah bermain dengan sang ibu di depan rumahnya. Sementara seorang pria juga ada di sana. Tertawa, bermain dengan anak kecil perempuan yang begitu menggemaskan.


Sang ibu duduk, sementara sang pria berlari pelan seolah-olah tengah mengejar anak kecil perempuan yang tengah berlari di depannya.


Si ibu tertawa, tawanya begitu bahagia di balik telapak tangan yang menutup mulutnya.


Sementara itu, tak jauh dari sana seorang pria lain terlihat menitikan air mata. Turut bahagia melihat sang wanita tercintanya kini sudah bahagia. Menurutnya.


...***...


Ternyata untuk menanti sang anak yang jauh dalam jangkauan itu sesuatu yang sulit. Akhirnya Ibu Nuri menyuruh sang suami untuk bagaimana caranya yang penting sang putra bisa kembali ke sisinya.


Tak akan perduli dirinya pada pendapat orang lain, yang ia inginkan hanyalah putranya kembali.


Dan tiga hari ini Adam kembali ke rumahnya. Rumah orangtuanya. Tiga hari ini ia menghirup udara bebas. Bebas dalam artian tidak lagi terkurung dalam penjara yang menjauhkan dirinya dari orang-orang terkasihnya.


Selama di dalam penjara, Adam tidak tahu-menahu pasal Naifa yang masih menantinya. Pasal Naifa yang akhirnya hamil dan memiliki seorang putri.


Ibu Nuri dan Ayah Hendra tak pernah menceritakan tentang Naifa banyak-banyak. Tak pernah menceritakan bagaimana hari-hari Naifa tanpa dirinya, bagaimana saat Naifa dengan bahagianya membawa kabar baik itu dulu ke rumah. Yang langsung di sambut penuh bahagia dan haru.


Karena harus hamil, sementara ayah dari anak itu ada di dalam penjara.


Tak sampai di sana, bahkan bagaimana bahagianya Ayah Hendra dan Ibu Nuri saat empat bulanan Naifa, maupun tujuh bulanan bahkan sampai saat menyambut cucu baru mereka, mereka tak menceritakan nya pada Adam.


Sampai saat cucunya yang begitu cantik selalu bermain bersamanya pun tak pernah di ceritakan nya pada Adam.


Adam benar-benar tak mengerti tentang apapun.


Dan itu semua di lakukan agar Adam fokus di sana. Lebih fokus ke ibadah saja. Memperbaiki hati agar bisa lebih baik lagi.


Niat Ibu Nuri dan Ayah Hendra pun juga agar bisa menjadi kejutan indah saat anaknya telah kembali.


Tapi, sayang sekali Adam datang ke tempat Ibu Muni di saat-saat yang tidak pas. Di saat Naifa tengah bermain dengan putrinya dan ... Aran.


Aran yang sudah selesai dengan pendidikan nya memang kini tinggal kembali di sana. Ia memang jadi sering bermain dengan anak Naifa. Tapi, tentu saja tidak pernah di dalam rumah. Selalu jika bermain pasti di halaman. Agar tak menimbulkan fitnah.


Walaupun kenyataannya, Adam tetap lah salah sangka. Dalam bayangannya, Naifa telah bahagia bersama suami baru dan anak mereka.


Anak yang adalah anaknya itu. Tapi sayang dirinya tak tahu.


Di sana, Adam mengusap sudut matanya. Lantas membawa tubuhnya untuk berbalik arah. Ia pun akhirnya memutuskan untuk pulang.


Meninggalkan kebahagiaan yang baru saja membuat sudut hatinya tersiksa.


...***...


"Loh, kok pulang Dam. Nai mana?!" Tanya Ibu Nuri saat anaknya kini sudah kembali ke rumahnya.


"Adam nggak mau ganggu lah, Bu. Kayaknya dia sudah bahagia." Jawab Adam lesu.


"Ya, jelas bahagia. 'Kan sekarang dia sudah memiliki putri. Kamu lihat tidak, tadi, anaknya?!" Ibu Nuri bertanya dengan antusias tanpa tahu kalau putranya ke sana hanya untuk sakit hati.


"Lihat, sekilas sih. Cantik, seperti ibunya." Ujar Adam lesu.


Ibu Nuri mengernyitkan dahi, dalam hatinya mengatakan, "apa di foto sama nyata beda ya, jadi cucu kesayangan ku tidak mengenali ayahnya?!"


"Kok bisa ya?!" Gumam Ibu Nuri.


"Adam hanya melihat dari jauh Bu, tidak berani mendekat. Takut suaminya marah." Begitu ujar Adam.


Ibu Nuri lantas menutup mulut dam hidungnya, ia tertawa lirih. Ibu Nuri tahu kalau yang di lihat Adam pasti adalah Aran. Pemuda yang selalu menyayangi cucunya dengan tulus. Tak perduli ia mendapatkan ibunya atau tidak, justru Aran malah mendukung keinginan Naifa yang mempertahankan rumah tangganya.


"Tahu gini, Adam nggak mau keluar bu," ucap Adam masih lesu.


"Hush, kalau ngomong yang benar Dam. Tidak boleh mengatakan seperti itu." Ibu Nuri terlihat kesal dengan putranya yang bicaranya ngawur.


"Ya, sudah. Adam istirahat ya Bu. Sekalian mau bantu pekerjaan Ayah dari kamar." Ibu Nuri mengangguk.


Adam lantas pergi dari sebelah sang ibu, menaiki anak tangga menuju kamarnya.


Ibu Nuri tersenyum. Sekarang Adam benar-benar lembut padanya. Semakin banyak usia anaknya, malah semakin membawa nya ke kedewasaan. Dan ini semua tak lepas dari Naifa yang dulu dengan sabar membawa Adam ke jalan yang benar.


Adam duduk di depan laptop, di ranjang nya. Tapi matanya terbayang akan wajah imut yang tadi ia lihat. Wajah ayu yang jadi pusat pertama matanya. Tadi saat ada di sana.


Adam tersenyum. Masih terbayang Naifa yang duduk di teras dengan pakaian yang semuanya hitam. Lantas anak kecil yang begitu menggemaskan, rasanya ia seperti melihat wajah dirinya di anak Naifa.


Adam tersenyum miring saat mengingat nya.


"Andai aku tidak gegabah ya, Nai ... kita pasti masih bersama." Gumam Adam.


Masih teringat bagaimana hangatnya cinta nya bersama Naifa dulu. Sikap Naifa yang penurut, kata-kata nya yang tidak pernah membantahnya sekalipun awal nya ia hanyalah berandalan bo do h.


Adam kembali tersenyum miring saat kembali mengingat waktu dulu.


Lantas tersenyum manis saat mengingat bahagianya bersama Naifa. Bersama saat bersatu dalam menikmati indahnya rasa surga dunia.


Bersatu dalam genggaman tangan yang membawa mereka berdua melewati jalanan yang berliku, curam juga terjal. Jalan yang Adam bawa adalah bukan jalan yang mulus, yang akhirnya membawa mereka ke titik ini sekarang. Titik di mana keduanya tak lagi menyatu.


Adam mengembuskan napas kasar.


"Sudah lah. Biarkan dia bahagia. Selagi dia bahagia aku juga bahagia. Terimakasih Nai ... Cintamu akan selalu ada di sini, selamanya." Adam menepuk dadanya.


Lalu Adam pun mulai serius di depan laptopnya. Sampai lumayan lama, sampai di panggil Bibi Siti untuk makan siang pun ia menjawab nanti.


Di suruh turun untuk menemani ibunya pun ia menjawab nanti.


Sampai akhirnya ada yang memanggilnya kembali.


Panggilan yang membuat nya terdiam mendengarkan dengan seksama. Suara yang asing, suara yang baru ia dengar. Yang bahkan entah memanggil dirinya atau bukan.


Yang jelas panggilan itu, membuatnya diam membisu.


Setelahnya, dengan pelan Adam menurunkan kakinya ke lantai, berjalan dengan langkah pelan menuju pintu, berharap kalau yang di panggil adalah dirinya.


Dengan ragu Adam membuka pintu dan ... seketika ia membisu, membatu di tempatnya.