
"Nggak penting kali ya ... aku tahu dari mana dan siapa, yang jelas aku tahu di mana keberadaan Rara si cewek pendiam, alim dan apa yah?!" ucap pemuda itu. Sembari tersenyum lebar ke arah Rara, jangan lupakan telunjuk yang mengetuk-ngetuk dagu seolah tengah berpikir.
Rara menggeleng kan kepalanya, lalu, mengambil ponselnya yang jatuh. Ia sama sekali tak perduli pada pemuda yang kini masih berdiri di depan warungnya. Bahkan pemuda yang terlihat tampan itu mengambil beberapa makanan ringan yang di jual di sana dan memakannya. Tanpa perduli pada Rara yang merasa risih dan bingung saat ada orang lain di tempatnya.
Sekarang, batin Rara menyesali keputusannya untuk menyendiri. Nyatanya kesendirian nya malah membawanya pada seseorang yang membuatnya galau akhir-akhir ini.
Naira, Rara panggilan akrabnya. Selayaknya gadis remaja pada umumnya. Ia juga sudah memiliki rasa tertarik pada lawan jenis. Hanya saja, ia takut. Takut di marahi ibu dan Kakaknya. Karena sudah jelas Ibu dan kakaknya melarang dia dan adiknya untuk pacaran.
Sedangkan pemuda di depannya itu adalah Kakak kelasnya. Tepatnya Kakak kelas baru. Athan, namanya. Dia adalah pemuda yang mengirim pesan padanya dan mengatakan cinta padanya. Entah dari mana Athan tahu nomornya. Mungkin dari teman sekelasnya. Padahal Athan adalah murid baru di sekolah itu, ia pindahan dari Bandung. Tapi, yang tidak bisa di mengerti oleh Rara adalah, tiba-tiba saja Athan mengirim pesan padanya dan mengatakan cinta.
Jangan lupa, pesan Athan pada Rara adalah untuk mengajak Rara pacaran.
Rara di sekolah bukanlah gadis yang populer, ia justru terkenal tidak punya teman. Karena ia tak mengikuti ekstra apapun, hanya murni sekolah saja. Ia tak pernah ngobrol banyak dengan teman-teman nya. Dia hanya punya sekedar teman, tidak ada yang namanya sahabat bagi Rara.
Namun, saat itu, ia begitu terkejut saat tiba-tiba Athan berdiri di depannya dengan berniat mengantarnya pulang. Yang jelas-jelas di tolak mentah-mentah oleh Rara.
Rara pikir, Athan akan kapok dan tidak mendekat lagi padanya. Namun perkiraan nya salah besar. Justru karena cuek nya Rara malah membuat Athan semakin penasaran.
Pemuda berkulit putih, berpakaian branded itu malah semakin mengejar-ngejar Rara. Bahkan kini Athan bisa tahu di mana Rara berada.
"Setahu ku ya!" Ujar Athan sembari makan cemilan ringan yang baru ia buka, "kalau ada tamu tuh, di beri minum, di beri makan. Ini malah di cuekin. Kamu nggak pernah dengar ya?! kalau tuan rumah harus memperlakukan tamu seperti raja." Sambung Athan.
Rara hanya menajamkan pendengarannya tanpa melihat seperti apa sekarang ekspresi Athan. Yang Rara dengar hanya suara gurih makanan ringan yang tengah di makan oleh Athan.
"Aku, pikir ya ... kamu tuh kalau di tempat tinggal kamu, kamu bakal bisa bersuara. Tenyata sama saja ya? Diam dan cuek."
Kalimat Athan masih tidak di jawab apapun oleh Rara. Dalam degup jantung yang berdetak lebih dari biasanya, Rara tetap diam, tak menanggapi sama sekali.
Jujur saja, dalam hatinya merasa debar aneh. Bagaimana tidak, pemuda yang ada di depannya itu begitu tampan. Putih, tinggi dan idaman wanita sekali. Tapi, sayang ... Rara tidak bisa mengatakannya. Biarkan saja Athan bosan pada nya yang cuek, dari pada dirinya dapat masalah.
Biarkan saja rasa yang baru ia rasakan itu ia pendam dalam hati. Tak akan ia beritahu siapapun sampai nanti waktunya tiba.
...***...
Sampai lama sekali Athan di sana, bahkan saat Rara menutup Warungnya sebentar karena ia ingin shalat Dzuhur di Masjid, Athan malah mengikutinya.
Rasanya Rara ingin sekali memukul pemuda itu, sayangnya Rara tidak mungkin bukan menyentuh laki-laki.
Apalagi saat ia kembali membuka warung dan Athan kembali ke sana menemani Rara yang kembali berdagang.
Kehadiran Athan tak luput dari mata-mata warga sekitar yang datang untuk belanja. Mereka tak bertanya langsung pada Rara, tapi sorot mata mereka menunjukan kalau mereka penasaran.
"Kak, bisa 'kan kamu pergi dari sini. Maaf, harus aku usir, soalnya kedatangan Kakak sangat menggangu aku." Ujar Rara akhirnya. Saat rasanya ia sudah tak tahan lagi di tungguin di warungnya.
Athan sudah pergi dari sana, Rara memandangi punggung pemuda yang berjalan dengan semangat bahkan sembari bersiul, seolah-olah tengah bahagia.
Rara tersenyum, namun setelahnya ia menggeleng kan kepalanya. Tidak, Rara! Fokus pada sekolah, dan jangan pacaran. Pacaran hanya akan membawa mu ke dalam jalan yang salah. Begitu hatinya berbisik memberitahu dirinya sendiri.
...***...
Sore, saat adzan ashar berkumandang Rara segera menutup Warungnya lalu langsung saja ia pergi ke Masjid. Ia langsung pergi untuk membantu Ustadzah Andini mengajar anak-anak mengaji.
Setelahnya, ia pulang. Di rumah, ia sudah di sambut senyuman ceria dari sang ibu. Sepulang dari rumah anak pertamanya, Ibu terlihat lebih ceria.
"Assalamu'alaikum, bu," sapa nya sembari mencium tangan ibunya dengan takzim.
"Wa'alaikumsallam, maaf ya, kamu pasti capek. Ibu dan Sasha pergi main ke rumah Kak Nai, kamu malah jaga Warung." Ujar Ibu.
Rara tersenyum, "tidaklah Bu. 'Kan ini keinginan Rara sendiri." Kata Rara. Ibu Muni mengangguk.
"Ya, sudah, Rara masuk ya Bu. Mau mandi dulu, keburu Adzan Magrib berkumandang." Pamit Rara yang lalu masuk ke dalam rumah.
Ibu mengangguk, ibu melihat kepergian putri keduanya itu. Masih sama, tak mau bercerita padanya.
Ibu Muni baru saja akan masuk, ia baru memutar tumitnya namun urung karena penggilan dari seseorang.
"Ibu, Muni!" Ibu lantas menoleh dan tersenyum pada Ibu Rt, "iya Bu." Ibu Muni berjalan mendekat ke arah Ibu Rt.
"Ibu, Muni dari mana?! Tidak ke warung hari ini?!" Ibu Muni mengernyitkan dahi dan menggeleng, "tidak, Bu. Hari ini saya dan Sasha ke rumah Nai."
"Pantas saja, saya mau mengingatkan. Kalau Rara seharian ini ditemani cowok di Warung. Takutnya ibu Muni tidak tahu dan lagi saya takut kebablasan. Karena baru kali ini saya dan yang lain melihat anak Ibu Muni mau berteman dengan laki-laki."
Ibu Muni kaget dengan apa yang di katakan Ibu RT, tapi Ibu Muni mencoba untuk biasa saja.
"Iya, Bu. Saya tahu. Itu teman nya, in Syaa Allah tidak ada apa-apa di antara mereka. Hanya teman biasa, lagi anak kedua saya masih begitu kecil, baru lima belas tahun." Jelas Ibu Muni.
"Ya, bu. Saya sih hanya mengingatkan. Takutnya ibu Muni belum tahu. Kalau memang temanya sih ya ... baguslah. Seenggaknya kita juga tidak ikut khawatir." Kata Bu Rt lagi.
Ibu Muni mengangguk berucap terima kasih, lantas ibu Rt pun pamit.
Ibu Muni terdiam di tempatnya, "jadi ... ini yang membuat kamu tidak seperti biasanya Ra," ucap Ibu menatap rumah nya yang terlihat lengang. Pasalnya dua anaknya ada di dalam.
Ibu Muni menarik napas kasar dan berjalan masuk ke dalam rumah. Ia perlu hati yang sabar menghadapi dua remaja. Sekarang Rara, sebentar lagi Sasha. Apalagi Sasha lebih mudah berteman dengan siapapun. Ibu Muni harus lebih ekstra menjaga mereka. Jangan sampai menuju ke hal-hal yang buruk.
Dalam hati ibu Muni ber-do'a, semoga Rara dan Sasha bisa mengikuti jejak Naifa yang tidak mengenal apa itu pacaran.