Naifa

Naifa
Bab 57



Naifa tengah membantu memasak sang ibu. Ia tengah menggoreng ayam untuk sarapan. Sedangkan Ibu tengah menumis sayur sawi.


"Kak, kakak masih punya persediaan pembalut?!" Pertanyaan Rara membuat dua wanita beda usia yang ada di dapur menoleh ke arah Rara.


"Coba kamu lihat, di lemari bagian bawah. Kakak lupa, ada atau tidaknya," jawab Naifa.


Rara lantas mengangguk dan berlalu dari sana.


"Perasaan, ibu tidak pernah mendapati kamu berhalangan Nai," ucap Ibu.


Naifa terdiam. "Halangan?!" Gumam Naifa. Kapan terakhir dirinya mendapat halangan Shalat?! Naifa mengingat-ingat kembali. Kenapa terasa sudah begitu lama ia tidak berhalangan.


"Iya, bu ... Nai juga sudah lupa. Bahkan selama dengan," ucapnya tertahan.


Naifa baru ingat selama dengan Adam pun ia tak mendapati halangan shalat. Apakah itu tandanya dia ... Naifa lantas merasakan memiliki harapan besar. Harapan yang ia nanti-nantikan untuk alasan yang sangat tepat kenapa dirinya mempertahankan Adam dan berharap nanti akan kembali bersatu setelah Adam keluar dari sana.


Naifa tersenyum.


"Kenapa Nai?! Itu ayam gorengnya sampai tidak di angkat, nanti gosong loh!" Kata Ibu Muni mengagetkan Naifa dari lamunannya.


"Astaghfirullah, Nai lupa," ucap Naifa yang lantas mengangkat ayam yang ia goreng. Hampir saja gosong.


Ibu Muni hanya menggeleng kan kepalanya tidak mengerti.


...***...


Kini Keempat wanita berbeda usia sudah duduk di kursi makan.


Naifa menarik napas pelan lantas mengembuskan nya perlahan. Rasanya ia merasa begitu berlebihan akan harapan. Tapi entah kenapa ia merasa kalau kemungkinan dirinya hamil begitu nyata.


Niatnya setelah sarapan ia akan pergi ke Apotek guna membeli testpack, walaupun ia tak merasakan gejala-gejala kehamilan seperti mual-mual atau muntah tapi entah kenapa ia begitu yakin kalau dirinya tengah berbadan dua.


Dengan senyum yang mengembang tanpa sadar Naifa mengusap perutnya di bawah meja. Sampai melupakan nasi dan lauk yang ada di piring nya.


"Kak, Kakak kenapa?!" Sasha heran melihat Kakaknya senyam-senyum sendiri.


"Tidak apa-apa, Sha." Ujar Naifa yang lantas memakan makanan yang ada di depannya.


Ibu Muni, Rara juga Sasha begitu heran pada Naifa yang hari ini terlihat begitu cerah.


Belum selesai makan nya, ponselnya bergetar lama. Menandakan adanya panggilan.


Naifa lantas beranjak dari duduknya dan pergi ke arah di mana ponselnya berada. Ada panggilan dari Ustadzah Nada di sana. Seketika ia baru sadar kalau ada pengajian Ustadzah Nada.


"Assalamu'alaikum, Ustadzah," sapa Naifa begitu tombol hijau ia gulir.


"Wa'alaikumsallam, Nai. Bagaimana?! Kamu jadi berangkat tidak?! Jika jadi, nanti temanku akan sangat bersedia menjemput dirimu. Tenang saja, teman ku perempuan," begitu ucap Ustadzah Nada di sebrang sana.


"Maaf, Ustadzah. Tenyata Nai tidak bisa, mendadak ada urusan dan Nai lupa tidak mengabari Ustadzah." Ujar Naifa tidak enak hati.


"Oh, seperti itu ... Tidak apa-apa Nai, kita bisa bertemu di pengajian berikutnya, semoga saja ya ...," ucap Ustadzah Nada.


"Semoga, Aamiin. Maaf sekali lagi Ustadzah," ucap Naifa lagi.


"Iya, Iya Nai. Ya sudah ya, Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsallam," Naifa menaruh kembali ponselnya dam kembali ke ruang makan.


"Siapa, Nai?!" Tanya Ibu Muni.


"Ustadzah Nada, tadinya Nai ingin izin pada Ibu kalau Nai mau mengikuti pengajian nya, tapi, tidak jadi. Karena Nai lupa," ucap Naifa.


"Tumben sekali kamu lupa, Nai?!" Ujar Ibu Muni heran.


Naifa tersenyum.


"Tidak. Tidak apa-apa," jawab Nai.


"Tapi ... Kakak terlihat pucat, ya 'kan Sha?!" Tanya Rara pada Sasha di sebelahnya. Sasha lantas mengangguk.


"Oh, iya ... kamu pucat loh Nai," ucap Ibu Muni yang baru sadar.


Naifa tersenyum, "tenang saja ... In Syaa Allaah Nai tidak apa-apa," ucap Naifa.


...***...


Naifa izin pada ibunya, ia tak mengatakan pada ibunya kalau dia akan ke Apotek untuk membeli testpack. Yang ia katakan hanya akan membeli obat.


Naifa tidak ingin asal bicara sebelum memastikannya. Entah ini adalah perasaan apa, yang jelas Naifa punya feeling kalau dirinya tengah berbadan dua.


Ah, jangan tanya rasanya ... Jika benar, maka dia akan sangat bahagia. Ia akan menanti Adam dengan alasan kehamilannya. Ia yakin ini jika ini benar, maka, inilah jawaban dari doa-doanya.


Naifa sampai do Apotek yang tak jauh dari rumahnya, setelah mendapat kan apa yang ia inginkan, ia segera membawa pulang.


Rasanya ingin sekali langsung sampai di rumah dan mengeceknya. Rasa penasaran nya semakin mendorong Naifa untuk berjalan lebih cepat. Dan akhirnya sampailah Naifa di rumah.


Tapi ternyata ibunya tidak pergi ke Warung, Naifa terbengong di depan pintu, saat Ibu Muni buru-buru bertanya padanya, bagiamana. Karena Ibu Muni Muni terlalu khawatir pada Naifa.


"Sudah beli obat nya Nai?! Ibu khawatir," ucap Ibu saat Naifa bersiap-siap membuka pintu dengan kunci yang ia bawa, namun ternyata sudah di buka dari dalam oleh ibunya.


"Nai, tidak apa-apa, Bu ... makasih ya bu, ibu selalu saja seperti ini, walaupun Nai kini bukan anak kecil lagi," ucap Naifa. Mendadak ia sedih, entahlah ... yang jelas ia merasa begitu beruntung memiliki ibu yang begitu baik. Tak perduli berapa sekarang usia anak pertamanya, yang jelas Ibu Muni tetap menyayanginya layaknya anak kecil.


"Kamu bilang apa Nai, se besar-besar nya anak-anak, bagi Ibunya mereka tetap kecil. Tetep butuh perhatian dan kasih sayang dari ibunya, selagi Ibu nya masih ada bukan?!" Ujar Ibu Muni.


Naifa lantas memeluk ibu nya.


"Ayo, kita masuk. Kamu minum obatnya, biar Ibu tenang. Ibu nggak mau kenapa-napa," ucap Ibu Muni mengajak Naif masuk ke dalam.


Naifa tersenyum malu. Untung ibunya tidak ingin melihat obat nya. Bisa di bayangkan jika ibu melihatnya dan ikut antusias menyuruh dirinya untuk segera mengecek. Yang akhirnya ternyata garis satu. ah jelas bukan hanya Naifa yang kecewa. Ibunya jelas akan kecewa.


Ibu Muni menyiapkan air minum di meja makan. Tapi, Naifa justru pamit ke kamar mandi sebentar.


Ibu Muni terlihat heran pada putrinya yang ke kamar mandi saja plastik obat beserta obatnya di bawa.


"Kenapa, obat nya di bawa Nai?!" Tanya Ibu Muni.


Ibu pikir, Naifa kelupaan sampai ke kamar mandi membawa plastik obat. Tidak tahu kalau putrinya di sana tengah menampung urine nya.


Ibu Muni duduk dengan diam di meja makan menanti putrinya yang masih di kamar mandi. Percuma juga Ibu Muni panggil-panggil. Naifa jelas tidak akan bersuara saat ada di kamar mandi.


Setelah lumayan lama, Naifa keluar dengan mata yang berair. Ibu Muni sampai mendekat.


"Kenapa Nai?!" Tanyanya. Karena putrinya seperti akan menangis.


Tanpa menjawab Naifa memeluk erat tubuh ibunya, Ibu Muni yang tidak tahu apa-apa lantas hanya memeluk balik sang putri.


"Kenapa, Nai?" Tanya Ibu Nuri lagi, saat Naifa sudah mengurai pelukan nya.


Naifa lantas menyodorkan dua benda kecil bergaris merah dua kepada ibunya.


Kini bukan hanya Naifa yang menangis bahagia, Ibu nya pun sama begitu melihat benda kecil yang membuat bahagia.


"Alhamdulillah ... Ya Allaah," begitu ucap Ibu Muni, yang lantas sujud syukur.


Naifa sampai terharu melihat bagaimana bahagianya ibunya saat mengetahui kalau sebentar lagi akan memiliki cucu.


"Terimakasih, Ya Allaah ... jawaban dari Engkau memang tidak pernah mengecewakan." Begitu ujar Naifa dalam hatinya. Seraya tersenyum dan mengusap perut nya yang belum terlihat.