Naifa

Naifa
Bab 62



Senyum nya mengembang sempurna. Memperhatikan dua perempuan yang tengah sibuk berbicara. Kini, Adam tengah memperhatikan Naifa yang tengah menyisir rambut Eisha yang sudah panjang. Anaknya itu, selalu saja minta yang aneh-aneh soal mengikat rambut. Membuat nya yang tidak tahu tentang ikat-mengikat rambut, pusing sendiri.


"Ibu, Eish maunya yang kayak Princess Anna, di kepang dua ke depan semua, nggak kayak gini," rajuk Eisha. Karena kini, rambutnya sudah di kepang satu ala Princess Elsa.


"Sayang, anak Shalihah, nanti kalau di kepang dua, di pakaikan jilbab akan susah. Tapi, kalau di kepang satu kayak gini, nanti kalau di pakaikan jilbab jadi mudah." Jelas Naifa dengan sabar pada anak nya.


Eisha yang duduk kursi, di depan cermin itu mengerucut kan bibirnya. Sang Ayah yang tengah duduk di atas ranjang tersenyum, melihat anak nya yang super lucu menurutnya. Bagaimana tidak lucu, perkara ikat rambut saja dia sudah heboh dari bangun tidur, sampai mandi, bahkan sampai sekarang.


"Turuti, saja kenapa, sih Bu?!" Adam lantas beranjak dari duduknya dan berdiri di belakang Naifa yang masih setia di belakang sang putri.


Naifa menoleh ke arah Adam, "Abang! kalau di turutin, nanti akan memakan waktu yang lebih lama lagi." Kesal Naifa pada sang suami.


Adam meringis, "susah ya?!" Naifa mengangguk.


"Ah, baiklah." Adam lantas beralih ke arah sang putri, ia kini jongkok di depan Eisha yang sudah cantik dan wangi. "Sayang ... anak Ayah yang paling cantik, nurut ya, apa kata Ibu?!"


"Eisha selalu nurut kok, Yah." Ujar Eisha. "Ya, 'kan bu?!" Tanya gadis kecil itu pada ibunya.


Naifa tersenyum, "iya, dong! Anak ibu 'kan anak yang paling penurut, anak shalihah." Jawab Naifa mengusap lembut kepala sang anak.


Adam tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ya, sudah. Mending, sekarang kita sarapan. Setelah itu, baru deh ke rumah Nenek. Ok?!"


"Ok! Ayah, aku mau di gendong!" Seru Eisha dengan semangat.


"Ayo!" Adam berdiri dan menggendong Eisha sang putri dan Naifa mengikutinya dari belakang, dengan senyum yang mengembang sempurna. Begitu bahagia, saat melihat anak dan ayah yang satu itu akrab layaknya anak dan ayah yang tak pernah terpisah.


Dari kecil, Naifa selalu memperlihatkan foto Adam pada Eisha. Selalu mengenalkan siapa Ayahnya. Sampai pada Eisha bisa bertanya pada sang ibu, di mana keberadaan ayahnya, yang selalu dia jawab dengan "Ayah, tengah kerja, menjalankan tugas Nak. Nanti jika Ayah sudah selesai dalam tugasnya, Ayah akan kembali pada kita, pada Ibu dan Eisha, juga pada Nenek dan Kakek." Begitu ujar Naifa setiap saat. Dulu, saat anaknya bertanya tentang keberadaan Adam padanya.


Tapi, kini. Bahkan Eisha tak pernah lagi menanyakan apa yang Ayahnya kerjakan sampai sangat lama meninggalkan nya. Padahal, dulu, Eisha selalu ingin tahu dan berjanji akan menanyakan nya langsung pada Ayahnya jika sudah kembali pada mereka. Dan, pada kenyataannya Eisha lupa setelah bertemu dengan sang Ayah. Yang ia rasakan hanya kebahagiaan yang selama ini ia rindukan. Kasih sayang dari seorang ayah.


Adam menurunkan Eisha di kursi makan, di sebelah sang nenek. Ibu Nuri dengan semangat membantu Eisha turun dari gendongan sang ayah dan duduk di kursinya. "Mau, sarapan apa, Nak?!" tanya Nenek Nuri yang masih berdiri di sebelah sang cucu.


"Mau, jeruk boleh, Nek?!" Tanya Eisha.


"Boleh, tapi nanti ya, sarapan yang lain dulu. Roti, mau?!" tawar sang Nenek. Eisha menganggukkan kepalanya. Ibu Nuri langsung mengambilkan roti untuk cucu nya itu.


"Abang, mau sarapan apa?!" Tanya Naifa pada Adam. Naifa kini sudah berdiri di sebelah Adam.


"Nasi, goreng saja, Nai," jawab Adam.


Naifa, mengangguk. Lantas ia beralih menatap sang Ayah mertua, "Ayah mau sarapan nasi juga, Yah?!" Tanya Naifa pada sang mertua.


"Boleh, Nai."Jawab Ayah Hendra yang masih fokus memperhatikan cucu satu-satunya itu, "Eish?!" panggil nya.


"Iya, Kek," jawab Eisha yang tengah menunggu roti ber-selai strawberry kesuakaanya.


"Eish, mau tinggal di sini, atau di rumah Nenek Muni?!" Tanya Ayah Hendra pada Eisha.


Eisha mengedikan bahu, "Eisha maunya sama Ayah sama Ibu," jawab jujur si bocah kecil.


Ibu Nuri yang ada di antara kakek dan cucu itu tersenyum, "sudah Yah! Jangan di ledek terus, nanti nggak jadi sarapan loh!"


Naifa tersenyum mengerling ke arah Eisha. "Silakan, Bang," ucapnya setelah mengambil nasi goreng buatan Bibi Siti dan memberikan nya pada Adam.


"Makasih, Nai," ucap Adam tulus. "Sama-sama, Abang." Jawab Naifa.


Setelah mengambilkan nasi untuk Adam, Naifa lalu menyiapkan untuk sang Ayah mertua. "Silakan Yah." Ujar Naifa setelah menaruh piring berisi nasi goreng untuk sang Ayah mertua.


"Makasih, Nai." Ayah Hendra langsung beralih ke piring di depannya.


"Sama-sama, Yah." Naifa beralih ke ibu mertuanya yang kini sibuk dengan Eisha, memotong-motong roti sang Cucu agar mudah saat Eisha memakannya. "Ibu, mau juga, tidak?!"


"Kamu, saja dulu, Nai. Ibu masih belum lapar," jawab Ibu Muni.


Naifa mengangguk dan mengambil piring yang lalu ia isi dengan nasi goreng untuknya. Lantas makan di sebelah sang suami, sembari sesekali mengerling sang putri yang bolak-balik meminta di buatkan kembali oleh sang nenek roti dengan selai strawberry.


...***...


Setelah sarapan selesai. Adam, Naifa dan Eisha langsung pergi ke rumah Ibu Muni. Adam ingin ke sana, kemarin belum sempat ngobrol lama.


Di dalam mobil, Eisha yang duduk di belakang sibuk sendiri. Menyanyi dan berbicara sendiri. Kadang anak kecil itu bertanya pada sang Ayah maupun sang ibu, saat ia merasa begitu penasaran dengan apa yang ia lihat.


"Nanti, pulang dari rumah ibu. Kita lihat rumah kita, ya, Nai?!" ujar Adam yang sekilas melihat ke arah sang istri yang duduk di sebelahnya.


"Boleh, Abang. Nai juga rindu sekali dengan rumah itu. Rumah penuh kenangan." Jawab Naifa.


Adam tersenyum, "iya." tangan kiri Adam menggenggam tangan Naifa. "Kenangan yang tak akan kita lupakan."


Naifa mengangguk.


Lalu, Adam teringat sesuatu, "tapi, kamu nggak inget yang_" Naifa langsung menggeleng keras, "tidak. Bang. Nai tidak mengingat yang buruk. Nak, hanya mengingat yang baik-baik tentang kenangan kita." Jawab nya serius. Karena memang seperti itu, kenyataanya. Naifa tidak lagi mengingat yang buruk. Yang ada dalam ingatannya, hanya bahagia yang pernah ia lalui dengan sang suami.


"Makasihh, Nai." Adam menarik tangan Naifa dan mengecupnya sekilas.


Naifa tersenyum dan mengangguk.


Mobil sampai di pelataran rumah Ibu Muni, di sana terlihat pintunya terbuka. Adam memberhentikan mobil dan menoleh ke arah sang istri. "Lagi, ada tamu ya?!" Tanyanya dengan dahi berkerut.


"Mungkin, Aran. Dia memang jadi sering main ke rumah, tapi, biasanya tidak masuk. Mungkin di dalam hanya ada ibu," jelas Naifa pada suaminya.


Raut wajah Adam terlihat beda dari pertama tadi, sudah tak se-semangat tadi saat masih di perjalanan.


"Kok, diam sih, Ayah, Ibu! Ayo turun!" Suara Eisha mengagetkan Adam, yang lantas membuat senyum Adam tercipta kembali walaupun sedikit.


"Ayo, kita turun. Kita temui Nenek." Adam lantas turun dari mobil, diikuti Naifa yang lalu membukakan pintu untuk sang putri.