
Seperti apa yang Adam dan Naifa rencanakan, pagi ini Naifa ikut mobil suaminya dan di antar ke rumah sang Ibu. Namun kali ini, Naifa membawa beberapa makanan dan kue. Kue yang Adam pesan dari langganan sang Ibu. Kue yang harganya lumayan, kata Naifa tadi saat kue nya datang dan melihat harganya, "Ya Allaah, se mahal ini, bisa buat beli mukenah yang bagus, jadi lebih indah saat menghadap Allaah."
Sampai membuat Adam geleng-geleng kepala, "ini modus bukan sih, modus pengin di beliin mukenah?!"
"Astaghfirullah! Tidak Bang, Naifa tidak maksud seperti itu, mukenah yang kemarin saja harganya lebih dari ini, bagiamana mungkin Nai minta lagi. Maksud Nai, itu ... harga kue nya se mahal Mukenah mahal versi Nai, bukan mukenah mahal versi Abang." Jelas Naifa tadi saat mereka berdua belum berangkat.
Saking gemasnya Adam sampai memeluk dengan erat dan menciumi pipi Naifa sampai Naifa tertawa kegelian. Adam tidak habis pikir dengan istrinya itu, karena mahal versi Adam dan istri nya berbeda, menurut Naifa.
Sedangkan kini keduanya sudah sampai di depan gang yang menuju warung Ibu Muni, Naifa sengaja minta di turunkan di sana. Karena ia tak ingin suaminya harus putar balik terlalu jauh jika mengantar nya sampai warung.
"Kamu, beneran, di turunin di sini saja?!" Ujar Adam begitu mobil berhenti.
"Iya, Abang. Tidak apa-apa. Nai biasa kok jalan kaki sampai sana," jawab Naifa.
"Tapi, barang bawaannya banyak loh Nai," ucap Adam lagi.
"Tidak, apa-apa, Abang. Nai sudah terbiasa membawa sebanyak ini." Naifa segera mengambil tangan suaminya untuk salim. Jika menuruti Adam jelas tidak akan turun-turun. Yang ada hanya tanya jawab tak selesai-selesai.
"Assalamu'alaikum, Abang." ucap Naifa.
"Wa'alaikumsallam Nai," jawab Adam.
Adam lantas mencium kening sang istri. "Hati-hati, ya ... Aku lihatin dari sini," Ucap Adam begitu Naifa turun dengan dua tangan yang penuh barang bawaan.
Begitu tak terlihat, Adam lantas menjalankan mobilnya pergi dari sana.
Sementara Naifa kini sudah sampai di depan warung ibunya. Tapi, ternyata masih sepi. Masih tutup. "Tahu, gini tadi Nai ke rumah saja." Gumamnya.
Tapi tak lama setelah ia duduk di depan Warungnya, ia dapat melihat Ibunya berjalan ke arahnya, senyum Naifa langsung lebar seketika.
"Assalamu'alaikum, ibu." Sapa nya pada sang ibu yang kini sudah terlihat begitu dekat.
"Wa'alaikumsallam, Nai. Kamu di sini," ucap Ibu Muni. Tak percaya kalau yang ada di sana adalah anak nya.
"Kenapa, tidak ke rumah?!" Tanya Ibu Muni.
"Nai, pikir, Ibu sudah di warung. Jadi Nai minta di antar sampai depan gang saja sama Abang." Jelas Naifa.
"Lah, terus di mana sekarang suamimu?!" Ibu Muni menoleh ke kanan kiri mencari keberadaan mobil menantunya.
"Abang, sudah Nai suruh untuk berangkat, Bu. Nai tidak ingin Abang terlambat." Jawab Naifa.
Ibu Muni mengangguk mengerti. "Sebentar, ibu buka dulu ya, Warungnya," ucap ibu.
"Biar, Nai saja bu. Nai rindu membuka warung yang pintunya suka ngadat ini," ucap Naifa sembari mengambil kunci di tangan ibunya.
"Apa, ini Nai. Kamu membawa apa saja?!" Tanya Ibu pada Naifa.
"Bukan apa-apa, Bu." Ujar Naifa yang kini sudah membuka pintu warung.
"Ayo, Bu. Kita masuk." Ajak Naifa.
"Assalamu'alaikum," ucap Naifa sembari melangkahkan kaki kanan terlebih dahulu saat masuk warung.
"Wa'alaikumsallam," jawab Ibu yang lantas masuk dengan menenteng barang-barang bawaan Naifa.
Anak pertamanya memang paling baik, paling rajin, paling menurut, tidak pernah membantah nya dan segalanya. Di bandingkan dengan dua putri lainnya, jelas Naifa lah yang paling baik.
Hanya saja, semua itu hanya ada di dalam dada saja. Ibu tidak pernah mengatakan segalanya pada satu-persatu anaknya. Sekali pun sama Naifa, ia tak pernah mengatakan apapun. Apa yang membuatnya bangga diri, tidak. Ibu selalu menyamaratakan agar mereka tidak saling bangga dan merendah satu sama lain.
"Tidak, usah di pel Nai, masih bersih kok," larang Ibu saat melihat Naifa mengambil kain pel dan ember.
"Kenapa, Bu?! Bukannya setiap hari di pel? Apa karena sekarang Nai sudah bukan hanya anak, Nai sudah jadi istri, jadi Ibu sungkan sama Nai?!" Tanya Naifa.
Ibu tersenyum dan mendekat, "bukan seperti itu, Nai. Ya, sudah terserah kamu saja." Ibu lantas membiarkan anak nya itu melakukan perkerjaan yang biasanya di lakukan oleh nya atau anak-anaknya, siapa saja yang jaga warung.
...***...
Setelah semua beres, Naifa kini duduk dengan sang ibu. Ia memotong kue yang ia bawa dan memberikan nya pada sang ibu. Kue yang lembut itu langsung di makan oleh sang ibu.
"Kue nya beda, ya Nai. Lembut banget," ucap Ibu di suapan pertama nya.
"Beda, sama yang biasa ibu beli di pasar." Sambung ibu.
Naifa tersenyum, mungkin jika ibu tahu harganya, ibu tidak akan tega untuk memakannya.
"Oh, ya bu?!" Naifa tiba-tiba ingat dengan adiknya, Rara. "Bagaimana Rara, Bu?! Apa sudah cerita, atau sudah kembali seperti biasa?!"
Ibu menaruh piring kecil di sebelahnya, lantas menatap putri pertamanya itu. "Kemarin, Ibu RT bilang, kalau Rara di sini ditemani sama cowok." Ujar Ibu.
"Astaghfirullah, lalu?!" Tanya Naifa penasaran.
Ibu Muni menggeleng, "Rara belum mau cerita Nai, semoga saja memang hanya berteman. Ibu takut kebablasan Nai. Tahu sendiri 'kan anak muda rasa penasarannya begitu besar." Kata Ibu.
Naifa mengangguk membenarkan, "iya. Nanti coba Nai tanya pelan-pelan. Mungkin sama Nai mau cerita." Naifa mengusap lengan sang Ibu.
...***...
Dan siangnya Naifa sengaja pulang duluan. Ia ingin menemui dua adik nya saat sudah pulang dari sekolah. Dan Naifa sengaja menunggu dua adiknya sebelum dua adiknya itu sampai di rumah.
Naifa menungggu sembari duduk di kamarnya. Kamar yang sudah lama ia tinggalkan. Ia tersenyum saat mengingat bagaimana pertama kalinya ia dia ajak Adam untuk mendaki bukit, melewati lembah terbang ke awan dan ... Naifa menggeleng kepalanya. Setelah Adam berubah menjadi suami yang seutuhnya, ia jadi selalu kepikiran ke arah sana. Apalagi saat melihat tempat yang menjadi kan dirinya dan Adam menyatu.
Tak lama setelah Dzuhur, Rara pulang. Rara begitu terkejut saat mendapati Kakaknya ada di ruang tamu. Pasalnya tadi ia di antar oleh Athan.
"As_salamu'alaikum Kak," ucapnya kikuk.
"Wa'alaikumsallam, Ra. Kamu di antar siapa?" Tanya Naifa dengan senyum yang lebar serta wajah yang biasa saja. Tidak menampakan ekspresi terkejut sama sekali.
"Di antar teman kak," Rara menelan ludahnya kasar.
"Ya, sudah. Sudah Dzuhur 'kan?!" Tanya Naifa.
Rara menggeleng.
"Ya, sudah. Dzuhur dulu sana, setelah itu Kakak ingin bicara, boleh 'kan?!"
Rara mengangguk, "iya Kak. Rara juga ingin bicara."
Rara lantas masuk ke dalam. Naifa tersenyum. "Ini rupanya yang menjadi alasan bagi Rara diam, tak seperti biasanya saat di rumah. Nai tahu, kamu pasti tidak akan macam-macam Ra," gumam Naifa. Ia tetap duduk di sana, menunggu Sasha pulang. Karena Sasha memang lebih aktif di sekolah. Jadi ia biasanya bisa sampai sore.