
Seusai sholat Dzuhur Rara langsung menemui kakaknya yang masih di ruang tamu. Rara langsung duduk di sebelahnya.
"Kak Nai, apa kabar?! Maaf ya, kemarin Rara nggak ikut ke rumah Kakak." Ujar Rara pada Naifa.
Naifa tersenyum, lantas menyodorkan sepotong kue pada adiknya, "tidak apa-apa, coba deh kue ini. Kata ibu rasanya enak loh."
Rara menerima kue di piring kecil dari sang kakak, ia lantas menyuapkan kue itu ke mulutnya.
"Bagaimana, rasanya?!" Tanya Naifa penasaran.
"Enak, enak banget. Rasanya lebih enak dari kue yang biasanya Ibu beli di pasar. Lembut banget, kakak beli di mana?!" Rara memakan dengan cepat kue yang di beri oleh kakaknya itu.
"Hmm, bukan Kakak yang beli. Tapi, Abang yang beli. Kamu mau tahu nggak harganya berapa?!" Tanya Naifa lagi.
"Berapa memangnya?!" Rara menaruh piring kecil yang sudah kosong itu di meja, lantas Naifa memberi gelas berisi air putih yang memang sudah ia siapkan juga di meja.
"Harganya, sama dengan mukenah mahal yang ada di pasar." Ujar Naifa.
"Apa?! Ya Allaah, aku nyesel banget Kak. Harusnya jangan di makan, ini harus nya di simpan." Kata Rara.
"Hahaha, kalau tidak di makan justru mubazir dong Ra," ucap Naifa dengan tertawa heran pada adiknya.
"Kebayang nggak Ra, kalau ibu sampai tahu, harga Kue itu?!" Naifa masih tertawa.
"Jadi, Ibu belum tahu harganya?!" Tanya Rara. Naifa menggeleng. "Ish, aku yakin sih. Ibu bakalan mengeluarkan kue yang sudah di makan." Rara tertawa.
Tapi, setelahnya ia diam. Menatap wajah sang Kakak yang masih tersenyum lebar, mengarah ke arahnya.
"Kak?!" Panggil Rara.
"Kenapa, Ra?!" Tanya Naifa.
Rara menarik napas kasar, "aku mau cerita." Ucap nya. Naifa mengangguk. "Cerita lah." Ujar Naifa.
"Jadi, gini ..., " Rara membasahi bibirnya, "Aku nggak tahu, Kak Athan tahu dari siapa nomor aku, tiba-tiba saja Kak Athan ngirim pesan ke aku, terus ngajak pacaran." Curhat Rara.
Naifa masih mengangguk belum menjawab apapun. Namun dalam hatinya ia mengucap istighfar. Semoga saja Rara nya itu belum sampai menerima ajakan itu.
"Dia tuh, anak baru Kak. Pindahan dari Bandung. Nggak tahu juga sih, aku hanya tahu sekilas-sekilas. Terus kemarin dia datangin aku di warung. Aku nggak nanggepin sebenarnya, tapi, dia tetap saja nungguin aku." Lanjut Rara.
Naifa masih diam, ia membiarkan apa yang jadi penyebab adiknya itu beda saat di rumah.
"Awalnya, tiba-tiba saja di berada di depan aku. Terus tiba-tiba kirim pesan, lagi dia tiba-tiba datang ke warung. Padahal aku sama sekali tidak pernah membalas pesannya, apalagi mengatakan keberadaan ku." Rara masih antusias mengatakan nya pada sang kakak.
"Terus tadi, dia maksa buat antar, kalau aku tidak mau, dia bakalan ikutin aku sampai rumah dan akan bilang sama semua teman-teman sekolah juga ibu kalau kita pacaran. Jadi aku terpaksa ikut. Tapi, aku nggak pegangan sama dia kok kak." Jelas Rara lagi.
"Terus, mengenai pesan itu. Bagaimana dengan perasaan kamu?!" Naifa penasaran. Pasalnya Rara menceritakan dengan wajah yang berseri-seri, namun juga ada rasa takut di sana. Naifa bisa tahu kalau Rara tertarik pada pemuda yang tengah ia ceritakan.
Naifa menarik napas pelan, tangannya mengusap lengan tangan adiknya itu. "Ra, kamu tahu 'kan, Kakak juga punya rasa kagum pada laki-laki. Dulu ... saat kakak belum menikah?!" Rara mengangguk.
Ya. Rara tahu kalau Kakaknya pernah mengagumi sosok Aran yang akhirnya harus berakhir dengan pernikahan nya dengan Adam. Tapi, Rara lihat sekarang ini, seperti nya Kakaknya itu bahkan sudah jatuh cinta pada suaminya. Tidak lagi mengingat siapa itu Aran.
"Rasa kagum itu wajar, Kakak pernah mengagumi Kak Aran karena Kak Aran itu sholatnya tidak pernah bolos, karena Kak Aran baik, menghargai kakak yang tidak ingin terlalu dekat dengan kaki-laki. Menurut Kakak, Kak Aran adalah sosok calon suami idaman. Tapi, pada kenyataannya siapa jodoh kakak?!" Tanya Naifa.
"Kak Adam." Jawab Rara.
"Ya, benar. Jadi, kamu tahu 'kan maksud Kakak?!"
Rara diam tak menjawab.
"Ra, jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari. Boleh saja mengagumi, jika memang dia adalah yang terbaik. Maka, pasti, kamu akan berjodoh dengannya suatu saat nanti. Cukup kamu menyukai nya dalam doa, serahkan semuanya pada Allaah Ta'ala. Jangan pernah sekalipun mencoba untuk menerima ajakan itu Ra." Ujar Naifa memberitahu adiknya itu.
"Kalau, kamu tidak bisa mengatakan nya langsung pada pemuda itu, biar Kakak atau Ibu yang mengatakan pada pemuda itu. Jangan pernah menyembunyikan masalah yang bisa merugikan kamu, pada kita Ra." Sambung Naifa.
"Iya, Kak. Maaf. Aku tidak membalas pesan itu kok Kak. Aku juga tidak mau pacaran. Aku sudah mendengar pesan dari ibu, Kakak, juga Ustadzah Andini. Jadi, In Syaa Allaah Rara tidak akan menerima ajakan-ajakan seperti itu." Jawab Rara menatap netra indah sang kakak.
"Bagus, Ra. Nanti kamu akan merasakan nya sendiri bagaimana saat kamu menjaga masa muda mu dengan tidak pacaran. Kamu akan bahagia saat mempercayakan segala kekaguman mu pada 'Nya, serahkan segalanya pada Yang Maha Kuasa. Percayalah kalau jodoh tidak akan tidak di pertemukan." Rara mengangguk mendengar apa yang di ucapkan Kakaknya padanya.
Lantas Rara memeluk erat Kakak nya itu, Naifa juga membalas pelukan erat sang adik.
"Ciee-cieee yang kemarin nggak ketemu sekarang pelukan kayak Teletubbies." Ujar Sasha yang baru mau mengucap salam namun urung begitu melihat dua Kakak nya tengah berpelukan di ruang tamu.
Rara dan Naifa, keduanya lantas mengurai pelukan mereka. "Salam, Sha, masuk itu! Bukan malah ciee-cieee." Gerutu Rara.
"Ih, tadi aku udah mau salam. Tapi lihat dua kakakku yang cantik-cantik dan shalihah ini pelukan jadi urung 'kan?!" Sasha mendekat ke arah kedua kakaknya dan salim dengan takzim.
"Assalamu'alaikum, Kak Nai ku Sayang ... Kakak ke sini kapan?" Tanya Sasha sembari salim pada Naifa.
"Wa'alaikumsallam, Shalihah. Tadi pagi, di antar Abang. Kamu sudah shalat 'kan?!" Tanya Naifa pada adik kecilnya itu.
"Sudah dong, di sekolah. Tapi, Sasha capek, Sasha masuk ya?!" Pamit Sasha pada Kakaknya.
"Iya, istirahat. Abis itu makan kue yang kakak bawa ya," ucap Naifa.
"Siap, kak!" Ujar Sasha dengan sikap hormat.
Sasha lantas pergi dari sana, meninggalkan dua kakaknya yang masih anteng duduk di sofa.
"Makasih, ya Kak. Setelah cerita sama Kak Nai, Aku jadi mantap untuk tidak pacaran. Rara akan serahkan segala perasaan yang Rara punya pada Allaah. Rara percayakan segalanya pada 'Nya." Ujar Rara.
"Gitu, dong. Itu baru adik Shalihah." Naifa tersenyum lega mendapat jawaban yang baik dari adik nya itu.