
"Maaf, Den, Non. Bibi kaget," ucap Bik Siti.
"Tidak, apa-apa, bi ... maaf mengagetkan," ucap Naifa masih dengan senyum malu-malu nya.
"Mari, silakan masuk," Bi Siti bergeser ke samping pintu mempersilakan masuk bos muda dan istrinya itu.
"Assalamu'alaikum," ucap Naifa sembari melangkahkan kaki nya masuk. Sementara Adam sudah nyelonong masuk, masih tak perduli. Mungkin lebih tepatnya ia menghindari kecanggungan yang terjadi.
"Wa'alaikumsallam, Non," jawab Bik Siti.
"Ibu, ada bi?" Tanya Naifa yang masih di sana.
"Ibu, lagi pergi Non, biasa si Ibu mah sibuk," jawab Bik Siti.
Naifa mengangguk, ya Ibu Nuri memang orang yang sibuk. Sibuk membagi rezekinya ke setiap tempat. Setiap hari ada saja yang Ibu Nuri datangi untuk berbagi. Pantas saja bukan?! Rezeki Ibu Nuri semakin mengalir, ternyata inilah rahasianya, berbagi. Membagikan rezeki yang memang bukan hanya milik kita, tapi, ada milik orang lain di setiap rezeki yang kita dapatkan.
Naifa berjalan masuk setelah Bibi Siti izin ke depan, melanjutkan pekerjaan yang belum selesai.
Naifa mencari sosok yang sudah masuk terlebih dulu. Tapi, tak terlihat di sekitar nya. Padahal kini dirinya sudah sampai di ruang keluarga, ruang yang begitu lebar, dengan sofa yang begitu panjang berbentuk L menghadap sebuah lemari bufet modern yang di tengah-tengah nya terpampang televisi berukuran besar, juga dengan lemari yang setiap pintu nya adalah kaca transparan, jadi, dalam lemari yang isinya sebagian guci kecil dan beberapa foto itu terlihat dari tempat Naifa berdiri.
Naifa menoleh ke arah kanan, terdapat pintu kaca yang kalau Naifa lihat di luar sana adalah taman. Karena dari tempat Naifa berdiri sudah terlihat sebagian rumput dan beberapa pohon kecil. Lantas Naifa menoleh ke kiri, di sana terdapat meja makan dan dapur, Naifa masih mengingat saat makan dengan canggung di sana. Saat baru memasuki rumah itu.
Ini, kedua kalinya Naifa ke rumah mertuanya. Jadi, ia masih bingung dan belum paham.
Naifa lantas memandang anak tangga yang menjulang ke lantai atas, "mungkin, Abang ada di kamarnya," gumam Naifa masih memandang ke lantai dua.
"Malah, bengong di sana. Buruan!" Suara orang dari atas sana mengagetkan Naifa. Adam terlihat baru muncul dan berdiri di ujung tangga.
"Astaghfirullah!" Naifa mengusap dadanya kaget.
Naifa mencoba tersenyum dan menaiki anak tangga satu persatu. Sedangkan Adam setelah mengagetkan dirinya, kini sudah tak terlihat lagi, entah sudah menghilang ke mana.
Sampai di anak tangga paling atas Naifa berhenti, ia masih begitu mengagumi kemegahan rumah mertuanya ini. Di lantai dua yang Naifa pikir hanya ada kamar suaminya. Ternyata tidak, ada beberapa pintu yang tertutup di sana, yang sudah di pastikan oleh Naifa kalau itu semua adalah kamar. Naifa menggeleng kan kepalanya, "apa semua kamar ini di tempati?! Kalau tidak, sayang sekali ...," ucap nya.
"Bengong, terus!" Lagi-lagi Naifa terkejut karena suara Adam lagi-lagi mengagetkan nya.
Adam terlihat ada di kamar paling depan, ia tengah berada di pintu yang terbuka sedikit. "Jadi, nggak?!"
"Hmm," Naifa bingung, "jadi apa Bang?!"
"Beresin baju gue, lo pikir apa?!" Jawab Adam kesal.
"Ah, ya ...," Naifa menyunggingkan senyum malu. Bukan berpikiran aneh-aneh, hanya saja entah kenapa setelah menggenggam dan menatap suaminya tadi di depan pintu sampai ketahuan Bi Siti ia merasa jadi canggung dan ... malu. Padahal tidak harus malu 'kan?! Bukannya Adam suaminya.
Naifa masuk ke kamar Adam, sedangkan Adam masih di sana, memegangi pintu agar tak menutup sebelum Naifa masuk. "Assalamu'alaikum," ucap Naifa.
"Harus, salam juga?! 'kan cuma masuk kamar?!" Adam menutup pintu begitu Naifa masuk. Karena jika ia lepas begitu saja daun pintu sudah di pastikan istri kecilnya akan kaget ke tiga kalinya.
"Salam merupakan doa, Bang." Naifa menoleh ke arah suaminya.
"Ya, ya. Lo pilih lah kira-kira mana yang pantas buat gue shalat." Ujar Adam. Ia berjalan melewati Naifa dan menggeser pintu kaca yang mengarah ke balkon. "Gue ngerokok ya," Adam menoleh ke arah Naifa.
Sebelum Naifa menuju walk in closet, ia melihat ke sekeliling kamar suaminya terlebih dulu. Ada sofa di sana, "di kamar pun ada sofa ya, di rumah Nai sofa hanya di ruang tamu saja." gumam Naifa.
Lantas ia berjalan ke walk in closet, ia membuka dan mencari di mana kira-kira baju koko dan sarung. Naifa hanya mendapati begitu banyak kemeja yang tergantung rapi, lalu tumpukkan yang seperti nya adalah kaos. Lanjut piyama yang semuanya terlihat baru. "Apa nggak sayang baju sebanyak ini, tidak di pakai?!"
Naifa bahkan belum menemukan koko dan sarung, ia malah bergumam sendirian.
"Udah?!" Lagi dan lagi Adam mengagetkan istrinya.
"Astaghfirullah!" Naifa menoleh dan menggeleng.
"Lo, dari tadi ngapain?!" Adam mendekat, menarik satu kaos.
"Nai, nggak tahu di mana koko nya Abang," jawabnya jujur.
Adam mengembuskan nafas kasar, lalu membuka pintu bagian ujung dan ... di sanalah terdapat begitu banyak baju koko.
"Ini, semua nggak pernah di pakai Bang?!" Tanya Naifa serius.
"Pakai, setahun sekali." Jawab Adam jujur.
Naifa menggeleng kan kepalanya sembari berjalan dan mengambil beberapa koko dan sarung.
"Kenapa?!" Tanya Adam penasaran karena istrinya itu menggeleng kan kepala nya.
"Sayang, saja Bang. Baju sebanyak ini tidak pernah Abang pakai, padahal di luar sana banyak sekali yang membutuhkan baju." Ujar Naifa tanpa menoleh.
"Lo kasih aja, ke orang-orang. Kalau memang orang-orang mau." Jawaban Adam membuat Naifa menoleh. "Benarkah, Bang?!"
"Masak gue bohong, buat apa?! Gue nggak pakai semuanya. Lagian nanti juga di isi lagi sama nyokap." Jawab Adam. Ia membuka bajunya di sana dan memakai kaos yang tadi ia ambil. Tak perduli pada Naifa yang langsung gugup melihat tubuh bagian atas Adam walaupun sekilas. Karena Naifa buru-buru kembali memilih koko yang akan ia bawa untuk suaminya shalat di rumah. Jika tidak buru-buru menunduk, sudah di pastikan Naifa akan malu.
***
Sementara itu, di bawah. Ibu Nuri baru pulang dengan supirnya. Ia langsung masuk untuk istirahat rasanya ia begitu lelah hari ini. Datang ke tiga Panti sekaligus. Membantu pembangunan Panti yang semuanya berjauhan.
"Assalamu'alaikum," ucap Ibu Nuri.
"Wa'alaikumsallam, Bu. Bu, ada kabar baik," Ucap Bi Siti.
"Kabar, baik apa Bi?" Ibu Nuri yang baru masuk itu duduk di sofa ruang tamu.
"Den Adam pulang, dengan Non Naifa, Bu. Sekarang mereka ada di kamar Aden." Jelas Bi Siti.
"Benarkah, bi?!" Tanya Ibu Nuri tak percaya. Pasalnya baru saja ia temui anaknya itu dan menantunya. Semua masih terlihat sama. Adam bahkan baru pulang setelah meninggalkan istrinya selama seminggu. Ibu Nuri benar-benar bahagia, tiba-tiba saja rasa lelah itu menguap entah ke mana.
"Sebentar lagi Maghrib, usahakan mereka makan malam dan menginap di sini ya Bi, saya mau bersih-bersih, mau ngabarin Bapak juga, biar pulang secepat nya. Biar tidak jadi lembur." Ibu Nuri dengan antusiasnya beranjak dari sofa dan berjalan menuju kamarnya.
Sedangkan Bi Siti hanya mengangguk tersenyum turut bahagia. "Semoga Aden dan Non bisa bersatu, menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warohmah. Aamiin Ya Allah."