
Perlahan Ibu Nuri mendekat. Langkahnya begitu pelan, jangan tanyakan air yang mengalir dari matanya, itu adalah air mata bahagia. Susah sekali menahan diri untuk biasa saja saat melihat sang putra sudah benar-benar kembali ke jalan yang benar.
Sementara itu, Adam juga diam membisu. Ia seolah baru kembali bertemu dengan sang ibu. Ada apa ini?! Ke mana sebenarnya selama ini Adam pergi?! Kenapa rasanya seperti baru kembali?!
Naifa yang melihat keharuan ini tak sanggup untuk membendung air mata.
Ibu Nuri diam di depan sang putra. Adam juga tak tahu ia harus apa sekarang. Padahal dalam hatinya ia ingin sekali memeluk sang ibu seperti waktu dulu. Saat dirinya masih sekolah dan akan mendapat pelukan sayang dari ibunya setiap hari. Sebelum ia menjauhkan dirinya dari ibu nya, dari semuanya.
Adam melepas genggaman tangannya dari tangan Naifa. Lantas entah siapa yang memulai yang jelas kini Ibu dan anak itu sudah saling berpelukan. Ibu Nuri bahkan memeluk erat putranya dan menangis dalam dekapan sang putra.
"Selamat pagi, Sayang ... pagi ini Adam mau sarapan apa Nak?"
"Pagi, Den ... Aden mau apa? Biar bibi buatkan."
"Ayo Sayang, nanti telat, sudah siang. Nanti habiskan sarapannya di mobil saja ya, ayo sambil di bawa roti nya."
"Nanti, bekal nya di habiskan ya?!"
"Jagoan ayah mau hadiah apa?! Jagoan Ayah 'kan sangat pintar?!"
Sekilas bayangan-bayangan kebaikan sang ibu, ayah dan bibi Siti melintas. Kenapa?! Kenapa dulu ia tak suka seperti itu, padahal begitu banyak anak di luar sana yang menginginkan kasih sayang yang sempurna dari sang ibu.
Setelah acara peluk-pelukan selesai, Ayah Hendra mendekat. Ia hanya menepuk pundak putranya.
Adam tersenyum pada Ayahnya itu.
***
Kini semuanya sudah duduk di meja makan. Adam makan setelah di ambilkan oleh Naifa. Bahkan ternyata makanan kesukaan Adam adalah sop ayam yang di masak ibunya. Sungguh Naifa tersenyum tak habis-habisnya, hari ini begitu banyak kejutan untuknya. Setelah berubahnya suaminya, ternyata ia dan suaminya memiliki makanan favorit yang sama.
Ibu Nuri tak melepas kan pandangannya dari sang putra. Ia masih ingat bagaimana putranya suka sekali membentak dirinya, bahkan ia masih ingat saat ia meminta Adam untuk menikahi Naifa, yang di jawab dengan jawaban yang menyakitkan. Tapi, kini ... Adam bahkan memandang istrinya itu penuh cinta. Begitu yang ibu Nuri lihat.
Tidak menyesal rasanya sekarang, jika keinginannya yang memaksa menikahkan Adam dengan Naifa membawa kebaikan untuk keduanya. Dalam hati Ibu Nuri tak lepas dari rasa syukur. Begitu juga Ayah Hendra, ia juga begitu bahagia. Setelah tadinya ia tak percaya pada istrinya saat di telpon dan di suruh pulang. Tapi, melihat ini, ia percaya kalau kekuatan cinta dan doa itu nyata.
Namun ternyata kecanggungan masih di rasakan oleh Adam, sehingga setelah selesai makan ia langsung pamitan pada istrinya untuk ke kamar. Ia belum mengatakan apapun pada orangtuanya, hanya pada Naifa ia mau untuk bicara. Tapi Ibu dan Ayah memaklumi itu.
"Gue, ke atas dulu." Begitu pamit Adam tadi pada istrinya yang langsung di angguki dan di beri senyuman yang begitu manis.
Setelah Adam tak terlihat lagi, Ibu Nuri buru-buru untuk bangun dari duduk nya dan memeluk menantunya itu.
"Terimakasih, Nai. Kamu sudah berhasil, Ibu sangat yakin ini semua berkat dari doa-doa mu." Ujar Ibu saat memeluk erat menantunya itu.
"Ibu, jangan bilang seperti ini, jangan berterimakasih pada Nai. Karena sebelum Naifa mendoakan Abang, Ibu dan Ayah sudah lebih dulu mendoakan Abang. Jadi Nai yakin ini adalah jawaban dari doa-doa yang selalu Ibu dan Ayah langit kan," ucap Naifa.
"Boleh ibu, minta satu lagi Nak dari kamu?!"
"Apa, itu bu?!"
"Tolong, bujuk Adam. Agar mau menginap di sini," ucap Ibu Nuri sungguh-sungguh.
Naifa mengangguk, "ya. In Syaa Allah bu, nanti Nai bilang sama Abang. Tapi, jika Abang tidak mau, Nai tidak bisa memaksakan nya ya bu."
Ibu Nuri mengangguk.
***
Naifa baru masuk kamar Suaminya setelah mengetuk pintu dan di persilahkan masuk oleh Adam.
Terlihat Adam tengah menaruh ransel yang berisi baju-baju nya, yang tadi sudah di siapkan oleh Naifa di atas sofa.
"Mmm ... Bang?!" Naifa masih berdiri di samping ranjang melihat suaminya yang sudah siap untuk pulang karena sudah berganti pakaian. Adam menoleh, "hm."
"Ibu ... ingin kita menginap di sini, apa Abang mau?" Tanya Naifa dengan pelan.
"Kalo gue nurut apa yang lo katakan, lo bakalan apa?!" Naifa mengerutkan dahi tak paham. "Maksudnya, gimana Bang?!"
Adam mendekat lantas ia duduk di ranjang, menatap Naifa yang berdiri di depannya. "Kalau gue nurut sama lo, menurut lo gue gimana?!"
"Nggak gimana-gimana Bang, kalau Abang nurutnya ikhlas ya, Nai senang. Tapi, kalau terpaksa lebih baik Nai yang menurut apa keinginan Abang." Naifa sebenarnya masih tak paham, kemana arah pembicaraan Suaminya itu. Karena ia bertanya apa dan Suaminya malah bertanya tentang hal lain.
"Lo, nggak punya nilai gue lemah 'kan?! Hanya karena gue nurut sama lo dan menuruti kemauan nyokap?!" Adam masih dengan raut wajah seriusnya. Jujur saja dalam hati Adam, sedikit saja ia masih merasakan takut kalau ternyata ia hanya akan di anggap lemah dan bodoh karena mau dan mudah menurut. Sampai lupa kalau ia sudah jadi seperti itu karena Vela.
Naifa mengembuskan nafas nya, lalu dengan ragu Naifa duduk di sebelah Adam. "Abang. Menurut pada orang tua itu wajib bagi seorang anak, dan mendengarkan perkataan istri juga bagus, apalagi jika yang di katakan istri adalah kebaikan. Jadi tidak mungkin Ibu atau istri akan merasa menang saat mengatakan atau memerintahkan suami nya dan Suaminya menurut. Justru mereka akan bangga pada seseorang yang menurut karena berarti menghargai. Ini kalau perintah nya baik ya, Bang. Lain lagi kalau perintah nya buruk, boleh tidak mengikuti atau melawan." Seperti nya Naifa harus ektra sabar menghadapi pria yang menjadi pendamping hidupnya itu.
Adam lalu mengangguk kan kepalanya. "Memangnya, kenapa Bang?!" Naifa jadi penasaran. Kenapa Adam mempertanyakan hal seperti itu.
Hening. Adam tak langsung menjawab.
"Gue pernah di bully hanya karena gue adalah anak yang penurut. Gue nggak pernah punya teman karena itu, Nai. Semua teman-teman gue hanya datang saat mereka membutuhkan gue, tidak ada yang tulus berteman sama gue. Bahkan gue selalu di kucilkan hanya karena gue masih bawa bekal ke sekolah, masih di antar dan di jemput." Adam menerawang masa silam nya. Tanpa sadar ia menceritakan masa kecilnya pada Naifa.
Naifa diam mendengarkan. Tak berniat sedikit pun menjawab karena sepertinya Adam akan mengatakan sesuatu lagi.
"Sampai gue merasa lelah dan marah Nai, sama Ibu yang terlalu baik. Sama Bi Siti yang selalu perhatian, sama Ayah yang selalu memberikan fasilitas di sekolah yang biasa saja. Sampai akhirnya gue ketemu sama orang yang membantu gue keluar dari masalah ketakutan di Sekolah. Dan akhirnya gue merubah diri gue sendiri, gue menjadi anak yang tidak lagi di ejek tapi di takuti. Semua temen-temen sekolah akhirnya takut sama gue, sampai ibu dan semua orang-orang pun takut karena sikap gue yang berubah." Adam menerawang saat ia bertemu dengan Vela di pertama kalinya.