Naifa

Naifa
Bab 29



Adam berjalan pelan menuju pintu kamar yang di tunjuk Ibu Muni. Dengan pelan ia membuka pintu kayu tersebut. Pandangan yang pertama ia lihat adalah Naifa yang duduk di lantai bersandar di ujung ranjang memeluk Al-Qur'an. Bisa di pastikan kalau Naifa mengaji sampai ketiduran.


Bibir Adam tersenyum, melihat pemandangan indah di depannya. Perlahan ia mendekat setelah benar-benar masuk dan menutup pintu. Ia kini sudah jongkok di depan wanita yang tertidur pulas dengan posisi yang pasti akan membuat Naifa sakit punggung dam tengkuk.


Dengan gerakan slow motion Adam membelai wajah Naifa. Mengusap pelan pipi mulus itu sampai membuat mata terpejam Naifa bergerak-gerak.


"Abang," ucap Naifa begitu ia membuka mata karena terganggu oleh usapan lembut dari tangan sang suami. Naifa lantas menegakan duduknya dan benar saja leher bagian belakang nya terasa sakit.


"Sorry, ya ... Sudah bikin lo nunggu." Ujar Adam.


Naifa tersenyum lembut, "tidak apa Bang, sebentar." Naifa berdiri dan menaruh Al-Qur'an nya.


Adam pun turut berdiri namun ia segera duduk kembali di ranjang sang istri. Adam melihat sekeliling kamar Naifa yang tak terlalu lebar. Se lebar kamar di rumah mereka, namun lebih cantik kamar Naifa karena warna cat nya yang menyegarkan mata. Cat tembok hijau coral dengan wallpaper salur hijau dan putih di sebagian dinding.


"Lo, belum makan ya?" Tanya Adam pada Naifa yang kini sudah duduk di sebelahnya.


"Iya, Nai pikir Abang tak akan sampai se malam ini. Tadi, apa Ibu yang membukakan pintu?! Nai ketiduran sampai tidak mendengar suara mobil Abang." Kata Naifa.


"Iya," Adam mengembuskan nafas kasar, "gue pikir Ibu lo bakal marah sama gue," Adam menoleh ke arah Naifa.


"Kenapa harus marah, Bang?!" Tanya Naifa bingung.


"Ya, karena gue yang kayak gini." Ujar Adam.


"Tidak ada yang perlu ibu marahi, Bang." Naifa tersenyum menatap Suaminya, "Abang jadi menemui teman Abang?!"


Adam menggeleng, "sibuk banget hari ini, sampai lupa segalanya."


"Astaghfirullah! Tapi tidak lupa sholat 'kan Bang?!" Tanya Naifa serius.


"Enggak, sama lo juga nggak lupa."Jawab Adam. Membuat pipi Naifa merona.


"Eh, lo belom makan 'kan?! Ayok makan dulu, sebelum mencoba tidur satu kamar sama gue," ucap Adam.


Naifa tak mau menjawab, ia hanya mengangguk saja.


Keduanya makan dengan diam, hanya saling pandang dan lempar senyum. Kini, Naifa sudah tak perlu sembunyi-sembunyi untuk minum di gelas sang suami. Karena Naifa selalu menyediakan satu gelas untuk dirinya dan Adam.


Selesai makan, Naifa membereskan segalanya. Ditemani Adam yang hanya membantu doa saja dari tempat duduknya. Selesai itu keduanya lantas masuk kamar. Naifa dan Adam tak tahu kalau ada sepasang mata yang memperhatikan mereka dari celah pintu yang terbuka sedikit. Siapa lagi kalau bukan Ibu Muni.


Ibu Muni hanya ingin memastikan kalau anak nya benar-benar bahagia dengan Adam. Dan dengan ia melihatnya sendiri ia bisa tenang. Seenggaknya menantunya itu terlihat baik pada putrinya. Dari minum di satu gelas yang sama dan mau menemani Naifa menyelesaikan pekerjaannya membereskan meja dan piring saja sudah sedikit membuat Ibu Muni yakin kalau keduanya sudah begitu dekat.


Ibu Muni bisa tidur dengan nyaman dan tenang sekarang, pikiran tentang putri pertamanya sudah tak seperti kemarin. Ia sudah sedikit lega setelah melihat sendiri.


Sementara itu, Adam dan Naifa yang kini sudah di kamarnya tengah duduk di ranjang. Maklum di kamar Naifa tidak ada sofa, hanya ada satu kursi kayu dan meja yang tidak terlalu besar yang di atasnya berderet rapi buku-buku bacaan Naifa.


"Nai," panggil Adam. Naifa menoleh, "iya, Bang."


"Lo, kalau tidur pakai jilbab?!" Naifa menggeleng.


Memang selama ini Adam belum pernah melihat Naifa tanpa jilbab. Ia selalu melihat Naifa dengan jilbab panjangnya.


"Terus, kenapa sekarang belum lo buka?!" Tanya Adam penasaran.


Adam menggeleng, "gue kayak gini saja. Mmm gue buka jilbab lo, boleh?!"


Dengan anggukan mantap Naifa mempersilakan, "silakan, Bang."


Adam menelan ludahnya kasar, perkara membuka jilbab saja ia merasa gugup. Dengan perlahan ia mengangkat ujung jilbab bagian depan Naifa, membawanya ke belakang. Naifa pun merasakan perasaan yang sama, ia deg-degan, padahal ini sudah begitu lama ingin ia lakukan. Membuka jilbabnya di depan suaminya. Selagi Adam membuka jilbabnya Naifa seraya ber-do'a, "bismillaahil ladzii laa ilaaha illaa huwa."


Terlepas lah jilbab Naifa, menampakan dalaman jilbab atau yang sering di bilang ciput yang di pakai Naifa serupa bandana, sehingga rambut panjangnya menjadi satu di bagian belakang. Naifa memang tak pernah mengikat rambutnya, ia selalu membiarkannya terurai di balik jilbabnya. Adam kembali membuka dalaman jilbab itu.


"Lo, cantik banget." Puji Adam jujur.


Yang di lihat nya kali ini sungguh sangat cantik. Rambut panjang hitam legam milik Naifa membuat wajah Naifa semakin terlihat seperti anak remaja yang sebenarnya. Terlihat imut dan cantik. Mata Adam bahkan tak berkedip, "benar saja di tutup. Keindahan seperti ini memang tidak di bolehkan untuk di umbar." ucap Adam dalam hati.


Naifa tersenyum, "terimakasih Bang,"


Adam membelai rambut Naifa, dan mulai mendekatkan wajahnya. Tapi Naifa buru-buru untuk menghindar. Adam mengernyitkan dahi, "kenapa?!"


"Apa, Abang mau?!" Tanya Naifa. Adam pun mengangguk kan kepalanya.


"Ada baiknya, kita sholat dulu Bang, setelah itu baru, bo_boleh i_itu," ucap Naifa terbata-bata.


Adam tersenyum, lalu mengangguk. "Ternyata lo se menggoda ini, gue nggak bisa nahan sampai gue cerita segalanya."


"Abang?! Apa Nai boleh minta sesuatu?!" Tanya Naifa ragu.


"Apa?! Lo mau minta apa?!" Adam serius menatap wajah Naifa di depannya.


"Tolong hilangkan gue, jadi aku dan lo, jadi kamu." Naifa menunduk. Ia masih takut kalau Suaminya tak mau menuruti nya.


"Gue, coba pelan-pelan ya?!" Naifa mendongak lalu tersenyum. "Makasih Bang."


Lantas keduanya sama-sama pergi ke kamar mandi guna mengambil air wudhu, setelahnya keduanya sholat sunah dua rakaat.


Begitu shalat selesai, Adam mengajak naifa tiduran di ranjang. Naifa pun meminta suaminya masuk ke dalam selimut yang sama, juga menuntun Adam agar ber-do'a terlebih dahulu.


"Bismillah, Allahumma jannib naassyyaithaana wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa."


Artinya: "Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan supaya tidak mengganggu apa (anak) yang akan engkau rezekikan kepada kami."


Setelahnya tanpa menunggu lama Adam menuntun Naifa menaiki bukit, melewati lembah, menikmati hamparan keindahan, mengajaknya terbang ke awan dan memberi banyak cinta di sana. Membuat banyak tanda cinta yang akan terkenang sampai kapanpun. Lembut nya awan menyapu setiap apa yang tersentuh, membuat Naifa terbuai di dalamnya. Sapuan lembut itu membuat Naifa yang kelelahan karena menaiki bukit hilang begitu saja, tergantikan dengan kebahagian yang tidak bisa Naifa ungkapkan dengan kata-kata.


Setelah terbang ke awan bersama-sama keduanya lantas terhempas ke bumi kembali secara bersamaan. Dengan perasaan bahagia yang keduanya rasakan.


Kecupan lembut masih terasa di kening Naifa saat selesai sudah mereka terbang ke nirwana. Adam tak henti-hentinya mengucap terimakasih pada isteri kecilnya itu, karena sudah mau memberikan segalanya padanya.


***


Eh tulisan apa ini?! 🤭 Nggak ngerti akutuh 😅 Semoga bisa di mengerti ya teman-teman. Semoga tidak membosankan juga yaaaa ...


Terimakasih yang masih setia mendukung karya receh ini. Semoga kalian sehat selalu, di berikan kemudahan dalam mencapai keinginan dan di lancarkan rezekinya. Juga selalu dalam lindungan Tuhan. Aamiin 🤲