Naifa

Naifa
Bab 53



Dua wanita berada di sofa ruang tamu. Yang satu menangis, yang satu menenangkan dengan cara mengusap dengan pelan punggung si wanita yang tengah menangis itu.


Tangisannya pilu, terdengar begitu menyedihkan.


"Kenapa harus seperti ini, Bi ..., kehidupan ku hancur Bi, dua anakku meninggalkan aku," ucap wanita itu di sela tangisannya.


"Yang satu pergi untuk selamanya, sekarang yang satu harus pergi demi menebus dosa nya, kenapa anak-anak ku begitu malang. Dosa apa yang pernah ku buat dulu, Bi? Sampai anak-anak ku harus seperti ini ...."


"Sabar, bu ... kita hanya bisa bersabar dan mendoakan. Semoga Non tenang di alam sana, semoga Aden juga bisa sehat terus di tempatnya, agar bisa cepat kembali pada Ibu, pada Bapak, pada kita semua. Kembali dengan hati yang lebih baik setelah selesai menebus dosa nya." Si perempuan yang di panggil Bibi juga tak kuasa untuk menahan air mata. Ia pun turut menangis.


"Seandainya saja dia mau, dia tidak perlu harus seperti ini. Kepergian Kakaknya sudah aku ikhlaskan Bi, tapi kenapa dia juga harus seperti ini. Padahal semua tidak murni karena kesalahannya," wanita itu kembali berbicara, menceritakan bagiamana sedihnya dirinya yang di tinggalkan kedua anaknya secara tiba-tiba. Bahkan kini menantunya pun tak berada di sampingnya.


...***...


Naifa sudah siap dengan gamis panjang berwarna hitam, juga dengan jilbab panjang berwarna senada. Hanya saja ada renda berbentuk bunga kecil mengelilingi jilbabnya.


Ia sudah siap untuk pergi ke rumah Ibu Mertuanya. Berharap kalau di rumah mertuanya ada orang. Orang yang bisa ia tanya-tanya tentunya. Bukan hanya sekedar keberadaan nya saja. Syukur-syukur ia kembali bertemu dengan Adam. Dengan itu, ia jadi bisa kembali bertanya. Mungkin jika sekarang bertemu, hati suaminya sudah lebih dingin dan tidak lagi berbicara kasar pada dirinya.


Naifa mengambil tas kecil yang hanya cukup untuk menaruh dompet saja. Untuk ponsel, seminggu lebih memang ia tak memegang nya. Karena kesibukannya mengurus warung, rumah dan ... hati.


Menyampirkan selempang yang berbentuk rantai putih itu di pundak nya sebelah kanan, lantas ia berjalan keluar kamar. Taksi online nya sudah datang dan pamit pada ibunya pun sudah.


Dengan basmalah, Naifa keluar dari rumah dengan harapan yang baik. Memasuki mobil dan duduk dengan diam di kursi belakang.


Perlahan roda mobil taksi online itu berputar meninggalkan halaman rumah Ibu Muni. Naifa membaca doa sembari meyakinkan hatinya kalau hari ini ia akan mendapatkan jawabannya. Jawaban dari setiap rasa penasarannya.


Naifa duduk dengan melihat ke arah luar jendela mobil, memperhatikan setiap jalan yang terlewati. Rasanya begitu lama ia duduk di sana, namun gak kunjung juga mobil sampai.


Mungkin karena rasa tidak sabar nya Naifa, yang membuat kalau dirinya merasa sudah begitu lama berada di dalam perjalanan itu. Padahal jalan yang di lewati tetap sama, bahkan tidak terganggu macet yang lama, hanya sebentar saat tiba di lampu perempatan dan mendapati lampu perempatan berwarna merah.


Naifa kembali menatap jalanan begitu mobil kembali jalan. Sesekali menjawab pertanyaan dari sang driver. Tapi yang pasti Naifa tidak bertanya balik saat di tanya. Karena ia tak mau berbicara lama dengan lawan jenis yang bukan mahramnya. Terlepas driver nya tampan atau tidak, muda atau tua. Naifa jelas tidak perduli.


Yang ia perdulikan sekarang hanya lah cepat sampai.


Akhirnya mobil taksi online itu sampai. Naifa segera turun setelah membayar. Mobil taksi online itu berhenti di depan pagar besar dan tinggi. Ia menyapa Satpam rumah dan Pak Satpam pun membukakan pagar karena sudah kenal dengan Naifa.


Setelah di bukakan pagar, Naifa lantas masuk ke halaman yang luas. Berjalan dengan langkah yang lumayan berat, karena ia takut kalau Adam masih marah padanya.


Hingga sampailah Naifa di undakan yang menuju ke teras. Di sana ia terdiam. Ia mendengar suara orang tengah menangis. Lantas dengan perlahan Naifa melangkah kan kakinya kembali. Ia terpaku di sana, di depan pintu yang terbuka lebar.


Ya. Yang ngobrol di ruang tamu adalah Ibu Nuri dan Bibi Siti. Mereka tengah menangis bersama. Membuat Naifa semakin diam di landa kecemasan.


Apa maksud keduanya?!


"Assalamu'alaikum, Bu ..., " ucap Naifa tertahan.


Ibu Nuri dan Bibi Siti memberhentikan tangisan mereka mereka. Keduanya menoleh ke arah Naifa yang berdiri dengan kaku di tempatnya.


"Wa'alaikumsallam. Non Naifa," ucap Bibi Siti kaget. Ia dari tadi tak menyadari kalau ternyata istri dari tuan mudanya datang dan berdiri Dengan kaku di tengah-tengah pintu yang terbuka.


Perlahan dengan langkah ragu, Naifa mendekat. "Apa yang ibu dan Bibi katakan?!"


Ibu Nuri memandang menantunya itu. "Kamu dari kapan Nai?!" Tanya Ibu Nuri sembari menghapus air matanya juga menyusut hidungnya dengan tisu yang ada di atas meja di depannya.


"Siapa yang ibu maksud, dan apa maksud nya bu ... tolong jelaskan pada Nai." Ujar Naifa.


Bibi Siti yang ada di sana lantas beranjak dari duduknya dan menuntun agar Naifa juga duduk. Wajah Naifa terlihat takut juga cemas. Bibi Siti yakin Naifa tahu apa yang sedang ia katakan dengan Bu Bos-nya. Hanya saja pasti menantu dari bosnya itu menginginkan kalau yang sedang ia bicarakan adalah orang lain.


Ibu Nuri memandang Naifa dengan bingung, haruskah ia mengatakan segalanya?!


"Bu ... kenapa Ibu diam saja," ucap Naifa tidak sabar. Naifa lantas menoleh ke arah Bibi Siti yang duduk di sebelahnya. "Bi .. siapa yang pergi, dan siapa yang menebus dosa?! Apa maksud dari perkataan ibu tadi Bi?!" Naifa bertanya pada Bibi Siti.


"Bibi, tidak berhak menjelaskan Non. Maaf," ucap Bibi Siti dengan rasa bersalah.


"Bu, ayolah ... ada apa?! Kenapa ibu dan Bibi sampai menangis?!" Naifa beranjak dari sofa yang ia duduki dan berpindah duduk di sebelah ibu Mertuanya.


Ibu Nuri memandang wajah penasaran Naifa yang kini duduk di sebelahnya. Mengusap pelan pipi mulus milik menantunya itu. Memandangi dengan sayang ... seolah tengah melepas rasa rindu.


"Ibu sudah kehilangan putri pertama ibu, Nai." Ujar Ibu Nuri, dengan air bening sebening kristal yang jatuh lagi dari sumbernya.


Naifa melebarkan kelopak matanya. "Ma-mak-masduknya Bu?! Naifa tidak mengerti." Ujar Naifa bingung. Ia menggeleng kan kepalanya.


"Anak yang selama hidup ibu rindukan Nai, dia sudah tiada ... bersama dengan cucu pertama ibu." Naifa semakin bingung. Apakah yang Ibu Nuri maksudkan adalah Vela?! Tapi, kenapa?!


Naifa menoleh ke arah Bibi Siti yang duduk di sofa di depan dirinya dan Ibu Nuri. Hanya saja terhalang meja. Dan Bibi Siti mengangguk. Memperjelas jawaban dari Ibu Nuri.


"Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji'ụn, ta-tapi ... bagiamana bisa Bu?!" tanya Naifa kembali, ia masih penasaran. Begitu lama ia tak tahu kabar keberadaan Mbak Vela dan tiba-tiba ada kabar Mbak Vela telah tiada. Apa ini?!