Naifa

Naifa
Bab 49



Ibu Muni mendengar suara mobil berhenti di depan rumah. Ia yang sedang mengangkat jemuran di belakang lantas buru-buru untuk masuk ke dalam rumah dan mencari tahu siapa yang datang. Namun saat ia melihat menantunya turun dari mobil dan membukakan pintu untuk anaknya, Naifa. Lantas dengan buru-buru membuka pintu. Awalnya ibu Muni hanya mengintip lewat jendela.


Rasanya Ibu Muni bahagia sekali, baru saja ia mendoakan putrinya agar selalu baik-baik saja, ternyata memang benar ... tapi, tunggu?! ibu Muni terdiam di tempatnya saat melihat wajah Naifa yang merah-merah. Dalam hatinya ingin bertanya kenapa, tapi sungguh Ibu Muni tak enak hati menanyakan nya, apalagi ada suami dari anaknya di depan sana. Lagi pun Naifa tersenyum lebar saat melihat dirinya.


"Assalamu'alaikum, Ibu." sapa Keduanya bareng-bareng.


"Wa'alaikumsallam. Nai, Nak Adam. kalian ke sini, syukurlah kalian baik-baik saja. Seharian ini Ibu merasa khawatir pada kalian." Tutur Ibu Muni saat kedua nya menyalami dirinya.


Sejujurnya Ibu Muni lebih mengkhawatirkan Naifa, apalagi setelah melihat wajah Naifa.


"Iya, bu. Alhamdulillah, kita baik-baik saja kok bu." Ujar Naifa. Lantas keduanya di ajak masuk oleh Ibu Muni.


Mereka lantas duduk di sofa ruang tamu.


"Nai, ada baiknya kamu istirahat ya ... biar aku antar ke kamar." Ujar Adam.


"Apa, kamu sakit Nai?!" Tanya Ibu khawatir.


"Tidak, bu. Nai tidak apa-apa." Jawab Nai.


"Oh, iya. Itu, di kamar kamu lagi di pakai Rara dan Sasha. Mereka sakit dan mau tiduran di kamar kamu." Ujar Ibu Muni.


"Ya, Allah ... Dari kapan mereka sakit Bu?!" Tanya Naifa khawatir.


"Tadi, pagi. Tiba-tiba saja mereka panas, jadi mereka berdua tidak sekolah." Tutur Ibu Muni.


"Bang, Nai nengok Rara dan Sasha ya," ucap Naifa pada Adam yang duduk di sebelahnya. Adam mengangguk.


Lantas Naifa pun beranjak dari sofa.


Setelah Naifa masuk, Ibu Muni baru saja akan beranjak. Ia berniat mengambilkan minum untuk menantu nya itu.


"Mmm, Bu." Suara Adam menghentikan Ibu Muni, lantas Ibu Muni duduk kembali ke tempat semula.


"Ada, apa, Nak Adam?! Seperti nya ada yang mau Nak Adam sampaikan."


"Bisa bicara sebentar," ucap Adam.


"Silakan, apa yang ingin Nak Adam katakan." Ibu Muni menyiapkan telinga dan hati. Ia benar-benar penasaran.


...***...


Naifa masuk ke kamar nya dan ia langsung mendapati dua adiknya terbaring saling berhadapan di ranjangnya.


"Assalamu'alaikum, Ra, Sha!" Ucap Naifa begitu masuk dan menutup pintu.


Dua adiknya lantas membuka mata, "Kak Nai?!" Ujar Sasha dengan girang.


"Ya, Allaah ... Kak," Sasha yang beranjak dari ranjang langsung memeluk erat sang Kakak. Begitupun Rara.


Naifa tersenyum namun dengan air mata yang meleleh, entah apa jadinya jika kejadian pagi tadi sampai terjadi. Pasti ia tidak akan berani menampakan dirinya di depan siapa pun. Termasuk dua adiknya yang paling ia sayangi itu.


"Kalian sakit, apa?!" Tanya Naifa. Ia melepas pelukannya dan menatap kedua wajah adiknya yang pucat.


"Wajah Kakak kenapa?! Kenapa merah dan luka seperti ini?!" Tanya Rara.


"Kakak tidak papa, kalian bagaimana?!" Tanya Naifa lagi.


Sasha lantas menyeret tangan Kakaknya agar duduk di ranjang, di apit kedua adiknya itu Naifa menuruti Adiknya untuk duduk.


"Apa kak Adam melukaimu Kak?!" Tanya Rara lagi.


Naifa menggeleng. "Tidak, Ra. Ini bukan karena Abang. Percaya lah, justru jika tidak ada Abang, mungkin Kakak tidak akan di sini sekarang." Naifa ternyata tak mampu menyembunyikan rasa takutnya pada Adiknya.


"Ada, apa kak? Kenapa?!" Rara penasaran. Baru kali ini dirinya melihat Kakak yang selalu kuat menangis seperti ini.


"Tadi pagi, ada yang mau mencelakai Kakak. Tapi untungnya Abang pulang," Naifa tak menceritakan segalanya hanya sedikit supaya adiknya tidak lagi menyudutkan Suaminya.


"Ya, Allaah ... siapa yang berniat jahat pada Kakak?!" Rara kembali memeluk Kakak nya itu.


Sasha pun turut memeluk erat tubuh kedua kakaknya, ia tak terlalu mengerti dengan apa yang baru saja Naifa katakan. Yang jelas dalam pikirannya adalah ada yang berniat jahat pada kakaknya itu. Walaupun entah kejahatan apa, ia tak mengerti.


"Kakak juga tidak tahu, Ra. Kakak tidak berani menanyakannya pada Abang." Ujar Naifa.


"Pantesan dari pagi aku kepikiran Kakak terus, perasaan aku nggak enak Kak. Seolah-olah telah membuat kesalahan dan akan di marahi." Kata Sasha memberi tahu perasaan nya.


"Iya, benar Sha. Aku juga kepikiran Kak Nai terus, bahkan aku kebayang-bayang terus wajah Kakak." Ujar Rara.


"Tapi, sekarang Kakak sudah tidak apa-apa 'kan?!" Tanya Sasha.


"Allhamdulillah, kakak tidak apa-apa." Jawab Naifa.


Ia begitu beruntung memiliki dua adik yang begitu menyayanginya.


"Maaf ya, membuat kalian khawatir. Tapi, bagaimana sekarang kalian?! Ibu bilang kalian tiba-tiba sakit." Kata Naifa.


"Dan sekarang, aku tiba-tiba sembuh Kak. Coba kakak cek, panas aku sudah turun." Ujar Sasha. Rara pun merasakan yang sama. Lantas Rara mengecek suhu tubuh nya dengan punggung tangannya yang ternyata sudah tidak panas.


Begitu juga Naifa yang mengecek dahi Sasha dan Rara. "Iya, Alhamdulillah kalian sembuh. Tapi, badan kalian juga sudah enakan 'kan?! tidak hanya panas nya saja yang turun?!" Tanya Naifa.


"Iya, badan aku enakan, kamu gimana Sha?!" Tanya Rara pada adiknya itu. Sasha juga mengangguk dengan semangat.


"Alhamdulillah, Yaa Allaah ... terimakasih untuk nikmat sakit yang Engkau berikan pada kami, juga Terimakasih untuk nikmat sehat yang senantiasa Engkau berikan pada kami. Semoga Engkau selalu melindungi kami, agar di jauhkan dari hal-hal buruk. Aamiin," Naifa mengucap syukur lantas menyapukan kedua tangan yang menyatu ke wajahnya. Begitu juga Rara dan Sasha yang ikut meng-aamiin kan doa sang Kakak.


Namun tiba-tiba, suara mobil Adam terdengar pergi dari halaman rumah Naifa. Naifa lantas menatap pintu masuk, ia penasaran apakah suaminya itu pergi?!


"Sebentar ya ... Kakak lihat Abang dulu," ucap Naifa yang lantas beranjak dari ranjang nya.


Keluar dari kamarnya dan sudah tak mendapati siapa-siapa di ruang tamu. Ia lalu berjalan ke luar, ia dapat melihat Ibunya tengah berdiri di tengah-tengah halaman.


"Bu?!" Panggil Naifa yang kini berdiri di gawang pintu. "Ke mana, Abang?!" Tanya Naifa dengan dahi berkerut.


Ibu Muni mengusap air mata yang membasahi pipi. Lantas Ibu Muni berjalan mendekat ke arah sang putri. Dengan cepat Ibu Muni memeluk anaknya itu.


"Ibu, kenapa?!" Tanya Naifa pada Ibunya setelah Naifa mengurai pelukannya.


"Suamimu sudah mengatakan segalanya, Nai. Pantas saja pagi-pagi Ibu sudah begitu khawatir padamu. Ibu merasakan takut nya, mungkin seperti itulah rasa takutmu saat menghadapi manusia-manusia be ja d itu." Kata Ibu Muni.


"Tapi, sekarang Nai sudah baik-baik saja bu. Ada Abang, ada Ibu Nuri dan Ayah Hendra yang menemani Nai. Lagi pula, jika Nai mengabari ibu. Nai jelas merasa sangat bersalah jika sampai Ibu meninggalkan kedua adik Nai demi Nai. Sementara Nai di sana tidak sendirian. Nai masih di lindungi oleh Allaah Bu, jadi ibu tenang saja ya." Ujar Naifa menjelaskan.


Walaupun jujur saja ia masih begitu merasa takut. Takut kalau tiba-tiba ada orang itu lagi. Tapi, demi melihat kekhawatiran di wajah ibunya, ia harus tetap kuat. Karena ia tak mau sampai Ibunya mengkhawatirkan dirinya secara berlebihan.


"Lalu, sekarang Abang ke mana bu? Kenapa tidak pamit sama Nai?!" tanya Naifa, seketika ia sadar kalau suaminya sudah pergi dan tidak pamit padanya.


Ibu Muni menelan ludahnya dengan kasar, "mmm ... itu, suamimu ada pekerjaan. Jadi, dia harus pergi dulu." Begitu ujar Ibu Muni. Tanpa mengatakan yang segalanya pada Naifa.