
Cinta hadir seiring berjalannya waktu. Saat keadaan membawa keduanya harus ada dalam satu ikatan yang sah, yaitu ikatan pernikahan.
Saat itu, padahal kedua hati mereka sama-sama tak menginginkan, apalagi Naifa yang menginginkan sosok suami yang agama nya lebih kuat dari pada dirinya. Namun, siapa sangka, ia harus di hadapkan dengan Adam yang kebalikan dari suami impiannya.
Namun, dengan kesabaran serta doa yang kuat, di barengi usaha, Naifa mampu membawa Adam ke dalam dekapannya dalam waktu singkat.
Walaupun pernah terpisah karena suatu kejadian, tapi, justru itu semua semakin menguatkan cinta di antara keduanya.
Cinta yang tulus, hadir dari hati yang tulus. Segala sesuatunya perlu di barengi dengan kesabaran, dan kepasrahan. Pasrahkan segalanya pada Yang Maha Kuasa, maka, kita akan mendapatkan yang terbaik untuk kita.
Seperti Naifa, yang kini tengah bahagia, melihat semua orang tertawa karena putrinya.
Di sebuah Cafe yang di beri nama Alsaeida, Naifa serta Adam dan Eisha bertemu dengan Rara, Sasha juga Ibu Muni. Tak lupa Ada Ayah Hendra dan Ibu Nuri yang ikut, jangan lupakan pemilik Cafe, Aran dan kedua orangtuanya.
Suasana riuh ramai, ditambah beberapa tamu lain undangan Aran. Karena, seusai doa bersama, kini semua orang hanya tinggal makan dengan gratis dan ngobrol dengan santai.
Dan, dari itu semua, ada yang menarik perhatian Naifa yang duduk di sebelah sang suami. Di sana, di meja nya, Rara terlihat aneh, ia menunduk namun dengan senyum yang mengembang saat Aran duduk juga di sana dengan memangku Eisha. Saat Aran dan Ibu Muni tengah ngobrol.
Sedangkan Sasha, entah kenapa Naifa pun merasa aneh pada adik bungsunya. Karena, saat yang ia lihat, Sasha pun sama tersenyum lebar saat ikut ngobrol di antara Aran dan Ibu. Sesekali yang Naifa tahu, kalau Sasha bolak-balik mengerling ke arah Aran.
Terlebih, Aran juga selalu membawa orangtuanya agar ikut ngobrol dengan Ibu Muni, karena mereka duduk di meja yang berdekatan.
"Apakah?!" Hati Naifa bertanya-tanya.
Lantas tersenyum, "biarkan saja, semoga, tidak sampai keduanya memiliki perasaan yang sama pada orang yang sama." sambungnya salam hati.
Adam mendekat, "ada, apa, Nai?!" tanya Adam penasaran.
Naifa menoleh, "Nai sedang memperhatikan Sasha dan Rara, mereka seperti tengah malu-malu," ucap Naifa.
Adam tersenyum lalu turut memperhatikan dari tempat duduknya. "Kayaknya, Sasha ada hati sama Aran," ucap Adam lagi.
Naifa menoleh, "Sasha masih kecil, Abang."
"Kamu, aku nikahi masih kecil loh Nai." kata Adam.
"Tapi, Sasha pikirannya tidak se-dewasa Nai dan Rara." ujar Naifa.
"Siapa, tahu Aran mau nunggu," ucapnya setengah tertawa.
"Abang, ih! Masih lama, Naifa ingin melihat mereka sekolah dulu dengan benar," ucap Naifa yang tak mengalihkan pandangannya dari meja tempat Ibu, Aran dan adik serta anaknya di sana.
"Cemburu, yaaa,," goda Adam.
Naifa mengembuskan napas, lalu menggenggam tangan Adam yang ada di bawah meja. "Nai, tidak pernah merasa cemburu, karena Nai tidak memiliki perasaan apapun pada Aran. Selain teman biasa, bahkan setelah menikah, Aran bukan teman Nai, teman dan sahabat Nai, ya ... hanya Abang." ujar Naifa yang selalu sukses membuat Adam senang.
"Awas, ya nanti kalau sudah sampai rumah. Aku garap kamu." kata Adam lagi. Tentu saja keduanya berbicara dengan bisik-bisik, karena di depan mereka ada Ibu Nuri dan Ayah Hendra.
"Siap, Abang. Kapan pun, Abang mau," jawab Naifa lagi, Adam langsung mengeratkan genggaman Naifa. Ah, seandainya tidak sedang berada di tempat ramai, Adam jelas akan langsung membawa Naifa menaiki bukit menuruni lembah.
Sementara itu, di meja Ibu Muni.
"Kak, apa boleh kalau Sasha sama temen-temen Sasha ke sini, sambil ngerjain tugas?!" Tanya Sasha basa-basi.
"Boleh, Sha, asal pesan." jawab Aran.
Sementara itu, Rara yang diam hanya menunduk dan tersenyum. Merasa lucu dengan jawaban Aran. Padahal benar bukan jawaban Aran? Dan itu semua biasa saja.
"Ya, pesan lah Kak!" Kesal Sasha. "Sasha sama teman Sasha, suka belajar di Cafe, apalagi Cafe nya seperti ini, nyaman banget." ujar Sasha lagi.
"Tante Sasha kalau ke sini, jangan lupa ajak Eish, biar bisa pesen secara gratis." seloroh Eisha.
"Oh, iya. Khusus Eisha si cantik jelita, gratis setiap pesan." ujar Aran sembari membenarkan jilbab yang di kenakan Eisha.
"Wah, enak tuh. Mau dong jadi, Eish," ucap Sasha.
Semua itu tak luput dari pandangan Ibunya Aran, ia tersenyum melihat Sasha yang menurutnya lucu, seperti Eisha cucu Ibu Muni.
"Sasha ini ceria ya, Bu," ucap Ibunya Aran.
"Iya, lebih tepatnya cerewet bu." kata Ibu Muni.
"Jadi, hangat loh di rumah kalau ada yang kayak gini. Saya di rumah sepi banget, hanya ada Aran, hm ... ngomongnya dikit." ujar Ibunya Aran.
Ibu Muni tersenyum.
"Makanya sekarang kalau hari Ahad, ke warung Bu Muni suka sendiri saja, biar bisa ketemu Sasha. Suka, kalau di layani dia, betah saya." sambung Ibunya Aran.
Ibu Muni semakin melebarkan senyumnya, "justru saya malah takut, orang-orang pada kesal karena cerewetnya." kata Ibu Muni.
"Ya, semua itu tergantung orangnya juga Bu Mun. Kalau suka ya tidak akan merasa terganggu, begitu sebaliknya. Ya 'kan?!" ujar ibunya Aran lagi.
"Iya, benar apa yang Ibu bilang, semua tergantung suka atau tidaknya orang lain terhadap kita." ujar Ibu Muni
Ibunya Aran menganggukkan kepalanya.
Entah kenapa Ibu Muni merasa aneh juga dengan dua putrinya. Apalagi, saat keduanya pun sama tersenyum dan sama-sama sesekali mengerling ke arah Aran.
Ibu Muni melanjutkan ngobrolnya dengan Ibunya Aran. Sementara Rara diam, memang setelah lulus SMA dan semakin membawa nya bersama Ustadzah Andini, ia semakin menjadi pendiam. Seperti Naifa. Ia lebih suka menemani Ustadzah Andini saat ada waktu, saat tak sibuk dengan urusan kuliahnya.
Namun tidak dengan Sasha, ia tetaplah si kecil yang suka sekali bercerita. Selalu ceria dan tidak pernah terlihat murung. Setiap apa yang ia ingin katakan, maka, ia katakan saat itu juga.
Sasha juga lebih aktif di kegiatan sekolah tidak seperti kedua Kakaknya.
Tiga anak, dengan tiga karakter. Dari yang pertama sangat pendiam penurut dan dewasa, yang kedua pendiam dan yang ketiga terlalu cerewet. Namun tentunya kedua adik Naifa sama-sama penurut tentunya.
Setelah acara selesai semua orangpun kembali ke rumah masing-masing. Rara dan Sasha juga Ibu di antar Aran. Sedangkan Ibu Nuri dan Ayah Hendra pulang dengan supir. Sementara Adam dan Naifa juga anaknya pulang sembari mengantar Ibu dan Ayahnya Aran, karena rumah mereka tak terlalu jauh dari Cafe.