
"Abaaang!!!" Teriak Naifa.
Adam yang emosi segera memukul me m ba bi buta pada dua orang yang tengah memegangi Istrinya.
Tadi, sewaktu Adam pergi dengan mobilnya. Naifa di datangi dua orang pria berbadan kekar, berambut gondrong, berjambang bak hutan rimba. Mereka berdua menanyakan alamat, lalu karena Naifa tidak tahu, Naifa tidak menjawab sepenuhnya. Lagipula Naifa takut melihat wajah seram keduanya.
Lantas kedua orang itu menyeret Naifa masuk ke dalam rumah nya, membantingnya di kasur dan melepas paksa jilbab panjang Naifa. Memaksa untuk melakukan hal menjijikan pada Naifa. Naifa teriak-teriak minta tolong. Namun tidak ada yang mendengar, karena kebetulan setiap pagi tetangganya pergi mengantar anak-anak mereka sekolah.
Naifa menendang, memukul, me lu dahi dua pria yang akan berniat buruk padanya itu. Tangis nya pecah berharap seseorang menolongnya.
Hatinya begitu hancur, saat jilbab kesayangannya terlepas begitu saja dari kepalanya, rambut kesayangannya yang ia janjikan pada suaminya untuk tidak akan di lihat oleh orang lain gugur sudah. Rambut indah itu di lihat bahkan di tarik kedua orang br en g s e k itu.
Bahkan bukan hanya rambut, tangan Naifa pun di pegang, di tarik paksa. Tubuhnya di dorong ke lantai karena selalu saja menghindari dua manusia be jad itu.
Senyum kedua orang itu begitu menjijikan. Seringai nya lebar penuh naf su.
Naifa sudah tak bisa berbuat apa-apa, tangannya di cekal oleh seseorang dengan posisi ter len tang di atas ranjang dan seseorang lagi tengah membuka sebagian pakaian nya. Bersiap untuk melakukan hal menjijikan padanya.
Sampai akhirnya ia bisa bernafas lega saat suaminya memanggil namanya.
Adam yang emosi memukul dengan keras satu pria yang tengah membuka bajunya. Sedang pria yang memegangi tangan Naifa segera membantu temannya.
Naifa bangun dan turun dari ranjang, ia pindah ke pojok, memungut jilbabnya dengan tangan yang gemetar. Memakainya dan duduk memeluk lutut nya di sana. Hatinya mengucap istighfar dan dzikir. Berharap ampunan-Nya karena tak bisa menjaga apa yang harus nya hanya di lihat suaminya.
Sementara itu Adam masih memukul keras tubuh dua pria yang sudah berani menyentuh istrinya.
"Si al!" Kepal Adam mendarat kembali di wajah dua pria itu. Sampai semua wajahnya memerah mengeluarkan darah.
"Ampun Bang! Saya hanya di suruh!" Teriak Dua lelaki yang kini sama-sama sudah tengkurap dan di injak oleh Adam. Kaki Adam berada di atas dua punggung pria bi a dab itu.
"Lo di suruh siapa, Br eng se k?!" Teriak Adam dengan berjongkok dan menarik rambut di dua kepala orang si al an itu.
"Ki_kita di suruh Agra!" Teriak seseorang yang wajahnya sudah begitu parah.
"Abang, sudah ... Abang," ucap Naifa takut. Ia benar-benar takut. Ia menatap penuh rasa bersalah pada suaminya. Takut. Naifa begitu takut. Air matanya keluar dengan derasnya, hatinya berdebar ketakutan.
"Nai," ucap Adam menoleh ke arah pojok. Ia begitu hancur melihat istrinya yang kini duduk memeluk lutut dengan wajah yang hancur. Bajunya berantakan, sobek di sana sini. Wajahnya .... Wajah naifa penuh luka, luka cakaran.
Adam menginjak dengan keras kepala dua pria itu. Tak perduli akan mati. Yang jelas rasa nya ia begitu marah. Adam lantas turun dari tubuh dua pria itu. Mendekat ke arah Istrinya. Berlutut di hadapannya dan menarik tangannya pelan lalu mendekap nya.
"Nai," panggilnya tak kuasa.
"Abang, Nai takut." Naifa menangis kembali di pelukan suaminya. Memeluk erat suaminya itu. "Maafkan Nai, Abang. Maaf, Nai tidak bisa menjaga__"
Naifa menggeleng, "Nai takut, Bang. Tangan Nai Bang," ucap Naifa tak terdengar, Naifa sampai tak bisa mengeluarkan suara.
"Mana, mana yang di sentuh orang si al an itu?!" Naifa menunjukan kedua tangannya, lengan bajunya sudah sobek, Adam lantas mencium tangan itu. Tangan yang sudah menggenggam nya erat menuju jalan Baik. Lantas Adam menangkup pipi Naifa yang memerah, menciumi pipi itu, pipi yang masih basah karena air mata.
Naifa tersenyum, namun air matanya tak kunjung habis. Lalu, Naifa memejamkan mata dan ... terkulai lemas, pingsan. "Naifa!" Teriak Adam saat tangannya reflek menangkap tubuh Naifa yang hampir jatuh ke belakang.
Adam segera mengangkat tubuh istrinya itu dan membawanya ke mobil. Saat akan keluar kamar di depan lemarinya sudah tidak ada lagi manusia be ja d itu, entah kapan perginya Adam tidak perduli.
Tak perduli pada pintu rumah yang terbuka lebar, Adam hanya masuk kembali untuk mengambil ponselnya yang tertinggal. Sedikit saja ia lega karena ponsel nya tertinggal. Terbayang bukan jika ponselnya tidak tertinggal. Sudah pasti ia tidak bisa menolong istrinya.
Adam kembali ke dalam mobil dan menjalankan mobilnya dengan cepat. Tak lupa ia menelpon Ayah Hendra. Memberi tahu agar Ayah dan Ibunya segera berangkat ke Rumah Sakit.
Hancur sudah perasan nya melihat istri kecilnya terlelap tak sadarkan diri di atas bad rumah sakit. Satu tangannya terpasang infus, baju dan jilbabnya sudah berganti seragam pasien rumah sakit tersebut. Dua perawat dan dokter baru saja memeriksa nya, mengobati pipi dan tangan nya yang sedikit terluka dan memerah.
Tangan Adam mengepal mengingat nama yang di sebut ba ji ngan tadi. Baru saja ia merasa khawatir dan berniat akan menjaga istrinya dengan bodyguard tapi nyatanya ia sudah kecolongan. Kalau sudah seperti ini, ia tidak lagi bisa memaafkan orang yang sudah membuat istrinya seperti itu.
Adam pastikan orang yang di sebut oleh ba ji ngan itu tidak akan selamat. Tak perduli jika akhirnya ia harus mendekam di penjara.
Ceklek!
Pintu kamar perawatan Naifa terbuka dari luar, Adam menoleh. Dia mendapati Ibunya dan Ayah nya masuk.
"Ada, apa, Dam?!" Tanya Ibu Nuri khawatir.
"Nai, belum sadar Bu." Ujar Adam.
Adam mendekat ke arah Ayahnya, "Yah, aku ingin bicara." Ujar Adam. Ayah dan Adam lantas keluar.
Ibu Nuri meneteskan air mata melihat Naifa yang terlelap. Ibu Nuri mengusap pelan pipi Naifa yang memerah, terluka.
"Kamu, kenapa Nai?!" Tanya Ibu Nuri pada menantunya itu.
"Kenapa seperti ini?! Apa anak Ibu menyakiti mu lagi? Jika iya, Ibu tidak akan bisa memaafkan nya." Sambung Ibu Nuri.
Ibu Nuri mencium kening menantunya itu, mengusap dengan pelan puncak kepala Naifa yang tertutup jilbab.
Ibu Nuri menoleh, namun sudah tak mendapati anak dan suaminya di sana. Lantas ibu Nuri duduk di kursi yang di sediakan di sebelah ranjang. Ibu Nuri menunggu menantunya itu dengan air mata yang meleleh. Ia yakin kalau ini bukan kelakuan Adam, tapi ... siapa?! Hati Ibu Nuri bertanya-tanya. Namun untuk bertanya pada Adam, ia tak tega meninggalkan menantunya itu sendirian walaupun belum sadar.
...***...
Bagaimana teman-teman, apakah kalian juga menangis seperti diriku saat menulis ini?! 🤧ðŸ˜