Naifa

Naifa
Bab 31



Rumah Pak Hendra (Sedikit Cerita Masa Lalu Ibu Nuri)


Ibu Nuri tengah duduk menikmati sarapannya, bersama dengan sang suami. Sekarang Pak Hendra tak terlalu harus terburu-buru ke Kantor karena sudah ada anaknya yang membantunya. Bahkan Pak Hendra begitu senang saat Adam bekerja dengan rajin dan begitu cepat mengerti apa yang harus ia kerjakan.


"Yah, Ibu ingin ke rumah besan, Ibu ingin berterimakasih pada Muni, karena sudah merelakan anaknya menjadi istri dari putra kita. Di tambah lagi berkat Naifa sekarang Putra kita sudah berada di jalan yang benar." Ujar Ibu Nuri.


"Iya, terserah ibu saja. Ayah sih nurut. Yang menurut ibu baik, silakan lakukan. Ayah dukung." Jawaban Ayah Hendra selalu saja seperti itu pada Istrinya. Membuat Ibu Nuri selalu merasa bahagia dengan Suaminya itu, pilihannya menerima lamaran Hendra ternyata adalah pilihan yang tepat. Karena mampu membawa dirinya di kebahagian setiap saat.


Bahkan membawa Ibu Nuri yang memiliki masa lalu buruk menjadi orang yang di se gani seperti sekarang. Tanpa orang-orang tahu bagaimana awalnya Ibu Nuri menjalani hari-hari nya setelah di pisahkan dari putri kecilnya.


Dulu, Ibu Nuri bukanlah apa-apa. Hanya wanita malang yang mendapatkan perlakuan buruk dari suami pertama dan mertuanya. Ibu Nuri yang tinggal di Panti Asuhan sampai dewasa bekerja di sebuah Toko Roti. Yang akhirnya mempertemukan dirinya dengan Suami pertama nya Karno. Tapi sangat di sayangkan karena cinta Karno pada Nuri tak seperti awal-awal mereka pacaran. Setelah menikah dan hamil, Ibu Nuri tidak bekerja. Yang artinya tidak menghasilkan uang.


Sementara suaminya nganggur setelah di pecat karena ketahuan mencuri uang untuk judi. Ditambah lagi ibu mertuanya yang tidak menyukai dirinya karena tidak tahu asal-usul nya dari mana. Sungguh menyedihkan.


Sampai saat ia melahirkan bayi kecil cantik yang ia beri nama Firda. Sangat di sayangkan setelah melahirkan ia malah di usir dari rumah mertuanya karena hanya menambah beban saja. Tidak bisa menghasilkan uang. Padahal waktu itu, ia mendapatkan uang dari para tetangga yang menjenguk bayinya.


Sampai akhirnya, Nuri pergi dari rumah mertuanya dengan perasaan yang sedih. Ia hampir gila kehilangan bayi yang sangat ia harapkan itu. Ia berharap ia akan hidup bersama bayinya saja. Namun sayang setelahnya ia tak di bolehkan kembali, jangankan kembali setelah di usir dan hidup kembali di Panti Asuhan, Nuri menjadi wanita yang pendiam dan tiba-tiba menangis menginginkan anaknya. Nuri tidak bisa apa-apa, hanya meratapi nasibnya yang malang.


Sampai ada pemuda yang datang ke Panti Asuhan untuk memberikan sebagian rezekinya. Dan di saat itulah Pak Hendra menaruh hati pada perempuan cantik yang sayangnya sangat malang. Pak Hendra membawa Ibu Nuri kembali menjadi Ibu Nuri yang baik dan benar secara pikir.


Sampai akhirnya mereka bersatu dan hadirlah Adam. Itulah kenapa, Ibu Nuri begitu baik pada putranya. Karena ia tak mau merasakan kembali yang namanya kehilangan. Apalagi kehilangan sang buah hati.


Tapi sayangnya, tanpa Ibu Nuri tahu kalau anaknya mengambil jalan yang salah karena di pengaruhi oleh anak pertamanya yang salah sangka akan dirinya. Sungguh saat manusia hanya mendengarkan penjelasan dari satu sisi saja, maka, hanya kesalahpahaman yang ia dapatkan. Seperti Vela. Yang hanya mendengar cerita ibunya dari Neneknya saja. Bahkan Ayahnya yang sudah meninggalkan dirinya entah ke mana malah di anggap baik oleh sang Nenek.


***


Kembali ke ruang makan. Kini, kedua paruh baya itu sudah menyelesaikan sarapan nya. Ayah Hendra mengajak istrinya keluar dan mengantar sampai masuk ke dalam mobil yang akan membawa Ibu Nuri ke rumah Ibu Muni.


"Hati-hati Bu, jangan terlalu capek." Ayah Hendra mengusap kepala Istrinya yang tertutup jilbab dengan sayang.


"Ayah, juga hati-hati ya ... awasi Adam Yah, jangan sampai lembur dan membiarkan Naifa sendirian di rumah." Ibu Nuri lantas mencium tangan suaminya dengan takzim.


Ayah Hendra mengangguk lantas menutup pintu mobil. Memperhatikan mobil yang membawa istrinya itu pergi.


Sampai pada mobil yang di kendarai Pak Barjo sampai di depan rumah Ibu Muni.


Ibu Nuri lantas turun yang langsung di sambut hangat oleh sang besan.


"Assalamu'alaikum, Mun." Sapa Ibu Nuri pada Ibu Muni yang tengah berdiri di pintu.


"Baik, Alhamdulillah." Mereka berdua mengurai pelukan persahabatan itu.


"Mari, masuk bu. Saya baru saja mengantar pergi anak-anak kita," ucap Ibu Muni menjelaskan. Karena memang Adam dan Naifa baru saja pergi.


"Maksudmu, Mun?!" Tanya Ibu Nuri tak mengerti.


"Silakan, duduk dulu, Bu," ucap Ibu Muni lagi.


Ibu Nuri lantas duduk, begitu juga Ibu Muni.


"Iya, ibu Nuri... semalam Nak Adam dan Nai nginap di sini, saya bahagia sekali Bu ...," sambung Ibu Muni.


"Alhamdulillah, kalau begitu. Kamu percaya 'kan sekarang?! Kalau Naifa bisa membawa putraku ke jalan yang benar?!"


Ibu Muni mengangguk, "tapi, menurut Nai benar loh Bu, kalau Adam memang sudah waktunya berubah. Hanya saja memang waktunya pas tengah bersama Naifa."


"Sebentar ya ... saya ambilkan minum." Ibu Muni beranjak dari sana meninggalkan Ibu Nuri sendirian di ruang tamu.


Ibu Nuri benar-benar bahagia mendengar ini, anaknya sudah membuat pagi nya bahagia. Kabar ini membuatnya yakin kalau Adam dan Naifa sudah menyatu.


Tak lama Ibu Muni keluar dengan teh hangat dan beberapa makanan ringan yang ada. Lantas menaruhnya di meja.


"Silakan, Ibu," Ibu Muni mempersilakan besannya itu untuk menikmati hidangan yang seadanya.


"Terima kasih Mun. Aku tuh ke sini juga ingin mengucapkan terimakasih padamu Mun. Kebaikan dan keikhlasan mu menerima lamaran kami membuat kami bahagia, membuat ku ingin rasanya memberikan apapun yang kamu mau. Kamu dan anakmu sudah membuat ku bahagia, apalagi kabar ini, ini benar-benar membuatku bahagia sekali Mun." Ujar Ibu Nuri jujur.


"Saya juga bahagia, bu. Jadi tidak perlu berterima kasih pada saya. Cukup kita berterima kasih pada Allah atas nikmat yang telah di berikan pada kita. Atas bahagia yang kini kita rasakan." Ujar Ibu Muni.


"Kamu, benar." Ibu Nuri mengangguk.


"Iya, Bu. Sekarang tugas kita sebagai orang tua, jangan lupa mendoakan anak-anak kita agar selalu dalam lindungan Tuhan, selalu berada di jalan kebaikan dan berada di hubungan yang baik."


Ibu Nuri tidak heran kenapa Naifa bisa se dewasa itu, karena nyatanya ibunya Naifa pun sama. Sama baik dan segalanya antara Naifa dan Ibunya.


Lantas kedua ibu paruh baya membicarakan kebahagian yang keduanya rasakan. Sungguh dua ibu itu merasa bahagia dan berharap kalau bahagia ini jangan sampai hilang begitu saja.