Naifa

Naifa
Bab 22



Naifa menata beberapa koko dan sarung, juga sajadah yang ada di sana ke dalam tas. Setelah semua beres ia lantas menutup resleting tas yang tadi di siapkan oleh Adam.


Kini Adam tengah di ranjang besarnya, sedangkan Naifa yang baru selesai menata baju-baju Suaminya kini duduk di sofa. Menyandarkan punggung nya menatap langit-langit kamar yang bernuansa putih itu.


"Udah, selesai?!" Adam menaruh ponselnya dan melihat Naifa yang tengah duduk menyandarkan punggung.


Naifa lantas menegakan duduk nya, "sudah. Tapi belum Nai bawa ke sini"


"Ya, sudah. Ayo balik!" Adam turun dari ranjang dan berniat untuk mengambil tas yang sudah di isi baju-bajunya oleh Naifa.


"Mmm, Bang! Sudah mau Magrib, apa tidak sebaiknya kita Maghrib dulu di sini?!" Adam mengehentikan langkah nya dan menoleh ke arah istrinya.


"Mau lo gitu?!" Naifa dengan ragu mengangguk.


Adam mengedikan bahunya, lantas ia pergi ke balkon. Naifa memutar kepalanya memperhatikan langkah suaminya. Naifa takut kalau Adam tak menginginkan mereka di sini. Lantas, Naifa beranjak dan mengikuti suaminya ke balkon.


Di sana, Adam tengah menumpukan dua siku nya ke teralis besi pembatas. Naifa mendekat dan berdiri di sebelahnya. Membuat Adam menoleh sebentar, lalu kembali menatap ke arah depan sana, yang menampakan halaman rumah yang luas dengan langit yang mulai berubah warna.


"Abang, mau nya pulang sekarang?!" Tanya Naifa hati-hati. Mau bagaimana pun Adam baru saja berubah, bisa saja 'kan membentak-bentak lagi.


"Enggak." Jawab Adam. Ia tetap fokus memandang ke arah satu titik.


Naifa menghela nafas lega, seenggaknya Adam tak marah jika Naifa ingin mereka pulang setelah Maghrib.


Keduanya diam di sana, tanpa ada pembicaraan sama sekali. Sampai terdengar suara mobil yang masuk setelah di bukakan nya pintu pagar oleh Pak Satpam.


Hingga senja menyapa, membuat perubahan warna di langit. Dan kini suara Adzan mulai terdengar saling menyahut dari satu masjid ke masjid yang lain. Naifa segera mengajak Adam masuk untuk melakukan shalat Maghrib.


Adam kembali menjadi imam Naifa. Bahkan saat akan shalat Naifa lah yang memilihkan sarung dan koko untuk suaminya itu. Jangan tanya rasanya, karena Naifa begitu bahagia akan ini. Impian nya bisa berada di belakang sang imam dan mencium punggung tangan sang imam, juga berada di dalam doa yang sama adalah impiannya setelah menikah.


Dan kini, ia merasakan itu semua. Walaupun orangnya bukan yang dulu pernah ia kagumi. Namun Naifa sudah ikhlas, karena menurutnya cinta yang nyata adalah cinta seorang istri pada suaminya. Bukan cinta nya pada pemuda sebelum menikah. Karena sekagum-kagum nya perempuan pada pria yang bukan menjadi takdirnya tidak akan se sempurna cinta seorang istri pada suami.


Naifa menengadahkan tangannya memanjatkan doa, dengan kepala menunduk dan mata terpejam.


"Ya, Allah. Terimakasih atas segala nikmat yang telah Engkau beri. Segala nikmat yang harus selalu hamba syukuri. Engkau lebih tahu apa yang terbaik untuk hamba. Hamba serahkan segalanya kepada Engkau, ya Allah ... terimakasih telah membukakan pintu hidayah-Mu untuk suami hamba, semoga Engkau mengampuni segala dosa-dosa hamba, dosa suami hamba, Istiqomah 'kan suami hamba agar selalu berada di jalan yang Engkau ridhoi. Agar dapat menuntun hamba menuju jalan ke Surga-Mu ... Rabbana atina fiddunya hasanah wafil akhiroti hasanah waqina adzabannar. Aamiin."


Naifa lantas mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Begitu juga Adam yang turut meng-aamiin kan doa-doa Istrinya itu.


Naifa membuka matanya, lalu ia tersenyum begitu netra nya langsung mendapati suaminya tengah tersenyum ke arahnya. Benarkah?! Apa ini bukan mimpi?!


"Gue boleh peluk lo?!" Tanya Adam setelah keduanya sama-sama diam.


Naifa tersenyum lebar, lalu menunduk, setelahnya ia mendongak dan mengangguk.


Membuat Adam setengah tertawa melihat malu-malu istrinya itu. Adam mendekat dan memeluk erat tubuh sang istri yang terbungkus mukenah. Naifa balas memeluk tubuh suaminya untuk pertama kalinya. Menenggelamkan wajahnya di dada suami nya itu.


Debar jantungnya tak bisa di kendalikan, ia merasa bahagia akan ini. Air matanya bahkan menetes saking haru nya. Tidak sampai berbulan-bulan nyatanya suaminya sudah bisa ke pelukannya. Sudah mau kembali ke jalan yang benar bersamanya.


Adam pun sama, entah kenapa mendengar istrinya mendoakannya, dia merasa begitu bersalah. Sudah seharusnya ia menyayangi istrinya bukan?! Bukan kah Naifa sudah berbaik hati menerima dirinya yang sudah pasti bukan kriteria Naifa.


Naifa yang walaupun belum lama ia per-istri namun sudah begitu sabar padanya. Menerima segala perlakuannya. Bahkan mampu membuat nya menjadi seperti sekarang.


Adam melepas pelukannya setelah ia merasa sedikit puas. Naifa mengusap air matanya, air mata bahagia. Ia jelas tak ingin mengeluarkan air mata kesedihan yang akan menyulitkan suaminya, ia akan ingat baik-baik kalau ia hanya akan mengeluarkan air mata bahagia saja.


***


Sementara itu, di tempat lain. Tepatnya di sebuah kamar yang selalu di jadikan tempat untuk memuaskan ha s rat nya, duduk seorang wanita yang baru saja selesai melakukan aktivitas melelahkan sekaligus menyenangkan dengan kekasihnya, Agra.


Perempuan itu adalah Vela. Ia tengah duduk di ujung ranjang memunggungi pria yang masih tiduran dengan posisi ter len tang tanpa sehelai benang. Vela masih sibuk menghubungi Adam. Walaupun tak ada balasan apapun, bahkan pesan nya saja tidak di baca. Sungguh, Vela begitu geram akan sikap Adam yang sekarang.


Bagaimana tidak?! Setelah ia pikir Adam akan mau selamanya dengan dirinya karena seminggu Adam tak pulang, kini, ternyata Adam malah putar haluan dan menjauh darinya.


Ia masih mencoba menelpon Adam berkali-kali, namun lagi-lagi tak ada jawaban. Doble sial.


"Aaahhhh! Adam sialan!" Teriak Vela kesal.


"Lo, ngapain sih, teriak-teriak?! Berisik tahu nggak?! Nggak bisa apa lo biarin gue tenang sebentar." Vela menoleh ke belakang, menatap pria yang tengah menatapnya penuh emosi.


"Berisik, lo!" Vela tak kalah kesal.


Agra bangun dari tidurnya, maju dan memeluk tu buh po los Vela dari belakang. Memposisikan dagunya di atas bahu polos Vela.


"Lo, kalau mau dia nurut terus sama lo. Lo harus lakuin pelan-pelan, kalau nggak berhasil. Lo hancurkan dia lewat istrinya, otomatis Adam dan Ibunya bakalan hancur. Bahkan semuanya." Agra tersenyum smirk.


"Terus gue harus apa dong?!" Vela masih belum paham dengan apa yang di katakan Agra.


Agra membisikan kalimat panjang di telinga Vela, membuat Vela tersenyum puas dengan kepala yang mengangguk setuju.