Naifa

Naifa
Bab 42



Naifa memasang senyum indahnya, menyambut Suaminya yang baru pulang. Begitu mendengar suara mobil Adam sampai, Naifa langsung berdiri di depan pintu. Sebelumnya ia akan mengintip, takut kalau Adam membawa teman lelakinya.


Begitu terlihat Adam hanya sendiri, Naifa langsung membuka pintu dan menyambut dari depan.


"Assalamu'alaikum, Nai!" Sapa Adam yang terlihat lelah.


"Wa'alaikumsallam, Abang." Seperti biasa Naifa langsung mengambil tangan suaminya dan di ciumnya punggung serta telapak tangan Suaminya itu.


Adam lantas mengusap kepala Istrinya dengan sayang dan merangkul nya mengajak masuk.


"Sudah, ashar 'kan?!" Naifa mendongak, Adam lantas mencolek hidung mungil istrinya itu dengan gemas, "sudah dong!"


"Gimana, tadi, Ibu sama adik-adik jadi ke sini?!" Tanya Adam yang kini lantas sudah duduk di sofa ruang tamu.


"Jadi, tadi juga sudah Nai sampaikan permintaan maaf Abang, karena tidak bisa menemui Ibu." Adam mengangguk, "lagian, yang ke sini hanya Ibu sama Sasha saja Bang. Rara tidak ikut," ucap Naifa lagi.


"Kenapa?!" Tanya Adam memandang pada istrinya yang sudah duduk di sebelahnya sembari memijit pelan lengannya.


"Tidak tahu bang. Mungkin ada banyak kerja sekolah."


Adam kembali mengangguk.


...***...


Seperti biasa, Adam lantas mandi sebelum Adzan Magrib berkumandang. Sementara Adam mandi, Naifa menyiapkan baju yang akan di pakai Adam.


Setelahnya, mereka berdua akan bersiap untuk shalat berdua.


Seperti biasa setelah Magrib bersama keduanya lantas makan malam. Hari ini Naifa tidak masak, ia hanya menghangatkan masakan dari ibunya. Ada begitu banyak lauk yang ibu bawa dan semuanya adalah kesukaannya.


"Kamu, masak sebanyak ini Nai?!" Tanya Adam yang sudah duduk di kursi makan. Ia terlihat heran dengan lauk yang ada, biasanya Naifa hanya masak beberapa menu saja, paling banyak tiga menu. Karena tak suka membuang makanan.


Naifa tersenyum lantas duduk, ia lalu menaruh piring di meja. "Ini ibu yang bawa, Bang. Bahkan ini hanya setengah nya, sisanya Nai masukan ke dalam kulkas." Ujarnya dengan senyum merekah.


"Repot-repot seperti ini," ucap Adam. "Bagaimana kalau besok kita gantian yang ke sana, aku antar kamu, sorenya aku ke sana. Kita nginap lagi di sana." Ujar Adam.


Dalam hati Naifa begitu bersyukur, dengan ini ia jadi bisa dengan mudah bertanya pada Rara adiknya.


"Boleh, Bang. Apa tidak membuat Abang jadi tambah lelah?!" Adam menggeleng, Naifa balas tersenyum manis setelahnya, keduanya makan seperti biasa, sepiring berdua.


...***...


Rumah Pak Hendra.


Beberapa hari ini Ibu Nuri tak berselera makan, apalagi setelah mendengar kabar kalau Vela tak lagi tinggal di kontrakan nya. Juga tak di dapati keberadaan nya di kelab, beberapa hari ini Agra terlihat sendiri. Begitu kata orang suruhan Pak Hendra. Padahal Pak Hendra ingin segera membuat pertemuan antara anak dan ibu itu.


Ayah Hendra ingin segera melihat Istrinya kembali bahagia, tak tega rasanya melihat beberapa hari ini istri nya pura-pura tersenyum di depannya.


"Yah, belum ada kabar kah?! Tentang keberadaan Firda?!" Tanya Ibu Nuri pada suaminya yang kini tengah duduk di ruang kerjanya. Masih ada beberapa pekerjaan yang harus ia kerjakan dan ia bawa pulang.


Ayah mendongak pada perempuan yang kini sudah berdiri di depan mejanya. Ayah lantas menggeleng.


Ibu Nuri terlihat mengembuskan napas kasar, Ayah lantas berdiri dari duduknya dan mendekat ke arah Ibu Nuri. Membawa Ibu Nuri ke dalam pelukannya yang hangat.


"Ayah, tahu. Ibu begitu rindu, ingin sekali bertemu dengan anak pertama ibu. Tapi, Ayah tidak ingin melihat ibu mengaduk-aduk makanan yang ujung-ujungnya di buang, apalagi sampai ibu sakit. Lagian, jikalau di pertemukan, belum tentu Firda-mu itu akan langsung menerima mu Bu. Kesalahpahaman yang ia dapat sudah begitu lama, sudah begitu banyak. Untuk memberi penjelasan jelas butuh waktu yang lama Bu." Ujar Ayah panjang lebar sembari mengusap punggung istrinya.


Dalam pelukan hangat sang suami, Ibu Nuri mengangguk. Ya, ada benarnya apa yang di katakan Ayah Hendra. Karena nyatanya ia dan Firda sudah begitu lama tak bertemu, bahkan ia hanya bisa mengingat wajah anak pertama nya itu saat bayi. Sekarang entah seperti apa rupa anaknya itu.


Dulu, saat bayi. Anak pertama nya itu begitu mirip dengan Ayah nya, sekarang ... Entahlah, Ibu Nuri tak tahu.


...***...


Selesai sholat Magrib bersama, Rara lantas buru-buru keluar untuk menyiapkan makan malam mereka bertiga. Sementara Sasha dan Ibu Muni masih menengadahkan tangan ber-do'a.


Sedangkan Rara masih kepikiran akan pesan yang tadi sore datang lagi. Entah kenapa, Rara jadi selalu kepikiran Athan.


[Bagaimana, Ra?! Apa sudah ada jawabannya?!] Begitu pesan baru dari Athan, yang tidak di balas oleh Rara.


Lagi-lagi Rara merasa aneh, ia merasa tertarik untuk mencoba. Namun ia belum terlalu tahu seperti apa Athan. Ia bahkan baru beberapa hari ini tak sengaja bertemu. Itupun tidak pernah ngobrol banyak. Hanya dominan Athan yang bertanya.


"Apa, sudah selesai, Ra?!" Suara Ibu Muni mengagetkan Rara yang tengah terbengong di samping meja makan dengan piring di tangan nya.


Prang!! Rara yang terkejut lantas menjatuhkan piring yang ada di tangannya.


"Astaghfirullah!" Ujar Rara yang lantas menutup mulutnya. "Maaf, bu," Rara segera beranjak mengambil sapu dan pengki untuk membersihkan pecahan piring.


Ibu Muni hanya menggeleng tak mengerti dengan anak ke dua nya itu.


"Ada, apa Bu?!" Sasha keluar dari ruang sholat terburu-buru, begitu mendengar suara benda jatuh.


"Tidak, ada apa-apa. Kakakmu hanya kaget," ucap Ibu. Sasha mengangguk dan kembali ke dalam ruang Sholat.


Rara terburu-buru membersihkan pecahan beling, ia merasa begitu gugup. Padahal biasanya ia akan biasa saja. Rara pasti akan berpikir kalau memecahkan piring satu tidak akan di marahi ibu. Tapi, kini, ia merasa tengah kepergok melakukan sesuatu. Yang entah apa itu.


Ibu Muni diam tak mengatakan apapun lagi. Dengan kegugupan Rara saja ibu Muni bisa tahu, kalau Rara menyimpan sesuatu. Ibu Muni hanya berharap kalau anak ke dua nya itu tidak melakukan apapun. Terlebih yang merugikan.


Selesai membuang pecahan piring, Rara melanjutkan menyiapkan makan malam di bantu ibu. Sasha lantas keluar setelah di panggil Ibu untuk makan.


Waktu makan pun Rara terlihat aneh. Dan Ibu Muni sama sekali tak mengatakan apapun. Ia tetap diam, menikmati makan malam nya. Hanya sesekali terdengar ocehan dari Sasha yang suka sekali berbicara semaunya.


Sampai akhirnya setelah makan malam selesai, begitu juga membereskan meja makan dan piring-piring kotor Rara langsung masuk ke kamarnya. Sementara Sasa juga sama, jadi, Ibu Muni memutuskan untuk masuk ke kamar Rara.


"Ra, apa Ibu boleh masuk?!" Tanya Ibu dari depan pintu kamar anaknya.


"Iya. Masuk saja, bu," jawab Rara dari dalam.


Ibu Muni lantas masuk, ia bisa melihat putrinya tengah duduk di kursi belajar nya ponselnya masih nyala terlihat tergeletak di atas buku yang terbuka.


"Kenapa, bu?!" Tanya Rara pada ibunya yang kini sudah duduk di atas ranjangnya.


"Apa, tidak ada yang ingin kamu katakan pada Ibu?!" Tanya Ibu Muni.


"Apa, memang nya bu?!" Rara mengernyitkan dahinya bingung.


"Ra, tadi kamu ditemani seseorang, saat jaga warung?!" Ibu akhirnya bertanya.


"I_iya bu. Tapi, aku tidak ngapa-ngapain kok bu, aku juga tidak terlalu kenal sama orang itu." Jawab Rara buru-buru.


"Ibu, hanya mau mengingatkan. Jika memang mau berteman, berteman lah selayaknya. Jangan sampai mencoba untuk lebih. Ibu takut kamu menyesal nantinya." Ujar ibu.


Rara mengangguk.


Ibu ingin sekali mengatakan, 'contohlah, kakakmu.' Tapi tidak. Itu hanya akan membuat hati Rara sakit. Jadi Ibu cukup memberi peringatan saja, semoga Rara bisa mengerti.


Ibu lalu bangun dari duduknya dan menepuk bahu sebelah sang putri, "belajarlah yang rajin, agar Ayah yang sudah duluan di panggil, bahagia melihat putri-putrinya pandai, apalagi dalam urusan agama. Agar nanti, saat ibu sudah menyusul Ayah, ada yang mendoakan kami."


Rara mendongak, "bu ...," matanya berkaca-kaca.


"Tidak, apa-apa kalau belum mau bercerita sama ibu. Ibu beri kamu waktu untuk memikirkan semua yang sedang kamu pertimbangkan."


Rara lalu mengangguk, Ibu juga berlalu dari kamar putri keduanya.