My Wife Is Mafia

My Wife Is Mafia
61. My Wife Is Mafia



"KIta lewat di belakang saja," ucap Prabu keluar dari mobil.


Kania mendengar itu meraih kacamata hitam dan topi hitam milik Prabu yang ada dalam dashboard mobilnya kemudian keluar mengikuti langkah Prabu.


Security di lobi utama melakukan pemeriksaan standar saja dan menanyakan tiap orang yang datang. Prabu mengajak Kania melenggang ke areal sempit antara rumah sakit dan gedung yang di sebelahnya. Prabu sudah pasti mengetahui sistem keamanan rumah sakit tersebut sehingga dia tahu dimana saja letak kamera CCTV itu di letakkan.


Kepala Kania senantiasa setengah menunduk, mencegah kamera memperoleh detil wajahnya. Dalam gerakan cepat Prabu menempelkan lembaran kecil dan tipis, sangat tipis hingga menyerupai kertas. TIba-tiba kamera CCTV di sudut memutar tertutup dan merapatkan dirinya menghadap tembok.


MEnurut Kania itu adalah cara yang mudah untuk mengalihkan kamera dan mematikannya yang tidak menimpulkan suara berisik untuk menghancrukannya, cukup dengan gerakan melompat sedikit untuk menutup kamera CCTV tersebut.


Kania melakukan hal yang sama pada tiga unit kamera lainnya. Semoga pengawasnya sedang tidur dan baru menyadari karet itu saat keluar nanti. Selanjutnya Kania sudah mengikuti Prabu dengan mencengkram tembok dan mengayunkan tubuhnya ke atas seperti atlet senam ritmik lantas melompat turun dan kedalam memasuki pintu emergency.


"Kenapa kita harus menyusup, dia kan bibimu?," tanya Kania.


"Kamu tidak tahu pamanku tadi sperti apa, ini adalah cara terbaiknya,".


"Hmm aku masih bingung,".


"Kita berdua dari keluarga penjahat jadi harus saling memahami,"ucap Prabu dengan sedikit terkekeh.


Kania melepas sarung tangannya dan menyelipkan di balik jaket yang dia kenakan. Kemudian membersihkan sisa debu di celana, membuka kaca mata hitam dan memperlihatkan sepasang mata cokelat gelap yang telah di lapisi softlen yang berkualitas.


Prabu mulaimemasang senyum ketika dua orang suster daria rah yang berlawanan berajalan ke arah mereka, seolah mereka mendapati sepasang orang mesuk di depan pintu emergency.


"Maaf, aku tersesat,".


Perempuan yang masih muda itu dengan seragamnya membalas senyum Prabu senang lalu dia menjelaskan dia akan ke arah mana dan menanyai Prabu dia akan ke arah mana.


Dasar Playboy! batin Kania.


Penyakit suka tebar pesona itu tampaknya belum hilang. Mereka berdua kemudian berjalan dan tiba di depan pintu ruangan khusus untuk bibi Prabu. Detak jantung Kania sudah kembali normal. Dari kaca pintu terlihat wanita di dalam sana sedang berbaring dengan memejamkan matanya.


"Aneh, tidak ada seorang pun di sekitar lorong ini".


Kewaspadaan Kania pun kembali meningkat dan dia berharap penuh kepada Dewi Fortuna karena saat ini dia tidak membawa senjata apapun lagi!.


"Aku bersamamu," bisik Prabu kembali yang seperti biasa mampu membaca isi kepala Kania.


Ada access control di pintu masuk! Prabu menatap panel kecilberisi deretan angka dan huruf itu, sebuah pemindai sekaligus kamera dan sistem alarm. Sebelum mereka benar-benar berada dalam satu garis lurus dengan pintu kamar Prabu menarik sebuah sarung tangan sintetis seperti yang biasa di kenakan para dokter ketika melakukan operasi.


Prabu kemudian berhasil melumpuhkan sandi yang terdapat di pintu tersebut, Pamannya memang selalu membuanya uslit saat melakukan sesuatu. Kenapa harus menggunakan sandi saat dia ingin bertemu dengan bibinya. Batin Prabu.


Kania dan Prabu kemudian melangkah mendekati pembaringan.


"Who are you?," tanya wanita yang berada di hadapan Kania. Dia masih terdiam,Kania merasa suara itu datang dari arah yang jauh kemudian menariknya kembali ke alam nyata. Membuatnya terkejut seperti tersengat listrik. Otak Kania lumpuh seketika, mulutnya lengket dengan seketika.


Itu kali pertama bagi Kania bertemu dengan kerabat Prabu dan membuat dia tidka merasa percaya diri dan canggung karena Kania belum merasakan sebelumnya.


"Well, I ...umm a..ku... oh bagaimana kabar bibi?,".


"I am fine, thank you." Mata wanita itu menyipit,sorot kecilnya mampu menusuk hingga ke sumsum tulang Kania.


"Kamu jauh-jauh datang ke sini, kamu baik sekali,". ucap Wanita tersebut dengan menggunakan bahasa iNdonesia yang fasih.


Kania menggigit bibir bawahnya dan menarik nafasnya bersamaan, "Anda......".


"Ya," potongnya.


"Aku tahu Prabu akan membawamu ke sini,kamu penyelamatku,". jelas bibi Prabu.


"Penyelamat?,". Kania terdiam beberapa saat dan mengingat kembali kapan dia pernah menyelamatkan orang, selama ini dia menjalankan misi membunuh bukan menyelamatkan.


Wanita tersebut meraih tangan Kania, kemudian mengamati bentuk kuku jarinya yang terpotong rapi.


Kania tidak menjawab, dia hanya menarik tangannya perlahan dari genggaman bibi Prabu. Dia pun kembali melirik Prabu yang duduk di sofa tidakjauh dari tempat Kania berada. Kania kemudian berdiri dari tempatnya.


"Mau kemana? kamu tahu ada seratus orang orang yang sudah siap menghabisimu di luar sana," ucap Wanita itu.


Ucapan Bibi Prabu membuat mereka mengintip di balik gorden rumah sakit dan ya, terlihat banyak pria berseragam serba hitam dengan sikap siaga berdiri dan berkelompok dalam jumlah yang banyak.


"Sial, dimana mereka berada sepuluh menit yang lalu, bukannya kami bebas masuk dengan mudahke ruangan ini?," batin Kania.


"Suamiku sudah membekali mereka dengan snejata yang lengkap bahwak di setiap cctv memiiki sistem pemindai yang bisa mendetekis bahwa kamu tidak membawa senjata apapun saat in," jelasnya lagi.


kania kemudian melirik Prabu, dia yakin bahwa Prabu pasti tahu bahwa kamera yang mereka tadi tutup atau setiap sudut kamera mengintia mereka.


"Ya, Aku tahu. Aku hanya ingin merasakan romantisme bekerja sama dneganmu sayang," ucap Prabu dnegan tertawa jahil.


Kania tidak tahu maksud ucapan bibi Prabu adalah dia bersyukur saat itu, Kania tidak menembak dia karena melepaskan topengnya dan memperlihatkan wajahnya bahwa dia adalah seorang perempun. Misi saat itu Kania ingin menghabisi salah seorang pejabat penting yang jahat tapi keluarga James berusaha untuk melindunginya, tapi Kania tidak akan membunuh manusia di luar perintah ayahnya.


"Jangan formal begitu dong, sini mendekat. Aku sangat bersyukur bertemu denganmu dan aku sudah jelaskan kepada suamiku tentang bantuanmu itu,".


Bibi Prabu kemudian menjelaskan semuanya membuat Kania sedikit lebih tenang dari sebelumnya, tapi dia masih ragu wanita di hadapannya ini memiliki rencana berbeda dengan suaminya. James terlihat masih mengejarnya. Karena saat itu misinya gagal, Kania berhasil membunuh target dan mungkin saja James mengorbankan puluhn juta dollar proyeknya.


"Sekarang kamu ngerti kan, kenapa aku sangat senang? Prabu sangat pandai memilih calon istri. Dia menyelamatkan hidupnya dengan menikahimu,".


Alis Kania kemudian mengkerut mendengar hal itu.


"Aku mencintainya bibi,".


"Makanya jadilah lelaki yang baik untuknya,".


Wanita tersebut kembali memberi pelukan kepada Kania, "Prabu itu anak yang baik walau sedikit kaku, kamu hanya sedikit memberinya polesan agar mahir melindungimu," jelas Bibi yang berana Denada itu.


Prabu terdiam sejenak, "Bibi aku mendengar pembicaraan kalian,".


Prabu kemudian menggandeng tnagan Kania keluar dari ruangan tersebut dengan santai tanpa harus memindai atau mengscan wajah. Sesampainya di luar Prabu terhenti.


"Aku sengaja membawamu ke sini untuk memperlihatkan kalau kau aman berasmaku dan aku bisa melindungimu, jangan dengarkan ucapan bibi.


"Kania, walaupun kita pasti menikah, Yoland Putri Guzman dan Kania Aditama, will you marry me?," mata Prabu mengerjap setelah mengatakan kalimat itu.


"Aku pasti akan menjadi pria yang snagat romanis jika kamu bilang YES," timpal Prabu kembali.


Kania hanya tersneyumgeli melihat wajah Prabu yang putus asa. Jadi perjalanan ribuan kilometer ini hanya untuk meyakinkan dirinya bahwa dia akan aman bersama laki-laki yang berada di hadapannya itu?


Dia lupa menyatakan cinta, dia tidak menyematkan cincin, tidak ingat untuk memberinya bunga, tapi sudahlah. Kania dengan pelan-pelan mengatur nafas dengan degup jantungnya, Kania erkata dan menatap mantap "Jawabannya usdah aku siapkan sejak beberapa bulan yang lalu dan Yes, aku mau."


Prabu yang snagat bahagia tidak bisa mengucapkan apa-apa lagi, dia akhinya memeluk Kania dan mengecup bibir ranumnya.


🌻"SELESAI"🌻


****************


Finally judul ini selesai juga.


Makasih banget aku ucapin untuk para kakak readerku yang memberi dukungan, Like kalian sangat berarti. Apa lagi di tambah komen itu sangat membantu saya sebagai author lebih intropeksi diri dan memberikan yang terbaik.


Semoga Kalian semua sehat selalu, di beri umur yang berkah dan juga rezeki yang melimpah..


Sampai jumpa di karya aku selanjutnya yaa... 🌻🌻🌻🌻🌻


Sedikit informasi untuk karya baru aku. Aku bakalan pilih genre Fantasi timur tapi tenang aja, urusan romantisnya nggak bakalan hilang. Mungkin kaka readers ada yang mau ngasih saran? Kalau iya, itu sangat bermanfaat.


Tetap semangat yaa, see yaaa...🌻🌻🌻