
Perasaan Kania berubah tidak enak. Bukan kebiasaan Papa Adiguna mengabaikan telpon, Kania kemudian beralih menelpon Mama Sera.
Juga tidak di angkat!
Dia kemudian menelpon Bibi dan hasilnya pun sama.
Kania bingung harus menelpon siapa, menelpon para hbatnya di mintai tolong, Kania tidak ingin mereka pun mendapatkan masalah atau tepatnya bahaya.
"Mengapa Yolan, bukankah ini karma? bukankah kau selalu sendiri? kenapa kau khawatir?," batin Kania yang berperang dengan hatinya.
Untuk pertama kalinya dia mengkhawatirkan nyawa orang lain, selama ini Guzman pun menurutnya siap tidak siap, di dunia mafia, kehilangan nyawa itu sudah termasuk konsekuensinya tapi kali ini Kania sangat khawatir kepada kedua orang tua angkatnya.
"Kalau nyawaku itu tidak masalah tapi mereka tidak boleh menyentuh Papa dan Mama." gumam Kania.
Kania sudah merasa memiliki ikatan dengan mereka yangt tidak bisa untuk di jelaskna. Kini mata Kania terarah ke mobil yang di dalamnya sudah Kania siapkan beberapa peralatan tempur tapi dia akan menyerang siapa? identitas penyerangnya tidak terdeteksi dari pihak mana, klan musuh The Bloods terlalu banyak.
Tangan Kania siap untuk menelpon Mama Prabu tapi dia tidak ingin membuat wanita tua itu cemas.
"Tidak ada yang bisa aku lakukan selain menunggu,".
Kania meremas jemarinya dengan gelisah kemudian ponselnya kembali terdengar menerima sebuah pesan.
Drrrtttttt
Drrrrttttttt
Beberapa saat Kania mendengar nada tersebut berpikir untuk mengganti nada deringnya, dia tidak ingin nada itu sama dengan milik Prabu.
..."It's time for you to die". ...
Kania membaca pesan itu dengan mata melotot dengan mengeratkan rahangnya.
"Aku tidak akan mati semudah itu," desis Kania dengan menatap layar ponselnya.
Dia yakin, pesan itu bukan dari black shadow musuh ayahnya saat ini, dia susdah mempelajari trik black shadow selama ini. DIa tidak pernah menggunakan trik murahan dan picik. DIa memutar otak, dia tidak mengenal banyak orang selama berada di negara ini selama setahun kecuali, Prabu.
Laki-laki itu dan keluarganya dan pertunangan dadakan tanpa alasan yang nyaris Kania lupakan. Dia baru mengenal mereka seminggu ini! Kania kemudian bergegas menuju mobilnya.
Sungguh pikiran yang bodoh jika menuduh Prabu adalah lelaki yang jahat. Tetapi selama ini kecurigaan Kania dengan lelaki yang tinggi 180 cm itu dan berat badan 77 kg selalu muncul tiba-tiba tanpa suara, cepat dan mendadak berada di mana-mana.
Kania kemudian menelpon Prabu.
"DImana kamu?,"
"DI kantor,".
Ngapain dia di kantor, pikir Kania yang beberapa detik terdiam.
Untuk beberapa detik Kania terdiam kembali karena mencerna ucapan Prabu. Berarti urusannya dengan Ulfa telah selesai. Kania dengan cepat mempali ucapan Prabu.
"Aku ke kantor mu sekarang,".
"Yang benerr?" tanya Prabu yang kegirangan mendengar calon istrinya itu akan berkunjung.
"Iya,".
"Mau berduaan ya?," tanya Prabu dengan sedikti gombal
"Mungkin saja," jawab Kania dengan memutar malas bola matanya.
Kania bergegas ke garasi mobilnya dan menginjak pedal gas dengan sedikit keras. Dia bingung akan menuju kantor Prabu atau ke rumahnya terlebih dahulu untuk menggeledah kamar calon suaminya itu.
Kania merasa ciri-ciri si penyerang itu sedikit lebih mirip dengan si penyerangnya, Jangkungnya, postur tubuhnya, tinggi, bobotnya dan juga dia sangat kuat.
Dengan pikiran yang entah kemana, Kania akhirnya tiba di area parkir gedung pencakar langit, kakinya membawa Kania sampai ke tempat itu. Gedung pencakar langit itu terlihat remang dengan beberapa lampu area gedung yang telah di matikan.
Sunyi. tidak terlihat pun satu mobil yang terparkir di pelantarannya. Tidak ada aktifitas apa-apa selain penjaga malam yang sedang berjalan ke sana kemari untuk mengecek dan beberapa lainnya sedang duduk menguap dengan layar TV di hadapannya.
Kania tidak membuang waktu kesana kemari. Rasa penasarannya sudah di ujung tanduk. Dia ingin membuktikannya sekarang. Kania berjalan ke arah pintu lobi dan mendorongnya lembut kemudian berjingkrak agar tidak membangunkan penjaaga malam yang sedari tadi menguap tak karuan.
Kania pikir akan melewati beberapa lorong sunyi dan sepi saat menuju lantai 25 tempat Prabu tapi Kania salah, dia melewati beberapa ruangan yang nyatanya masih ramai dengan para pekerja lembur. Ada yang terlihat tengah sibuk dengan telponnya, mesin fotocopy, diskusi dan berbisik.
Kania kemudian terus berlari dengan sangat lembut hingga langkahnya tidak terdengar sama sekali. Dia memasuki sebuah lift dan menekan nomor lantai Prabu berada. Sesampainya Kania di tempat tersebut, semuanya kembali sunyi dan Kania kembali dengan waspada, dia melangkah pelan melewati setiap ruangan hingga dia di kagetkan oleh dua lelaki karyawan yang sedang berjalan terlihat jelas mereka dengan guratan wajah yang sangat lelah.
Hampir saja Kania melayangkan beberapa amunisi di kepalanya yang sejak awal menyembunyikan senjatanya di balik punggungnya. Kania hanya me-ngerem langkahnya karena kaget, begitupun dengan dua pria yang berada di hadapannya itu.
"Maaf, maaf," ucap Kania.
Dua pria itu hanya saling menatap bingung kemudian meninggalkan Kania yang tengah mematung. Mungkin saja mereka sudah sangat lelah untuk meladeni basa-basi Kania. Mereka hanya berpikir bahwa wanita itu pasti salah satu fans bos nya yang tidak menerima pernikahan bos yang tidak lamalagi.
Kania kemudian melanjutkan langkahnya dengan anggun kali ini karena tidak ingin menaruh curiga kepada siapapun. Meja sekretaris terlihat kosong. Kania akhirnya mendoirong pintu ruangan Prabu dan mendapatkan Prabu dengan senyum yang sangat manis menyambut kedatangan Kania. Sangat berbeda dengan sebelumnya.
Senyum Prabu sangat menggoda, tapi Kania tidak ingin meleleh karena itu, Kania berusaha tetap waspada. Dia merapatkan tubuhnya di belakang pintu yang di tutupnya menggunakan kaki belakang dan mendorongnya pelan.
Warna yang jelas terlihat kembali mengalir di paha Kania tidak bisa di sembunyikan oleh jeansnya. Prabu sangat jeli melihat itu, bahkan jika celana Kania basah, mengapa hanya sebagian saja? kenapa cuma di bagian paha? kenapa tidak dengan yang lainnya? Pikir Prabu.
Senyum Prabu berganti dengan rasa ingin tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi, Prabu bertanya seraya berjalan menuju Kania dengan pelan.
Pistol kecil Kania sudah terkokang, menyangkut aman di belakang. Kania tetap memasang kewaspadaan penuh hingga jarak di antara mereka tidak kurang dari satu meter.
Kulit putih Kania kelihatan bersinar di bawah lampu tanam yang menyorot teduh. Prabu juga terlihat sedang menjaga jarak dengan Kania. Dia melihat wajah datar Kania seperti biasa tapi sorot mata Kania kali itu berbeda, ada hal yang tidak dapat di ungkapkan.
Prabu merasa Kania mengundangnya untuk lebih dekat dan Prabu ternyata tergoda. Semoga saja Prabu tidak lepas kendali begitu berhasil memeluk Kania.