
Dia harus segera mengatur ritme keluar masuknya oksigen ke dalam paru-parunya atau bisa saja Kania mengamuk dan membalik meja di hadapannya atau menyiramkan minuman ke wajah Prabu yang pura-pura di tampilkan lugu itu.
Prabu kembali tersenyum sinis dengan menimpali ucapan Kania, "Itu artinya kau senang menjadi istriku karena kamu nggak perlu repot masak dan menyediakan makanan."
Prabu bukannya tidak tahu bagaimana perasaan Kania saat itu. Wajah Kania yang sangat kesal terpampang nyata di hadapan Prabu tapi Prabu sudah berpengalaman menghadapi berbagai macam bahasa tubuh wanita.
Posisi duduk Kania yang tidak jelas sangat mudah tertangkap mata Prabu bahwa dia sangat ingin cepat-cepat kabur dari hadapannya. Prabu kemudian mengeluarkan jurusnya yang lain dengan memamerkan senyumnya yang manis dan di tambah gigi putih yang berjejer rapi, bukan untuk membuat Kania terpesona tapi tepatnya ingin membuat Kania tersiksa.
"Aku tahu kita sama-sama canggung, sebaiknya memang kita harus membicarakannya. Well, aku liat kau merasa tidka nyaman di tempat ini, apakah kita harus mencari tempat yang lebih baik?" ucap Prabu.
Prabu memilih untuk memulai bersikap dewasa ketimbang ikut-ikutan ngambek seperti anak kecil. Insiden yang tadi memang menghilangkan minat Prabu terhadap Kania.
Kesempatan! Kania tidak ingin melewatkan saat itu untuk mengatakan betapa dia sangat ingin mengakhiri hubungan yang di mulai itu. Sekarang Kania tidak ingin menyia-nyiakan waktu lagi.
"Di sini saja, its ok. Kita memang harus membicarakan hubungan yang canggung ini karena itu sebaiknya di hentikan sebelum menjadi lebih buruk," jelas Kania.
"Lebih buruk bagaimana?," tanya Prabu dengan menaikkan alisnya.
Kania mendengar pertanyaan Prabu itu mengacuhkannya saja dan mengeluarkan pendapatnya sendiri "Aku yang bicara kepada kedua orang tua kita atau kau yang berbicara kepada mereka, atau sebaiknya kita berdua yang menghadap mereka untuk mengakhiri hubungan ini karena kita nggak cocok,".
"Nggak cocok gimana?,".
"Aku masih terlalu muda untuk menikah,"jawab Kania spontan.
"Terlalu muda gimana?,"
Kania memutar malas bola matanya sedangkan Prabu yang melihat itu tersenyum jahil, "Apa yang terlalu muda? kamu sudah dua puluh lima tahun, bukan gadis di bawah umur. Beda usia lima tahun dengan lelaki itu ideal untuk sebuah pernikahan. Lagian apanya yang nggak cocok? dan apa buruknya jika kita mengikuti kemauan orang tua setelah bertahun-tahun lamanya mereka menuruti semua keinginan kita?,".
Kania melongo, itu kalimat terpanjang yang Prabu ucapkan untuk kali pertama saat mereka saling mengenal.
"Kita masih bisa memiliki waktu untuk belajar saling menyukai satu sama lain," jelas Prabu kembali.
"Stop, kamu terlalu banyak bicara," ucap Kania.
"What? aku emang nggak bisa diam, lakukan yang terbaik karena waktu adalah uang, jangan di buang-buang sama sekali. Ngobrol kek gini juga aku nggak betah tapi ini penting-,".
"Pembohong! tadi kamu betah ngobrol berduaan sama Ulfa dengan pembahasan yang tidak jelas," batin Kania.
"Menurutku, orang tua kita hanya ingin melihat kita bahagia tapi orang tua bukan malaikat, mereka juga bisa berbuat kesalahan. Kalau kita menjelaskan dengan baik dan benar bahwa perjodohan yang tampak terlihat ini sebenarnya sebuah kesalahan mereka dan pasti bisa di mengerti. Terutama orang tuaku. Aku yakin mereka tahu bahwa sebenarnya aku menderita bertunangan denganmu, mereka pasti akan menyetujui pembatalan pertunangan itu," Jelas Kania yang memotong ucapan Prabu dengan cepat karena tidaksudi mendengar lanjutan ucapan Prabu yang menurutnya sangat omong kosong.
Mendengar ucapan Kania, Prabu mengangguk-angguk seolah dia mendapatkan informasi suku bunga bank naik setengah persen. Prabu kelihatan tertarik.
"Kenapa sih kamu selalu membuat pernyataanku menjadi sebuah pertanyaan?,"
"Oke, aku cuma heran, yang mestinya menderita kan aku," timpal Prabu dengan menyerngitkan alisnya.
"Benar, kamu sangat benar," Batin Kania dengan membayangkan betapa kerasnya Kaki Kania saat menginjak Kaki Prabu, dia yakin Prabu saat ini sedang menahan sakit yang luar biasa agar terlihat baik-baik saja.
Kania tersenyum lebar. Seluruh sarafnya terasa tiba-tiba membengkak siap meledak. Sedangkan Prabu terlihat siap dan waspada.
Kania kemudian mencondongkan tubuhnya kehadapan Prabu kemudian setengah berbisik, "Sekarang aku akan berdiri dan berjalan,keluar dari sini dengan tenang dan damai. Kamu tetap menikmati pesanan yang belum datang itu sampai selesai. Jangan menelpon, jangan membuntuti dan jangan memikirkan aku lagi. Aku akan melakukan hal yang sama. Selesai!,".
Prabu menggigit bibirnya dengan menahan tawa sambil mengangguk. Dia menatap punggung Kania yang berjalan tergesa-gesa menuju pintu keluar.
"Tidak. Kau tidak akan mengehentikan hungan ini dengan seperti itu,". ucap Prabu yang tiba-tiba berdiri dari tempatnya dan menjadi perhatian semua orang.
Kania yang mendengarnya sedikit berbalik dan memberi tatapan yang mematikan, Kania denganr asa yang campur aduk, malu dan kesal yang luar biasa kembali melanjutkan langkahnya sedangkan Prabu mengikuti langkah Kania berada di belakangnya dengan sedikit menjaga jarak.
Kania sampai di luar dan dilihatnya berdiri di tepi jalan menunggu taksi. Prabu yang melihat itupun mempercepat langkahnya dan mendekati Kania.
"Aku akan mengantarmu dengan tenang dan damai. Kamu akan menurut supaya tidak terjadi keributan dan aku akan melupakan tingkahmu yang membuatku malu di dalam tadi,".
"Kalau aku nggak mau?!,".
Tangan Prabu tiba-tiba menarik pinggang Kania dan tangan satunya lagi bertengger santai di pundak Kania.
"Aku akan menciummu di sini sampai kehabisan nafas" bisik Prabu yang membuat jantung Kania berdetak gila.
"Seperti kamu mencium U..... ah tidak! aku nggak sanggup membayangkan Prabu mencium bossnya itu apa lagi menciumku," batin Kania
"OKe, aku bisa jalan sendiri,". balas Kania dengan cepat dan melangkah menuju mobil Prabu dengan cepat juga.
"SIalan, dimana sih taksi-taksi itu,biasanya dia berjejer rapi memamerkan diir, kenapa di saat genting dia tidak terlihat sama sekali," ucap Kania yang kembali membatin.
......................
Di tempat lain, Seseorang memperhatikan gerak-gerik Kania yang keluar sendirian dari gedung tinggi dengan tampak angkuh dan menyebalkan. Raut wajah Kania yang unik terlihat cemberut. Mungkin sedang marah, dia tidak yakin.
Dia memperhatikan Kania sejak setahun terakhir jika gadis itu hanya memiliki satu ekspresi "datar". Marah, senang, sedih, kecewa, dendam semuanya tersembunyi dengan rapi di dalam pikirannya. Tidak seorang pun tahu bahkan ayahnya sekalipun. Jiwanya telah membeku. Seluruh perasaan dan kelembutan layaknya wanita seutuhnya telah di musnahkan dalam pelatihan keras tanpa ampun dan sebuah misi oleh Ayahnya.
Lelaki itu menggelidik. Sebenarnya dia tahu dari beberapa informasi terpercaya di luar negri serta video dan foto, semua hasil perbuatan Kania, gadis itu menakutkan sekali.