My Wife Is Mafia

My Wife Is Mafia
60. My Wife Is Mafia



James terlihat sedang meneguk teh hangat yang berada di hadapannya. DIa tengah duduk bersantai di ruangan yang memiliki rak buku setinggi satu setengah meter dengan judul politik yang menumpuk dan juga tempat perapian yang sedikit corak emas dan juga terdapat tempat lilin bersusun yang juga berlapis emas dan sejumlah lukisan di belakang sandaran sofanya yang membuat seseorang melihat pertama kali akan berpikir bahwa mereka adalah Aristokrat yang sebenarnya.


Sore itu beberapa lampu berbentuk pijar yang membuat ruangan itu seolah di terangi oleh pendar api yang telah di nyalakan. James duduk di dekat jendela kaca besar menghadap ke taman samping rumah. Segala kemewahan yang berada di sekitar seolah mendukung dengan penampilan James, memperkuat dan mempertegas kekuasaannya. Sayup-sayup terdengar ada melodi musik yang menenangkan.


Kania yang melihat itu mengerutkan keningnya saat telinga Kania menagkap alunan musim yang terdengar aneh itu. Kania merasa selera orang ini sangat aneh, musik nuansa timur tengah di gurun pasir.


Laki-laki setengah baya itu berbalik dan bangkit dari tempat duduknya. DIa berjalan dan merangkul Prabu dengan hangat.


"Aku minta maaf karena tidak datang ke pertunangan kalian. Kebetulan kondisi bibimu drop bertepatan dengan hari pertunanganmu,".


Prabu mendengar penjelasan pamannya itu hanya nyengir santai.


"Tidak masalah,".


"Sayang kenalkan, dia adalah pamanku. Paman kenalkan dia calon istriku Yolan Putri Guzman,".


Kania merasa pernah melihat pria itu, tapi tidak. Ingatan Kania sedikit samar, jika benar dia itu sangat berbahaya bagi Kania saat itu karena dia hanya sendiri. Dia tidak bisa mengandalkan Prabu sama sekali.


Prabu melepaskan tangannya dari genggaman Kania kemudian James mengulurkan tangannya.


"Mungkin dia tidak mengenalku," batin Kania dengan was-was.


Kania kemudian menyambut tangan yang terulur itu untuk menjabat tangannya itu. Genggaman James sangat kuat dan tidak bersahabat. Prabu pasti tahu karena dia menganalisa keadaan kami. Kania kemudian menarik sedikit dengan tenaga tangannya dari tangan pria paruh baya di hadapannya itu.


"Apa bunga ini untuk bibimu?," Tanya James yang memandang penuh arti.


"Iya Paman,".


"Sayang sekali, dia di rumah sakit. Tekanan darahnya sudah normal, dokternya saja yang sok khawatir, memperlama bibimu berada di rumah sakit supaya pendapatan rumah sait bertambah,".


Prabu mendengar itu hanya tertawa.


"Jadi kapan kalian menikah?,".


"Dua minggu lagi,".


"Kamu sudah mengenal calon istrimu?," Pria paruh baya itu melirik Kania dengan ujung matanya. Lirikannya tidak bisa di defenisikan dengan mudah.


"Tentu, aku memiliki data dirinya, sejarahnya, berapa ons beratnya saat dia baru di lahirkan hingga berhadapan saat ini,".


Kania kemudian mengatur nafasnya. Degup jantungnya mulai menjadi cepat. Sensitivitasnya telah memperingatkan akan suau bahaya yang akan mengancarm.


"Kalian pasangan sempurna untuk menghasilkan seorang mutan. Keturunan kita kurang lebih sama dan aku siap membayar gadis ini dengan nilai tinggi selama sembilan bulan jika anaknya aku yang rawat dan aku akan memberikan semua kekayaanku, menjadi penerus bisnisku,".


Detik pertama dia berhasil membuat Kania terkejut setelah mendengar kata-katanya.


"Prabu,". ucap Kania dengan berbisik kemudian mulai memasang ancang-ancang.


"Tenang sayang, serahkan semuanya padaku, paman cuma bercanda" timpal Prabu.


Kania berpikir jika dia tidak mengetahui sepak terjang om nya di dunia mafia, dia salah satu lawan berbahaya yang pernah Kania temui. Dia tidak segan-segan membunuh anak-anak yang termasuk dalam keluarga korbannya. Kania tidak pernah melakukan itu sebelumnya, sepertinya paman Prabu lebih psikopat di banding dirinya waktu itu.


Bola mata Kania menangkap sebuah bayangan yang melangkah cepatdan semakin dekat. Anak buah James mendekat untuk mengepung tempat itu. Sepatu mereka pasti telah di lapisi karet dengan kualitas tinggi karena telinga Kania yang tajam tidak berhasil menangkap suara yang di timbulkan oleh sebuah gesekan sol sepatu dengan lantai.


Gerakan itu seolah-olah halusinasi saja. Kania melirik ke segala arah dengan cepat, berusaha mengkalkulasi ada beberapa orang yang tengah mengendap itu. Namun bantalan karet di bawah sepatu perang yang mereka gunakan itu menyulitkan telinganya untuk menembak. Tapi, Kania bisa meraskan tekanan dan kekuasaannya melingkupi seolah keduanya berdiri rapat di belakang Kania.


Kania seratus persen yakin dengan langkah yang akan di ambilnya. Dia hanya yakin bahwa mereka tidak akan menyakitinya tapi itu hanya praduga sementara, bagaimana jika Kania jadi terget selanjutnya dalam misi mereka?


Kania kemudian melompat ke arah Prabu dalam sekali loncatann besar yang sudah di latih Kania sejak dia berusia lima tahun. sebelah tangan Kania bertengger di tekuk tunangannya itu, dia siap mencekiknya dan tangan yang satunya menodongkan sebuah senjata yang Kania selipkan di sakunya ke leher Prabu yang siap melenyapkannya.


"Antar aku keluar sekarang," ucap Kania penuh penekanan kepada Prabu.


"Kamu menjebakku, sialan".


"Enggak sayang, kamu tenang. lepaskan aku dulu," timpal Prabu.


"Mimpi!," ucap Kania.


Prabu yang mendengar itu menarik dengan cepat tangan Kania yang memegang senjata itu dengan kuat dan didorongnya Kania ke belakang dengan keras lalu tubuhnya di balik dengan cepat dan Prabu menangkap kedua tangan Kania dan menariknya kebelakang kemudian Prabu memeluk Kania dari belakang dan memegang tangannya erat.


Kania menyadari bahwa dia tidak bisa bergerak lagi. Seperti supermen kelemahannya adalah Krypton, maka kelemahan Kania adalah Prabu.


Paman Prabu tertawa kecil.


"Kau akan tetap mati kalau aku mau. Para anak buahku akan menembak ujung jemarimu kemuian menembak sekujur tubuhmu, kau saat ini berada di daerah kekuasaanku,".


"Paman. Sudahlah, Kania tidak seperti dulu lagi,".


"Bagaimana kau bisa begitu yakin?,"


"Percayalah paman, hmmm aku akan menemui bibi terlebih dahulu," ucap Prabu kemudian dia berjalan menggneggam tangan Kania, mengajaknya kleuar menuju mobil yang terparkir di depan kastil tersebut.


Kania melirik di segala penjuru, semua anggota dengan siluet hitam lengkap dengan senjata di tangan mereka tengah menjaga dan meilirik Kania layaknya mangsa. akhirnya Prabu dan Kania berhasil meninggalkan tempat tersebut dan menuju rumah sakit di pusat kota.


"Apa sih maksud semua ini?," tanya Kania kaku.


Dia mengingat bagaimana James bertingkah, dia pernah menjadi target Kania tahun lalu sebelum dia berangkat ke Indonesia tapi di batalkan oleh Guzman entah apa alsananya tapi saat itu Guzman menarik kembali perintahnya dan membuat Kania tidak berhasil membunuhnya padahal tinggal selangkah lagi.


Prabu hanya terdiam mendengar ucapan Kania, dia akhirnya meghentikan mobilnya dan memberitahukan kepada Kania bahwa dia harus hati-hati karena rumah sait itu milik pemerintahan daerah. Bangunan itu memiliki banyak CCTV.