
Kania kembali mengingat kemarin saat Prabu sedang berbincang dengan Mamanya, Kania melirik sekilas dan mengetahui apa yang mereka bicarakan hanya dari mulut mereka yang bergerak. Prabu rela di tunangkan oleh kedua orang tuanya karena Papanya sakit jantung dan ingin melihat Prabu segera menikah.
Kania yang berusaha membaca gerak gerik bibirnya paham bahwa mereka juga membahas banyak janji Prabu untuk menjadi anak yang baik. Kania berpikir sejenak di zaman sekarang seorang anak lelaki yang begitu penurut hanya bisa di hitung dengan jari tangan.
Kania juga bingung mengapa mereka lebih memilih menunangkan Prabu di banding menyembuhkan penyakit Papanya, mereka kan konglomerat. Berobat bisa ke negara mana saja dengan peralatan terbaik, bukan malah membuat pertunangan yang sedikit konyol menurut Kania.
Tapi jika mengingat orang tua, hati Kania sedikit luluh karena sikap Prabu meiliki sisi postif, Kania sempat berpikir bagaimana jika diaS menjadi istrinya, pasti PRabu snagat amat menjaganya dengan baik. Membayangkan itu, wajah Kania memerah karena malu.
Kania layaknya anak SMA yang di landa perasaan dengan pilihan yang tidak jelas, untuk seketika dia mengurungkan misi pembatalan tunangan dan ingin memberi kesempatan untuk hubungannya dan Prabu berkmbang, beberapa saat selanjutnya saat Prabu melakukan kesalahan dia tidak segan-segan ingin memutilasi Prabu saat itu juga.
"Apakah aku beri kesempatan dia dulu? dan melupakan acara makan malam itu?" gumam Kania dengan mengacak rambutnya sendiri.
Kania memilih ke restoran bertemu dengan Gita, sepertinya dia butuh Gita untuk meminta pendapatnya lagi. Tanpa berpikir panjang Kania melajukan mobilnya ke arah restauan MegaRasa. Gita tengah sibuk menghias makanan tiba-tiba Kania datang mengagetkannya.
Untung makanan tersebut tidak tesentuh jemari dengan dorongan kasar, sehingga riasan makanan tersebut tidak bergeser sama sekali,
"Ada apa sih Nia," ucap GIta kesal.
Belum sempat Kania menjawab, seorang pelayan berlari memasuki dapuur dan mencari tahu siapa yang nmenyajikan menu makanan dengan ice cream taburan cokelat dan kacang di atasnya. Gita kemudian mengangkat tangan.
Semua mata tertuju pada Gita. Pelayan tersebut menjelaskan bahwa di luar sedang ada tamu yang mengamuk karena pesanan tersebut, dia menjelaskan bahwa itu tidak sesuai dengan yang di inginkannya.
Gita menjelaskan kembali dan membaca catatan pemesanan, dia telah melakukan sesuai pesanan bahkan jika perlu Gita siap membuatnya ulang dengan hal yang sama dan cari di mana letak kesalahannya.
Mereka semua kebingungan, tiba-tiba Ulfa muncul dari arah pintu yang lain, pintu yang menghubungkan gudang tempat persediaan bahan makanan, Kania yang melihat lebih dulu kehadiran Ulfa, beringsut sedikit di belakang beberapa staf koki untuk bersembuyi.
"Ada apa ini?" tanya Ulfa
Pelayan tersebut kembali menjelaskan letak permasalahannya dimana dan kejadian yang sedang kacau di luar, Ulfa terlihat sangat tenang dans eakan tidak terjadi apapun,
"Kadang memang saingan sengaja datang hanya untuk menghancurkan citra restauran kita, suruh orang itu masuk ke rungan saya" ucap Ulfa tenang.
Brakkkkk....
Pintu dapur terdorong sangat kuat,
"Mana manager kalian?"
"Oh, kamu? ada apa mencariku? jangan mengacau di sini" timpal Ulfa
"Harusnya aku yang ngomong kek gitu, kamu yang jangan mengacaukan hubungan orang, sadar dong. Kamu itu mantan dan udah di putusin beberapa tahun yang lalu" ucap wanita itu dengan berapi-api
Semua yang menyaksikan itu terdiam di tempatnya, begitupun Kania. Tapi, posisi Kania saat itu bisa juga terlihat oleh wanita tersebut. Akhirnya dia memilih jongkok untuk menghindari tangkapan tajam mata musuh.
"Luna, luna...." ucap Ulfa edngan santai
Gita yang mendengar pertengkaran mereka merasa lega karena yang bermasalah sebenarnya bukan makanan buatannya tapi dua wanita tersebut terlibat masalah yang lebih rumit dari sekedar makanan.
"Kenapa? takut? malu di dengar sama pegawai kamu kalau bosnya suka merayu pacar orang?" ucap Luna sinis
Yang mendengar itu, semuanya kembali fokus dengan wajah yang penuh ketertarikan dan penasaran tentang permasalahan tersebut. Mereka memasang wajah-wajah ibu komplek yang lagi dengerin tetangganya berantem.
Ulfa kemudian tertawa kecil seakan memancing amarah Luna lebih besar lagi,
"Lun, aku nggak ngerti. Maksud kamu apa?"
"Prabu cerita semuanya ke aku" timpal Luna dengan tersenyum sinis
"Terus masalahnya dimana?"
"Kamu itu masa lalu dan stop gangguin dia, goda dia."
"Kalau dia tergoda berarti dia masih punya rasa" timpal Ulfa
Luna kembali menggertakan gigihnya dengan wajah yang memerah karena marah mendengar ucapan Ulfa.
"Kalau dia masih punya rasa, nggak mungkin dia mutusin kamu".
Ulfa menghembuskan nafasnya pelan, "Semua orang melakukan kesalahan yang fatal karena silau dengan barang yang terlihat bagus ternyata aslinya bobrok" ucap Ulfa sinis kemudian melangkah meninggalkan Luna yang terhenyak mendengar ucapan Ulfa tapi sebelum benar-benar meninggalkan ruangan tersebut, Ulfa menghentikan langkanya,
"Tapi aku sudah memaafkan kesalahannya" ucap Ulfa dengan mengedipkan matanya
Kania mendengar itu seakan ingin memberi tepukan tangan dengan ucapan dan sikap mantap Ula menghadapi Luna, seujung kuku pun Luna kalah telak dari Ulfa yang tenang dan bersahaja serta berkarisma.
Tiba-tiba seorang pelayan masuk ke ruangan tersebut dan memberi tahu Luna bahwa bu Ulfa berpesan memberi anda makan gratis serta dessert gratis saat itu, Luna di minta memesan makanan kembali. Luna yang mendengarnya mengambil baki pelayan tersebut dan menghempaskannya ke lantai dengan wajah yang merah padam.
Para pegawai pun terlihat puas dengan pertunjukan tersebut, mereka seakan ingin memberikan standing applause kepada managernya itu. Satu persatu akhirnya mereka kembali beraktifitas seperti semula. Sedangkan Kania berusaha menyelinap pergi meninggalkan tempat itu sebelum Luna menyadari kehadirannya.
Kania kembali bernafas lega. Semangat yang tadi berkobar untuk memberi kesempatan kepada Prabu kembali surut, "Sangat sulit untuk menjadi satu-satunya untuk dia" gumam Kania.
Kania meraih Hp yang terletak di saku celana belakangnya dan melihat pesan teks terpampang di layar biru itu,
..."Kamu ke kantor Prabu ya sayang, ambil rantang yang kamu bawa waktu itu"...
..."Itu cuma rantang Ma, ngapain di minta,kasih aja" sent!...
..."Itu rantang tante Imel yag ketuker sama rantang mama,"...
..."Ya udah, kasih tante imel rantang yang mama punya. Kan bentukan dan warnanya sama" sent!...
..."Rantang itu di beli tante imel di singapore, nggak ada bantahan lagi" pesan teks MamaSera yang skatmata Kania....
Kania memijat kepalanya yang tiadk sakit, perkara rantang bisa membuatnya benar-benar hancur dan malu. Sebelumnya rantang itu tidak memberinya muka sama sekali, kali ini karena rantang Kania akan ke berkunjung ke kantor Prabu.