My Wife Is Mafia

My Wife Is Mafia
55. My Wife Is Mafia



"Peluru itu tidak menyentuh saraf vital papa. Begitu pelurunya dikeluarkan dari kaki, papa akan segera pulih kembali," timpal Kania yang matanya masih menatap pintu lift.


"Maksud papa ini bukan kejahatan biasa. ini aneh," jelas Aditama yang tidak tahu menahu jika anak dari sahabatnya itu adalah seorang mafia.


Selama ini Kania di titipkan hanya karena alasan Kania ingin merasakan keluarga yang utuh, normal dan alasan lainnya adalah Guzman juga memiliki banyak yang harus di lakukan dan tidak bisa menjaga Kania dengan baik. Aditama menerimanya dengan baik karena dia dan Sera memang sudah sejak lama menginginkan seorang anak.


Tidak mudah bagi mereka menemukan anak yang cocok dan sehati. Kania adalah pengecualian. Sejak kecil Aditama dan Sera sudah menyukai Kania dan selalu melempar gurauan untuk mengadopsinya kepada Guzman. Walau nyatanya Guzman mengalah di usia Kania yang menginjak dewasa itu tidak masalah sama sekali untuk Aditama dan Sera.


"Apa ini ulah para wanita yang mengejar Prabu? mereka membayar orang untuk mengerjai kita sampai kau mundur? karena papa dengar banyak anak konglomerat yang menginginkan dia,".


Lift terasa bergerak lambat seperti bekicot dan Kania membenci hewan itu.


"Kania tidak tahu pa", timpal Kania.


"Seandainya semua ini hanya ulah peremuan kejadiannya tidak akan parah seperti ini," batin Kania.


"Tapi sebenarnya ayah mu yang memaksa kami untuk mengadakan acara pertunangan itu. Ayahmu dan ayah Prabu berteman baik," ucap Aditama


Kania terhenyak!


Dia mnegingat ucapan Guzman yang terakhir kali, "kadang tempat terbaik untuk sembunyi adalah berada di tempat musuh,".


"apakah dia yang berada di balik semua ini,?" batin Kania.


Pukul 12.00 malam. Pintu lift berdenting membuka. Kania berhenti untuk menganalisis, konsentrasi sambil menggendong papanya keluar dari lift dengan sedikit berlari ke arah pintu yang akan menghubungkan mereka ke area kosong dan ke rooftop gedung pencakar langit tersebut.


Pemandangan pendaratan helikopter terhampar di hadapan mata Kania dengan suasana yang suram bersama angin yang bertiup kencang. Kania kemudian meminta papanya untuk duduk dan merapat di dinding. Kania melihat sekitar dan dia akhirnya menarik beberapa benda untuk membuat papanya terhindar dari bahaya.


Kania mengelilingi papanya dengan beberapa helai lempengn baja sisa bangunan yang di susun rapi di situ. Papa akan aman dari tembakan untuk sementara. Kania berdiri tidak jauh dari papa nya untuk menunggu. Satu menit, dua menit sampai lima menit. FIrasat Kania mengatakan jika rooftop itu kosong.


"Mama nggak ada di sini pa," gumam Kania yang merasa tenggorokannya tercekat karena menahan sakit di dadanya.


Kania tidak tahu menahu apa yang terjadi dengan mama nya, saat itu Kania hanya membayangkan segelimang suara cempreng mamanya, tawanya, senyumnya, cara menyayangi Kania yang selama ini Kania tidak pernah rasakan dan juga ocehan mamanya yang sudah menjadi musik terbaik untuk Kania.


Drrrrttttt


Drrrrttttt


Ingin rasanya Kania membanting ponselnya saat itu juga karena geram. Kania kembali membuka sebuah pesan teks yang baru saja muncul di layar ponselnya


"Apakah kamu tidak melihatnya?,"


Kania kemuidan berjalan lurus kedepan di gedung tersebut hingga mencapai pinggiran gedung dan melihat ke segala arah. Telinga Kania yang sensitif mendengar sebuah gesekan dan akhirnya membuat dia menajamkan matanya di area dengan pencahayaan sedikit temaram.


Kania melihat di ujung gedung ada seutas tali. Kania melihat ujung tali tersebut. Maa Kania melotot saat melihat di bawah sana ada sebuah kantung mayat berwarna hitam yang tengah tergantung di ketinggian 50 lantai itu. Kania melompat dan menyeberang hingga ke tepi rooftop lantai di bawah rooftop. Kania melihat kantong itu sedikit memberi pergerakan.


Kania meraih talinya dan cepat menangkap kantongan tersebut dan membukanya dengan cepat. Ada Guzman yang berada dalam kantong tersebut, Kania terhenyak.


"AYAH?!!," Pekik Kania


Dia bersykur bisa dengan cepat menolong ayahnya, jika dia harus menunggu beberapa menit lagi. Kania bisa pastikan jika orang yang berada dalam kantongan mayat tersebut bisa meninggal karena kehabisan oksigen.


Kania memeriksa yang terlihat pucat dengan mata yang sayup. Kania memeriksa detak jantung melalui nadi dengan jeli Kania melihat ada bekas suntikan di leher ayahnya, dia terkena bius. Kania kemudian membopong ayahnya dan mengikat tubuhnya di tali yang bertengger tersebut.


Kania mengecek talinya yang terbuat dari karet, dia tahu jenis tali seperti itu, Kania juga menarik tali untuk mengetahui kekuatan talinya, itu cukup unutk menarik tubuh ayahnya ke rooftop.


Kania dengan jeli mengikat ayahnya ditubuh Kania dan penuh tenaga menarik tali beberapa langkah dan sampailah ke tepi rooftop. Guzman tergantung beberapa detik sebelum Kania naik terlebih dahulu lalu menarik ayahnya.


Kania berjalan dengan menaikkan kembali ke pundaknya dan membawa Guzman ke Aditama. Dia yang sedari tadi menyender di tembok dengan lingkaran baja kaget melihat sosok Guzman tak berdaya di hadapannya yang di bopong oleh Kania.


"Papa, Kania akan mengeluarkan peluru yang ada di kaki papa, memang akan banyak darah tapi jangan panik, itu bisa membuat papa masih bisa berjalan. Papa harus menyelematkan diri dan tolong bawa ayahku ikut bersama papa, selamatkan dia," jelas Kania.


Akhirnya Aditama mengangguk setuju. Kania kemudian mencari benda tajam yang tersembunyi di telapak sepatu Guzman. ania sangat tahu bahwa Guzman selalu menyembunyikan benda tajam di telapak sepatunya. Sebuah belati kecil seukuran telunjuk berada di sana.


Kania membuka baju kaos yang di gunakan dan menyisakan sebuah tentop hitam. Kania memutar baju tersebut dan meminta papa nya menggigit untuk menahan rasa sakitnya saat amunisi di keluarkan dengan peralatan yang seadanya.


"Pa, maafin Kania. Ini tidak akan lama," gumam Kania kemudian bersiap.


Aditama yang mendengar itu hanya mengangguk paham, Kania kemudian dengan cekatan mengarahkan belati kecil itu me titik peluru yang bersarang di kaki Aditama, darah berceceran sedangkan ditama hanya bisa mengerang menahan rasa sakit yang menjalar di seluruh tubuhnya.


Peluru tersebut telah di keluarkan dan benar, Aditama merasa sedikit lega dan kakinya merasa sedikit bisa digerakan.


"Baiklah Pa, sekarang saatnya papa meninggalkan tempat ini,".


"Bagaimana denganmu nak?,".


"Jangan pikirkan Kania, aku akan mengatasi maslaah ini dulu, setelah itu Kania akan menyusul, Papa tenang saja,".


FIrasat Aditama tidak enak. Matanya bening mengisyaratkan kesedihan, dia menatap Kania dalam.


"Papa tenang saja, kita akan bertemu lagi," ucap Kania dengan menahan air matanya.