My Wife Is Mafia

My Wife Is Mafia
41. My Wife Is Mafia



Lift terbuka, Prabu berlari dan meminta Kania menunggunya. Dia sangat ingin berdua dengan Kania dan membahas semuanya, Kania dengan polosnya menganggap jika Prabu hanya penasaran dengan jawabannya, bukan karena Prabu terlihat ingin menghabiskan lebih banyak waktu berdua dengannya.


"Apa sih yang dia ingin dibicarakannya, meminta maaf? karena tidak bisa mencintaiku dan hanya ingin bertanggung jawab saat ia menjadi suamiku? atau alasan lainnya? berapa menit sih di butuhkan hanya berbicara masalah itu? lima menit? sepuluh menit? ahh sudahlah, aku tidak bisa menghadapi ini lebih lama" gumam Kania.


Akhirnya Kania berjalan dan memasuki lift kembali dan menyusul Prabu menuju ruangan kerjanya. Saat Kania tiba di lantai letak ruangan Prabu berada, ternyata Prabu masih terlihat jelas tidak jauh berada di depan lift sedang berbincang dengan salah seorang yang menurut Kania itu bawahannya sedang menerima perintah. Prabu yang melihat ada seseorang di sudut matanya menoleh ke arah lift tersebut.


Prabu tersenyum tipis karena Kania menyusulnya.


"Ada apa Nia?,".


"KIta bicarakan di ruanganmu saja,".


Prabu kembali tersenyum karena gagal menebak isi kepala Kania.


"Baiklah," ucap Prabu dengan menggandeng tangan Kania.


Kania yang mendapat perlakuan itu, spontan melepaskan tangan Prabu, "Nggak usah gandengan, emang kita truk gandeng? aku kuat jalan sendiri kesana," ucap Kania datar.


Kania ingin menyelesaikan masalahnya kemudian mencari penyerangnya tadi dan membunuh orang-orang yang membuatnya harus berada di negara itu untuk bersembunyi dan merasakan konflik batin.


Prabu kembali tersenyum tipis, dia tidak menyangka bisa mendengar sebuah kalimat seperti itu dari mulut Kania yang sedikit lucu dengan wajah datar tanpa ekspresi itu. Calon istrinya terlihat menggemaskan, cantik, polos dan segar. Apa lagi kalau sedang marah.


Prabu tidak pernah ingin menjalin hubungan serius dengan wanita yang di sukainya, tidak bisa. Prabu memiliki alasannya sendiri. Tapi saat ini dia juga tidak bisa memutuskan hubungan itu, walaupun sebenarnya dia mampu. Dia telah mencintai Kania dan dia sikap menerima resikonya.


Prabu dan Kania akhirnya berjalan bersamaan tapi tidak jauh dari arah berlawanan seorang pria berlari dengan terburu-buru menuju lift yang masih terlihat terbuka, nyaris saja mereka bertiga bertabrakan tapi tiba-tiba pria itu menghentikan langkahnya.


"Kania?," ucap Pria tersebut yang membuat langkah Prabu dan Kania terhenti.


"Evan?" timpal Kania yang tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya.


"Siang Pak Prabu," sapa Evan dengan hormat.


"Eh kalian saling kenal ya?," tanya Evan.


Kania melotot gugup. Kegembiraannya seketika berubah menjadi firasat buruk, bencana. Pikirnya!


"Atau pak Prabu ingin menggunakan jasamu juga untuk membuat makan malam romantis kejutan untuk Ulfa?" ucap Evan kembali.


Firasat Kania benar!


Kening Prabu mengernyit menatap Evan. Semuanya akan segera terbongkar. Kania berusaha bersikap manis kepada Prabu dengan mengedip kepada Prabu, mengajaknya segera ke ruangannya tapi Prabu justru memasukan tangannya ke dalam saku sambil memasang sikap menyimak.


"Maksud kamu apa?" tanya Prabu kepada Evan.


Evan yang mendengar itu tanpa peka dengan keadaan lansung menjawab spontan,


Prabu menahan nafasnya sedangkan Kania menggigit bibirnya, sedangkan Evan dengan ceria dan tanpa rasa bersalah dengan meminta izin melanjutkan langkahnya tapi sebelum itu Evan mengatakan dengan terang-terangan bahwa dia akan menelpon Kania.


"Aku free hari minggu, aku akan menelpon kamu beby,". ucap Evan kemudian berlalu dengan senyuman terbaik.


Kania menghembuskan nafasnya kuat-kuat sambil meringis, jangan ditanya otaknya yang sudah semrewaut mencari kata yang pas untuk berhadapan dengan Prabu.


"Sepertinya nanti kamu akan sendiri di pelaminan karena aku akan sibuk memasak untuk acara pernikahan kita," ucap Kania yang berusaha melucu.


"Itu tidak lucu dan kamu mempermainkan aku," timpal Prabu dengan amarah.


Kania yang mendengar itupun ikut tersulut emosi, alis Kania bererak naik, "Mempermainkan?,".


"Kamu membantu Ulfa menggodaku, apa kamu sedang menguji aku? kamu berusaha memutuskan pertunangan kita dengan membuatku menjadi cowok brengsek?".


"Aku nggak tau kalau pacar Ulfa itu kamu,". timpal Kania dengan nada yang sengit juga.


"Oke, sejak kapan kamu mengetahuinya?,"


"Setelah pertemuan kalian yang pertama," timpal Kania jujur.


"Dan setelahnya? apa yang kamu lakukan? kamu masih membantu Ulfa melakukannya!".


"Aku tertarik dengan cek yang Ulfa berikan" timpal Kania.


Perfect. Satu kata yang terlintas di kepala Kania saat itu, jika dengan begini mereka bisa putus itu lebih baik. Terlalu berbahaya bagi Prabu dan keluarganya apabila pernikahan itu di teruskan. Penyerangnya tadi membangkitkan kesadaran Kania bahwa ketika persembunyiannya mulai terungkap itu berarti dia akan segera meninggalkan penyamarannya dan kembali kepada hidup yang sebelumnya.


"Kalau kamu sama sekali tidak tertarik denganku itu fine. Tapi pada saat pernikahan kita nanti, apa benar kamu yang akan menyiapkan masakannya?".


"Tentu saja, karena tanpa aku masakan di restauan tersebut tidak akan selesai," timpal Kania yang memberi alasan agar pernikahannya semakin kelihatan tidak ada kemungkinan untuk terjadi.


"Oh God, aku nggak percaya, kamu menyabotase pernikahanmu sendiri," ucap Prabu.


"Sejak awal hubungan ini sudah salah. Kita harus putus." ucap Kania datar.


"Demi keselamatanmu Prabu," batin Kania yang terasa sesak.


"Tidak ada yang salah dari hubungan ini, kecuali kamu memilih Evan dari pada aku," balas Prabu dengan kekecewaan, kemudian dia berbalik, berjalan cepat menuju keruangan kantornya.


Prabu betul-betul ingin mengamuk . Sebenarnya dia datang ke apartemen Ulfa untuk menjelaskan jika dia sudah bertunangan. Ia sengaja datang kesana agar tidak mempermalukan Ulfa di hadapan banyak orang. Ketika ternyata ketika Ulfa tengah memasak dan menyiapkan makanan di meja makan sedemikian rupa, memukau hanya ingin menghargai jerih payah wanita itu.


Begitupun untuk kedatangan Prabu yang kedua, dia mengatakan yang sebenarnya. Ulfa tidak terima dan tidak percaya, Ulfa juga tidak menyadari jika Kania yang di maksud adalah Kania yang bekerja di restaurannya. Saat itu Ulfa mengancam akan mencari wanita yang menjadi tunangannya itu. Maka dai itu Prabu bertahan lebih lama di apartemen Ulfa untuk menenangkannya.


Prabu mengusap wajahnya kasar dengan perasaan yang tertekan. Tangannya terkepal mengingat betapa gembiranya Kania saat melihat kemunculan Evan seorang salah satu Manager di perusahaannya,.  Prabu belum pernah melihat Kania sebahagia itu saat bersamanya.