My Wife Is Mafia

My Wife Is Mafia
47. My Wife Is Mafia



"Prabu aku sudah mendengarkan dan mengalami banyak hal saat mengenalmu dan aku butuh sendiri dulu".


"Apa maksudnya aku tidak mengerti," timpal Prabu dengan tatapan yang lembut.


Kania mengalihkan pandangannya ke arah depan melihat manusia berlalu lalang dengan kesibukannya kembali. Dia berpindah meninggalkan Prabu sendiri, untuk beberapa saat Kania terlihat memijat betisnya, Kaki Kania lelah karena sejak tadi dia menuruti arahan calon Mama mertuanya itu.


Dia mengikuti arahan Mama Prabu untuk memperagakan  dari mana dia harus berjalan keluar dan apa yang harus di lakukannya setibanya di pelaminan sementara, Prabu hanya duduk malas jauh di belakang. Kania yang melihat itu ingin menghindari Prabu dengan jalan memutar tapi Prabu justru mengikutinya kemana-mana.


Drrrrttt..


Drrrttttt...


Prabu dan Kania sama-sama mengeluarkan ponselnya. Sesaat Kania dan Prabu berpandangan. Mereka menggunakan nada pesan yang sama.


Teks yang berada di Hp Prabu "Prabu, sekarang aku di bengkel. tadi mobilku ke serempeet".


Prabu terlihat serba salah dia berusaha selembut dan setenang mungkin memberitahu Kania bahwa yang mengiriminya pesan adalah Ulfa walaupun sebenarnya seperti biasa dia bisa saja lansung mengatakannya.


"Ulfa kecelakaan," ucap Prabu lirih.


Kania mengangguk, pikirannya menerawang dan wajahnya terlihat kosong .


"Tapi, kalau kau memintaku tetap di sini aku tidak akan pergi," ucap Prabu kembali


"Tidak masalah, mungkin dengan kedatanganmu, kamu bisa membantunya,".


"Apa sedikit saja kamu tidak cemburu?" tanya Prabu dalam hati.


Prabu menatap mata bening Kania dan berusaha mencari jawaban dari pertanyaannya itu tapi nyatanya salah. mata Kania memberikan jawaban, kesungguhan dan keseriusan ada disana. Kania memang merelakannya pergi.


Prabu kemudian berdiri berjalan menuju pintu keluar. Prabu merasa sudah melakukan apa yang dia mampu sedangkan Kania terlalu lama diam, membeku seperti dirinya dan hanya dengan dunianya. Prabu sudah merasa jika hubungannya itu pasti akan kandas suatu saat nanti dan dia memang harus menyerah karena sikap Kania yang terlalu dingin.


Kania menarik nafas dan berperan dengan batinnya, Kalau Prabu ingin tinggal harusnya dia tidakperlu bertanya. DIa bisa saja menghapus pesan dari Ulfa itu. Jika di pikir-pikir, memangnya Ulfa tidak punya siapa-siapa untuk menolongnya?


Dengan putus asa Kania menyusul keluar dengan memasuki mobil buntut kesayangannya, mengemudi pulang ke rumah. Di jalan, Kania terjebak macet selama dua puluh menit. Luar biasa kemacetan saat itu, dia mirip dengan keruwetn pikirannya.


Kania kembali menghembuskan nafasnya berat dan memijat pelipisnya. Kania perlu segelas susu dingin untuk menambah energinya yang terkuras, mandi air hangat untuk menyegarkan tubuhnya dan setelah itu secangkit cokelat hangat untuk membantunya cepat mengantuk.


Satu jam kemudian, Kania tiba di rumah dengan memarkirkan mobilnya seperti biasa. Dia melihat keadaan rumah jadi sepi. Perfect! Kania memang membutuhkan waktu unuk sendirian, merenungi nasib percintaannya atau mungkin juga dia akan merenung untuk membeli tiket kembali ke Negara ayahnya, kabur dan menetap.


Kania memegang gangga pintu yang terlihat sedikit terlihat cela. Pintu tidak di kunci. Kania berpikir bahwa tumben bibinya teledor tidak mengunci pintu rumah seperti ini. Kania melangkah masuk kedalam rumah dan sedikit terpaku melihat keadaan rumah yang sedikit menjanggal.


Kania menggigit bibir bawahnya dengan ingatannya yang terlatih menyimpan berbagai macam data. Bahkan apa yang telah Kania lihat sepintas pun akan tersimpan dengan sangat jelas di dalam sana. Otaknya memberi tahu bahwa sofa sudah sedikit berpindah tempat beberapa inci dari tempat yang sebelumnya. Begitupun dengan meja dan lemari yang terletak di sudut bahkan karpet buludru hadiah dari orang tua Prabu itu sudah sedikit tersingkap di ujung sana.


Kania tiba-tiba beralasan jika dia lupa ponselnya di mobil dengan sedikit drama, dia tahu di dalam rumah tersebut ada penghuni lain selain dirinya dan sedang mengawasinya.


Kania kembali berjalan dengan cepat menuju mobil dan mengambil belatih kecil dan senjata kecil yang Kania rekatkan di bawah kursi pengemudi. Benda itu sebenarnya akan terlihat jika seseorang membungkuk atau ketika ada seseorang yang membuka pintu dan fokus menatap arah bawah, dia pasti akan melihatnya.


Kania kembali masuk ke dalam rumah dengan waspada. Senjata kecil yang Kania genggam adalah senjata yang memiliki kemampuan menembak dalam jarak dekat, dimana kemampuan memuntahkan peluru di banding ke akuratan target. Kania menyelipkan senjata tersebut di balik punggunnya.


Kania kembali memasuki ruang tamu yang terlihat biasa saja kemudian dia berjalan lengnag memasuki ruang tengah dan mengecek kamar kedua orang tuanya, kamar yang lain dan berjalan menaiki anak tangga untuk mengecek kamarnya sendiri.


Kania kemudian berjalan dengan cepat menuruni anak tangga memeriksa halaman belakang, kamar bibi dan beberapa kamar mandi. Kania tahu jika seluruh rumah telah di geledah. Kania kemudian dengan kemampuannya mencari di setiap sudut kemungkinan besarnya rumah tersebut di pasangi sebuah bom.


Kania juga memeriksa, apakah orang yang menggeledah rumahnya itu memasang CCTV atau alat penyadap lainnya. Secara sepintas tidak terlihat apapun yang mencurigakan kecuali beberapa barang yang sempat di pindahkan dari tempatnya semula. Kania kemudian berjalan menuju halaman dan menelpon Mama Sera.


"Mama di mana?".


"Mama masih di ballroom hotel untuk mengecek dekorasi. Mama tadi melihatmu keluar dengan Prabu jadi mama nggak manggil,".


"Kami nggak pulang bareng Ma,".


"Hmmihh nggak usah boong gitu lah, mama tau kamu malu. Kania ingat ya, setelah ini kamu nggak boleh lagi ketemu ama Prabu, kalian harus di pingit, pamali ketemuan menjelang hari nikah,".


"Hmm iya deh Ma,".


Kania kemudian mengakhiri percakapannya dengan Mama Sera, selanjutnya dia menelpon Papa Adiguna untuk memastikan dia sedang berada di luar dan benar saja. Saat Kania melepon Papa Adiguna dan ternyata lebih sibuk dari Mama Sera.


Panggilan Kania di reject dan tidak menjelang lama, dia mengirim sebuah pesan singkat bahwa dia sedang meeting dengan tamu dari luar negri dia akan menelpon Kania kembali setelah meeting itu selesai.


Kania tersenyum membaca pesan teks Papa nya itu, dia membalasnya bahwa Kania hanya ingin tahu dia berada di mana setelah itu Kania memberinya kalimat semangat untuk bisnisnya. Kania tahu, Papa nya itu ingin meningkatkan dunia bisnisnya walau Kania sudah bersusah payah menjelaskan bahwa dunia bisnis itu tidak sehebat apa yang Papanya pikirkan tapi dia menyukai semangat Adiguna yang pantang menyerah.


Aman!, Kania bernafas lega. Kali ini Kania menyadari dimana sosok bibinya yang selama ini meninggalkan rumah seperti tidak biasanya. Kania kembali masuk ke rumah dan menyadari bahwa sosok tubuh terlihat baru masuk dari pintu belakang,