My Wife Is Mafia

My Wife Is Mafia
31. My Wife Is Mafia



"Dari Mamanya Prabu," ucap Mama Sera yang semangat dengan melototi brand yang menempel pada gaun tersebut.


Mama Sera kemudian menempelkan baju tersebut di tubuh Kania dengan sumringah, "Sayang, liat. Ini sangat cocok di badan kamu sayang," ucapnya lagi.


Gaun dengan kain sutra yang sangat sederhana tanpa ada payetan atau gambar yang memenuhi gaun tersebut, terusan sepanjang batas lutut dengan bentuk leher yang model Shanghai. Bagian belakang tertutup kancing hitam. Lengan bajunya pendek terlihat lebih khas pakaian Tionghoa namun dari pinggang ke bawah membentuk A yang melebar. Selera mama Prabu sangat bagus pikir Kania.


Kania mengambil gaun tersebut dan memakaianya, DIa melihat dirinya di dalam cermin dengan membentuk bodynya sangat jelas.


"Gimana sayang, cantik kan?," tanya Mama Sera yang tiba-tiba memasuki kamar Kania karena rasa penasaran ingin melihat Kania mengenakan gaun tersebut.


"Sedikit aneh Ma, ini sangat terlihat jelas," ucap Kania dengan menunjuk dada dan pinggangnya.


"Lah, emangnya kenapa? kamu kan perempuan yaa wajar kalau itu nya jelas,".


"Lagian ini ramping kan bagus, banyak yang pengen body kaya kamu tapi nggak bisa sayang," ucap Mama Sera sekali lagi menimpali.


"Aduh Ma-,"


"Sttttt sudah, kamu pakai itu aja. Ini makan malam keluarga, cuma keluarga yang liat cuma keluarga. Jadi nggak apa-apa,".


"Makan malam keluarga? untuk apa sih, ada acara makan malam keluarga segala?,'.


"Untuk membahas pernikahan kamu lah," timpal Mama Sera spontan.


Mendengar jawaban Mama Sera, suara Kania seakan tercekat di tenggorokan. Kania menelan ludahnya dengan susah payah. Hari ini ulang tahun Prabu dan dia sedang merayakannya dengan orang lain. Mengingat itu dengan rencana pernikahannya rasa takut, cemas, kesal dan lainnya menyerang bertubi-tubi.


"Tapi kan pernikahannya masih lama Ma," timpal Kania.


"Mama tahu itu, tapi kamu tidak usah berkomentar. Sesuatu yang di rencanakan jauh-jauh bari hasilnya akan jauh lebih baik dari pada nantinya terburu-buru,".


"Tapi Ma-,".


"Kamu dan Prabu hanya boleh mendengarkan. kamu tahu acara makan malam ini snagat langkah apa lagi ayah Prabu adalah orang yang snagat sibuk, makanya Mama dan Papa juga benar-benar mengosongkan kegiatan untuk malam ini,".


Kania terdiam, dia memperhatikan Mama Sera yang berbicara hanya dengan satu tarikan nafasnya saja, dia berfikir jika Mama Sera bisa saja beralih profesi menjadi seorang pembaca berita, karena kriterianya sudah termasuk kedalamnya. Kania terlihat bingung, dia ingin menjelaskan hubungannya dengan Prabu yang sebenarnya dan juga hubungan Prabu dengan managernya di restauran.


Mama Sera yang melihat wajah Kania yang hanya tersenyum tipis dan kembali menatap dirinya di dalam cermin membayangkan, Jika andai saja Kania benar adalah darah dagingnya, anak yang lahir dari rahimnya itu pasti snaat menyenangkan memiliki anak gadis yang tumbuh dalam pengawasannya penuh.


Anak perempuan yang manis dengan balutan dress pink dan ikatan atau jepitan di rambut kemudian candy di tangan kanan, sangat manis bukan?. Bagaimana reaksi pertama saat anak gadisnya datang bulan atau keluhan karena jerawat pertama karena jatuh cinta, model rambut yang sudah kuno, harusnya Mama Sera menikmati proses itu dulu.


Mama Sera juga merasa sedih untuk apa yang di alami Kania, dia tahu semuanya tentang Kania, tetang kematian ibunya saat Kania masih berusia belia, Karena itu Mama Sera bertekad akan memberikan yang terbaik untuk Kania, walau kata orang lain terlambat tapi menurut Mama Sera itu tidak masalah dari pada tidak sama sekali.


"Mama dan Mama Prabu sadar kalau kalian belum pernah benar-benar menikmati waktu berdua atau bahkan ngobrol berdua untuksaling mengenal, karena itu saat orang tua membicarakan tentang pernikahan kalian, kau bisa ngobrol dengan Prabu sayang untuk mengenal dia," jelas Mama Sera dengan lembut.


"Iya Ma....," balas Kania


"Terserahlah, yang jelas aku yakin pria itu tidak akan hadir malam ini," batinnya.


Kania dengan santai meraih beberapa kuas wajah dan merias wajahnya simpel sedangkan Mama Sera sudah meninggalkan kamar Kania dan juga sedang bersiap-siap. Yang penting Kania tahu Prabu tidak ada pada saat acara makan malam keluarga tersebut, kalaupun dia hadir itu akan sangat terlambat. Mungkin saja Prabu akan datang saat dia dan keluarganya sudah berpamitan untuk pulang.


......................


Beberapa menit kemudian, Kania berjalan menuruni anak tangga dan mencari Papa dan Mama nya yang tidak kunjung terlihat, Kania duduk di sebuah sofa menunggu kedua orang tuanya keluar dari kamar yang sedari tadi tertutup.


Kania dengan bosan meraih majalan kemudian membacanya dengan suntuk, tiba-tiba pintu kamar terbuka dan terlihat Mama Sera yang berjalan dengan cepat di susul oleh suaminya.


"Ma, ayo cepet. AKu sudah lapar," ucap Kania.


"Hmm iya, iya ini udah cepet, udah kangen mau ketemu calon suami yaa?," tanya Mama Sera dengan senyum penuh ledekan


Wajah Kania serasa memanas, dia akhirnya berdiri dan menaikkan pundaknya untuk menhindari perbincangan tentang itu.


"Kania, tunggu Mama...,".


Kania mendengar itu mempercepat langkahnya dan menaiki mobil Papa nya dengan cepat, duduk di belakang dengan manis seperti seorang anak kecil yang penurut. Semoga Mama dan Papanya tidak melihat semerah apa pipi Kania saat itu.


Ini kali pertama Kania menginjakan kakinya di rumah Prabu. Seperti apa rumahnya? mungkin saja Ulfa dan yang lainnya sudah menginjakan kakinya di rumah tersebut. Mood Kania kembali berubah dengan pikiran yang sudah mengembara kemana-mana.


Lintasan waktu bergerak begitu cepat serasa 365 hari hanya bergerak searah putaran jam yang snagat cepat, perpindahnnya terasa dari tahun menjadi ke jam. Tadinya seorang wanita yang tdak pernah melibatkan perasaan atau hati di setiap kegiatannya saat ini tidak hanya itu, Kania sangat menjiwai perannya sebagai asisten koki di tambah dengan sbeuah perjodohan yang hatinya berbicara tanpa di minta, ikut campur tanpa harus di cegah, mengendalikan pikiran dan sensitivitasnya.


Gadis berambut lurus itu masih mengingat dalam keadaan panik Ayah Guzman bertanya perihal pekerjaan apa yang paling tidak dia sukai, Kania spontan menjawab "Mengurusi urusan dapur".


"Baiklah, setibanya kau di Indonesia, kau akan bekerja sebagai asisten koki. Kau akan melakukan sesuatu bahkaan yang tidak pernah terpikirkan oleh dirimu sendiri," ucap Ayah Guzman dengan tersenyum. 


Andai Ayahnya mengizinkannya untuk menyelesaikan masalah ini dengan caranya sendiri, Kania tidak akan terdampar di negara yang bernama Indonesia ini. Siapa tahu di tangannya para Black Mafia musuh ayahnya akan pensiun.