
"Apa yang biasanya di bicarakan Prabu dengan Ulfa yaa saat mereka bersama"
Pikiran itu membuat pikiran dan mood Kania buruk. Di tambah lagi, setiap wanita yang berjalan, berlalu-lalang di sekitar mereka pasti menyempatkan diri menatap Pria di hadapan Kania itu. Sungguh mengganggu ketika tunanganmu terlihat lebih menggiurkan dari menu yang di pajang di resto fast food itu.
"Kamu nggak suka menunya?" tanya Prabu penasaran, dia menyandarkan diri dan mulai menggigit burgernya.
"Ini makanan pokokku selama bertahun-tahun," jawab Kania dalam hati.
"Aku makan ini terus selama belajar dan bekerja di luar negri. Sebenarnya melihat resto fast food saja membuat perutku mual,".
Kania kemudian menatap Prabu tajam dan mengatakan bahwa bagaimana bisa Prabu mengajaknya ke tempat makanan siap saji sedangkan dia sendiri tidak menyukainya.
"Rasanya lebih enak jika makan bersamamu," timpal Prabu.
Kania yang mendengar itu menaikkan alisnya dan merasa bahwa Prabu telah memberinya sebuah gombalan, "Ah lucu dan aneh," batin Kania.
Prabu kemudian menyodorkan minumannya dan meminta Kania membungkus miliknya saja dan memakan apa yang Prabu makan. Kania kembali menaikkan alisnya dengan raut yng mengatakan,"Yang benar saja aku makan milikmu,".
"Aku sehat lahir batin kok, kenapa harus makan milikmu," ucap Kania dengan menatap hambar.
Prabu akhirnya makan dan menelannya dengan cepat, sepuluh menit saja dia sudah berdiri dan meminta Kania untuk cepat karena rute perjalanan mereka masih panjang dengan nada yang semula terdengar kaku.
"Dasar nona berkepala batu, sudah di cium masih saja cuek," batin Prabu.
Akhirnya mereka meninggalkan restauran fast tersebut dan melanjutkan perjalannnya ke tempat lain. Prabu memarkirkan mobilnya di halaman parkir sebuah gedung dan itu sangat jelas, tertera di depan sana bahwa gedung itu adalah bioskop.
"Astaga..." ucap Kania.
DIa melihat panjangnya antrian tiket, kelompok-kelompok remaja dan keluarga, ada yang terlihat sebagai pasangan-pasangan muda, rombongan dari berbagai tempat sehingga beberapa bus pariwisata yang menumpahkan penumpang, membuat Kania tertegun.
Ini sangat Ramai bahkan berlebihan. Melebihi tempat wisata di hari minggu menurut Kania.
"KIta tidak akan kesitu kan?," tanya Kania
Prabu kemudian turun dari mobil.
"Prabu!,".
Lelaki itu menghentikan langkahnya dan berbalik melirik Kania, "Bagus, jadi ku tahu namaku," ucap Prabu dengan tersenyum senang penuh kemenangan.
"Sial, dia tersenyum dan jantungku, argghhhh!," batin Kania.
Prabu tetap melanjutkan langkahnya dengan putus asa dia meraih lengan Prabu dan mengeluh kenapa mereka harus menonton film di tempat itu, mereka bisa saja nonton di rumah tanpa harus mengantri dengan, berdesakan dan duuduk di tempat yang banyak manusianya.
Prabu mengerling mendengar omelan Kania, "So, pegang tanganku dan kamu akan aman," ucap Prabu.
"Aku nggak suka filmnya,".
"Ini mission impossible, ini film yang bagus atau kamu lebih suka yang horor?".
Kania hanya diam dan manyun tidak karuan melihat banyak manusia di sekelilingnya.
"Kamu tahu kenapa film ini di minati? dan aku yakin ini akan di minati sampai nanti, nanti dan nanti," ucap Prabu yang beringsut maju mengikuti antrian yang panjang.
"Ya sudah, kita nonton film kutilanak beranak dalam kamar aja," timpal Prabu kemudian terkekeh.
Kania memutar matanya malas, Prabu kemudian menjelaskan kenapa dia menyukai Mission Impossible walaupun Kania terlihat malas untuk mendengar penjelasan Prabu, dia menjelaskan bahwa dalam film tersebut dari awal sampai akhir pemeran utamanya memiliki sahabat sejati untuk saling mendukung, sedangkan dia tidak pernah merasakan memiliki sahabat, dia selalu sendirian.
Kania yang mendengar itu merasa ada perasaan pahit di dalamnya, Kania melirik Prabu yang menjulang tinggi di sampingnya, dengan nada suara yang menelan pahit Kania berusaha mengerti jika Prabu mengalami hal yang smaa dengannya. Prabu bukan anak tunggal, ida memiliki kakak perempuan dan adik laki-laki, posisi pekerjaannya bagus, dia di kelilingi orang-orang yang berpengaruh, keluarganya juga kelihatan harmonis.
Prabu meraih jemari Kania, menggenggamnya ragu-ragu sedangkan Kania menjadi tidak enak hati bila menghempaskannya. Terutama saat itu mereka berada di tempat umum. Mereka berdua akhrinya kembali berjalan beringsut maju.
Prabu melihat itu, kembali berbisik kepada Kania bahwa mereka berdua tidak akan menontonnya sampai habis karena rute perjalan mereka masih panjang.
"Maksud kamu?"
"Sesuai dengan list, kita masih haraus nongkrong di cafe, dinner dan..."
"Stop,.." Potong Kania.
Mereka berdua akhirnya tiba di loket, Kania membiarkan Prabu yang membeli dan membayar tiket, entah untuk film apa Kania tidak peduli. Kebersamaan mereka terasa sangat menjanggal dan seakan di paksakan karena rencana pada sebuah lemabran yang Kania coret itu.
Tidak ada canda tawa seperti yang dilihatnya pada saat di apartemen Ulfa. Mereka justru terlihat seperti peserta lomba yang berusaha menyelesaikan kompetensi dengan cara berpindah dari satu tempat ke tempat lain secepat mungkin.
Ciuman itu mungkin tidak berarti apa-apa untuk Prabu. Pasti hanya karena dia terbawa suasana jadinya ia melakukan itu, suasana di lorong yang sepi dan remang. Memikirkan itu hati Kania terasa ngilu!.damn!
Keheningan kembali terjadi antara Kania dan Prabu sementara mereka menunggu di depan pintu ruang bioskop. Kania menatap jauh ke depan sedangkan Prabu menatapnya sebentar lalu bertatapan dengan wanita lain yang tesenyum menggoda kepada Prabu dan untuk beberapa saat Prabu terlihat membalas senyuman mereka dengan senyuman tipisnya.
Kania yang melihat itu hanya bisa menghembuskan nafasnya berat dan sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Hmm, aku sepertinya perempuan yang tidak menarik di matanya. Dan kencan maraton ini terasa dua kali menyiksa di banding semua pelatihan fisik yang aku alami" batin Kania.
Pintu terbuka, semuanya berjalan memasuki ruangan dan mencari kursi masing-masing. Tiga menit, lima menit, delapan menit, sepuluh menit, limabelas menii. Kania tidak tahan lagi.
"Filmya tidak bagus, aku mau pulang,"ucap Kania.
Kania kemudian berjalan meninggalkan ruangan tersebut sedangkan Prabu juga ikut berjalan menyusul di belakangnya,
"Kenapa?," tanya Prabu dengan nada suara sediikit naik.
"Kamu capek?,".
Kania hanya membalasnya dengan anggukan.
"Capek jalan-jalan atau kau capek denganku?," Ucap Prabu dengan mulai meninggi.
Prabu tidak memiliki ide bagaimana cara membuat Kania si nona berkepala batu itu merespon perhatiannya.
"Pulang sekarang," ucap Kania tegas.
"Baiklah," timpal Prabu dengan kesal.
Menyia-nyiakan dua tiket bukanlah masalah besar untuk Prabu, tapi menyia-nyiakan kesempatan untuk duduk lebih dari sepuluh menit di dalam sana jelas membuatnya jengkel.
Perjalanan pulang, arus jalan yang ramai tapi lancar, tapi Prabu tetap saja menacari jalan yang lenggnag dari keramaian kemudian Prabu menginjak gas mobilnya dengan keras. Mobil Prabu melaju kencang lalu berhenti mulus tepat di depan rumah Kania.