
Kania membuka ponselnya yang ternyata di penuhi pesan oleh para sahabat konyolnya itu. Kania tersenyum dan membaca setiap pesan itu dengan berjalan meninggalkan Prabu sendirian. Prabu yang melihat itu berlari kecil mengikuti langkah Kania dan sedikit melirik apa yang Kania baca di balik layar ponselnya.
Untuk beberapa saat Kania mengabaikan Prabu, kemudian Kania menyentuh punggung tangan Prabu dan sedikit menggenggamnya.
"Terimah kasih," bisik Kania malu-malu.
"Cuma itu?," tanya Prabu datar.
"Kamu boleh jadi perawatku sampai aku sembuh,".
"Cuma itu?," timpal Prabu lagi dengan pura-pura memasang wajah datar padahal dia sedang sangat bersusah payah menahan senyum penuh kemenangan melihat pipi Kania bersemu malu.
Prabu dan Kania akhirnya meninggalkan gedung pencakar langit tersebut dengan membelah malam yang sunyi. Malam terlihat cerah dan memberikan kesejukan di hati Kania. Rembulan dan gemintangny terlihat masih akan berada cukup lama di langit sana. Keramaian jalan tidak perlu di tanyakan lagi.
Lampu jalanan terlihat sedikit remang karena beberapa lampu jalanan tidak berfungsi tapi itu tidak mengurangi semangat para penduduk wilayah sekitar untuk berkeliaran di luar rumah.
Mobil Prabu merambat pelan mengikuti arus. Dari gelagatnya yang tenang dan santai Prabu terlihat tidak berniat menambah kecepatan sedikit pun. Dia juga tidak ingin menyalip mobil yang berada di depannya. Prabu kemudian meraih ponsel dan menelfon beberapa anak buahnya untuk membawa semua yang terkena bius di gedung kantornya agar besok tidak akan membuat kehebohan.
"Dua orang yang kamu tembak, aku menginginkan mereka,".
"Untuk apa?," tanya Prabu
"Bukan urusanmu, serahkan saja mereka padaku,".
"Yolan, aku harap kau menghentikan semuanya. Kau sudah berlari sangat jauh, masih belum terlambat untuk berhenti,".
Kania mendengar ucapan Prabu hanya terdiam dan menatap tajam kedepan, darahnya seakan kembali mendidih tatkala mengetahui sahabatnya seorang penghianat dan juga telah menyakiti orang-orang penting di dalam hidupnya.
"Serahkan semuanya padaku," timpal Prabu kembali.
"Tidak, aku ingin mereka berdua, setelah itu berakhir. Aku tidak akan lagi berurusan dengan dunia mafia,".
"Yolan, kau pikir menghabisi mereka adalah akhir? bagaimana jika Riska memiliki orang terdekat dan juga membalas mu saat nanti. Yolan, sebentar lagi kita akan menikah dan membangun rumah tangga, memiliki anak yang manis. Aku tidak ingin ada pengganggu untuk keluarga kita,".
Kania kembali mencerna penjelasan Prabu dan membenarkan apa yang dia jelaskan.
"Terserah kau saja," ucap Kania dengan kembali menyenderkan tubuhnya karena lelah.
Prabu tersenyum dan meraih pundak tangan Kania kemudian mengecupnya sebagai tanda senang karena Kania menuruti apa yang Prabu katakan. Mata Kania terlihat sayup tapi tiba-tiba dia kembali memperbaiki posisinya dengan menatap Prabu.
"Bisakah aku meminjam ponselmu?,"
"Tentu saja," timpal Prabu.
Kania pun menelpon mama Sera serta menyakan keadaan papa dan ayahnya. Guzman telah siuman walaupun masih terlalu lemah untuk bangun. Kania sangat bersyukur. Tiba-tiba ponsel Prabu kembali berdering dan melihat nama mama nya yang sedang menelpon.
Prabu mengangkatnya dan mendengar mamanya mengabarkan kalau dia tidak sereg dengan pelaminan yang berwarna keemasan tapi dia belum memiliki ide yang baru lagi. Kania tertawa geli dengan menutup mulutnya mendengar ucapan calon mama mertuanya itu.
Prabu selalu mengatakan pernikahan mereka dua minggu lagi hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar, dia sangat berharap jika pernikahan itu benar tinggal dua minggu lagi, sebenarnya sikap mama Prabu persis sama dengan Prabu sendiri yang sedikit tidak sabaran.
Keheningan kembali menyelimuti setelah mereka berdua selesai mendengar telpon dari orang-orang penting dalam hidup mereka. Kania kembali menudurnkan sandaran kursi kemudian duduk nyaman sambil menikmati kepadatan lalu lintas yang berlalu lalang membosankan.
"Mana cincinmu,?" tanya Prabu yang sejenak kebaagiaannya berubah murung setelah melihat jemari Kania yang polos.
Kania mendengar itu pun terkejut, "Di.......," jawab Kania dengan berusaha mengingat dimana dia letakkan cincin pertunangannya itu.
"Hmm, sudahlah. Aku sudah beli dua buah untuk berjaga-jaga dengan hal seperti ini," ucap Prabu dengan mengeluarkan satu kotak cincin yang dia letakkan di dalam dashboard mobilnya.
Prabu kemudian memberikannya kepada Kania dalam keadaan tertutup.
"Ada inisial namaku disitu,".
"Dia kok nggak romantis," batin Kania.
Kania kemudian membuka kotak itu dengan berpikir santai. Sudahlah, dia mencintai Prabu, lelaki tampan yang saat ini duduk di sebelahnya itu. Lelaki yang sudah melihat penampilan semrawutnya, melihatnya dalam keadaan penuh lebam seperti sekarang. Dan yang terpenting, lelaki ini tahu siapa dia sebenarnya. Kalau Prabu berani selingkuh, setidaknya dia paham bahwa Kania tidak akan ragu untuk bertarung.
Kania tersenyum lebar menahan rasa lucu membayangkan seberapa galaknya dia nanti di hadapan Prabu saat menjadi istrinya. Ah tidak, dia tidak akan berbuat kasar di hadapan Prabu.
Prabu melirik Kania sekilas tersenyum senang melihat Kania memasang sendiri cincin mungil pemberiannya ke jari manis kanannya. Namun dia harus melihat kedepan lagi atau mobilnya akan menjadi oleng.
"Kania, maukah kau menikah denganku,?" tanya Prabu.
Bibir Kania mengerucut. Memberi cincin dari kotak yang di keluarkan dari dalam dashboar mobil masih bisa di terimanya tapi melamar sambil menyetir? bahkan Prabu tidak menengok ke arahnya sama sekali.
Prabu kemudian mengerti dengan respon Kania. Dia kemudian menepikan mobil.
"Kania, kamu nggak tahu bagaimana kagetnya aku sewaktu meihatmu di acara pertunangan kita karena sehari sebelumnya aku mendapatkan perintah untuk membunuhmu," jelas Prabu kemudian ikutan menurunkan sandaran kursi dan bersantai seperti Kania.
"Itu sebabnya aku langsung bersikap ketus. Aku nggak mau mendapatkan istri seorang anak mafia, aku tidak pernah menyangka bahwa mafia yang sebenarnya adalah dirimu, aku tahu sepak terjang ayahmu tapi entah mengapa papaku menginginkan kau jadi menantunya,".
Kania kembali berpikir, mencerna ucapan Prabu.
"Kamu black shadow?," bisik Kania.
Prabu terdiam kemudian mengangguk.
"Pantas saja kau gesit dan bisa berpindah tempat dengan cepat dan juga cara menembakmu lumayan tepat sasaran dan black shadow..."
"Bukan black shadow yang mengincarmu, yah. Walaupun orang tua kita memiliki dendam pribadi tapi papaku tidak pernah menyerang musuh dari belakang, semua yang memerintahkan untuk membunuhmu adalah anggota the bloods sendiri,".
Kania kembali terdiam dan ingin mnegetahui mengapa mereka bisa di tunangkan padahal mereka adalah musuh. Prabu kembali menjelaskan bahwa musuh di antar mereka bukan persaingan kekuasaan mafia tapi dalam dunia bisnis.