
"Thanks," ucap Kania kemudian turun dari mobil.
Prabu masih terdiam di tempat tanpa merespon, dia merenung-renung Kania selalu berhasil membuatnya kesal tapi setiap kali mereka akan berpisah seperti ini, semua kekesalannya menguap tanpa sisa begitu saja.
Kania yang ingin melangkah meninggalkan mobil Prabu tapi dia mendengar jika Prabu menyebut namanya. Kania berbalik dan melihat di balik kaca mobil,
"Kania, tahu nggak? tadi kamu cantik sekali. Penampilan semrawut kamu membuatku berpikir bahwa suatu hari, suatu pagi aku akan bangun tidur dan melihat waita seti itu di hadapanku. Istri yang sangat biasa dan apa adanya," ucap Prabu kemudian tersenyum.
"Good night" ucapnya lagi kemudian meninggalkan halaman rumah Kania.
Kania yang sedari tadi terdiam mendengar ucapan Prabu hanya bisa menatap nanar mobil hitam yang bergerak menjauhi pelataran rumahnya sambil membatin,
"Statusku tetap saja adalah anak kenalan orang tuamu dan semua yang kita lakukan hanya sekedar mengikuti perintah pada lembaran kertas yang di berikan Mama mu, Prabu sebenarnya di mana letak posisiku di hatimu?".
......................
Di sebuah gedung pernikahan, Kania sedang berada di sana untuk gladi pernikahannya, semua orang berkumpul untuk mengetahui posisi duduk masing-masing dan apa yang akan mereka lakukan. Kania melihat gedung tersebut dan menelisik satu persatu kegiatan yang ada dalam gedung untuk acara pernikahannya dengan Prabu.
Kania sering menghadiri acara seperti itu di berbagai tempat, mencicipi beberapa gelas cocktail atau champagne, tapi dia belum benar-benar pernah menjadi bagian dari acara.
Kania menegakkan kepala, ketika melihat beberapa dekorasi yang megah di atas sana, ruangan pun terlihat menakjubkan dengan terbagi menjadi dua ruangan, ruang untuk mengobrol santai dan makanan.
Di ruang sajian makanan dinding-dindingnya di hiasi dengan pajangan dan hiasan cantik sementara di ruang yang lebig lapang tersedia beberapa set sofa, dindingnya di hiasi dengan hiasan elegan dan sekitar sepuluh meter terlihat di bagian belakang tersedia untuk acara pernikahan itu sendiri.
Sebuah panggung kecil yang di ubah menjadi pelaminan sudah tertata anggun dalam konsep garden party. Sempurna, pikir Kania meski dia tetap tidak merasakan sebuah rasa dan identitas yng kuat dari semua dekorasi yang berada di ruangan tersebut. Contohnya, lampu gantung yang membuat mata Kania sangat mengganggu.
Kania juga melihat puluhan orang yang membentuk kelompok-kelompok kecil di sekitar meja-meja bulat yang di tutup taplak ke emasan dengan lilin yang tinggi menyala apik.
"Hmm sepertinya calon mertuaku ini penggemar emas sejati," gumam Kania.
Kursi-kursi undangan tertutup kain putih dnegan pita emas berenda, tatanan gelas champagne yang juga bernuansa emas dan juga juntaian tirai membuat Kania merasa di zaman mesir kuno.
Kania kemudian meluaskan pandangan di hadapannya dan mencari sosok Mama Sera namun matanya tidak menangkap siapapun yang di kenalnya. Tiba-tiba saat Kania menoleh ternyata Prabu berada tepat di belakangnya.
Kania sangat merasa terganggu tapi Kania tidak tahu harus bagaimana cara menyingkirkannya. lebih baik memperhatikan para pelayanan yang berseliweran di depan matanya dengan nampan yang berisi kue-kue liliput yang manis dan lucu, yang hanya untuk sekali telan saja.
Kuenya terlihat cantik dengan warna yang cerah tapi itu percuma, saat resepsi nanti itu tidak akan bisa Kania nikmati. Tangan Kania terulur ingin mencicipi satu kue liliput itu, tiba-tiba Prabu berbisik ke Kania.
Kening Kania mengerut dan menjerit dalam hati, memangnya kenapa kalau perempuan makannya banyak? apa dia lebih suka dengan wanita bertubuh kurus kayak tiang listrik?.
Sebuah tatapan sinis melintasi bola mata dan sedikit berbisik kepada Prabu dengan nada mengerang "Terus yang mana yang boleh aku makan?"
Prabu menggeleng memberi petanda bahwa tidak ada satupun yang cocok untuk di konsumsi saat itu. Tentu saja sikap Prabu saat itu hanya sedikit jail kepada Kania, dia sejujurnya tidak masalah jika Kania memakan semua cemilan yang berada dalam ruangan tersebut.
Beberapa pon kalori dan lemak tidak akan mengganggu badannya yang sudah pas, Prabu tidak ada maslaah sama sekali. Prabu hanya menyukai wajah sebal Kania.
Kania kemudian mengalihkan perhatinanya ke meja saji.Ada beberapa buah-buahan, salad dan minuman seperti; cocktail. Kania hanya berpikir apakah jika dia meminumnya Prabu akan marah? apkah dia tidak menyukai wanita peminum alkohol?
Hati dan pikiran Kania sibuk menggerutu dan menjerit karena ulah Prabu. Dia akhirnya melangkah menuju salah satu meja dan benar saja prabu kembali mengekor di balik punggungnya.
Sulit membiasakan diri untuk di buntuti kemanapun bergerak karena rasanya sangat aneh jika Kania yang dulunya melakukan pekerjaan itu, membuntuti target dan saat ini dia yang sedang di buntuti oleh calon suaminya sendiri.
Kania kembali membayangkan wajah orang-orang yang pernah di buntutinya, kebanyaka dari mereka tidak tahu dan saat mereka tahu sedang di mata-matai oleh Kania wajah mereka berubah menjadi hambar, pucat pasih seakan mereka telah di jemput oleh malaikat maut.
"Mungkin begini rasanya di buntuti," batinnya
Kania kembali berbalik dengan menatap tajam Prabu yang juga ikut menghentikan langkah dan tersenyum saat melihat wajah Kania yang cemberut dengan alis yang mengerut, dia merasa itu sangat lucu.
Prabu kembali tersenyum nakal saat melihat bibir Kania yang sesekali mengerucut karena kesal, dia kembali mengingat bagaimana rasanya saat bibirnya melekat di bibir ranum dan mungil itu. Mengingat kembali ciuman yang manis itu membuat Prabu melupakan tamparan kerasyang mendarat bebas di pipinya karena Kania.
Prabu akhirnya melihat Mamanya melintas. DIa terlihat sangat sibuk berdebat dengan beberapa orang ynag mungkin saja itu pihak wedding organizer, tentang dari mana dia dan Kania akan keluar . Prabu hanya bisa menggeleng kepala dengan keribetan yang berada di depan matanya.
Tiba-tiba Prabu kehilangan Kania, dia tidak berada di dekatnya lagi, matanya mencari sosok calon istrinya itu tapi tidak ketemu. Ternyata Kania berada di sudut lain, matanya menatap ke arah pelaminan dengan pandangan yang tidak bisa di defenisikan.
Prabu menghela nafas, mengingat kembali kapan Kania tertawa? atau apakah dia pernah membuat Kania tertawa? Atau pertanyaannya adalah bagaimana wajah Kania jika tertawa lepas?
Prabu yang melangkah ingin mendekati Kania ternyata terbaca oleh Kania, dia terlihat berdiri lalu menghindarinya ketika Prabu sudah berada tidak jauh ke arahnya, Kania tidak ingin Prabu kembali mengekorinya kemana-mana. Prabu sedikit geram, dia harus mengatakan yang sebenarnya jika dia menyukai Kania, gadis itu harus tahu!
"Apakah kau baik-baik saja?" tanya Prabu yang tiba-tiba duduk di sebelah Kania.
Kania mendengar itu sejenak terdiam, kemudian mnatap Prabu, "Kamu sendiri, apakah kau baik-baik saja?,".