My Wife Is Mafia

My Wife Is Mafia
27. My Wfe is Mafia



"Hmmm ini adalah dampak kau selalu nonton film animasi bahkan psikopat, coba sekali-skali kau nonton genre romance, mungkin otakmu akan bekerja lebih baik dari saat ini" timpal Gita


Kania mendengar itu tersenyum sinis dan memberitahu para sahabatnya jika dia sudah ingin d menuju di sebuah supermarket dan mereka mengakhiri percakapannya. Sepanjang jalan Kania sesekali membayangkan Prabu dengan senyuman yang manis dan masih mengingat pengaruh ucapan para sahabatnya itu yang memperngaruhi otak Kania, bagaimana luar biasanya Prabu.


Beberapa detik kemudian, wajah Kania berubah menjadi berbeda saat mendengar otaknya sedang bercengkrama dengan dirinya, bagaimana Kania sendiri yang akan menyiapkan makan malam romatis untuk Prabu dan Ulfa. Makan malam yang paling mengesankan dan mengejutkan.


Kania tiba-tiba tersenyum devil mengingat kartu kredit Ulfa yang berada di tangannya. Kania akan pastikan Ulfa akan menjerit saat melihat limit kartu kredinya, Kania berencana untuk membeli semua bahan yang terbaik dan nomor satu dengan harga selangit.


"Rasain kamu, aku bakalan habisin limit kartu kreditmu," gumam Kania yang terkikik dengan gemas.


Akhirnya Kania tiba di area supermarket yang terkenal di Negaranya, semua bahan-bahan berkualitas dengan harga selangit berada di supermarket tersebut. Kania tersenyum dan berlari kecil memasuki supermarket.


Dengan celana jeans dan rambut yang di cepol, atasan yang trendi dengan sedikit longgar, Kania menatap tajam saat berjalan melintasi lorong yang berisi rak aneka bahan makanan.


"Saatnya beraksi," gumam Kania


Kania mengambil beberapa stroller belanja dan membuat mereka saling bertautan, Kania mendorongnya dengan semangat dan berhenti di setiap lorong bahan makanan yang harganya sangat mahal. Tangan Kania sangat lihai menarik satu persatu semua bahan makanan yang terlihat mahal, tanpa peduli apakah bahan tersebut di butuhkan atau tidak sama sekali.


Sayuran hijau yang segar, buah, seafood yang segar, daging yang sangat mahal dan semua yang tangan Kania mampu raih. Kania mendorong ke tiap-tiap lorong hingga akhirnya keranjang belanjanya sudah sedikit terasa berat untuk bergerak dari tempatnya.


Kania kembali tersenyum devil, dia juga tidak ingin membuang-buang bahan makanannya, Kania akan meminta chef nya menghabiskan bahan makanan tersebut dan membuat menu makanan sebanyak mungkin, supaya perut Prabu kembung dan meledak sekalian.


...----------------...


Satu jam kemudian, Kania sudah tiba di area parkiran sebuah gedung apartemen. Kania menenteng tiga kantong belanjaan yang penuh di tambah dengan beberapa yang berada di atas mobilnya, yang tidak mungkin Kania bawa secara bersamaan.


Kania berjalan menuju lift yang membuat beberapa sayuran organik nyaris menggelinding berhamburan. saat pintu lift terbuka, Kania dengan cepat menyerbu masuk dengan beberapa kantongan yang di tenteng dan yang di peluknya tanpamenyadari ada seseorang berada di dalam lift yang bermaksud untuk keluar, tiba-tiba lift kembali bergerak naik.


"Ya Tuhan, sangat bagus. Kau membuat aku terlambat,".


Suara bariton itu mengagetkan Kania, dia akhirnya menurunkan kerangjang belanja yang di peluknya yang menghalangi sebagian pandangannya. Kania melihat seorang lelaki dengan setelan santai berada di dalam lift tersebut, tengah menempel di sudut dengan sebuah map berada di tangannya.


"Ya, maaf...," ucap Kania dengan meletakan kantong-kantong yang di pegangnya tepat di hadapan lelaki itu.


"Its oky, nggak masalah, kamu di lantai berapa? aku bantu," ucap lelaki tersebut yang tiba-tiba berubah ramah.


"Di lantai empat belas tapi anda pasti akan terlambat,"


"Hmm bukan akan tapi sebenarnya saat ini aku sudah terlambat," balas lelaki itu dengan sedikit tersenyum.


Kania hanya terdiam dan sedikit menunduk, tiba-tiba alarm Lift berbunyi tanda pintu lift terbuka, Evan kembali membantu Kania dengan membawa beberapa kantongan kecil yang tdaat pada kantingan besar yang terlihat akan berhamburan jika tidak mendapat bantuan.


"Apartemennya di nomor berapa? tapi tunggu, aku menyimpan mp ini dulu" ucap Evan dengan berjalan menuju slaah satu pintu


"Apakah anda tinggal di sini?"


Evan mendengar itu kembali mengangguk dan Kania sedikit menggaruk kepalanya yang tidak gatal,


"saya ingin ke ruangan ruangan ini," timpal Kania yang menunjuk pintu tepat berada di sebelah pintu Evan


"Oh, kamu temennya Ulfa?,"tanya Evan.


"Tepatnya, saya pegawai dia, anyway thanks udah bantuin," timpal Kania


Evan membalas dengan senyuman, dia meletakkan kantongan belanja Kania tepat di depan pintu ruangan Ulfa, kemudian ingin memasuki ruangannya, tapi sebelum itu dia melirik ke arah Kania,


"Lain kali panggil aku Evan aja, nggak usah terlalu formal," balasnya kemudian menutup pintu ruangan tersebut.


Pikiran Kania terheran-heran dengan perkenalan singkat mereka dan terasa aneh, seorang lelaki tampan dan ramah yang tanpa sengaja terhalang oleh barang belanjaannya,telah membantu lalu menghilang begitu saja tanpa menuntut apapun.


"Benar-benar keren sih," gumam Kania yang masih termangung di depan pintu ruanga Ulfa.


Kania dan Chef yang telah di tunjuk Ulfa berkolaborasi dengan Kaia tengah sibuk meracik bumbu masakan untuk acara makan malam Ulfa, mereka sangat kompak saat diskusi menu apa saja yang ingin mereka sediakan dalam waktu yang begitu singkar lagi, di tambah project kali ini harus romantis, Chef itupun membagi tugas jika bagian Chef selain memasak dia akan membuat hidangan dessert yang tadinya tugas itu Kania akan lakukan, sedangkan Kania di beri tugas untuk memotong, mengiris dan menyiapkan meja serta tatanan yang romantis.


Kania menyiapkan sebuah meja yang terletak dekat dengan jendela kaca yang besar di ruangan tengah, terkesan santai dan elegan di tambah dengan pemandangan kota yang sangat cantik, apa lagi saat malam tiba. Pasti kerlap-kerlip lampu begitu indah di bawah sana.


Saat di sela-sela kesibukannya, Kania masih sempat menyaksikan bagaimana lampu-lampu itu mulai menyala dnegan cahaya berwarna-warni di bawah sana.


"Nanti, aku juga ingin menyaksikan pemandangan malam yang indah bersama dengan seseorang yang benar-benar mencintaiku," batin Kania.


Kania juga membayangkan jika malam itu di habsikan dengan memanggang daging, dengan sebotol wine. Saling tertawa dan bercengkrama tanpa ada beban, mereka hanya membahas malam dan rencana masa depan yang indah bersama, seklias lelaki yang berada dalam bayangan Kania adalah Evan yang baru beberapa jam tadi bertemu dengannya membuat Kania tersendak dengan sendirinya,


"Astaga, kenapa aku bisa membayangkannya,"batin Kania.


Kania menatap semuanya, Chef yang melihat tatanan ruangan yang Kania siapkan, menaikkan dua jmpolnya sebagai tanda, misi mereka selesai. Meja makan yang telah di tutupi kain putih polos, dua buah gelas kristal yang tinggi, lampu sudut yang sedikit bergeser menambah suasana romantis semakin terasa.