
Kania berjalan dan harus melewati lorong sepi itu lagi. Labirin disebelah lorong, ruangan pegawai yang tadinya terlihat ramai kini sudah sepi, senyap dan gelap tak bernyawa. Semua pegawai yang tadinya terlihat lembur telah pulang. Kania kemudian menekan tombol lift yang rasanya terbuka begitu sangat lama. Kania sudah tidak sabar masuk kedalam lift dan meninggalkan gedung pencakar langit tersebut. Tapi aneh, pergerakan lift terasa begitu lambat.
Bebebrapa menit berlalu, Kania sampai di parkiran mobilnya dengan sedikit berlari dan dengan cepat memasukan kunci kemudian menyalakan mesin. Mendadak pintu mobil Kania di buka dan Kania di tarik keluar secara paksa.
Mata Kania melotot terkejut.
Dia! Pria itu! pria yang berpakaian serba hitam, kacamata dan topi hitam yang sama! Pria itu mencengkram lengan kiri Kania. Dia pasti tahu benar Kania memiliki masalah dengan lengan kirinya yang pernah terluka dan belum sembuh total. Kania akhirnya mngerang dan memberontak.
Kania tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama dengan menendangnya tapi kali ini Kania akan menggunakan cara yang kuno, cara yang nenek moyangnya selalu ajarkan, yaitu; menendang ************ pria tersebut dan ajaibnya, dia tidak bergeming!
"Oh ****, bagaimana bisa?" batin Kania dengan kebingungan.
Laki-laki itu maju selangkah dengan merapatkan tubuhnya ke tubuh Kania dan lengannya yang sekokoh besi baja melingkar kuat di leher Kania hingga dia merasa sesak nafas lalu dengan berani lelaki tersebut menoreh sebuah goresan di pinggang Kania dengan sesuatu yang tajam dan dingin disana.
Kania mengigit bibir bawahnya untuk menahan rasa sakit yang menyayat dan lelaki tersebut juga menusuk Kania yang sakitnya tak tertahankan. Setelah itu Kania di dorong hingga terjengkang dan ditinggalkan begitu saja. Perlahan Kania meraba pinggangya.
"Ah sial, darah!,".
Kania kemudian menutup luka tersebut dengan tangan kirinya, menahan sakit dan mementingkan mengejar lelaki itu tanpa berpikir jika dirinya saat itu bisa saja akan sekarat dalam beberapa menit kedepan.
"Ahh sial, dia menyerangku saat aku lengah, aku tidak menyangka jika aku bisa lengah dan mendapat serangan di negara ini dan di tempat ini,".
Kali ini Kania berpikir jika ayahnya salah dalam memilih solusi untuk pertama kalinya. Guzman berkata jika solusi terbaik sembunyi dari musuh adalah bersembunyi di negara tersebut tapi nyatanya salah. Kania tidak pernah terpikirkan akan di serang habis-habisan oleh para mafia di negara itu.
Kania berlari dan nyaris mencapai Lift di lantai dasar, pintu lift terbuka lebar terlihat lelaki itu ingin berlari memasuki lift tapi nyatanya dia menghentikan langkahnya tepat di depan lift dan berbalik dengan tubuh besarnya, berotot dan berdiri tegap seperti robot.
Kakinya yang panjang dan besar meluncur amat cepat sehingga Kania yang berlari cepat ke arahnya tidak sempat mengurangi kecepatan. Lambung Kania membentur laras sepatu pria tersebut dan dia akhirnya terpental. Pintu lift terbuka lebar di kali keuda membuat pria tersebut meninggalkan Kania dengan memasuki lift. Nafas Kania sudah tidak beraturan, dia terengh-engah dan berusaha bangkit lalu matanya jelalatan mencari jalan masuk untuk segera menyusul pria tersebut.
Kania kemudian berjalan cepat ke lorong lain untuk mencari lift dan mengejar pria tersebut, Kania sangat yakin dia hanya berhenti di lantai ruangan Prabu, lantai dua puluh lima. Entah apa yang berada di benak Kania, dia sangat yakin.
Pasti pria itu tidak bisa kabur kecuali dia memiliki helikopter yang aakan menjemputnya di rooftop, itu tidak mungkin! pikir Kania. Dia kembali melangkah dengan menekan perutnya untuk mengurangi darah yang mengalir keluar dari pinggangnya. Kania berjalan ke arah rangan Prabu yang ternyata dari jarak jauh, Kania bisa melihat Prabu tengah berdiri dengan posisi memunggunginya, entah apa yang dia lakukan.
"Prabu," ucap Kania.
Prabu mendengar suara Kania membuatnya membalikkan badannya dan terlihat Ulfa yang sedang berdiri di hadapannya tertutup dengan tinggi badan Prabu. Mata Kania menajam melihat kedatangan Ulfa id kantor tersebut entah dia melewati pintu yang mana. Kania tidak melihat Ulfa memasuki kantor tersebut sebelumnya.
"Ulfa!,".
"Kania," ucap Prabu dengan berusaha berjalan mendekati Kania.
"Prabu," teriak Ulfa.
Kania yang medengar itu sangat geram, Kania mempercepat langkahnya tapi Prabu masih berusaha mengejar dengan langkah panjang dan memanggil nama Kania.
"Kita sudah selesa, kita sudah putus," timpal Kania yang saat itu dia konsentrasi melirik setiap sudut di sekitarnya, menangkap siluet yang mungkin saja melintas dan bergerak. Tapi sayang, Kania tidak menemukan pria misterius itu.
Drrrtttt,,,,
Drrtttt,,,,
Tangan kanan Kania meraih ponsel yang berada di saku celananya. Kania berdesis dan berpikir, bagaimana bisa si penyerang itu melukai lengan kiri, mengiris pert bagian kiri, menyobek pinggang di sebelah kiri, lelaki itu tahu jika Kania kidal! Kania berusaha mengingat-ngingat siapa saja yang tahu bahwa dia seorang kidal atau pengguna tangan kiri. Tidak, kepalanya tidak bisa di ajak menganalisis saat itu.
"Whatever!", bentak Kania pada diri sendiri.
Kania hanya berharap semoga orang itu tidak tahu jika Kania juga ahli menggunakan tangan kanan, mengfungsikan yang lainnya. Kania sudah melatihnya walau memang tidak bisa di pungkiri jika kekuatan tangan kirinya masih jauh lebih besar.
Drrttttttt
Kania dengan cepat membuka layar ponselnya.
..."Jika kau ingin menemuiku, selanjutnya temui aku di lantai 15 sendiri!,"....
Lelaki itu sedang bermain waktu dengannya tanpa memberikan jeda untuk Kania berpikir, dia ibarat mengejar jam pasir yang mungkin saja sudah di baliknya dan Kania hanya memiliki beberapa jam untuk mengetahui apa yang sebenarnya diinginkannya.
Prabu yang masih menunjukan rasa penasaran tetap mengikuti langkah Kania, akhirnya meraih lengan Kania.
"Prabu please lepaskan, aku nggak ada waktu untuk berdebar sama kamu saat ini, biarkan aku pergi," jelas Kania.
"Tapi Nia,".
Kania kemudian menghempas tangan prabu dan berlari sekencang-kencangnya ke lantai lima belas tanpa memikirkan apapun lagi. Kania belum tahu ada apa di lantai lima belas, Kania belum pernah menginjakan kaki di ruangan tersebut, Kania tidak tahu dalam managemen kantor ruangan itu di pakai untuk apa.
Kania hanya membawa senjata laras pendek seadanya dengan menyembunyikan di punggungnya. Dia tiba dengan terengah-engah, tenaga Kania terkuras. Dia tiba di lobi lantai lima belas yang ternyata lantai itu tempatnya lumayan istimewa tepatnya terlihat persis dengan lantai dua puluh lima milik Prabu.