
Kania berjalan ke tempat sekretaris hanya memberi tahu jika dia ingin bertemu dengan Prabu tanpa meminta izin apakah dia di persilahkan atau tidak, pikiran Kania saat itu adalah tempat aman untuk semnetara waktu adalah ruangan Prabu, Kania ingin menjernihkan pikirannya terlebih dahulu. Kepalanya berkecamuk.
"Siapa pria tadi? kemana dia? kenapa dia mengejarku?."
Sekretaris Prabu berlari berusaha mengejar Kania untuk tidak memasuki ruangan tersebut tapi Kania hanya tersenyum kecil tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam sana. Kania lansung mendorong pintunya.
Pemandangan yang perlu di sensor oleh lembaga sensor indonesia kini terpampang jelas di mata Kania. Mereka berpelukan, tidak. Hanya wanita yang bergelayut manja di dada pria yang hanya berdiri tegak itu dan tangannya memegang pingganya entah untuk mendorong si wanita atau menariknya untuk lebih erat?.
"Jangan disini Ulfa, ini kantor," ucap Prabu dengan suara yang serak.
Sesaat Kania terpaku. Dia ingin berlari sekencang-kencangnya tapi dia butuh tempat untuk bersembunyi. Selain itu tubuhnya tidak bisa di gerakkan. "Jangan sampai ketahuan!". Kata-kata itu terngiang keras di kepala Kania tapi dia tidak mampu berpindah dari posisinya.
"Jangan sampai ketahuan oleh pria tadi, jangan sampai ketahuan Prabu, jangan sampai ketahuan Ulfa,".
Ulfa merasakan kehadiran seseorang di ruangan itu. Dia mengira sekretaris Prabu yang berdiri di ambang pintu dan memergokinya. Mata Ulfa memicing dan melihat heran apa yang di tangkap oleh matanya, ada Kania di sana, wanita yang bekerja di restaurannya berdiri dengan wajah yang datar tanpa ekspresi tengah melotot kepadanya.
Prabu yang juga ikut menoleh ke arah tatapan Ulfa membuat Kania memberi tatapan yang berapi-api.
Andai ia tidak bertemu dengan laki-laki aneh tadi, andai ia bisa menghilang, andai ia bisa memutar waktu, andai ia tidak bengong di ambang pintu, andai ia tidak ke kantor Prabu, andai ia tidak mengenal Prabu!. Banyak lagi andai di kepala Kania.
Kania menutup pintu dengan meringis, dia mnegangguk pelan kepada sekretaris yang memasang wajah tidak enak kepada Kania. Dia kemudian berjalan menyusuri lorong dengan tegar.
Pikiran Kania melayang-layang, dia mengingat berada saat usianya empat belas tahun, dia telah bekerja dengan ayahnya melakukan misi, saat ini usianya dua puluh lima tahun dengan harapan akan menjadi manusia normal ternyata sulit. Baginya kehidupan dulu dan sekarng tidak ada bedanya, hasrat Kania untuk membunuh kembali meradang di dadanya tapi di tekan oleh perinta ayahnya untuk sementara waktu berdiam diri.
"Hmm apakah semuanya terjadi karena aku memiliki banyak kesalahan? satu-satunya kebaikan yang kulakukan adalah aku menjaga diri dengan baik karena aku masih perawan. Hmmm menyedihkan, bukan karena aku masih perawan tapi karena aku belum merasakan menyukai seseorang, belum pernah merasakan keju yang lumer dan lezat pada gigitan pertama, tidak pernah merasa malu. Aku harus membuat daftar kegiatan selain menggores dan menembak kepala seseorang," batin Kania.
Kania mengatur nafasnya berat. Suatu hari dia akan menemukan pria yang mencintainya dan biarlah mereka berdua Ulfa dan Prabu melanjutkan apa yang telah tertunda. Kania memiliki urusannya sendiri. Semoga laki-laki tadi tidak muncul bersama engan rombongannya karena Kania sama sekali tidak membawa senjata apapun.
JIka Kania di adu berkelahi dengan lawan yang banyak dia masih sanggap, tapi bagaimana jika mereka membawa senjata tajam dan Kania dengan tangan kosong. Itu sangat tidak adil.
Kania yang sedari tadi berjalan akhirnya tiba di depan pintu lift. DIa mengira emosinya telah surut. DIa menekan tombol buka lift dan tidak terbuka sama sekali. Dia menekan dengan tenaga tapi masih tetap sama, pintu lift enggan untuk terbuka.
"Kita perlu bicara,".
Sebuah suara muncul di belakang Kania. Tangannya di raih dan di genggam erat, bahunya juga di putar secara paksa. Kania berdiri begitu dekat dengan Prabu. Nah, lagi-lagi laki-laki ini bisa muncul tanpa suara mengejutkannya.
"Nggak ada yang perlu di bicarakan, aku nggak apa-apa,"ucap Kania dengan susah payah meredam perasaannya.
"Aku sudah lama memutuskan Ulfa, lama sebelum Papa dan Mamaku memberitahu akan melamarmu. Kami cuma teman, nggak apa-apa kan kalau kami masih berteman?," Prabu ingin Kania tahu bahwa sebenarnya dia tertarik kalau saja Kania tidak terus menerus menolaknya dengan sikap dingin dan kakunya yang kelewatan.
Kania mengangguk.
"Tentu, terimah kasih sudah menjelaskan. Mama mu dan aku tadi memilih undangan. Aku bilang kamu pasti setuju dengan pilihanku."
"Bisa kita membahas undangan itu di ruanganku?," Prabu menatap mata Kania yang penuh dengan gejolak amarah itu, ada rasa benci di dalam sudut sana.
"Aku masih ada urusan,".
Prabu menarik nafasnya berat tapi tidak ingin menyalahkannya. Dia nyaris memeluk Ulfa tadi tapi dia justru kehilangan kendali saat Kania melihatnya. Tangan Prabu terulur untuk menekan lift dan liftnya lansung terbuka. DI gandengnya tangan Kania untuk masuk ke dalam lift.
"Lantai berapa?".
"Satu".
"Oke".
"Bisa lepaskan tanganku?,".
"Kenapa? Kania, begitu undangan selesai kita akan menikah dan itu mungkin sekitar dua minggu lagi. Aku sudah mengosongkan jadwalku sehari sebelum hari pernikahan kita, supaya kita bisa honeymoon sepuasnya,". jelas Prabu.
Dia bisa merasakan betapa tegangnya jemari Kania. Wajah Kania juga menegang dan tidaklupa ada perasaan dan getaran di telapak tangan Kana saat itu.
"Aku tidak bisa," ucap Kania pelan.
Cukup sudah Kania mentolerir hatinya sendiri. Kehidupan normal tidak cocok untuknya dan Prabu yang mendengar itu merasa hatinya terhimpit. Memeluk dan mencium Kania saat itu mungkin saja akan menghasilkan tamparan dan cakaran yang membabi buta. Prabu teringat bagaimana Kania menginjak kakinya sampai tulangnya terasa remuk.
"Nia," ucap Prabu lirih.
Kania tidak menjawab tapi Prabu bisa merasakan sedikit gerakan yang menandakan Kania mendengar panggilannya.
"Kita harus membicarakan hubungan kita, pernikahan tidak akan lama lagi,".
"Sudah kukatakan tidak. Aku akan menelponmu malam nanti,".
"KIta kan sudah berada di sini, berdua. Kenapa harus menunggu sampai malam dan melalui telpon pula,".
"Jadi kita mau bicara di dalam lift?," ucap Kania dengan nada yang datar.
"Nggak, tapi kita ke ke ruanganku," timpal Prabu yang sudah siap-siap memasang pertahan diri kalau-kalau Kania menyerangnya.
"Dan Ulfa?,".
Prabu lupa kalau ada wanita itu yang sedang menunggunya di ruangan kerjanya. "Dia akan menunggu di luar,". Timpalnya.
Kania mengumpat tepat di hadapan Prabu tanpa basa-basi dan membuat Prabu sadar jika sikapnya itu bisa menyakiti semuanya, menyinggung perasaan mereka, Prabu akhirnya meminta Kania menunggu Prabu karena dia ingin memberitahu Ulfa jika dia ingin pergi bersama Kania.