
Kania mengatakan kepada Vivian tentang hatinya yang mudah jatuh cinta kemudian di jawab gamblang oleh Vivian bahwa Prabu memang sangat imut, mirip dengan kura-kura kesukaannya yang sangat imut juga.
Kania heran, mengapa para sahabatnya mengagumi Prabu menyukai kura-kura. Itu tidak imut sama sekali, di mata Kania lelaki yang mampu mengangkat sniper jauh lebih keren di banding lelaki pecinta kura-kura.
Vivian mendengar ucapan Kania menanyakan perihal hati kepadanya tapi
Kania menjelaskan kepada Vivian secara ilmiah. Bahwa hati mengandung zat besi yang tinggi dan berguna untuk membentuk sel darah merah, apa lagi hati manusia itu merupakan kelenjar yang besar di dalam tubuh,
"Hati adalah organ yang paling empuk untuk di iris"
"Ah, sudahlah, kau terdengar seperti peneliti psykopat. Kita sedang membahas tentang Hati dan cinta, Nia" ucap Vivian
Vivian kembali membalas pembahasan tentang hati kepada Kania bahwa hati pendapatnya adalah cinta, feeling, perasaan dengan sangat ekpresi. Kania menepok jidatnya dan menimpali ucapan Vivian, bahwa hati itu rumit layaknya DNA yang saling tertaut jika membahas tentang hati perasaan.
"Aku hanya ingin menyukai dan di sukai, itu cukup" ucap Kania
"Terdengar simpel yaa"
"Harusnya emang simpel, sesuatu yang ribet harus di simpelkan"
"Mungkin saja cinta orang dewasa seperti itu" ucap Vivian
"Ha? orang dewasa?" gumam Kania
Vivian menjelaskan jika cintanya seorang Prabu yang dewasa bukan hanya karena usia tapi mungkin saja dia sudah kenyang yang namanya makan cinta, Prabu sudah melewati masa itu. Saat ini Prabu hanya ingin menjalani kehidupan dimana dia akan di bawa sesuai alurnya. Untuk apa cinta tanpa pertanggung jawaban sedangkan di dunia ini hanya itu yang paling penting.
"Selama dia penuhin hak kamu sebagai tunangannya kamu juga gitu, aku pikir kalian bisa bersama"
Mendengar penjelasan Vivian alis Kania mengkerut, dia tidak setuju dengan penjelasan Vivian, karena menurutnya itu lebih mengarah kepada manusia yang tidak berperasaan.
Bagi Kania dunia seperti itu memang tergolong baru di dunianya tapi dia benar-benar telah bertekat untuk mencobanya tapi cinta yang berada di kepala Kania tumbuh begitu manis sedangkan faktanya cinta yang di tawarkan dunia untuknya, sangat asam.
Kania kembali mengajak Vivian untuk ikut ke butik tersebut menemaninya untuk melancarkan misinya membatalkan pertunangan. Vivian mendengar penjelasan Kania itu menolak untuk ikut dengan alasan utama yang salah.
Vivian berharap Kania bisa membuak hati yang luas dan melihat segala kebaikan Prabu juga, menurut Vivian Prabu belum melakukan kesalahan sejauh ini, dia hadir di pertunangan, mengajak Kania untuk makna malam, harusnya Kania memberi Prabu kesempatan dan berusaha membuat dia dan Kania sendiri jatuh cinta, bukan membatalkan pertunangan yang belum apa-apa.
"Baik, aku akan beri dia kesempatan" ucap Kania yang tidak ingin memperpanjang percakapan lagi.
Pola pikir Kania dan VIvian jelas berbeda tentang pertunangan ini, Vivian tidak perlu tahu masalah makan malam Prabu bersama bosnya di sebuah apartemen. Makan malam romantis yang di tata oleh tangan Kania sendiri, sedangkan yang menikmati makan malam tersebut adalah tunangan dengan kekasihnya.
Kania yang terdiam tengah sibuk dengan pikirannya bahwa sahabat yang satu ini tidak berada di pihaknya tapi berada di pihak Prabu.
Kania kemudian melirik jam tangan yang bertengger di perhgelangan tangannya kemudian melihat waktu yang menunjukan sudah sore, cukup lama juga dia berunding dengan Vivian. Akhirnya Kania meluncurkan mobil buntut kesayangan Papa Adiguna menuju Butik tersebut untuk melakukan fitting baju, walaupun ada dorongan untuk melarikan diri tapi Mama Sera bagaikan alarm hidup yang memberi banyak pesan text di Hp nya.
..."Sayang jangan lupa fitting bajunya ya, Mama akan menunggumu di butik bersama mama nya Prabu"...
..."Kania, Mama lagi jemput Mam kamu ke butik, kami nunggu kamu di sana ya? atau Mama minta Prabu jemput kamu?"...
Kania tidak hentinya bergumam saat mengendarai mobilnya, membaca pesan teks Mama Prabu yang telah menyebut dirinya sebagai Mama Kania juga. Kania akhirnya meminggirkan mobilnya kemudian membalas pesan teks tersebut,
..."Thanks tante, Kania ke butik sendiri aja"...
Kania kemudian melajukan kembali mobilnya dan tiba-tiba beberapa detik kemudian pesan teks tersebut terbalas sesuai dugaan Kania yang lebih mirip sinetron,
..."Kok manggil tante sih, mama dong. Kan sebentar lagi kamu akan menjadi anak Mama"...
Kania hanya mmebalas pesan tersebut dengan titik dua dan tanda tutup kurung yang berarti sebuah icon smile di era Hp saat ini. Kania merasa perutnya mendadak melilit.
"Sebentar lagi? apa-apan itu" gumam Kania dengan wajah kesal
Kania tidak ingin menikah dengan pria yang mencintai wanita lain. Saat Kania sibuk dengan pikiranny tiba-tiba Hp Kania berbunyi sebagai tanda panggilan masuk, Kania tidak menggubrisnya tapi telfon itu terus mengusik Kania,
"Ya Halo"
"Kau dimana, aku jemput" timpal suara maskulin di balik Hp tersebut
"Thanks, tapi aku sudah menuju kesana" balas Kania dengan nada yang tidak kalah dingin seperti gaya bicara Prabu padanya kemudian tidak di ragukan lagi adegan selanjutnya, Kania mematikan Hp nya karena Dia ssangat membenci Prabu.
Sebenarnya Kania tahu tempat tersebut sesuai dengan penjelasan VIvian sahabatnya, ada dua jalur alternatif menuju butik tersebut dengan sanga cepat tapi kali ini Kania rela memilih jalan yang padat merayap untuk sampai pada butik tersebut.
Kania memasuki area parkiran dan memarkir mobil kesayangan Papa nya di sana. Kania melihat jam yang bertengger di tangannya, ternyata dia terlambat dua puluh menit. dari waktu yang di jadwalkan.
Kania berjalan memasuki butik terebut dan di arahkan oleh salah satu pelayan butik memasuki sebuah ruangan dimana ada Mama Sera dan Mama Prabu berada di dalam sana tengah sibuk memilih dan memilah baju pengantin untuk Kania di tambah banyak komentar mereka.
Di sudut lain Kania melihat Prabu dengan wajah cemberut duduk di sebuah sofa yang hanya ada satu-satunya di dalam ruangan itu. Kania menelisik wajah Prabu dan berpikir tentang usia Prabu yang mnurut informasi dia sudah 30 tahun, Kania tidak percaya karena wajah Prabu belum setua itu dan di tambah pola pikirnya, tidak akan seperti itu, kekanakan.
Kania mengalihkan pandangannya kembali pada ruangan tersebut yang menurutnya lumayan untuk di jadikan tempat istrahat, begitu luas, nyaman dan wangi. Dindingnya memiliki corak yang bisa di pastikan butik tersebut memang sangat berkualitas. Di tambah dengan ada di sudut ruangan tersebut, jendela kaca yang besar dan ranjang yang sederhana yang entah manfaat nya untuk apa di letakkan di tepat itu.