My Wife Is Mafia

My Wife Is Mafia
24. My Wife Is Mafia



Tato di bahu Kania akan mengacaukan suasana. Kania ingin menggunakan wanita modern yang dewasa sebagai alasan tapi sepertinya itu tidak mungkin jika di tambah lagi alasannya adalah hanya untuk menambah tingkat keseksian seseorang, bisa-bisa Mama Sera mengumpatnya habis-habisan saat itu juga.


Prabu yang sudah berada di depan cermin nampak dengan wajah yang asam karena menunggu Kania yang sudah sejam di dalam ruangan ganti tersebut. Prabu sempat beberapa kali melihat jam yang bertengger di pergelangan tangannya dan sesekali menggerutu membuat Mamanya selalu memberi wejangan,


"Tunggulah sayang, sebentar lagi, oke?" ucap Mama nya yang kemudian di lanjut berbincang dengan Mama Sera kembali.


3


2


1


Ucap karyawan yang siap mengibah sebuah tirai yang menjulang tinggi itu.


Kania kini terlihat bak patung maneaki pengantin yang cantik dan anggun, tubuh dan wajah anak sekolahannya berubah menjadi sosok wanita dewasa yang sangat mempesona.


Mama Sera dan semua yang melihatnya terdiam mengagumi dalam hati tentang pesona Kania yang terlihat, tanpa terkecuali Prabu.


Kania terlihat dewasa dalam sekejap mata yang artinya setiap orang yang membuat mereka terlihat dewasa dan muda bergantung dari cara mereka menggunakan kostum, karena jika di lihat Kania yang suka menggunakan jeans, jaket kulit dan baju oblong membuatnya terlihat seperti anak SMA atau mahasiswi semester empat yang akan magang.


Kali ini Kania sangat cocok dengan peribahasa dari upik abu menjadi putri cantik.


"Apakah sudah selesai?" tanya Prabu yang berusaha mencairkan suasana menurut versinya.


Kania membalasnya dengan tatapan tajam karena Prabu maish terlihat sinis kepadanya, "Iya ini sudah selesai".


"Kania sangat cantik jeng"


"Ahh, Prabu juga tampan jeng" timpal Mama Sera,


"Baiklah, kalau sudah selesai aku mau pergi" ucap Prabu


"Kalian mau pergi?" tanya Mamanya


"Siapa yang mau pergi dengan wanita kepala batu se antartika seperti dia, tapi kalau tidur bersama boleh di coba" gumam Prabu yang masih terdengar oleh ibunya.


Mama Prabu lansung menginjak kaki Prabu dengan sedikit penekanan membuat Prabu tidak bisa berkutik, Prabu tidak ingin melampiaskan rasa sakitnya karen malu kepada Kania atau orang-orang yang berada dalam ruangan tersebut sehingga Prabu hanya mampu terdiam, menahan dengan wajah yang memerah.


"Jangan sembarangan bicara, ajak Kania jalan-jalan, ngobrol yang baik-baik dan blikan dia sesuatu"


Prabu tidak berkomentar, dia terdiam saat Mamanya mencerca janji Prabu kepada Mama dan Papanya. Sekali lagi Prabu melirik Kania melalui cermin yang memantulkan bayangannya dan ibunya,Kania terlihat sedang menunduk dan memainkan ponselnya.


Prabu kemudian mengatur nafasnya dan berusaha mengajak Kania baik-baik untuk makan malam bersama tapi Kania sekali lagi menolak.


Kania menolak semua ajakan Prabu dengan alasan lelah yang akhrinya di setujui oleh kedua orang tua mereka.


......................


"Ingat, kamu masih dalam misi" bisik Guzman ayahnya


Saat langkah Yolan menuju pintu pesawat, dia berbalik bertanya kepada ayahnya yang masih berada dalam pesawat pribadi tersebut,


"Misi apa sih yah?"


Guzman menjelaskan bahwa misi tentang penyelematan Yolan sendiri yang paling penting, misi bersembunyi dari pihak anggota mafia yang lain dan misi mencari tahu penghianat di antara mafia yang sedang mengejar Yolan sebagai target selanjutnya.


Setelah sekian lama merasakan  tekanan dan malang melintang menggunakan senjata yang selalu terselip di saku belakang celana Yolan, hari itu dia memakai rok cokelat susu dengan bermotif Luis Vitton sebagai pilihan Yolan setelah tiga jam menimbang seharusnya pakaian seperti apa yang harus di kenakannya dan itu terlihat normal.


Kania terlihat bingung ingin menggunakan merk yang mana; LV, DC atau Channel. Benda-benda pemberian ayahnya yang tidak pernah di pakainya sama sekali.


Sebelum penerbangan Yolan melihat dirinya di dalam cermin dengan setelan tas punggung yang mungil dengan gantungan pinguin bertengger di tasnya , gantungan tersebut bergemerincing setiap kali Yolan melangkah, tank top orange, scraft dan dia melirik flat berbunga di kakinya,


"Tuhan sepertinya aku memang hidup" gumam Kania di depan cermin.


Kania dengan sendirinya menemui Mama Sera dan Adiguna saat itu dan mendapatkan smabutan yang begitu hangat dari mereka. Kania berusaha beradaptasi dengan baik, tidak hanya dengan keadaan tapi menggunakan Nama samaran pun ternyata sulit, 'Kania'.


Hampir seumur hidupnya dia bersama dengan the bloods dan tiba-tiba berada di tempat yang asing membuatnya terlihat seperti Alien.


Semua peralatan pertahanan dirinya di simpan rapi di bawah meja rias rak kecil. Kania beruntung karena Mama Sera hanya hobi mengomel saja bukan memeriksa atau ingin tahu semua barang-barang kesukaan Kania atau bahkan menggeleda kamarnya.


Kania berusaha maksimal menghilangkan kecanggungannya dengan sering menigkuti seluruh aktifitas Mama Sera dan Adiguna hingga akhirnya mereka layaknya keluarga yang hangat. Setidaknya minggu pertama dia sudah mendapatkan tempat yang strategis dan aman  untuk peralaan senjata-senjata kesayangannya, terutama si snipper AK90.


Kebiasaan meletakkan senjata di bawah bantal saat tertidur susah payah Kania lepaskan. Apa jadinya jika pembantu di rumah Mama sEra melihat senjata itu, bisa-bisa dia akan syok dan kencing berdiri melihat senjata yang besar dengan peluru yang besar berada di bawah tempat tidur dan di bawah bantal sebuah pistol kecil tapi nyata bukan mainan.


"I really miss you dad" ucap Kania lirih lirih


Setahun tanpa kontak, Kania berusaha terlatih untuk itu, dia bisa bertahan dalam kondisi apapun kecuali pertunangan!. Tapi Kania tidak bisa menelfon sebelum Guzman yang terlebih dahulu menelfonnya, Karena itu sudah kesepakatannya.


Kania kemudian menyimpan semua barang-barang kesayangannya pada laci di bawah rak meja ras dalam sebuah loker dan mengunci lokernya dan tertidur.


......................


Ke esokan harinya, Kania mantap dengan langkahnya untuk melanjutkan misi membatalkan pertunangannya, sepanjang hari dia tersenyum sumrngah membayangkan dia masih punya cukup waktu memikirkan bagaimana caranya memutuskan pertunangannya sedangkan kemajuan pertunangan itu sendiri berkembang sangat pesat.


Kemarin dia sudah mencoba sebuah gaun yang ternyata itu adalah untuk resepsi di siang hari, sedangkan malam hari harus berbeda. Mama Prabu sudah mengirim sebuah pesan singkat kepada Kania untuk meminta dia kembali ke butik itu lagi, Kania harus mencari cara agar tatonya tidak kelihatan.


Kemarin Kania menyembunyikannya dengan tidak memutar badannya saat Mama SEra meminta itu karena ingin mengecek gaun secara keseluruhan, entahlah untuk hari itu. Prabu adalah pria yang berbahaya yang bisa membuat Kania merasa, gugup, grogi hilang akal dan apapun istilahnya di hadapan musuh.


"Ahh tidak mungkin, aku Yolan tidak akan pernah merasakan itu semua, apa lagi musuh?" gumam Kania


Kania kembali mengingat kemarin saat Prabu sedang berbincang dengan Mamanya, Kania melirik sekilas dan mengetahui apa yang mereka bicarakan hanya dari mulut mereka yang bergerak.