
Kania kemudin menyandarkan tubuhnya dengan tumpukan bantal, meraih nampan itu yang berada di atas nakas dekat tempat tidurnya.Kania memang lapar. Sambil mengunyah dia menimpali ucapan ayahnya lagi.
"Sebenarnya, sementara menunggu hari pernikahan aku bisa tinggal di sini dan menyelesaikan satu misi terakhir, mengejar black shadow dan meratakan semuanya ayah,".
"Tidak bisa," ucap Guzman cepat.
"Satu tahun menjadi manusia normal untukmu dan kamu cocok, kamu harus terus seperti itu,"
"Tapi ayah, aku ingin kembali ke markas, menjalani latihan dan menyelesaikan misi. Supaya dunia ini aman dan damai,"
"Setelah ayah pikir-pikir, itu bukan tugas kita sepenuhnya. Ayah akan membubarkan the bloods segera dan membagi konpensasi kepada semua anggota, jika mereka ingin tetap bertahan makan aku serahkan jabatannya kepada orang lain, BUKAN KEPADAMU TENTUNYA,".
Guzman tidak menyangka jika pikiran Kania masih di liputi oleh markas the bloods, ini kesalahannya karena membuat Kania menenal dunia itu elama bertahun-tahun jika di bandingkan kehidupan normalnya yang masih satu tahun.
Kebanyakan orang di antar mereka yang mengetahui the bloods atau anggota yang telah mengenal the bloods merasa ingin berlari dan keluar dari markas karena misi yang di lakukannya memang benar menguji mental. Para pembunuhnya harus bisa melihat darah dan potongan tubuh manusia karena permintaan orang yang ingin melihat para penjahat itu mati.
"Apakah kita akan bersembunyi terus?"
"Tidak, untuk kebaikan bersama. Baiklah, ayah kan memberikan tugas itu. Melenyapkan Black shadow bagaimanapun caranya,". Ucap Guzman untuk mmebuat hati Kania lega walau sebenarnya dia sendiri yang akan menyelesaikannya.
"Baik ayah, aku akan berusaha memancingnya dan membuatnya keluar dari zonanya,".
Guzman kemudian mengangguk, dia yakin keputusannya sudah benar.
"Ayah tahu bagaimana orangnya?".
"Sayangnya belum, maka dari itu ayah menyuruhmu cobalah bersenang-senang, menikmati hidup, Ayah dan Regan akan memberitahumu setelah mendapatkan informasi tentang black shadow yang sebenarnya,hanya itu".
Mulut Kania terkatup, dia kemudian mengangguk perlahan, "Baiklah..." ucap Kania dengan suara elemah.
"Tinggalkan semuanya di belakang, tidak ada lagi Yolan, yang ada hanya Kania Adiguna," jelas GUzman kemudian melangkah meninggalkan kamar Kania dan menutupnya pelan-pelan. Kania juga mendnegar seretan sendal sintetis milik ayahnya menjauh. Kania menghembuskan nafasnya.
Kamar menjadi sunyi, dia menghela nafas dalam-dalam,memicing dan mengiumpulkan tekad, "HIdup harus berjalan,". Kania bergerak cepat dengan menyimpan nampan sarapan dari ayahnya yang sudah habis, dia memasuki kamar manid dan berganti pakaian. Dua hari lagi akan di adakan latihan proses pernikahan. Kania sebaiknya berada di sana.
Ayahnya pasti memiliki rencana, seperti biasa rencana itu adalah untuk kelangsungan hidup mereka berdua. Tetapi berada dalam pesawat selama berjam-jam lebih melelahkan dari pada bekerja keras. Dia akan menyewa sebuah jet pribadi saja untuk kembali ke Indonesia.
......................
"Maafkan Aku,".
Tidak lama kemudian sebuah balasan singkat yang muncul di layar ponsel Kania. Teks dari Prabu setelah sebelumnya Kania mengirim sebuah pesan,
"Keluar denganku dan aku akan memaafkanmu".
Kania merenungkan kalimat pendek itu semalam suntuk. Tidak lama kemudian pintu kamarnya di ketuk sopan dari luar. Kania tau itu pasti bibi yang ada di balik pintunya, wanita setengah baya itu tidak akan pergi dari tempatnya berdiri sebelumapa yang di perintahkan kepadanya terlaksanakan.
"Ya, bi?,".
"Ada tuan Prabu di ruang tamu non,".
Prabu? tanya Kania dalam hati penuh rasa yang tidak percaya. Tanpa mematikan TV dengan rasa penasaran Kania menyeret sendal yang bermotif kelinci itu keluar.
Mata Kania membesar. Bukan karena pakaiannya yang hanya menggunakan hot pants, atau wajahnya yang kucel karena belummandi, atau rambutnya yang masih acak-acakan, atau stiker pengangkat komedo di hidungnya.
Tapi, lima meter dari hadapannya, tepat berdiri Prabu yang melongo memandanginya. Bukankah penampilan Kania adalah bencana Fashion dan riasan wajah abad ini?!
Prabu mengenakan celana jeans dan baju kaos berkera dengan sedikit lebih ketat di bagian lengan dan memamerkan otot bisepnya yang bagus. Kania membisu betapa menawannya penampilan santai Pria itu. Selama ini dia hanya selalu berbalut setelan jas kerja yang kaku.
"Aduh, yaa ampun. Ancur banget penampilanmu?," desis Prabu dengan frustasi.
"Yeahh," sahut Kania dengan pasrah tidak beradaya. DIa tahu penampilannya memang memalukan.
"Tunggu sebentar," ucap Kania kemudian bergegas.
"Oke, jangan sampai ada yang kusur, rambut, baju apa lagi muka, harus licin ya," ucap Prabu dengan terkekeh..
Kania tidak berkomentar. Dalam hati Kania merasa geli mendengar ucapan Prabu juga merasa lega saat melihat sorot mata Prabu yang sudah terlihat biasa saja. Bibirnya sudah sembuh, itu yang paling penting.
Setelah menghilang ke kamar mandi, sesuai janjinya, Kania sudah keluar mengenakan celana panjang, baju kaos dengan lengan panjang sampai siku, sedikit besar dan rambut yang panjang tergerai lurus. Hanya lima menit untuk menyiapkan semua itu.
"Ready? ayo kita jalan, jangan membuang waktu karena menurutku kita hanya akan menghabiskan bnyak waktu di jalan," ucap Prabu dengan wajah jutek.
Kania mengangguk pelan, tidak ada tenaga untuk menanyakan bagaimana pria itu muncul di depan matanya, di depan rumahnya dalam waktu yang tidak bisa di prediksi. Kania hanya fokus ke leher Prabu yang memiliki titik hitam di lehernya.
"Apa itu?" batin Kania.
Kalau tahi lalat itu terlalu besar, kalau tompel rasanya tidak mungkin, Kania kemudian menahan tawa.
"Itu tato," ucap Prabu datar yang seakan paham apa yang Kania perhatikan sejak tadi.
Mobil Prabu bergerak pelan meninggalkan rumah Kania. Dia sedang memikirkan tempat yang tidak ramai demi gadis intorvert yang duduk di sampingnya itu.
Duduk dengan teramat tenang hingga Kania terlihat dunianya terputus dengan dunia nyata. Tempat apa yang sepi di jam segini? dan di jam yang lain di Jakarta. Kuburan pun di penuhi oleh orang-orang yang tidak kebagian tempat untuk nongkrong.
Prabu memikirkan untuk ke Bandung tapi waktunya pasti membutuhkan berjam-jam, dia tidak ingin di tuduh melarikan anak gadis orang. Prabu kemudian kembali berkonsentrasi pada jalanan. Tiba-tiba dia membelokkannya kedalam sebuah restauran fast food.
Prabu terlihat berjalan mendahului Kania dengn mengantir di counter, memesan dua cola dan dua burger tanpa menanyakan keinginannya. DIa hanya berbisik agar Kania mencari tempat duduk untuk mereka berdua.
Tanpa memperdulikan tatapan para gadis-gadis muda yang berada di sekitar Prabu tengah meliriknya, Prabu membawa nampan ke meja di mana Kania menunggu. Kania menatap tanpa minat makanan yang berada di hadapannya itu sementara Prabu mulai mengaduk-aduk colanya.