
Bergelantungan, melompat, dari satu atap ke atap yang lain, yang memacu adrenalinnya dan memuaskan dahaganya saat menghabisi nyawa seorang musuh. Kania kemudian menarik nafasnya dalam-dalam.
Tahun lalu, Kania masih melakukan itu. Hidup yang penuh dengan bahaya, yang terkadang hanya ada dua pilihan di dalamnya, menembak atau di tembaki.Tidak rumit seperti sekarang. Kania tahu apa yang harus di lakukan, dia tahu targetnya dan Kania tahu dimana tempat persembunyiannya.
Tapi saat ini yang Kania hadapi, dia tidak mengerti apapun, apa yang ia hadapai dan dia merasa tidak memiliki tempat yang aman untuk bersembunyi, tidak ada perlindungan yang sesuai harapan Guzman. DI negara tersebut bisa saja dia terluka fisik tapi di negara ini Kania terluka batin. Dia merasa tidak mendapat perlindungan apapun karena keluarganya berkomplot dengan keluarga Prabu untuk mengacaukan pikirannya.
Kania kembali melirik apa yang berada di sekitarnya, dia sudah mampu memperkirakan segala rencananya jika dia bisa meninggalkan apartemen tersebut dengan bantuan style yang dia kenakan, sepatu dan celana jeans yang membebaskannya bergerak serta tas yang tidak merepotkan membuat Kania menganggukan kepalanya tanda kuputusannya bulat untuk pergi melalui jendela.
Jarak dengan kamar sebelah sangat dekat tirai jendela kamar sebelah terlihat terbuka dengan tirai yang melambai-lambai. Sekali lompat saja dia pasti bisa mencapai jendela tersebut dan keluar melalui pintu pemilik apartemen sebelah, pikirnya. Atau pilihan lainnya, Kania Kania lompat saja ke setiap balkon jendela kamar yang masih terlihat sama, jendela terbuka dengan beberapa kain yang teruntai,
"Aku melompat ke samping atau ke bawah?," gumam Kania.
"Ah, masa bodoh, aku ke samping dulu baru ke bawah," gumamnya lagi.
Tiba-tiba dering Hp Kania berbunyi dengan sangat keras. Kania yang juga syok mendengar dering Hp nya yang menjerit dengan terburu-buru mencari tombol off yang sepertinya hilang entah kemana.
"Sial, dimana tombol diamnyaa," gumam Kania dengan geram.
Kania masih sibuk mencari tombol off nya bersamaan dengan tatapannya ke arah kamar Ulfa yang bisa saja Ulfa dan Prabu yang berada di dalam ruang sana mendengar nada dering Hp nya, Kania sudah menyerah dan akhirnya Kania melemparnya ke bawah.
"Astagaaa, siapa yang menelfonku di jam seperti ini," gumam Kania kesal.
Akhirnya Kania melompat ringan dan mendarat mulus di balkon kamar sebelah apartemen Ulfa. Kania menyelinap masuk kedalam sebuah kamar yang lampunya remang-remang , warna putih dan abu-abu yang mendominasi dan tidak lupa hitam dove untuk menambah maskulinnya kamar tersebut.
Ruangan yang terlihat simpel di tambah lagi lantai yang polos dan berwarna hitam, di dalam kamar tersebut juga terdapat sebuah meja kerja yang sangat simpel dan kaku. Lemari yang di penuhi buku dan poster JHon Kriss berada di kamar itu dan lagi sebuah asbak di dekat kamar mandi.
"Kamar cowok?," gumam Kania yang sedikit terkejut.
Kania kemudian melanjutkan langkahnya, dia membuka pintu kamar perlahan. Kania kemudian melihat ruangan yang mirip apartemen Ulfa bosnya. Sebuah ruangan dengan TV yang sangat besar berada di dinding dan juga sebuah bingkai foto, sofa berukuran besar berwarna abu-abu dan ruangan tersebut memiliki jarak yang sama dengan ruangan tengah dan dapurnya.
Kania kembali menelisik setiap dinding ruangan itu, semuanya terdapat warna yang kau, hitam, abu-abu dan putih di tambah lagi semua poster yang abstrak tidak ada tanda-tanda kehidupan yang penuh warna sama sekali.
"Sepertinya memang ini apartemen cowok," gumam Kania lagi.
Kania kemudian berjingkat-jingkat degan sangat pelanlayaknya roh halus dan berdoa semoga saja dia tidak ketahuan dan pintunya tidak sedang di kunci.
"Asataga Kania bego, kenapa otakmu saat ini sudah tidak bisa berjalan dengan baik, kuncinya kan pakai kartu, aduh!," Gumam Kania yang merutuki dirinya sendiri.
Kania kembali berharap jika kartu pass pintunya berada di laci dekat pintu seperti biasanya tanpa harus mengeluarkan keterampilan Kania lainnya memecah sandi panel pintu! memikirkan itu kepala Kania tiba-tiba pusing.
Mata Kania mulai berinar saat melihat dengan teliti ruangan tersebut, tidak ada tanda-tanda si pemilik ruangan. Langkah Kania akhirnya semakin cepat ke arah pintu dan tangannya meraih sebuah laci yang di dalamnya terdapat sebuah kartu pass pintu tersebut.
"Yess, ternyata ini hari keberuntunganku," gumam Kania dengan senyuman dan hati yang bersorak penuh kemenangan saat memegang ganggang pintu.
"Hm, hm, hm... setidaknya kau bisa permisi kepada si pemilik kamar walau hanya sekedar numpang lewat atau ucapan basa-basi lainnya," ucap seseorang dengan suara bariton.
Suara itu berhasil membuat jantung Kania serasa ingin loncat keluar dari tempatnya, Kania merasa memiliki penyit jantung akut selama menginjakan kaki di Indonesia.
Pria yang sedari tadi berdiri di belakang Kania menyunggingkan senyum jahilnya seakan tahu ekspresi wajah apa yang Kania saat itu tampilkan. Kania berbalik dan melihat wajah pria tersebut dengan mata yang membulat.
"Kau?,".
"Iya aku,".
"Bagaimana bisa?,".
Mendengar pertanyaan Kania alis Evan saling bertatut kemudian melangkah ke salah satu sofa yang tidka berada jauh di tempat tersebut, Evan duduk dengan menyilangkan kakinya.
"Aku kan sudah jelaskan tadii, ini rumahku,".
"Bukankah rumahmu berada tepat di sebelah kanan?,".
"Mengapa sekarang di sebelah kiri?," ucap Kania lagi.
Evan tertawa dengan menjelaskan jika rumahnya benar terletak tepat di sebelah kanan tapi posisi Kania yang keluar melalui balkon itu bukan di sebelah kiri karena bangunan itu tidak berkotak tapi oval. Kania bingung tapi dia tidak ingin berpikir terlalu jauh.
"Bagaimana bisa aku tidak melihatmu, tadi aku sudah menelisik seluruh ruangan, semuanya kosong,".
"Aku tadi duduk tepat di sofa dalam kamar paling sudut, mungkin saja matamu tidak menjangkaunya dan lagi pula kamarku sedikit gelap di banding ruangan yang lain,".
"Itu berarti kau melihatu sudah sejak tadi?," tanya Kania dengan antusias.
Evan mengangguk dengan pertanyaan Kania, sekalilagi wajah Kania masih memberikan petanda keraguan bahwa apa yang di lakukannya tidak mungkin meleset, jelas tadi semua ruangan kosong.
"Hm, ba-baik, sekarang aku boleh keluar? anyway thanks, aku ada acara keluarga dan rumahku lumayan jauh dari sini kalau nggak cepat aku bisa terlambat," jelas Kania.
"Hmm, sama persis saat kau mmebuatku terlambat tadi," ucap Evan yang kemudian berjalan ke dalam ruangan yang di mejanya terdapat sebuah minuman soda. Evan meraih minuman tersebut dan berjalan mendekati Kania kemudian memberinya.