
Selangkah lagi Prabu bisa memeluknya erat seperti waktu itu. Kalau beruntung dia juga bisa mengulangi ciumannya. Tanpa di sangka Kania mengangkat kakinya dan mendorong kakinya dengan kuat-kuat ke atas, berusaha menendang rahang kokoh Prabu. Kepala Prabu bergerak ke samping dan akhirnya membuat ujung sepatu Kania hanya bisa menyentuh angin.
Mata Kania melotot karena dia tahu tidak semua orang bisa punya refleks sebagus itu. Kania kemudian menurunkan kakinya dan menatap mata Prabu dalam-dalam dengan penuh curiga. Begitupun Prabu dengan tatapan yang sama kepada Kania.
Tangan Kania mengepal tanpa peringatan sebuah tinju meluncur kencang ke arah Prabu menuju uluh hatinya. Prabu tidak bergeming ketika kepalan tangan Kania menuju uluh hati Prabu yang hanya tinggal beberapa mili lagi di depan pria itu, Prabu kemudian menyambut kepalan tangan Kania dengan menggenggam tangannya hingga terasa nyeri.
Prabu menangkap serangan Kania dengan sangat mudah. Kania kembali berekspekulasi. Tangan Kania yang lain telah menyelinap ke dalam punggung untuk meraih sebuah senjata kecil Kania. DIa merengsek sedikit mau hingga tubuhnya hampir menempel ke tubuh Prabu.
Prabu hanya diam saja saat serangan demi serangan Kania berikan di balasnya dengan tepat membuat Kania frustasi dan membabi buta. Tidak ada pilihan lain, Kania harus mengeluarkan senjata kecil dengan jangkauan jarak dekat untuk membuat Prabu berhenti dan mengalah dari setiap serangan Kania.
Dalam sekejap mata Kania mampu menempelkan senjatanya tepat di bawah dagu Prabu dengan tatapan yang memicing. Kania berusaha mencari ketegangan di balik mata Prabu tapi Kania tidak menemukan sama sekali.
Tidak ada getaran apapun di wajah Prabu kecuali kewaspadaan.
Kania meyakini bahwa Prabu yang menculik kedua orang tuanya dan juga pembantu rumahnya.
"DImana papa dan mamaku?," desis Kania dengan penuh penekanan.
Prabu tidak menjawab, dia hanya menaikkan kedua tangannya memberi petanda bahwa ia sudah menyerah. Kania di buat kesal dengan itu, dia kemudian menarik kokang senjatanya.
"Cepat katakan di mana papa dan mamaku!,".
"Aku nggak ngerti," Prabu menjawab dengan nada suara yang lembut.
Kania kembali menatap Prabu tajam karena gerakannya berlawanan dengan gaya bicaranya yang sangat pelan. Tanpa sadar Kania kehilangan fokus. Sebelah tangan Prabu menutupi moncong senjata yang telah terkokang di bawah dagungnya dan tangannya yang lain dengan cepat melingkup jemari Kania lalu meraih senjata milik Kania dengan cepat.
"Ada apa ini? kenapa kau bisa memiliki benda semacam ini?,"
Kania yang mendengar itu hanya berdiri mematung seakan dia telah terhipnotis oleh Prabu. Kania terkesiap saat kewaspadaannya tercabik melihat bagaimana lelaki itu merebut senjatanya tanpa dia sadari. Tubuhnya siap menyerang Prabu namun dia tahu serangannya akan gagal karena pikiran Kania saat itu bekecamuk ke segala arah.
Kania melayangkan tinju, menendang, berusaha mencekik, mencakar, seranganya bertenaga tapi tidak terarah. Apakah Kania lakukan itu untuk keluarganya atau karena dia cemburu dengan Ulfa setengah mati, Kania tidak peduli.
Prabu hanya bisa menghindar dari amukan Kania. Prabu hanya berpikir kmarahan Kania yang berkobar bagai nyala api di mata Kania perlu di padamkan, mereka perlu biacar, tapi bagaimana caranya? Kania menyerang Prabu dengan membabi buta dan bertenaga seperti lima orang lelaki kekar yang di kumpulkan sedang menyerangnya sekaligus!
Prabu memperhiungkan jaraknya dengan baik, mencari kesempatan. Beberapa kali Prabu bisa saja menangkap pergelangan kaki Kania, membiarkan punggung Kania membentur lantai tapi Prabu tidak sampai hati.
Sebaliknya Kania yang melompat, berputar kemudian melayangkan sebuah tendnagan berputar di perut Prabu dan membuatnya terlempar ke belakang, menabrak lemari kaca yang penuh dengan buku sehingga kaca pada bagian depan lemari itu pecah dan berantakan.
Prabu kemudian menyeimbangkan diri dalam hitungan detik, melangkah maju dengan memegang perutnya. Sekilas Prabu tidak terlihat merasa sakit sama sekali, dia kembali memberi pertanyan kepada Kania.
"Sebenarnya kau kenapa? kesurupan?," tanya Prabu dnegan terheran-heran.
"Kania, ini bukan hutan yang seenaknya kau jadikan perkelahian, kita bisa bicara baik-baik kan?," timpal Prabu kembali dengan berusaha menenangkan Kania.
"Astaga aku pikir kamu mengamuk karena cemburu, karena sebelum ini aku pergi meninggalkanmu dan membantu Ulfa," jelas Prabu dengan menggeleng-gelengkan kepalanya frustasi dan mengusap kepalanya kasar.
"Siapa kamu?!," tanya Kania lagi dengan tatapan tajam.
"Kalau cuma itu. Kenalkan namaku Prabu Canan, usiaku 30 tahun, aku direktur perusahan bidang properti, papaku direktur bank."
Prabu juga menjelaksan bagaimana sepak terjangnya bisa menjadi seorang direktur, bukan karena ayahnya adalah pemilik Bank atau orang terkaya tapi Prabu berhasil dengan kemampuannya sedniri membangun perusahan kecil menjadi sebuah perusahaan yang besar.
"Pembohong," gumam Kania.
"Terserah. Kamu bisa cek ke seluruh pegawai di sini," timpal Prbau dengan meningkatkan ke hati-hatian.
Kania kembali memicingkan tatapan tajamnya. Prabu yang melihat itu kembali menimpali ucapannya.
"Sebenarnya aku sangat bahagia saat kau berencana untuk datang ke sini, malah aku sudah membayangkan kita akan ngobrol di sofa itu. Tapi, kejadian barusan, maksudku seranganmu yang mirip orang gila ngamuk, membuatku yakin...."
"Yakin?,".
"Ya, yakin. Untuk mengakhiri hubungan kita,".
Selama ini Prabu tidak pernah mengatakan untuk mengakhiri hubungan mereka yang aneh, unik dan singkat. Kalimat itu membuat Kania Syok. Dia tidak percaya jika di putuskan Prabu atau ucapan itu keluar dari mulut Prabu sendiri rasanya luar biasa sakit.
Kania melangkah mundur. Menikah adalah salah satu langkah akhir untuk semua hal yang terjadi di dunia ini menurut Kania. Menikah adalah pelarian terbaik disemua keadaan. Membentuk sebuah keluarga, rasa ingin melindungi dan berusaha melupakan untuk melakukan hal aneh karena menghindari konsekuensinya kepada keluarga yang di cintainya.
Begitupun dengan ayah Guzman. Kerap kali Kania merasa khawatir dengan resiko pekerjaannya tapi itu sudah menjadi prinsip Guzman yang terpaksa Kania harus jalani.
Mungkin hubungan yang kandas adalah jalan terbaik karena Kania bisa kembali fokus.
Drrrttttttttttttttt
Drrrrrrrrttttttttt
Kania kaget karena saat itu dia sedikit melamun setelah mendengar ucapan Prabu.
Kania meraih ponselnya dan melihat sebuah pesan singkat di layar tersebut.
"Waktunya untuk berlari atau kau akan mati,".
Ternyata bukan Prabu! tapi bagaimana bisa Prabu memiliki kemampuan menghindari serangannya yang terarah sedangkan dia hanya seorang pengusaha.
Kania menggeleng dan berusaha kembali ke dunia nyata.Saat nya bukan untuk berpikir, nyawa papa dan mama saat itu sedang terancam. Kania akhirny bergegas keluar meninggalkna Prabu yang berdiri diam di antara pecahan kaca lemari.