My Wife Is Mafia

My Wife Is Mafia
56 My Wife Is Mafia



Kania kemudian memeluk Aditama, setahun menjadi seorang anak dari seorang Aditama dia sangat bersyukur, Kania belajar banyak hal; Bagaimana Aditama sangat sabar, humoris dan pekerja keras. Aditama juga sangat penyayang dan bijaksana menyikapi semua hal. Dia selalu memberi Kania petuah saat sedang makan malam bersama di balik candaannya.


Suasa saat mereka bersama selama setahun kembali membayangi mereka berdua. Aditama tidak bisa menahan air matanya lagi, walau dia tidak mengerti apa yang terjadi. Aditama sangat yakin bahwa Kania tidak melakukan kesalahan apapun.


"Cepat pa, Kania tidak punya banyak waktu lagi. Aku akan menyelematkan mama," ucap Kania dengan sedikit nada khawatir.


Aditama mendengar itu kemudian bergegas dengan membopong Guzman. DIa meninggalkan Kania dengan berjalan menahan rasa sakit memasuki sebuah ruangan yang menghubungkan ke arah lift.


Kania bergegas menelusuri setiap sudut temlat tersebu, tiba-tiba ponselnya kembali berbunyi.


Drrrtttt


Drrttttt


Kania membuka ponselnya dengan geram membaca pesan singkat yang kembali tampil.


..."Kau akan kehilangan dua lelaki berharga,"....


Mata Kania melotot di sertai rasa panik, dia berlari menelusuri lorong untuk mengejar Aditama dan Guzman yang nyatanya sudah memasuki lift terlebih dahulu.


"Oh ****!!!," desis Kiana dengan emosi.


Kania berlari menuju tangga darurat berharap masih bisa mengejar. Kania melangkah melewati beberapa anak tangga dengan sekali loncatan, kemudian membuka pintu dan berlari menelusuri lorong dan memencet lift kembali.


Lift terbuka dan dia masih belum menemukan sosok keduanya. Kania tidak ada pilihan lain, dia akan menghemat tenaga dengan menggunakan lift, dia kemudian memencet tombol ke lantai dasar dengan perasaan yang cemas. Kania mencari nomor Prabu dan para sahabatnya dan sialnya, ponsel tersebut tidak memiliki sinyal sama sekali.


Kania sudah yakin bahwa tempat itu telah di atur sedemikian rupa untuk membuat ponselnya tidak berfungsi untuk meminta pertolongan ataupun petunjuk.


Pintu lift akhirnya terbuka.


Kania berlari dengan kecepatan yang biasa Kania lakukan saat berburu. Kania menemukan dua sosok tersebut melewati lorong, Kania dengan cepat meraih mereka.


"Nia??," ucap Aditama yang kaget melihat kedatangan Kania yang spontan membantunya membopong tubuh Guzman.


"Aku akan mengantar kalian ke mobil, papa harus ke ballroom hotel, di sana ramai dan tidak ada yang berani mengganggu papa," ucap Kania.


Aditama hanya mengangguk sedangkan Kania menajamkan tatapannya di sekitar untuk tetap waspada. Aditma dan Guzan akhirnya meninggalkan gedung pencakar langit, Kania kembali menatap gedung di hadapannya, dia berpikir pasti mamanya disekap di tempat paling gelap di gedung tersebut.


"Dimana tempat paling gelap di gedung?," gumam Kania yang berusaha berpikir.


"Bawah tanah?,"


"Tidak mungkin,".


Kania kembali berpikir hingga akhirnya dia melihat halaman kantor. Yah, halaman kantor, ada lagi satu halaman di belakang kantor, tempat yang sangat gelap.


"Semoga mama tidak takut kegelapan," gumam Kania.


Kania berusaha menghubungi nomor Prabu tapi tidak mendapatkan respon sama sekali. 


Kania berjalan menembus kegelapan total yang di sekitarnya pepohonan besar yang di fungsikan sebagai penyaring polusi. Mata Kania sudah biasa melihat dalam kegelapan. Kania melangkah dengan pelan kemudian mengambil lankah zigzak dengan menghindari jebakan.


Drrrtttt


..."Selangkah lagi,"....


"Sial. Dia pasti sedang mengawasiku," Gumam Kania dengan memicingkan matanya untuk meneriksa area sekitar.


Drrttttt


..."Di sampingmu,"....


Orang itu menguras mental Kania, menertawakannya sesuka hati, mempermainkannya seolah Kania hanyalah seonggok daging tanpa rasa. Dan Kania sudah terombang-ambing mengikuti permainannya.


Drrrrttttt


..."Lari, aku sudah menemukan mama mu,"....


Kania menatap layar ponselnya dengan heran. Pengirimnya bukan lagi pesan ancaman atau yang membuatnya frustasi tapi pesan itu dari Prabu.


Drrrttttttt


Kania kembali membuka pesan Prabu yang masuk secara bererenretan. Kania mebuka sebuah pesan video yang memperlihatkan wajah mama Sera yang pucat dengan suara yang bergetar.


"Mama di rumah Prabu nak, mama baik-baik saja," ucap mama Sera yang mulutnyaterdapat bilur yang di sekitar mulutnya dan hidungnya bekas lakban.


Kania cepat membalas pesan Prabu sebelum sinyal tidak stabil kembali. DIa mengatakan jika papanya berada di ballroom hotel pernikahannya.


Drrrttttt


..."Waktumu habis,"....


Pesan misterius itu kembali menghiasi layar ponsel Kania, tapi bersamaan dengan itu dia sekilas membaca teks Prabu yang mengatakan dia akan segera menyusul Kania, Tiba-tiba lampu mati seketika.


Tubuh Kania yang sensitif dengan sesuatu yang asing atau kehadiran seseorang di sampingnya. Kania merasakan ada beberapa orang di dekatnya. Kania berusaha menerka bahwa ada beberapa langkah yang sedang mendekatinya, satu, dua, tiga, empat dan terus bertambah membuat Kania bersiaga penuh.


"Banyak sekali! sial."


Kania akan di hajar habis-habisan! tapi Kania tidak taku bahkan menyerah sedikit pun. DIa tidah pernah merasa gentar saat menghadapi lawan. Rasanya Kania ingin menemukan biang keroknya saat itu juga lalu menyumbat mulutnya dengan sebuah moloton kemudian menghancurkannya menjadi abu.


"Aku hanya harus mencari pionnya, setelah itu membunuhnya, agar anak buahnya  bisa di lumpuhkan," batin Kania.


Jarak Kania dengan orang-orang asing itu semakin dekat. Mata Kania sudah beradaptasi dengan bayangan dalam kegelapan. Siluet lansing dengan kostum hitam menyerbu dari arah delapan mata angin. Otak Kania segera beroperasi dengan sangat cepat untuk mencari ide untuk mengalahkan semuanya.


Kania mendapatkan ide, dia harus keluar dari tempat itu dengan mencari sedikit pencahayaan agar Kania bisa bergerak dengan bebas menghabisi mereka.Seakan mendapatkan petunjuk dari langit, Kania melihat bulan yang sedikit terang dari malam sebelumnya atau Kania saja yang baru menyadari bahwa setiap malam cahaya bulan memang seperti itu.


Kania  telah mengatur langkahnya, bulan tidak leluasa dengan sinarnya karena di tempat itu ada beberapa pohon besar yang menghalanginya. Kania kemudian mengambil langkah. Para penyerang sudah siap maju, satu persatu memberi pukulan dengan gerakan dasar.


Kania bisa menghadapi itu bahkan Kania merasa gerakan mereka sangat mirip dengan para anggota mafia didikannya di the bloods hanya saja itu tidak mungkin, tidak ada bawahan yang berhianat sejauh itu, karena Kania telah membuat mereka berpikir  seribu kali dulu setelah memperlihatkan beberapa hukuman untuk penghianat sebelumnya.


Beberapa melayangkan pukulan dan tendangan yang Kania bisa hindari hanya edngan mengandalkan indra pendengaran dan penciumannya yang tajam. Kania mampu menghindari beberapa dari itu walau satu, dua orang berhasil mengenai tapi itu tidak masalah untuk Kania.


Kania berlari beberapa meter dari tempat tersebut di tempat yang lebih luas tanpa pepohonan, Tiba-tiba lampu gedung pencakar langit itu otomatis menyala seperti sebelumnya. Kania merasa ada yang aneh, entah apa si penyerang itu rencanakan.


Drrrrttttt...


Drrrttttt...


..."Hari yang melelahkan, bukan? HA HA HA, "....