My Wife Is Mafia

My Wife Is Mafia
59. My Wife Is Mafia



Jadi pertunangan itu terjadi untuk membuat bisnis kedua orang tuanya berkembang pesat dan sebagai taruhannya adalah jika cucu mereka perempuan maka the bloods berhak mendapatkan kekuasaan jika cucu mereka lelaki maka kekuasaan akan berada di tangan black shadow.


"Astaga," ucap Kania


"Anyway, aku tidak tahu jika tubuh mungilmu ini bisa mengalahkan beberapa pria dnegan bertubuh besar dan juga aku hanya menebak. Kau sekuat lima orang kuli bangunan," ucap Prabu.


Kania mendengar itu hanya melirik Prabu tajam. Prabu yang melihat itu kembali terkekeh.


"Aku nggak tau kalau kamu ternyata cantik, aku dilema antara menghabisimu dan menguasai kerajaan bisnis atau menikahimu tapi dengan memberikan cucu lelaki dan terakhir aku baru mengetahui kau adalah pion penting dalam dunia mafia membuatku semakin down," jelas Prabu kembali.


Kania hanya terdiam kemudian tersipu malu, dia fokus dengan kalimat pertama Prabu bahwa dia sebenarnya cantik, membuat hati Kania tidak karuan, dia benar-benar telah menjadi seorang manusia normal yang peka dengan perasaannya sendiri.


"Jadi... Yolan Putri Guzman, Kania Aditama, maukah kau menjadi ibu dari anak-anakku?," tanya Prabu.


Kania langsung terbahak-bahak lalu meringis karena rahang-rahangnya berdenyut saat Kania tertawa terlalu lebar.


Prabu tersenyum simpul, "Aku sudah lama penasaran seperti apa tampangmu kalau tertawa lepas, kamu masih tetap cantik. Kania kamu mau kan?," ucap Prabu.


Drrtttt


Drrrtttt


Sebuah pesan singkat tampil di layar ponsel Prabu. Tidak perlu melongok agar Kania bisa tahu apa dan siapa yang berada di layar ponsel Prabu. Pesan itu datang dari Ulfa. dia lalu memalingkan wajahnya.


"Maaf Prabu aku tidak bisa menikah denganmu," jawab Kania dengan yakin.


......................


Saat ini telah berada di pertengahan Desember yang membekukan. penyiar radio pernah mengumumkan bahwa suhu rata-rata pada bulan Desember adalah minus sembilan hingga minus lima derajat celcius.


Suara riang penyiar radio yang sepertinya memasuki usia awal 30-an karena suaranya begitu berat mengatakan bahwa semua orang termasuk si penyiar sendiri tidak sabar menantikan akhir musim dingin ke musim panas yang tetap terasa dingin. Tapi setidaknya suhu sudah naik menjadi lima belas hingga dua puluh derajat celcius tanpa embel-embel minus.


Bayangkan kalau penduduk disini mengharapkan musim dingin segera berlalu bagaimana dnegan Kania yang akan menyesuaikan suhu tubunya di wilayah baru tersebut. Apa lagi saat ini dia sedang mengamati seorang pia yang tidak bisa menentukan bunga apa yang akan di belinya.


Bayangkan, sementara orang memilih untuk bergelung dalam selimut yang berbulu sintetis atau duduk manis di depan perapian, dia harus berulang kali mengusap-usap tangan yang mulai kedinginan hanya untuk mengamai seorang pria usia 30 tahun yang sedang memilih bunga.


Barbarosa.


Prabu berada di depan kios bunga, berdampingan dengan barbarossa. Sekitar lima meter jarak Kania mengawasi di parkiran kios. Prabu terlihat memilih beberapa kuntum yang terlihat segar. Kedua lelaki itu terlihat hampir satu jam berdiri setengah membungkuk seperti itu, sementara gadis penjaga kios kelihatan mulai tidak sabar menunggu dan menjelaskan bahwa bunga segar di musim dingin seperti ini sangat terbatas karena buruknya cuaca menghambat jalur pengiriman.


Itu satun-satunya alasan mengaa mereka menjual sebagian bunga yang terlihat setengah layu. Jari-jari Prabu terlihat menarik beberapa tangkai buna dengan baik. Setangkai demi setangkai dari rimbun tulip merah jambu yang mungkin di impor dari belanda.


Penculikan yang mendapat persetujuan mama dan papa tepatnya bahkan ayahnya Guzman tidak bisa berkutik di buatnya. Apa sih maunya lelaki itu yang mengajaknya ke luar negeri yang bisa membekukan semua persendian dan tulang belulangnya itu?


Kania berpikir bagaimana bisa para orang tua mereka percaya kepada Prabu sepenuhnya? bagaimana kalau Kania di "macem-macemin" di negara itu seperti yang di khawatirkan bibi nya yang sangat peka terhadap situasi. Mungkin saja orang tua mereka mengharapkan Prabu untuk tidak selalu bersikap kaku dan resmi.


Setelah beberapa menit yang sangat membosankan, akhirnya Prabu yakin dengan pilihannya. Tidak lama setelah itu bunga Barbarossa menyusul sesuai pesanan Prabu. Terlihat beberapa tangkai dengan ukuran besar dan sedang dengan warna dan bunga yang segar. Dalam hitungan detik, bunga-bunga itu di bentuk dengan sangat cantik.


Kania kembali menganalisa raut wajah gadis penjual bunga itu, mungkin saja dia sudah muak melihat bunga dan wajah Prabu yangs edari tadi berada di hadapannya itu hanya untuk memilih sebuket bunga. Prabu terlihat berbalik dan berlari ke cil ke arah Kania berdiri.


Prabu menatap Kania lalu tersenyum seakan memberikan isyarat waktunya mereka meninggalkan tempat tersebut. Prabu dan Kania memasuki mobil dan sebuket bunga itu di letakkan jok belakang lalu dia mulai menggerakan mobil perlahan. Merambat mengikuti Fiat kuno dengan membiarkan satu dua mobil lain berada di depannya.


Kania memutar otaknya untuk berpikir kemana arah mereka selanjutnya? Kania sesekali melirik Prabu untuk mencari jawaban tapi Prabu hanya memberi tatapan datar dan fokus ke depan.


"Bunga Brabarosa nya untuk siapa? untuk seseorang? au? kenapa dia tidak memberkannya secara lansung? untuk klien? atau untuk....," batin Kania.


Kania kembali menepis pikirannya. Sejak kapan dia diizinkan untuk peduli dengan urusan pribadi orang lain? Lagi pula Kania tidak dalam misi, dia ke negara tersebut untuk membesuk bibi Prabu yangs edang sakit. BIbinya memiliki Villa yang akan mereka tinggali selama berada di negara tersebut.


Tidak lama lagi mereka akan sampai ke tempat tujuan. Prabu menginjak pedal rem karena tidak jauh di hadapannya lampu merah tengah menyambut mereka. Kania mengarah ke smaping dan melihat pengemudi yang berada di sebelahnya dengan kaca tembus pandang.


"What?," pekik Kania.


"Kau kenal dia?," tanya Prabu.


"Iya, dia adalah salah satu orang kepercayaan kelompok mafia yang berbahaya," Timpal Kania.


"Dia ganteng ya?," ucap Prabu


"kamu juga ganteng," timpal Kania malu-malu.


Prabu yang mendengar itu hanya bisa tertawa kecil, "Aku harus jawab apa setelah di gombal seperti ini?,".


"Ha? aku gombal kamu?,".


Mobil mereka kembali melaju dan beberapa menit kemudian berhenti dengan pelan di sebuah bangunan besar dari batu ynag lebih tepatnya di sebut kastil.


"Iya, itu namanya gombal sayang," ucap Prabu.


Prabu kemudian keluar berjalan dengan menggandeng tangan Kania dengan memasuki bangunan tersebut dan membawa bunga yang di belinya.