
Mendengar itu Kania kembali menampilkan senyum manis yang terasa kecut. Mama Prabu kemudian mengambilsampel undangan tersebut dan memberi tahu Kania bahwa itu akan di bawanya pulang dan bisa di diskusikannya kembali, Kania menjawab dengan sedikit anggukan untuk mengakhiri percakapan saat itu.
Percakapan mereka berlanjut seputar rencana pernikahan hingga akhirnya Mama Prabu menyarankan Kania untuk makan siang bersama Prabu hari itu di sebuah restaurant yang tentunya tidak asing lagi untuk Kania, restauran tempat dia bekerja.
"Makanan di restauran itu enak banget loh,".
Kania mengangguk-angguk, dia berpikir bahwa hari itu makanannya tidak akan enak karena asisten koki secerdas dia yang selalu membantu koki menambah cita rasa dan ide untuk masakan sedang cuti.
"Iya, Ma,".
Mama Prabu tersenyum senang lalu mencium pipi Kania kemudian dengan lembut memeluknya.
"Prabu mungkin tidak tahu cara memperlakukanmu dengan baik tapi dia sudah memilihmu jadi ajari dia caranya mencintai,".
Tubuh Kania menjadi kaku mendengar ucapan Mama Prabu, "memilih?", kata itu memberi Kania perasaan yang aneh. Entah senang, kaget, sedih, terharu, tidak percaya dan banyak lagi. Dia juga merasa sedang merasa memenangkan acara TV yang berjudul "berhasil menaklukkan hatimu", mungkin seperti itu.
Apakah ketidaksukaan Kania begitu terlihat? keputusannya untuk menutup hati dan menjalani semuanya tanpa perasaan telah terbaca? Kalau Mama Sera sendiri sudah tahu. Mama Sera hanya terdiam walau tahu betapa tersiksanya Kania dengan keputusan perjodohan itu tanpa jatuh cinta terlebih dahulu tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.
Kania merasa kehilangan kekuatan, kehilangan dirinya terlalu banyak, kini dia telah menjadi manusia yang biasa, wanita biasa. Kemampuan pengendalian dirinya hilang bersama dengan kekuatan dan keahlian lainnya.
"Maafkan saya," hanya itu yang Kania bisa katakan.
"Mama tahu hubungan kalian tidak baik tapi Mama yakin,kamu mampu sabar hingga cinta itu tumbuh karena kamu adalah wanita yang penuh dengan pengertian dan kasih sayang," timpal Mama Prabu yang sekali lagi memeluk Kania.
Kania hanya tersenyum datar, sebelum Mama Prabu benar-benar meninggalkan tempat tersebut, dia berpesan jika Prabu melakukan sesuatu yang membuatnya kecewa, Mama Prabu siap menjadi tameng untuk Kania.
Mobil mewah itu telah meninggalkan halaman gedung, begitupun Kania yang bergegas meninggalkan gedung tersebut untuk pulang ke rumah.
Belum selesai kelelahan Kania dia telah mendapatkan perintah baru lagi yang membuat Kania tidak bisa berkutik lagi. Rantang!.
Gara-gara rantang yang tempo hari ketinggalan belum kembali ke pemiliknya dengan alasan tante Kania membelinya di SIngapore dan tidak ingin menukarnya dengan yang baru karena rantang itu adalah yang limited edition membuat Kania memutar matanya jengah.
"Dasar rantang sialan, aku harus ke kantor Prabu hanya sebuah rantang, aku sangat malas bertemu dengannya," gumam Kania dengan mengehentakkan kakinya saat melangkah kembali menuju garasi mobilnya.
Kania tiba di gedung perkantoran yang cukup menjulang tinggi. Kania melirik jam yang bertengger di tangannya, dia sedikit tersenyum. Kania tahu saat itu jam menunjukan waktunya makan siang, mungkin saja Prabu sedang berada di luar kantor untuk makan siang dan itu lebih baik. Pikir Kania.
Dia lebih suka bertemu dengan sekretarisnya yang berwajah jutek itu. Toh tujuannya bukan untuk bertemu dengan Prabu tapi tujuannya adalah untuk mengambil sebuah rantang susun tiga warna. Ketika ia mencapai area parkir yang berputar-putar, waktu makan siang sudah habis.
Kania kemudian menyusuri lorong elegan itu, yang sunyi seperti biasanya. Dia berjalan di antara dinding kaca yang besar menuju ruangan Prabu dan melihat semuanya terlihat sama, sunyi. Meja sekretaris pun terlihat kosong. Bu sekretaris yang alisnya di kerik mencuat itu belum kembali dar istrahat makan siangnya.
Kania menoleh dengan cepat. Brughhhhhh!
Tubuh keras dan berat mendorong Kania seperti pasukan football yang kalap di ambang kekalahan, bunyinya sangat keras hingga Kania terdorong jauh dari tempatnya semula. Kania mengerang lalu sedetik kemudian dia berdiri dan melompat dan melompat lagi dan kali ini lompatannya di sertai dengan tendangan yang memutar sehingga tubuh penyerang itu terjerembap.
Mata Kania menganalisis pria yang berada di hadapannya itu.
"Dia tidak setinggi pria yang menyerangku setelah ledakan waktu itu" gumam Kania.
Kania kemudian melihat sekelilingnya dengan hati-hati, dia harus meninggalkan tempat itu secepat mungkin sebelum semuanya terlihat oleh seseorang dan melaporkannya kepada Prabu. Kania kemudian berlari menuju tangga darurat ti mnggunakan lift. Bukan karena Kania panik tapi Kania telah mempertimbangkan jika menggunakan lift akan snagat berbahaya jika penyerang itu memeiliki rekan dan menghentikan lift di pertengahan jalan.
Penyerang itu ikut menyusul berlari dengan menggunakan kaus spandek berwarna hitam dan celana kain biasa dan topi hitam.
Kania menuruni anak tangga setengah berlari. Bentuk tangganya melingkar. Begitu posisinya berhadapan dengan sosok misterius itu, Kania dengan posisi di bagian bawah tangga dan lawannya berada di di atas. Kania mengayun tubuhnya ke arah penyerang, menendang mukanya lalu menjejakkan kaki tepat di tulang bahunya kemudian mendorong punggung lelaki itu sekuat tenaga dan berlari ke atas menutup pintu tangga darurat, menjanggalnya dengan pot beringin yang berada tidak jauh dari tempat tersebut.
Setelah mengangkat pot beringin tersebut, sempat-sempatnya Kania berpikir, "Gila, ini beringin akan tumbuh setinggi 20 meter, sekarang tingginya sudah mendekati plafon, Kenapa di simpan di sini?.
Peluh keringat di punggung Kania mengalir deras akibat menggeser benda besar tersebut.
"Maaf mbak di larang menyentuh tanaman,"
Suara itu membuat kania tersadar dari pikirannya dan menoleh ke sumber suara. Suara berat seorang lelaki petugas perawatan gedung, mungkin dia adalah kepala bagian kebersihan. Pria yang berusia hampir lima piluh tahun itu berseragam biru melototi Kania.
"Oh maaf, saya cuma memastikan apakah pohonnya asli atau palsu,".
Kania kemudian memasang senyum manis sambil menahan nafasnya ynag tersenggal-senggal.
Pria itu nampak heran.
Kania yakin jika petugas kebersihan itu tidak akan berpikir bahwa gadis Kania yang menggeser pot super berat tersebut. Kania berjalan dengan cepat ke ruangan Prabu, berbelok ke lorong sepi dan mendapati kursi sekretarisnya yang kosong sudah terisi.
Kania berjalan ke tempat sekretaris hanya memberi tahu jika dia ingin bertemu dengan Prabu tanpa meminta izin apakah dia di persilahkan atau tidak, pikiran Kania saat itu adalah tempat aman untuk semnetara waktu adalah ruangan Prabu, Kania ingin menjernihkan pikirannya terlebih dahulu. Kepalanya berkecamuk.
"Siapa pria tadi? kemana dia? kenapa dia tidak mengejarku?."
Sekretaris Prabu berlari berusaha mengejar Kania untuk tidak memasuki ruangan tersebut.