My Wife Is Mafia

My Wife Is Mafia
30. My Wife Is Mafia



Evan kemudian mundur selangkah dan meneguk minuman yang berada di tangannya dan melirik tubuh Kania dari ujung kepala sampai kaki, Evan seakan dewan juri lomba modelin yang menelisik tubuh Kania seacra rinci di setiap sudut, bahu, dada dan jenjang kakinya.


"Sangat kurang ajar," batin Kania.


Kania tidak bisa melakukan apapun, Kania merasa itu cukup normal apa lagi pria-pria yang berada di Negaranya jauh lebih berbahaya di banding apa yang Evan lakukan. Kania berpikir dia bisa menjaga dirinya dengan semua kemampuan yang di milikinya.


Mata Evan berhenti di perut Kania membuat Kania meraih tasnya dan menutup dadanya, kemudian memasang wajah yang perlu di kasihani sebagai taktik kabur lainnya.


"Lepaskan aku, aku bukan tipemu," ucap Kania.


Evan yang mendengar ucapan Kania akhirnya tertawa geli tapi terdengar renyah, receh, ramah dan juga enak di dengar.


"Sejujurnya.......,".


"Sejujurnya apa?," tanya Kania dengan nada ketus.


"Sejujurnya kamu adalah tipeku, sangat tipeku," balas Evan dengan tersenyum nakal.


"Benarkah,?".


"Iya, sudahlah. Aku ada meeting beberapa menit lagi tapi sebelum aku benar-benar kehilangan jejak kamu untuk selamanya, phone number pleasee...," ucap Evan dengan mengeluarkan Hp nya.


"You must be kidding," ucap Kania dengan alis yang bertaut kemudian melihat Evan yang rencananya ingin meeting dengan style yang sangat santai, hanya mengenakan polo shirt dan celana selutut.


"Karena aku orang baik, aku hanya meminta nomor telponmu dan kamu sudah bisa bebas seperti burung di luar sana,".


Kania mendengar itu tertawa kecil, dia seakan terhipnotis dengan apa yang Evan katakan. Kania kemudia mneyebutkan nomor Hp nya dengan cepat.


Evan yang sudah menekan tombol yang sesuai apa yang Kania katakan mencoba mendial nomor tersebut.


"Nggak aktif?,".


"Beneran nomor kamu kan?," tanya Evan lagi dengan nada curiga.


Kania kembali teringat bagaimana dia melempar Hp nya ke bawah, dia menjelaskan ke Evan dengan sedikit kebohongan jika Hp nya tidak sengaja terjatuh saat melompat ke balkon tadi. Evan yang tidak bisa percaya begitu saja menelpon bagian security untuk mencari Hp yang berada di halaman tepat di bawah apartemennya, Evan memberi waktu untuk membuat para security sibuk hanya karena mencari sebuah Hp legend.


"Bukannya kau ada meeting? apa kau ingin terlambat lagi hanya karena sebuah Hp?," tanya Kania


Evan menaikkan pundakknya santai, dia mengatakan jika Evan tidak ingin tertipu dengan trik Kania. Mendengar itu Kania memutar matanya jengah, Kania sudah menjelaskan bahwa dia berkata jujur itu adalah nomornya.


Drrrrrrt....


Drrrttttt....


"Aku akan memperbaikinya, kau cukup mengirim pesan dan aku akan miscall sebagai tanda bahwa itu aku," ucap Kania.


"Well, sekarang silahkan tuan putri, selamat jalan," ucap Evan yang awalanya menaikkan jempolnya dan berjalan menuju pintu dan membuka pintu apartemennya sendiri dan mempersilahkan Kania untuk meninggalkan tempat tersebut.


Kania mendapatkan perlakuan itu hanya bisa tersenyum geli lalu melangkah dengan cepat, tepatnya terbirit-birit menyusuri lorong kemudian mencari lift.


Kania tidak bisa bayangkan betapa leganya yang rasakan Kania tiba di tempat parkiran gedung apartemen tersebut tanpa sebuah hambatan, sebelum itu Kania berjalan dengan langkah cepat untuk menemui security yang menemukan Hp nya tersebut karena ingin mengambil sm card yang berada di Hp nya. Awalnya security ragu memberikan Hp Kania tapi dia menjelaskan kejadiannya walau dengan karangan cerita yang cukup dramatis dan lagi, Kania melibatkan Evan dalam cerita tersebut.


"Kami berantem dan aku tidak sengaja melempar Hp itu Pak, bukannya tadi Evan sudah menelfon bapak?," tanya Kania dengan wajah yang sendu.


Mendengar ucapan Kania, alis penjaga apartemen elit tersebut yang awalnya saling bertaut kini terlihat biasa saja dan berusaha menelisik kebenaran ucapan Kania di wajahnya. Security tersebut kemudian sedikit mendekat dan membisikkan sesuatu.


"Mbak, kekasihnya tuan Evan ya? atau mungkin saja istrinya? apakah kalian berantem karena tuan Evan selingkuh?,".


Mata Kania terbelalak mendengarnya, bagaimana mungkin dia menjawab pertanyaan security tersebut dan memilih menjadi salah satunya, kekasih atau seorang istri, tidak! otak Kania masih waras untuk bisa menemukan jawaban.


"Oh Tuhan, kenapa di apartemen mewah seperti ini masih ada manusia yang peduli bergungjing," batin Kania.


"Jadi, gimana neng?,".


"Apa aku lansung ambil secara paksa saja ya?," batin Kania lagi


"Neng, kok bengong?!,".


"Ini rahasia Pak, entar bapak tanya sendiri sama Evan, bapak tahu sendiri kalau dia marah-,".


"Eh, iya, iya maaf. Jangan di beri tahu tuan Evannya, entar gedung in bisa di ratakan kalau dia marah,".


"Hmm sepertinya berhasil, memangnya lelaki itu bisa marah sedahsyat itu? sepertinya tidak," batin Kania.


Tanpa pikir panjang lagi, Kania meninggalkan pos security dan berjalan menuju mobil yang di parkirnya berseblahan dengan sebuah mobil dengan warna mengkilap yang Kania pernah liat saat fitting sebuah gaun pengantin bersama Mama Sera dan Mama Prabu, walau Kania tidak menghafal nomor polisinya.


Kania dengan acuh memasuki mobilnya dan menyalakan mesin kemudian meninggalkan tempat tersebut dengan asap yang menggempul, Kania sempat melirik dengan mata yang tajam ke kaca mobil yang di kenalnya itu, Kania yakin ada bayangan siluet di belakang kemudia tapi Kania tidak peduli. Yang terpenting saat itu adalah dia mampu meninggalakan Apartemen Ulfa dengan aman.


"Yes, I did," gumam Kania yang bersorak dalam hati


Kania bernyanyi sepanjang jalan dengan suara yang merdu, Kania menyanyikan beberapa lagu favoritnya dalam perjalanan itu tapi di sisi lain, Kania tidak bisa pungkiri kesedihannya tentang dia yang tadinya berada dalam satu ruangan dengan tunangan dan pacar tunangannya.


Kania berusaha mengatur nafasnya sepanjang perjalanan agar bisa menampilkan wajah yang menawan dan memberi isyarat bahwa semuanya baik-baik saja, Kania berusaha tersenyum. Kania masih berfikir positif jika Prabu adalah lelaki yang baik, kalau tidak dia tidak akan menuruti permintaan kedua orang tuanya untuk perjodohan mereka. Situasinya saja yang menempatkan mereka semua di keadaan yang canggung ini. Lagi pula Prabu sedang bersama Ulfa saat itu, dia pasti tidak akan hadir di acara makan malam keluarga mereka.


Kania akhirnya tiba di rumahnya dan memarkirkan mobilnya di dalam garasi. Kania dan kedua orang tuanya akan berangkat menggunakan mobil Papa. Kania mandi edngan cepat lalu mengenakan sebuah gaun merah berbahan sutra cantik yang di sodorkan oleh Mama Sera.