My Wife Is Mafia

My Wife Is Mafia
53. My Wife Is Mafia



Kania ingin memasuki lorong pada lantai lima belas tapi ternyata ruangan itu di jaga oleh dua orang security.


"Maaf mbak, ruangan di sini sudah tutup,".


"Minggir, aku mencari seseorang,".


"Maaf mbak, tidak bisa. Anda tidak di perbolehkan memasuki ruangan ini,".


"Ini sangat penting, cepat minggir,".


"Baiklah, kalau begitu, mbak harus kami periksa dulu,". timpal Security dengan meraih alat pendeteksi yang pastinya bisa mendeteksi senjata logam yang tersembunyi di balik punggung Kania.


"Berhenti, dia tunangan saya," ucap Prabu yang tiba-tiba muncul di balik punggung Kania.


Para petugas penjaga hormat kepada Prabu sebagai atasan, dia kemudian memberi izin kepada Kania, bisa di bayangkan jika Prabu tidak muncul karena para penjaga tersebut bisa saja memanggil para bala bantuan para petugas penjaga kantor dan memaksa Kania mundur.


Ruangan tersebut ternyata tempat rahasia, aset kantor Prabu. Kania tidak peduli, dia bergegas meninggalkan tempat teersebut. Prabu yang ingin ikut bersama Kania mendapatkan tatapan tajam Kania dan seakan memberi isyarat untuk tidak mengikutinya.


Prabu mengalah, dia akhirnya ke sebuah ruangan tempat CCTV berada dimana setiap sudut kantor tersebut bisa Prabu cek terutama dia ingin tahu kemana arah Kania pergi. Itupun kalau tunangan yang keras kepala itu tidak mematikan CCTV nya di setiap sudut.


Dengan wajah memanas Kania berjalan menyusuri lorong melewati beberapa ruangan, dia disibukkan dengan pikirannya tatkala Prabu mengikutinya dia yakin jika Ulfa pasti juga akan ikut dengannya.


Kania mengerang tertahan, membenci perasaan cemburu yang menggerogoti konsentrasinya. Dugaan Kania tepat. Dia berbalik dan melihat ke arah ujung lorong, melihat Ulfa tengah berlari dengan wajah yang terengah-engah sambil menenteng high heelsnya.


"Aku bersyukur dia memecatku dari restaurannya setelah ini, setidaknya dia tidak merepotkanku dengan di mintai sebuah penjelasan,".


Ulfa yang berjalan terlihat mendekati arah Prabu yang tidak jauh berada di dalam ruangan berdinding kaca itu. Sedangkan Kania sudah berhasil kembali fokus ke jalan yang berada di hadapannya dan meninggalkan mereka.


Dalam kesunyian dan kegelapan Kania berjalan menyusuri lorong selebar satu setengah meter. Deretan pintu kiri dan kanannya tampak buram, Kania dengan hati-hati dalam menganalisa setiap pintu yang di lewatinya.


Kania membuka pintu satu persatu. Suara hati Kania memberikan ide untuk teriak tapi Kania tidak ingin mengambil resiko yang bisa mengancam nyawa papa dan mamanya jadi terluka.


"Kania sabar, jangan gegabah tetap fokus," batin Kania.


Untuk menguasai musuh memang harus penuh dengan strategi, kali ini Kania berhati-hati dan menunggu di ujung lorong.


Drrrttttt


Kania kembali meraih ponselnya yng membuat kening Kania berkerut setelah membaca pesan singkat tersebt.


..."Sekarang kamu ke parkiran! go!,"....


Kania merasakan keringat bercucuran di keningnya dan jantungnya mulai berdetak tidak beraturan karena amarah yang ingin meledak saat itu juga. Kania marah dengan dirinya sendiri karena bisa tertipu dengn mudahnya. Kali ini musuh benar-benar menguasai Kania, dia sepertinya sudah belajar banyak hal dengan mengawasi gerak-gerik Kania selama berada di negara tersebut.


Lelaki itu mungkin tidakpernah berada di lantai sepuluh tersebut. Kania takut kehabisan waktu dan gagal menyelamatkan papa dan mamanya. Sangat ironis, selama bertahun-tahun dia melenyapkan nyawa orang-orang tertentu dan kini orang-orang yang di anggapnya keluarga sedang dalan bahaya dan menjadi burunon mafia lain karena dirnya.


Kania kembali berlari menuju lift dan memencet tombol ke bawah. Wajah Kania memerah, ia sudah memastikan senjatanya sudah terpasang sempurna, kokangnya sudah terpicu dan rembesan darang di perutnya sudah berkurang. Rasa sakit itu berganti dengan rasa marah yang tak terbendung.


"Kania," teriak Prabu yang suaranya terdengar memenuhi lorong.


Saat Kania keluar dari lift, dia bergegas berjaan menuju parkir area tapi Prabu muncul dari arah lain menggunakan lift dan memanggil nama Kania. DIa dengan wajah yang bingung mengejar Kania saat dia menghentikan langkahnya karena mendengar namanya di sebut oleh Prabu.


"Cepat katakan apa yang sebenarnya terjadi?!," bentak Prabu.


"Kau tidak akan paham," timpal Kania yang kembali melangkah.


"Apa yang aku nggak paham?," tanya Prabu yang juga melangkah menyamai Kania.


Kania tetap diam dan fokus menatap jalan yang berada di hadapannya. Prabu melihat itupun geram, kemudian menghentikan Kania dengan memegang pundaknya paksa dan memutar tubuh Kania menghadap wajahnya.


"Kania, cepat katakan, percaya padaku. Aku akan membantumu," ucap Prabu dengan menyorot mata Kania dengan tajam dan tegas.


Kania menatap mata itu sekaan untuk pertama kalinya memberikan isyarat yang lain. Mata itu ada sebuah kekuatan dan perlindungan yang siap di berikan kepada Kania kalau Kania siap membuka hati dan mengatakan yang sebenarnya kepada Prabu.


"Seseorang sedang memburuku, menyandera keluargaku. Papa mamaku,".


Alis Prabu terlihat mengkerut.


"Memang kedengarannya nggak masuk akal, makanya aku bilag kamu nggak akan mengerti,".


"Jelaskan lebih banyak lagi," timpal Prabu.


"Seseorang yang menyebut dirinya dengan sebutan black shadow sedang mengejarku,"


"Itu memang nggak masuk akal Kania, mana ada bayangan hitam yang mengejarmu," timpal Prabu.


"Lepaskan aku, aku tidak ada waktu lagi. Nyawa papa dan mamaku taruhannya Prabu,".


Kania ingin melanjtukan langkahnya tapi Prabu masih meraih tangan Kania. Sedangkan Kania yang melihat itu terlihat berpikir melirik di sekelilingnya, dimana Ulfa sebenarnya kenapa dia tidak muncul. dIa butuh bantuannya saat itu juga untuk mencegah Prabu mengikutinya lagi.


"Yolan, aku mencintaimu dan aku tidak ingin kau terluka. Sipapun yang mengejarmu itu bukan black shadow,". sahut Prabu.


Ucapan Prabu hampir membuat Kania tersendak.  


Kania terdiam mencerna ucapan Prabu sekali lagi ,hanya orang tertentu yang mengetahui namanya yang sebenarnya,. Setiap misi bahkan nama samaran sekalipun sangat privasi dan pantang di sebut oleh kelompok mafia manapun, apa lagi Kania yang mendapatkan ajaran lansung dari Guzman.


Kania tidak ingin menghabiskan waktu untuk meminta penjelasan Prabu saat itu, di kepala Kania hanya ada nyawa kedua orang tua angkatnya yang berharga.


"Lepaskan dan minggr, jangan mmebuang waktuku," ucap Kania yang tidak ingin percaya begitu saja jika Prabu adalah sekutu bukan musuh.


"Kania, dia adalah orang lain yang ingin membuatmu kehabisan tenaga karena dia tahu kekuatanmu sebesar apa. ayo kita melakukannya bersama," timpal Prabu.


Kania menatap mata Prabu dengan ragu.


"Yolan, please. Kamu nggak pcaya dengan calon suamimu sendiri? dua minggu lagi kita akan menikah,".


"Kamu sudah memutuskan aku," timpal Kania dengan mata menajam.


"Aku tadi asal bicara karena aku kehabisanide untuk membuatmu jatuh cinta sama aku," timpal Prabu dengan putus asa.