My Wife Is Mafia

My Wife Is Mafia
49. My Wife Is Mafia



Pria tersebut kembali mengeluarkan rantai dan mengayunkannya seperti pawang binatang buas. Niat awalnya unuk menakuti Kania tapi kali ini dia sudah berenacana untuk membunuh Kania.


Kania yang melihat senjata tersebut merasa heran, bagaimana bisa dia menyimpan semua peralatan itu di bajunya, kenapa dia tidak mmebawa senjata senjata untuk lebih simpel. Mengingat itu, Kania bersiap mengeluarkan senjata pamungkasnya.


Saat pria tersebut kembali menyerang dengan mengulurkan rantai itu, Kania melesetkan sebuah peluru ke arah lawan yang mengenai pundaknya tapi si pria penyerang itupun berhasil mengenai paha Kania dan membuat kulit pahanya sedikit robek, luka menganga pada kulit yang mengelupas.


Sakitnya luar biasa, Kania ingin menjerit tapi tertahan. Kania kembali mengumpulkan tenaga lalu melompat penuh ke arah lawan, sebuah tendangan masih belum mampu membuat lawan terjatuh, Kania tidak kehabisan cara, dia kemudian mengaitkan kakinya ke kaki si penyerang dan menariknya hingga pria tersebut terjatuh.


Kania kemudian mengeluarkan belati kecilnya. Dada kiri lelaki itu tujuannya, Mata Kania mengukur dengan cepat, mengatur kekuatan tangannya lantas melempar tangan Kania tetap di dada kiri pria tersebut. Sialnya, si penyerang melakukan gerakan hingga membuat tancapan belati Kania tidak tepat sasaran jantung. Meleset.


SI penyerang berdesis dan mengerang, dia mendorong Kania dan menarik belatih yang tertancap di dadanya. Pria tersebut kembali melempar sebuah rantai dengan ujung besi berduri tajam, Kania tidak ada pilihan selain menyambut besi tersebut dengan tangan kosong. Pria tersebut masih heran wanita di hadapannya itu masih dengan wajah datarnya tanpa ekspresi melemah bahkan kesakitan.


Bulir merah mulai muncul, tapi Kania tetap terlihat fokus.DIa menariknya lebih kuat. Bayangan saat Guzman memberinya latihan dan seorang guru yang mendidiknya snagat keras melintas di kepala Kania, dia ingat berapa keras pukulan guru tersebut hingga membuat darah segar mengalir di wajah dan bibirnya, di pukuli, di tendang hingga darah keluar dari mulutnya.


"Aku kuat dan aku selalu kuat! bertahan atau mati!," batin Kania


Kania sudah maksimal dan akhirnya pegangan dan tarikan yang keras membuat Kania melepas bola besi tajam tersebut membuat pria itu terhuyung kebelakang dan terduduk, Kania kemudian dengan sekuat tenaga dengan langkah cepat  menendang perut pria tersebut tanpa ampun.


Kania ingin kembali menghajarnya dan menancapkan belatinya tepat di jantung tapi tiba-tiba suara tetangga menyadarkan Kania. Tetangga yang memanggil anaknya karena belum kembali bermain hari sudah memasuki malam dan gelap.


Tidak ingin mengambil resiko tetangganya melihat dia menghajar seseorang. Kania masuk.


Sepi, seluruh rumah hingga ke kolong tempat tidur kosong! Kania kemudian menatap pagar di belakang rumah yang setiggi dua setengah meter yang membatasi halaman belakang rumahnya dengan halaman belakang rumah tetangganya.


"Dia pasti melompat dari sana," gumam Kania.


Dia kembali melangkah memasuki ruangan melewati dapur, ruangan yang sedikit terpisah dari rumah, di ruang tersebut adalah ruangan tempat menyuci dan ruang setrika yang tadinya Kania lupa untuk memeriksanya. Perlahan dan hati-hati Kania mendorong untuk memeriksanya.


Bibinya terlihat tengah  menyetrika dengan menggunakan headset. Wanita setangah baya tersebut terkejut saat melihat Kania yang mendadak membuka pintu ruangan.


Kania tersenyum, dia bersyukur karena bibi tidak mendengar apapun, Itu lebih baik. Kania kemudian mendekat tanpa menimbulkanlangkah yang mencugakan.


"Bibi denger lagu apa sih, dipanggil-panggil nggak denger,".


"Oh haha maaf neng, BIbi denger lagu dangdut,".


Kania kemudian menyondongkan telinganya ke arah bibi karena dia ingin memasangkan headset tersebut di telinga Kania sedangkan tangan Kania sibuk melilitkan handuk di pingganya untuk menutupi darah segar yang mengalir di balik celananya dan darah di tangannya dia tersembunyi di belakang punggung.


"Gimana neng? suka?" tanya bibi dengan mengerling yakin.


"Ini lagu apa Bi?" tanya Kania kembali dengan tertawa geli.


"Itu lagu dangdut, lagu raja dangdut negara ini neng,".


"Wah aku baru tahu kalau ada raja bisa nyanyi neng,"


"Ha ha ha, sudah lah Bi, setrikanya di lanjutin lagi, di halaman aku liat sedikit berantakan besok aja yaa bersihin, abis nyetrika istrahat aja deh,"


"Ahh neng perhatian banget, itu kan tugas bibi, entar bibi bersihin".


Wajah BIbi terlihat aneh, dia merasa sudah membersihkan semuanya, jika Kania mengatakan semuanya berantakan, Bibi pasti akan mencari tahu dan pasti akan membela di membuat keribetan yang baru.


Kania kembali mencari alsaan yang tepat untuk bibi, dia menjelaskan jika Kania telah bertengakr dengan mantannya yang tidak terima mendengar kabar pernikahannya. Kania kembali membatin agar Bibi tidak bertanya tentang mantannya, karena selama Kania tinggal di rumah tersebut dia tidak memiliki kenalan pria satupun kecuali Prabu.


Saat bibi terlihat ingin membuka mulutnya Kania menaikkan sebuah amplop tebal, memberikan kepada Bibi dan meminta dia memberinya ke Mama Sera di ballroom hotel, saat itu bibi di minta untuk mengantarkannya segera.


Bibinya kemudian terlihat mengangguk paham dan tidak ada pertanyaan lagi, segera dia meninggalkan tempat tersebut dan Kania mengirim sebuah pesan singkat kepada Mama Sera untuk sementara waktu menahan bibi di ballroom hotel, begitupun dia. Kania tahu bahwa Mama Sera pasti paham apa maksudnya yang mengirim pesan teks tersebut tidakseperti biasanya.


Tiba-tiba ponsel Kania berdering, ada nama Vivian di sana. Kania mengangkatnya seperti biasa. Vivian memberitahu Kania bahwa dia sedang dalam perjalanan menuju rumahnya, dia ingin bertemu sebelum menjelang hari H. Kania mendengar itupun panik, dia memikirkan seribu cara untuk membuat Vivian membatalkan kedatangannya.


"Dikit lagi sampai,".


"Aku nggak dirumah Vi,".


"Kamu di hotel yaa? yaa udah tunggu, aku nyusul".


Kania mendengar itupun panik, dia memutar oaknya untuk membuat sebuah narasi untuk meyakinkan Vivian.


"BUkan Vi, nggak gitu, sebenarnya aku sekarang di rumah,".


"Ya udah, bagus. Tunggu aku,".


"Jangan Vi, aku sekarang cuma berdua ama Prabu, kamu ngerti kan?"


"Ya elah, kemarin aja kamu nolak mentah-mentah, sekarang udah berduaan. Hati-hati loh, jangan lakuin dulu. Belum sah,".


Kania mengeratkan rahangnya malu karena ucapannya sendiri dan ledekan sahabaatnya itu.


"Ah, apaan sih,".


"Ya udah, lanjut gih. Ingat yaa, hati-hati. Walaupun terpaksa jangan lupa pakai ko***m," timpal Vivian dengan cekikan.


Kania hanya menghembuskan nafasnya kasar dan mematikan telfon Vivian.


Pukul sembilan malam, Kania masih sendiri di rumah. Tidak biasanya penghuni rumah sepi di jam seperti itu, maksimal acara keluarga ataupun penghuni rumah tersebut jika meninggalkan rumah saat pagi akan kembali saat magrib atau paling lambat jam tujuh malam.


Kania bersiap untuk menenlpon salah satunya, Kania berpikir untuk menelpon Papa Adiguna terlebih dahulu karena dia yang paling cepat mengangka panggilan telpon.


Tidak di angkat!