My Wife Is Mafia

My Wife Is Mafia
36. My Wife Is Mafia



"Arghh Sial...," teriak Kania karena kesal.


Kania segera bangun dari tempat tidur dan berlari menuju kamar mandi. Dia mengguyur tubuhnya dengan cepat lalu mengeringkan rambutnya, mencomot celana dan baju kaus yang bersih secara sembarangan, menarik tas andalananya dan terbirit-birit menuju ke samping rumah.


Kania kehabisan cara dia harus meninggalkan ruamah secepat mungkin sebelum Prabu datang menjemputnya. Tanpa memanaskan mobil dia lansung melempar tasnya ke dalam mobil tersebut dan menginjak padel gas dan mobil mundur secara menderu, berbelok ekstrim dan melaju kencang.


Jauh di belakang mobil tersebut ternyata ada Mama Sera yang sedang memegang selang air untuk membasahi halaman rumah menjerit, "Kaniaaaaaaaaaaaaa!,".


Kania yang sepintas mendengar itu hanya tersenyum nakal. Kali ini, arah mobil Kania menuju rumah Vivian sahabatnya si pemilik toko barang antik karena letak rumahnya tidak lumayan juah dari rumah Kania.


......................


Beberapa menit berlalu, Kania tiba di halaman toko Vivian. DIa kemudian memarkirkan mobilnya dan masuk kedalam toko tersebut. Kania masuk dan menjelajahi setiap lorong dalam ruangan tersebut untuk mencari Vivian.


Kasir memberitahu bahwa Vivian saat itu sedang membongkar barang baru di gudang belakang toko yang letaknya agak ke bawah, semacam basement, sebuah gudang sempit yang hanya di tempati beberapa koleksi benda antik saja.


"Hai Nia, tumben banget. Anyway katanya kamu masih cuti? dapat bonus dari bos ya?,".


"Iya, hmm.." timpal Kania dengan malas.


"Vi, ada hal penting yang aku mau omongin ama kamu,".


Vivian yang mendengar itu mengehntikan aktifitasnya dan berbalik mendekati Kania yang saat itu sedang berdiri dengan menyenderkan tubuhnya di pintu.


"Apa? kayaknya serius banget nih,".


"KIta harus mencari tahu soal Prabu, soalnya dia aneh," timpal Kania kemudian menceritakan semua kronologisnya saat dia menyiapkan hidangan romantis untuk Prabu dan Ulfa dan juga dinner, tidak lupa kelakuan dan ucapan Prabu, di tambah pesan teks Ulfa kepada Kania di ceritakan kepada Vivian.


"Bayangin, nggak masuk akal kan?,".


"Hm, Prabu tuh nggak aneh Nia, yang aneh tuh kamu. Dari tadi aku cuma denger kamu sibuk mencari-cari kesalahan Prabu saja,".


Kania mendengar ucapan Vivian hanya terdiam. Dia lupa kalau Vivian tidak mendukung upayanya selama ini untuk mengakhiri pertunangannya dengan Prabu.


"Tapi, kamu mau kan membantuku mencari tahu....".


"Shhhh," potong VIvian. "Ngapain sih nyari tahu, kamu kalau mau tahu sesuatu mending tanya aja orang tuanya, ngapain nyiksa diri,".


Kania kemudian meraih Hp di sakunya dan memperlihatkan pesan teks yang di kirim oleh Ulfa kepadanya.


"So, what? itu kan kata Ulfa bukan kata Prabu,".


"Aku selesai Vi, aku nge-down,". ucap Kania dengan berangsur duduk jongkok di hadapan Vivian.


"Kania, cinta itu menyakitkan karena cinta penuh dengan rasa curiga, cemburu dan amarah. Tapi, kata orang itu hanya bumbu-bumbu dalam hubungan. Aku yakin Prabu memiliki kesadaran dan tanggung jawab dengan hubunganmu, dia memperlakukanmu sebagai tunangannya, itu sudah cukup Kania, jangan berharap terlalu banyak".


Kania mendengar itu kembali memperbaiki posisinya dan berdiri di hadapan Vivian, "Tapi hatinya bukan untukku Vi,".


"Benarkah? apakah kau sakit mengetahui itu?"


"Kamu sakit karena kamu mencintainya Nia,".


"Tidak Vi,".


"Kamu cinta ama Prabu, bahkan cinta banget Nia. Kalau kamu nggak menyukai Prabu dengan luar biasa itu, kamu nggak ngarep hati Prabu hanya untuk kamu. Hati yang dulu kamu jabarkan ke aku Nia. Kamu tahu? Hati itu adalah pusat perasaan manusia. Hati itu ornamen penting dalam sebuah hubungan karena hati menghasilkan bahagia dan juga derita".


Kania masih terdiam. Vivian mendekati Kania dan menepuk bahunya, "Kau mencintai Prabu, bahkan kau snagat mencintainya Nia,".


Tidak ada jawaban.


"Kamu menghindarinya karena kamu takut dengan hatimu sendiri,".


Kania melangkah untukmeninggalkan ruangan tersebut tanp suara.


"Dan kamu merasa nggak sanggup melakukan apapun untuk membuat Prabu jatuh cinta sama kamu, kamu kalah sebelum perang, kamu....".


"Stop!,".


Kania berbalik menatap Vivian.


"Oke, aku jatuh cinta padanya sejak pertama kali aku melihat dia dirumahku saat pertemuan kita dengan wajah bosan setengah mati, puas?!,".


"Yup, itu yang aku ingin dengar," timpal Vivian dengan menjelaskan kepada Kania bahwa dia bersyukur setidaknya Kania bisa merasakans edikit lega karena telah jujur dengan perasaannya sendiri.


"Stop, Vi. Jadi, kamu mau membantu aku untuk menghilangkan perasaanku ini kan?,".


Mendengar pertanyaan Kania, bibir Vivian mengerucut. Dia menjelaskan bahwa jika itu terjadi, mereka harus merencakan semuanya dari nol. Vivian berharap jika Kania melangkah maju pantang menyerah di banding mundur di mulai dengan titik nol kembali, perjalan itu jauh lebih sulit. Vivin menolak tawaran Kania untukmembantunya.


"Aku tidak punya waktu Vi,".


"Nia waktumu banyak, kau bisa gunakan waktu seumur hidupmu untuk menaklukkan orang yang kau cintai, lagian kalau ida jadi suami kamu, aku yakin nantinya dia akan sadar dan jga bertanggung jawab untuk kamu Nia, percaya deh sama aku,".


"Ya ampun, gaya bicaramu sudah mirip bintang iklan pasangan suami istri, sudahlah aku pergi."


Setelah mengucapkan itu, Kania meninggalkan tempat Vivian dengan pikiran yang berkecamuk. Dan pengakuan yang tadi itu...


Memang membuatnya sangat lega. Dia begitu mencintai Prabu sampai-sampai tidak sanggup berada di dekatnya lama-lama. Rasanya sungguh tersiksa tapi tidak bisa mengjangkaunya sama sekali.  Dia masih butuh waktu untuk berpikir.


Kania meluncur membelah jalan dengan pikiran yang berkecamuk, dia berbelok ke arah pinggiran danau untuk mencari tempat teduh. mobilnya melintasi keramaian yang terjadi di sekitar danau, banyak aktifitas yang Kania nikmati, beberapa dari mereka terlihat sedang piknik keluarga,anak-anak yang bermain na sepasang kekasih yang sedang bersenda gurau.


Kania akhirnya memperhatikan jalan yang sudah tidak terlihat tanda larangan parkir, dia menghentikan mobilnya dan membuka kaca mobil dan mendorong kursi kemudi kebelakang, kemudian berdiam diri dan melepaskan sesak yang menghimpit.


Air mata yang selama ini tersimpan rapi menunggu waktu yang tepat untuk meleleh seperti di beri perintah keluar tanpa bendungan. Selama beberapa saat Kania tidak dapat memandang kedepan dengan jelas. Matanya kabur oleh derasnya isak-tangis. Bahunya bergerak naik turun dengan cepat. Dia hanya menutup mulut untuk tidak menarik perhatian para pejalan kaki yang melintas di sekitar mobil Kania.


"Sudah berapa belas tahun lamanya aku nggak nangis?," batin Kania.


Dia merasakan perlahan bagaimana proses memanasnya mata. gelembung air yang hangat menelusuri pipi hingga lehernya lalu betapa kelegaannya yang menerpa hatinya laksana pelukan hangat orang tuanya. Sebelum kematian ibu nya.