My Wife Is Mafia

My Wife Is Mafia
23. My Wife Is Mafia



Sebuah lemari kaca yang besar dengan puluhan baju pengantin terbaik pun berjejer rapi disana, Kania sedikit takjub melihat tersebut. Walau bagaimanapun, normalnya dia adalah seorang perempuan.


Para ibu-ibu belum menyadari kedatangan Kania sedangkan Prabu sudah melihat kedatangan Kania menatapnya tanpa berkedip. Hal yang membuat Kania sebal kepadanya.


Menurut Kania setiap tatapan Prabu seolah burung pemakan bangkai ynag lapar melihat tumpukan daging segar di padang pasir, siap memangsa.


"Apa dia sadar, seperti apa tatapannya itu?!" batin Kania kemudian berdecih


Prabu kemudin berdiri dan melangkah mendekati Kania, dia berbiik meminta Kania untuk berbicara di luar ruangan sebentar tapi Kania menolak dengan alasan ingin melihat baju pengantinnya.


Prabu mendengar itu mengerutkan alisnya. Beberapa wanita penggila mode memang biasanya terlihat sangat antusias, sesak saat melihat rancangan desainer ternama itu. tapi dia menelisik mata Kania yang terlihat dingin untuk membayangkan sesuatu yang hangat, seperti baju pengantin, cinta ataupun pernikahan.


Kadangkala Prabu pun menangkap wajah Kania ada sosok yang tidak memiliki perasaan sama sekali.


"Baju pengantin kita?" timpal Prabu yang pensaran tentang apa yang ada di kepala Kania saat itu.


"Bukan. Maksud aku baju yang di pajang di depan itu, semuanya terlihat bagus" Balas Kania santai


Prabu terdiam mendengar ucapan Kania, dia berusaha menemukan kata yang tepat pada saat itu, "Kalau kamu belum siap, bisa di undur kok" ucap Prabu


"Apanya yang di undur, fittingnya atau pernikahannya?' Balas Kania cepat


Prabu berusaha menyembunyikan keterkejutan akan ketegasan dan keberanian dalam suara Kania, di tambah lagi tatapan dingin itu. Prabu benar-benar baru menyadari bahwa Kania memiliki sosok yang lain dalam dirinya saat mata mereka saling adu pandang.


"Menurutmu" balas Prabu dingin


Kania kembali mengalihkan pandangannya dnegan menatap mata Prabu dingin, yang hitam, dalam dan kelam. Ini sebuah kesempatan! seru Kania di dalam hati. Mengatakan keinginan untuk putus.


Bayangan ancaman Guzman, peringatan kedua orang tua angkatnya dan juga senyuman mereka masih membuat Kania terdiam, apakah dia berani mengatakan secara langsung di hadapan Prabu tentang keinginannya? itu sama saja dengans ebuah penghianatan the bloods, pikir Kania.


Kania melihat mata Prabu yang mengandung api itu. Dia mungkin saja sudah berspekulasi saa menunggu jawaban Kania yang siap meletup saat itu juga. Sedangkan Kania sibuk dengan pikirannya juga, bagaimana jika dia mengatakan itu. Apakah Prabu bisa menunjukan kemarahan yang lebih dari apa yang dia nampakkan selama ini.


Perasaan Kania lebih tertantang untuk itu, tapi Kania akan membuat pertunangan itu batal bukan keluar dari bibir Kania melainkan dari Prabu sendiri.


"Menurutku, sepertinya kita harus mencoba baju pengantin itu sekarang" ucap Kania datar kemudian melangkah meninggalkan Prabu yang terdiam di tempatnya. Sekali lagi, Kania menghilangkan kesempatan untuk membatalkan pertunangannya. Dia mengeratkan tangannya sebagia tanda dia sangat geram untuk hal itu.


Kania mendekati Mama Sera dan Mama Prabu, sedangkan Prabu sendiri terdiam dan tidak percaya untuk apa yang di dengarkannya dari Kania, dia sangat tahu jelas bahwa bukan itu yang Kania ingin ucapkan tapi hal yang berbading terbalik dari yang sebenarnya.


Mata Kania memang dingin tapi Prabu masih melihat ada kejujuran di mata bening tersebut, sepolos wajahnya yang putih puat tanpa polesan make up. Dengan kecewa Prabu berjalan dan merapat ke belakang Kania dan berbisik,


Kania spontan berbalik dan menatap Prabu tajam, Prabu kemudian menatap Kania dari kepala sampai kaki, "Aku nggak suka cewek kurus kek triplek".


"Sepertinya kau tidak pernah membaca majalah, jelas tertulis disitu kalau tinggi badan dan berat badanku sudah sangat ideal.


Kania kemudian kembali berbalik dan memunggungi Prabu dan bergumam tapi suaranya masih terdengar oleh Prabu, "Dia hanya tahu baca majalah Playboy saja" ucap Kania kemudian berdecih.


"Majalah yang kamu baca dan majalah Playboy  itu sama,ngga ada bedanya" timpal Prabu dengan bisikan dengan penuh penekanan.


"Jadi kamu beneran baca majalan playboy yang khusus dewasa itu? hmm kamu menambah wawasan seperti itu juga?" timpal Kania yang masih memunggungi Prabu


"Karena aku sudah dewasa, bukan baru tumbuh seperti kamu" timpal Prabu.


Dia mulai ingin membalas ucapan Kania dengan yang lebih pedas lagi tapi saat melihat wajah Kania di balik pantulan lemari yang tidak jauh berada di hadapan Kania, Prabu kembali membuat Kania cemberut karena saat itu Prabu melihat wajah Kania terkesan lucu karena kesal,


"Dan lagi, dada itu. 34 dengan busa 32 tanpa busa" sindir Prabu dengan menahana tawanya.


"Sial, itu terlalu sensitif" batin Kania


Mama Sera dan Mama Prabu yang berbalik anak mereka sudah berad tidka jauh dari mereka kahirnya tersenyum bahagia, seperti biasa. Akan ada adegan cipik-cipiki, salinbertanya dengan kegiatan keseharian, makanan kesukaan dan basa-basi lainnya yang membuat Prabu memutar matanya jengah mendengar para wanita di hadapannya ini asyik sendiri.


Prabu kembali menangkap gerak-gerik Kania yang merasa tidak nyaman dengan hal tersebut, tiba-tiba dia berdehem mebuat Mamanya sadar dan memanggil Prabu untuk mencoba salah satu setelan pria yang membuat Kania sedikit tersenyum dan berjalan ke salah satu sofa merebahkan diri,


"Thanks God" batin Kania


Dia melihat Prabu yang ogah-ogahan mendapatkan perintah Mamanya menjadi tontonan yang sedikit menarik untuk Kania.


"Aduh jeng, Prabu pak setelan jas apapun itu cocok, berbeda am Kania, dia sedikit agak ribet" ucap Mama Sera yang didengar jelas oleh Kania


Saat Kania asyik mendengarkan perbincangan dua wanita di hadapannya itu, tiba-tiba seorang pelayan butik meminta Kania menocba gunnya di salah satu ruangan dalam ruangan tersebut, berseblahan dengan ruangan Prabu.


Kania melangkahkan kakinya dengan malas. Saat Kania memasuki ruangan telah terlihat gaun cantik desain moder berada di manekin tengah siap untuk menempel di badan Kania. Pelayan tersebut mengarahkan Kania ke dalam ruangan yang sedikit lebih kecil untuk membuka satu persatu apa yang di kenakannya.


Pelayan tersebut memberi arahan jika Kania harus membuka bawahan dulu karena desain baju dimulai dengan menggunakan bagian bawah atau rok gaun pengantin itu.


Kania menurutinya hingga baju, "What?!" pekik Kania dalam hati yang melihat modeln baju bagian atasan memamerkan pundaknya dengan sangat jelas. Kania mengepaskan gaun pengantin tanpa melepaskan atasannya terlebih dahulu yang saat itu Kania mengenakan baju kaos lengan panjang.


Kania duduk dengan tenang. Dia harus mencari alasan untuk tidak menggunakan gaun dengan model atasan seperti itu, yang memamerkan pundaknya, bukan tanpa alasan tapi karena Kania memiliki sebuah tato di pundaknya yang hanya Guzman, the bloods dan musuhnya Black Shadow yang mengetahui tentang hal itu.