
Dan satu lagi, sebuah pot bunga kristal berukuran segar di atas meja sebagai pewarna si meja makan yang berwarna putih itu.
Hidangan di tata dengan rapi dengan menu yang sangat banyak tpai masih terlihat elegan di bawah standing lampu. Semuanya telah selesai, Chef tersebut seperti biasa selalu pamit sejak awal sedangkan Kania masih melihat setiap detail ruangan tersebut, masih ada foto Prabu yang snagat besar terpampang di sana.
Kania melepas celemek yang melekat di tubuhnya dan ingin meninggalkan ruangn, tiba-tiba pintu terbuka. Ulfa yang berjalan masuk ke dalam ruangan tersebut, terkagum dengan banyaknya makanan yang di hidangkan dan pemandangan yang indah serta tatanan ruangan yang sangat bagus. Ulfa sangat merasa puas, dia yakin semua itu sesuai dengan selera Prabu.
"Kalau bu Ulfa menu makanan masih kurang atau kekaish bu Ulfa ingin memasak sendiri, bahan makanan sudah tersedia dengan lengkap di lemari pendingin ibu," jelas Kania.
Ulfa tersenyum manis, "Awesome," gumamnya.
Kania yang ingin pamit kembali di tahan oleh Ulfa, dia terlihat mengeluarkan selembar cek dari dalam tasnya dan ingin menulis nominal angka untuk Kania tapi tiba-tiba terdengar bunyi bel yang membuat Ulfa dan Kania terkejut.
Tingggg....
"Sebentar," teriak Ulfa yang berlari kecil ke balik pintu dan mengintip siapa yang datang saat itu, tiba-tiba Ulfa terlihat panik, dia berlari kembali ke posisi semula,
"Di luar ada kekasihku, bagaimana ini?,"
"Kamu sembunyi di dalam kamarku aja yaa? karena biasanya kami setelah makan akan nonton bersama," jelas Ulfa kembali dengan panik.
Kania untuk sesaat terdiam dan mencerna ucapan Ulfa, "apakah malam ini mereka tidak memasuki kamar karena ada aku yang bersembunyi di dalam sana?," batin Kania.
"Kania, cepat masuk ke kamar," perintah Ulfa
"Tapi Bu, maaf. Malam ini saya memilik acara keluarga, saya harus pulang".
"Aduh Kania, kamu mau lewat mana. Di sini hanya ada satu pintu,".
Ponsel Ulfa berdering dan melihat nama yang tertera di layar ponselnya dan membuat Ulfa semakin panik karena yang menelfon saat itu adalah Prabu.
"Aduh, dia nelfon lagi,".
"Ya udah, angkat aja dulu bu," timpal Kania dengan gerakan mengunci mulut.
Ulfa kemudina mengangguk-anggu. Sedangkan Kania telah menenteng tas dan berlari kecil mengambil sepatunya, kemudian Ulfa dengan cepat mengarahkan Kania memasuki kamarnya dan mengankat telfon Prabu dengan cepat,
Kania yang mendengar itu hanya terdiam, ulu hatinya terasa di pukul oleh kepalan tangan bodyguard yang pernah bertarung dengannya dan tanpa sengaja Kania terluka karena itu, bahkan perasaan Kania sepertinya jauh terasa lebih sakit di banding saat itu.
"Oh, kamu sudah di luar? tunggu yaa sayang, aku takut masakanku gosong nih. Aku matiin kompor dulu yaa...," ucap Ulfa yang penuh drama.
Ulfa kemudian kembali masuk ke kamarnya menemui Kania, "Yang jelas jangan memberi tanda apapun keberadaan kamu di ruangan ini, kamu silahkan sembunyi di lemari atau di bawah ranjang sekalian tapi ingat, jangan membuat kekasihku curiga sedikit pun," ucap Ulfa kemudian berlari keluar meninggalkan kamarnya dengan lari terbirit-birit.
Kani terduduk lesu di lantai pada ruangan tersebut, matanya menelisik ruangan tersebut yang sangat luas di penuhi dengan beberapa hiasan dinding yang memperlihatkna ke anggungan si pemilik ruangan tersebut. Mata Kania terhenti di sebuah meja ias yang mana ada foto Prabu di sana dengan ukuran yang lumayan besar.
"Pasti Ulfa sangat mencintainya sampai setap ruangan ada foto Prabu," batin Kania.
Pintu kamar yang besar dan tebal menghalangi pendengaraan Kania tentang apa yang sedang mereka bicarakan di luar sana. Walau dengan samar-samar Kania bisa mendengar ada dua orang yang sedang berbincang di luar sana tapi entah apa yang mereka perbincangkan. Kania mendengar suara Ulfa yang manja dan mendayu tidak bisa membendung rasa penasaran Kania untuk tidak mengintipapa yang sedang mereka lakukan.
"Jika benar aku mencintainya, setidaknya dengan melihat mereka melakukan sesuatu hatiku bisa menerimanya dan melupakan persaanku dengan segera karena obat dari cinta adalah patah hati itu sendiri," batin Kania yang melangkahkan kakinya ke pintu kamar tersebut.
Kania membuka pintu sedikit dengan selebar satu setengah senti, Kania bisa melihat kepala wajah Prabu, ****! dia melihat wajah tunangannya yang kaku dan dingin itu sedang tertawa hangat bersama dengan Ulfa. Kania juga melihat mereka berdua berjalan meninggalkan meja makan dan memasuki ruangan dapur. Ulfa terlihat memasangkan Prabu sebuah celemek dan melingkarkan tangannya di leher Prabu yang menjulang tinggi.
Kania sedikit membuka pintu satu senti lagi. Konsep bermesraan di ruang dapur sedang mereka perankan, sesuai dengan tebakan Kania. Terlihat jelas Prabu sangat canggung dan kaku dan terpaksa saat Ulfa menyodorkan alat pengorengan kepadanya. Kemudian Ulfa terlihat mendekat yang terlihat dada mereka akan saling bersentuhan. Ulfa terlihat menjinjitkan tubuhnya dan mendongak mengatakan sesuatu sambil tersenyum dan Prabu mengangguk lembut.
Ulu hati Kania kembali terasa sakit, rasanya terpelintir dengan menggunakan belati untuk mengoreknya secara lansung. Kania benar-benar sadar ada rasa sakit melihat Prabu, "apakah benar aku mencintainya.?" batin Kania. Sekali lagi dia meyakinkan dirinya, mengapa ada rasa sakit sedangkan dia sedang mati-matian mengatur strategi untuk membatalkan pertunangannya.
"Oke, aku menyukai dia tapi itu nggak akan menyurutkan niatku untuk membatalkan pertunangan ini," gumam Kania,
Kania kembali menutup pintu kamar tersebut dengan menyenderkan tubuhnya di dinding, Kania menelisik ruangan kamar Ulfa. Tempat tidur yang besar, dua lampu tidur di sebelah nakas. Lemari pakaian yang besar yang mungkin saja di dalamnya ada ruangan walking closet, meja rias yang besar ala zaman victoria yang berwarna hitam pekat na juga ada karpet berbulu tebal yang terlihat menjijikan di mata Kania.
Dia bisa bayangkan sebanyak apa hewan mati yang kulitnya dan bulunya tertempel di karpet tersebut.
Pandangan Kania beralih pada tirai tipis yang melambai terkena angin sepoi-sepoi yang menyegarkan, lambaian tirai itu terlihat sangat anggun.
"Tunggu!," batin Kania
Kania mendekat ke tirai yang melambai itu, dia melihat sebuah pintu kaca, kemudian Kania mendorongnya dan yah, Kania sudah berada di sebuah balkon di lantai empat belas, melihat pemandangan yang sangat menakjubkan. Kania memjamkan mata sejenak, Kania merindukan Negaranya, markasnya, ayahnya dan juga pekerjaannya untuk menyelesaikan misi.
Kania membayangkan saat misi pengejaran anggota Mafia yang mengganggu The bloods, mereka ingin menguasai beberapa kawasan di bawah pimpinan ayah Kania, Guzman. Kania akhirnya mengacaukan anggota mafia tersebut dan mengejar pimpinannya untuk di jadikan tahanan dan kemudian pada akhirnya di eksekusi olehnya.