
Kania tahu bahwa Prabu sedang menjelaskan kepada Ulfa dimana dirinya sekarang, "Di rumah kenalan orang tuaku," ucap Prabu.
Kania membenci dirinya sendiri, benci matanya yang tajam, telinganya yang sensitif dan ingatannya yang kuat. Kelebihannya itu membuatnya tahu bahwa statusnya di mata Prabu adalah seorang anak dari kenalan orang tuanya saja.
Kania berangsut ke dalam rumah untuk memberi ruang kepada Prabu dan kepada hatinya sendiri.
Kania masuk ke dapur untuk meraih sebuah minuman yang terletak asal, Kania yakin minuman itu untuk Prabu yang di buat oleh bibinya tapi belum di antarkan. Kania menghembuskan nafasnya berat dengan pikiran entah ke mana tiba-tiba bibinya muncul,
"Tuan Prabu tidak di beri makan siang non? kasian dari tadi nunggu belum makan siang,".
"Bibi silahkan saja memanggilnya untuk makan siang, tuh dia di luar lagi pacaran,".
Bibi mendengar itu hanya terkekeh dengan salah paham, dia meninggalkan Kania yang masih meneguk minumannya. Saat Prabu terlihat tidak memegang ponsel lagi, Kania kembali mendekati Prabu dengan mengenyampingkan emosinya.
Prabu mleihat itu menyodorkan sebuah kertas yang di raihnya dalam saku celananya,
"Mama menitipkan ini untuk kamu,".
"Apa ini?" tanya Kania yang membaca lembaran tersebut yang berisi banyak rencana kegiatan tepatnya rencana kencan Prabu dan Kania.
"Nonton bioskop,".
"Makan siang bersama,".
"Dinner,".
"Ke taman hiburan,".
"Nongkrong,".
Kania masih memasang wajah bingung, Prabu yang melihat itu kemudian menjelaskan bahwa daftar kegiatan itu untuk mereka saling mengenal. Mendengar penjelasan Prabu, hati Kania merasa tersayat, karena memang sejak awal ini perjodohan. Prabu sama sekali tidak ingin mengenal Kania lebih dekat, semuanya hanya terjadi karena perintah kedua orang tua, tidak lebih.
Kania kemudian mencoret lembaran yang berada di tangannya itu,
"Dinner-nya sudah, nongkrong juga sudah, makan siang juga sudah, bukannya kamu dengan melihatku sudah merasa kenyang kan?," ucap Kania.
Prabu yang mendengar itu berusaha sabar menghadapi emosi naik turun calon istrinya itu,
"Jadi kalau ke taman dan ke bioskop, kita nggak makan seharian, puasa ya?,".
"Aku nggak suka keramaian jadi coret aja rencana ke taman dan kebioskopnya," timpak Kania kemudian menyodorkan kembali kertas itu kepada Prabu yang isinya semua agenda yang terlihat sudah di coret oleh Kania.
"Perfect, jadi kamu hanya ingin berduaan denganku sepanjang hari," ucap Prabu spontan dengan menggoda Kania.
"Aku bilang, aku nggak suka keramaian jadi berdua sama kamu itu ramai, lebih dari satu orang itu ramai,".
Prabu mendekat membuat Kania meningkatkan kewaspadaannya.
Baru saja Ulfa menelfon Prabu untukmengajaknya makan siang dengan suara merayu, Mama Prabu telah berulang kali memperingatkan berkali-kali agar ia menyudahi hubungan tidak jelasnya dengan Ulfa tapi semua wanita yang datang sendiri untuk menyerahkan dirinya walau Prabu bersusah payah menolak mereka.
Apa lagi saat ini, dia sangat tahu bahwa Ulfa sangat ingin menjeratnya dalam sebuah hubunga hingga membuat Prabu tidak bisa melepaskan diri dari genggamannya, ibarat kata kalau ada yang panas seperti Ulfa mengapa harus memilih wanita yang sedikit batu es?
Faktanya dia akan menikah dengan wanita batu es di hadapannya itu, bukan Ulfa yang atraktif dan selalu menggodanya tapi Prabu hanya bisa membangkitkan fantasi liarnya saat melihat wanita es di hadapannya itu, dia berbeda.
"Aku pergi dulu," ucap Prabu
Kania menghembuskan nafasnya, dia menatap mobil Prabu yang meninggalakan halaman rumahnya.
"Ya, statusku hanyalah kenalan orang tuamu sedangkan statusmu bagiku adalah pangeran yang aku cintai. Aku harus menelpon Ayah, aku tidak tahan lagi berada di sini," gumam Kania.
Dia meraih ponselnya dan memasang sebuah sim card yang sering di gunakan untuk berkomunikasi dengan ayahnya.
drrrrttttt....
getar menandakan sebuah pesan singkat berada di dalam layar tersebut.
"you call me, you kill me".
Informasi terakhir yang ayahnya bisa berikan bahwa kelompok mafia black shadow masih mencarinya dan ayahnya masih sibuk menghilangkan jejak di berbagai negara di Eropa. Informasi dari bawahan Kania tentang ayahnya bahwa saat ini dia terjebak di Iran sedangkan Kania terjebak dengan pertunangan konyolnya.
Seharusnya Kania pulang saja, duduk manis hingga black shadow muncul untuk menembak kepalanya atau memotong tubuhnya dengan belati tajam seperti yang selama ini Kania lakukan saat mengalahkan musuh.
Kania berada di zona pasrah. Tidak menelpon ayahnya sama dengan gagal memberi asupan nutrisi untuk tubuhnya dan menancapkan bendera putih di atas kepalanya. Sedangkan otaknya telah di isi oleh perintah dan aturan seputar persiapan pernikahan antara dirinya dengan Prabu.
......................
Esok hari Mama Sera mengatakan bahwa Mama Prabu meminta Kania mengunjungi sebuah toko pada pukul sembilan pagi, dia akan menunggu Kania di tempat itu, seperti biasa tubuh kania harus bergerak secara otomatis mengikuti perintah tersebut.
Kania yang datang sesuai waktu yang janjikan membuat Mama Prabu begitu sangat bersemangat menyambut calon menantunya itu, mereka berdua berjalan mengintari sebuah toko percetakan undangan. Ratusan contoh undangan tersusun rapi, Kania di minta memilih desain yang cocok dengan seleranya. Mama Prabu juga menjelaskan jika jasa wedding organizer yang akan menangani pernikahannya adalah orang yang terkenal saat pernikahan para anak pejabat dan artis terkenal menggunakan jasanya.
"Sayang, kamu pilih desain yang mana?".
"Yang ada gambar kupu-kupunya itu tante,". timpal Kania menunjuk sebuah undangan polos hard cover berwarna krem dengan hiasan sedikit kupu-kupu yang saling berjauhan.
"Mama nggak mau di panggil tante ah," kata Mama Prabu dengan pura-pura marah sejenak kemudian mengambil kembali fokus pada bagian undangan yang lainnya.
"Iya, Ma," ucap Kania membuat Mama Prabu kembali sumringah.
"Undangan itu terlalu biasa sayang, pernikahan itu hanya sekali seumur hidup. Kalian berdua harus menunjukan apa yang kalian suka, apa yang kalian inginkan sebebas-bebasnya,".
"Kania suka yang itu Ma," timpal Kania dengan berkeras. Dia ingin undangan yang menggambarkan suasana hatinya saat itu untuk menjauhi Prabu sejauh-jauhnya.
"Baiklah, Mama telpon Prabu dulu,".
"Prabu pasti setuju Ma, dia orangnya baik banget," timpal Kania berbohong.
Kania kembali mengatakan bahwa saat itu Prabu sedang sibuk dengan urusan kantornya, akan sangat di sayangkan jika akan dterganggu hanya karena sebuah undangan.
"Prabu ingin menyelesaikan semua pekerjaannya Ma supaya saat pernikahan dia tidak banyak pikiran," ucap Kania lagi dengan manis.
Alasan Kania sangat hebat, bohongnya bisa mendapatkan nilai yang sempurna. Mama Prabu yang mendengar itu kelihatannya sangat percaya dan dia terharu.
"Memang nggak salah pilih, Kania ngerti Prabu banget ya,".